
"Lalu kamu fikir siapa yang makan kalau buka bu Darsih?" Tanya Raya sarkas.
"Ya siapa tahu kamu yang masak Raya cantik!" Goda Gunawan sambil mengambil piring yang diberikan bu Darsih.
"Saya butuh bicara dengan kamu Raya!" Ucap Rasyid tiba-tiba dengan penuh penekanan.
"Dari tadi kita sudah bicara!" Ucap Raya.
***
Rasyid menghela nafas pelan, untuk menetralkan amarahnya. Rasyid emosi dengan sikap Raya yang kadang keras kepala seperti ini, tidak bisa diajak bicara.
Raya yang selalu punya pemikiran sendiri tanpa mau mengungkapkannya. Raya yang memendam sendiri rasa kecewa dan bertindak tanpa bertanya dulu.
Akhirnya Rasyid mengalah sejenak, sambil menikmati makan malamnya tanpa suara.
"Ray, kamu udah bisa masak kan sekarang?" Tanya Gunawan untuk memecahkan keheninga. yang terjadi di meja makan itu.
"Raya sudah pinter masak sekarang!" Jawab Rasyid cepat.
"Nggak bisa!" Jawab Raya hampir bersamaan dengan Rasyid.
"Jadi kamu udah bisa masak belum, Ray?" Tanya Gunawan lagi meyakinkan.
"Sudah!" Jawab Rasyid.
"Belum!" Jawab Raya.
"Kamu kok tahu Raya sudah bisa masak?" Tanya Gunawan sambil menoleh pada Rasyid yang duduk di sampingnya.
"Aku pernah makan masakannya!" Jawab Rasyid.
"Wah... Beneran Ray?" Tanya Gunawan bertepuk tangan.
"Wah ibu juga baru tahu kalau dokter Raya bisa masak." Lanjut bu Darsih.
Raya hanya tersenyum kaku untuk menanggapinya. Raya menghindari pembicaraan lebih panjang lagi, tentang dirinya dan Rasyid dengan membereskan piring bekas makan mereka.
Raya berlama-lama di dapur dengan mencuci piring kotor dari bekas makan mereka malam ini, hingga bekas masak bu Darsih yang belum sempat beliau cuci setelah masak tadi.
Raya tidak mau di bantu bu Darsih, ketika wanita paruh baya itu hendak membantu Raya meski pun hanya menyusun piring-piring yang sudah bersih.
"Ibu bantu nyusun aja ya bu dokter?" Tawar bu Darsih sambil hendak mengajar piring yang sudah bersih.
"Bu, nggak usah!" Tolak Raya halus sambil memegang lengan bu Darsih.
" Kenapa?" Tanya bu Darsih.
" Ibu tidur saja duluan!" Ucap Raya.
"Beneran nggak papa?" Tanya bu Darsih lagi.
Raya mengangguk sambil tersenyum tulus ke arah bu Darsih.
__ADS_1
Setelah selsai dengan cucian piring yang menumpuk, Raya hendak kembali ke kamarnya, melewati ruang TV. Disana Raya melihat Rasyid yang sedang tertidur dengan posisi duduk, bersandar di sofa.
Raya memperhatikan wajah itu dari jarak yang tidak terlalu dekat.
'Masih sama seperti dulu. Tampan dan misterius.' Pikir Raya.
"Aku nggak pernah tahu apa yang ada dalam pikiran kamu Id!" Ucap Raya pelan.
Raya menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kuat dari mulut.
"Kenapa kita jadi seperti ini?" Tanya Raya samb memandangi wajah Rasyid yang tertidur itu.
Raya berjalan lagi, hendak memasuki kamarnya. Tapi tangannya di tahan oleh seseorang. Raya menoleh. Disana Rasyid terbangun dengan mata yang memerah dia menahan tangan Raya agar tidak pergi.
"Ada Apa?" Tanya Raya dengan nada suara yang begitu dingin.
"Ada yang ingin aku tanyakan kepada kamu, Ay!" Jawab Rasyid dengan suara khas bangun tidur.
"Bisa besok pagi saja kan?" Tanya Raya, pura-pura menguap.
"Kenapa harus besok pagi, kalau bisa sekarang?" Tanya Rasyid.
"Aku capek!" Jawab Raya menghepaskan pegangan tangan Rasyid di pergelangan tangannya.
"Ra!" Rasyid yang sudah tahu akan seperti ini hanya bisa kembali menetralkan amarahnya dengan beberapa kali menoleh nafas lelah dan mengusap wajahnya dengan jengkel.
Raya memasuki kamarnya yang di tempatnya, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Rasyid lagi.
"Aku salah apa sich Ra?" Tanya Rasyid sambil memandangi pintu kamar Raya yang sudah tertutup sempurna.
"Ngapain disini?" Tanya Rasyid.
"Mau nemenin temenku yang lagi galau!" Jawab Gunawan sambil mengambil gelas kopi yang tadi di bawanya dari dapur.
"Kamu cuman bawa gelas kopi satu?" Tanya Rasyid yang melihat Gunawan menikmati kopinya dengan sedikit pamer.
"Kamu mau?" Tanya Gunawan seperti menawarkan kopinya kepada Rasyid.
"Kalau aku jawab mau bakal kamu kasih?" Tanya Rasyid dengan ekspresi menaikkan satu alisnya.
Rasyid tahu temannya yang satu ini tidak akan sebaik itu kepada dirinya.
"Ya nggak mungkinlah!" Jawab Gunawan sambil menarik kopinya menjauh dari jangkauan Rasyid.
"Dasar temen nggak ada akhlaq!" Ujar Rasyid.
Rasyid menarik bantal yang berada di belakang tubuh Gunawan, sehingga kopi yang ada dalam genggamannya sedikit tumpah.
"Woy!" Teriak Gunawan kaget.
"Nggak udah berisik kali Gun!" Ingat Rasyid tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Ya kelakuan anda bapak Rasyid yang terhormat telah membuat kopi saya tumpah." Jelas Gunawan dengan bahasa di buat seformal mungkin.
__ADS_1
"Lebay!" Ejak Rasyid sambil memejamkan matanya.
"Lah, ini kamu nggak jadi galau?" Tanya Gunawan kepada Rasyid.
Gunawan meletakkan kopi yang sudah di minum setengah olehnya.
"Gua lebih ke arah ngantuk dari pada ke arah galau!" Jelas Rasyid sambil kembali memejamkan matanya.
"Eh, ini kopi udah habis setengah buat nemenin temen galau kok malah di tinggal tidur?" Omel Gunawan tidak terima di tinggal Rasyid tidur.
"Masalahnya apa?" Tanya Rasyid dengan bergumam.
"Ya gimana aku bisa tidur kalau ini kopi udah masuk ke dalam lambung dengan sempurna?" Tanya Gunawan.
"Itu derita kamu ya Gun, bukan urusanku!" Jawab Rasyid.
"Temen kampret!" Caci maki Gunawan.
Rasyid hanya diam saja dan pura-pura tidur untuk tidak menanggapi Gunawan. Rasyid hanya ingin menenangkan dirinya dengan sendirinya. Tanpa di ganggu oleh siapapun juga.
Rasyid terbangun ketika semua orang masih terlelap dalam tidurnya. Rasyid tidak dapat tidur nyenyak, walaupun sebenarnya dia sangat lelah dengan perjalanan yang cukup panjang dari jakarta ke sini.
Rasyid menoleh nafas lelah dan memilih menyegarkan tubuh dengan mandi air dingin. Rasyid berusaha untuk tampil sebaik mungkin agar nanti bisa bicara dengan Raya dalam kondisi baik dan tidak dalam kondisi emosi.
Rasyid sudah bersiap menunggu Raya di ruang tengah. Rasyid duduk dengan menikmati secangkir kopi dan ponsel di tangannya.
Ketika Raya keluar dari kamar dengan muka bangun tidur dan rambut kusut.
Rasyid tersenyum ketika melihat Raya keluar dari kamar. Raya yang sadar bahwa mukanya yang tidak bisa di kondisikan. Kembali ke kamar.
Rasyid yang melihat Raya seperti itu tersenyum.
'Kamu cantik, Ay!' Ucap Rasyid dengan senyum yang memenuhi paginya. Rasyid salah tingkah sendiri.
***
Aku memilih mencintaimu dan tetap bersama mu tanpa alasan apapun. Jadi aku tidak akan pernah memiliki alasan untuk meninggalkan dirimu. Kecuali kamu yang menyuruhku pergi.
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (14 bab)
Brondong Meresahkan (14 bab)
__ADS_1