
"Bareng ja, Bal!" Ucap Raya.
"Saya bangunkan bu Darsih dulu ya!" Pamit Iqbal sambil berjalan meninggalkan Raya.
"Jadi kamu lari dari Rasyid itu demi dia, Ray?" Tanya Gunawan lebih ke berbisik kepada dirinya sendiri.
***
Raya yang tidak sengaja mendengar ucapan Gunawan yang tidak terlalu keras itu berbalik menghadap ke arah Gunawan berdiri. Gunawan yang masih berdiri di depan meja Resepsonis.
Raya merasa tidak salah dengar dengan ucapan Gunawan. Tapi Raya tidak faham apa maksud ucapan Gunawan.
"Gun, kamu tadi ada ngomong sesuatu?" Tanya Raya yang penasaran dengan maksud ucapan Gunawan.
"Eh..." Gunawan menggaruk tengkuknya, seperti tidak enak hati dengan Raya.
Gunawan seperti orang yang tidak enak hati, kalau raya benar-benar mendengar ucapannya yang ngawur.
"Kamu tadi ngomong sesuatukan?" Tanya Raya memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.
"Aku kan emang suka ngomong, Ray!" Jawab Gunawan mengalihkan pembicaraan.
"Nggak, aku kayaknya dengar kamu ngomong sesuatu deh. Tapi, cuman kamu ucapkan pelan!" Selidik Raya.
Raya lebih curiga lagi dengan apa yang di ucapkan oleh Gunawan adalah sesuatu yang memang penting dan harus dia dengar. Karena, Gunawan terlalu ceplas-ceplos dengan semua yang di ucapkkannya.
Gunawan bukan tipe orang yang akan ragu dengan apa yang ia pikirkan dan juga ucapkan, keculi itu memang harus dia simpan.
"Masak sich?" Tanya Gunawan ragu. " Kamu salah denger kali!" Terang Gunawan Ragu sambil cepat-cepat mengambil kunci dari resepsionis hotel itu.
"Telinga aku masih baik sepertinya, ketika terakhir periksa." Ucap Raya tajam. "Jadi nggak mungkin aku salah denger!" Jawab Raya.
"Mungkin mas resepsionis yang ngomong tadi!" Elak Gunawan.
"Mungkin juga ya?" Ucap Raya ragu-ragu.
"Iya, siapa lagi coba?" Tanya Gunawan balik.
Raya bejalan di belakang Gunawan. Ia berjalan menuju tangga hotel yang hanya ada satu di tengah lobi hotel.
"Kamu ngapain ikutin aku?" Tanya Gunawan seperti ketakutan sendiri.
"Siap yang ikutin kamu?" Tanya Raya.
"Kamu?" Ucap Gunawan menunjuk Raya.
"Percaya diri sekali anda?" Ejek Raya.
"Terus, ini buktinya kamu berjalan di belakangku?" Tunjuk Gunawan pada Raya, yang memang berjalan tepat di belakang Gunawan.
Gunawan sedang berjalan di tangga hotel yang mengarahkan dirinya ke lantai 2 hotel. Dimana letak kamar yang sudah Gunawan pesan.
__ADS_1
"Coba lihat orang di depan kamu itu ada siapa?" Perintah Raya, agar Gunawan tidak terlalu percaya diri.
Gunawan melihat kedepan, tepat di depannya dia melihat 2 orang yang berjala. Disana ada Iqbal yang membawa tas ransel kecil yang di sampirkan pada salah satu pundak sebelah kanannya, dan juga bu Darsih yang berjalan tepat di belakang Iqbal dengan membawa tas yang cukup besar.
"Terus?" Tanya Gunawan.
"Terus, aku sedang berjalan menuju arah kamarku, Bambang!" Ucap Raya.
"O...Iya!" Ucap Gunawan kikuk.
"Dasar, Bambang!" Ucap Raya.
Raya lalu berjalan mendahului Gunawan.
"Eh kok, kamu malah jalan di depanku?" Tanya Gunawan yang tidak terima Raya berjalan mendahuluinya.
"Kalau aku jalan di belakang di kira lagi ngikuti orang!" Jawab Raya.
Raya berjalan cepat menghampiri Iqbal dan juga bu Darsih yang sudah menginjakkan kaki di lantai 2 hotel.
"Duluan, Gun!" Ucap Raya sambil melambaikan tangan ke arah Gunawan.
***
Raya berbaring di atas kasur setelah selesai membersihkan diri. Raya membuka buku hariannya sejenak. Ingin menulis sesuatu, tapi di urungkannya.
Raya membuka secara acak lembaran-lembaran buku itu. Raya membuka tepat di lembar, dimana ia menulis ketika pertama kali tidak sengaja mendengar pembicaraan Rasyid di telpon tentang masalah pertunangannya bersama wanita yang akan di jandikan istri. Mungkin sekarang mereka sudah menikah pikir Raya.
Sendiri saja aku sudah begitu bahagia.
Seharusnya ketika bersama kamu, aku akan jauh lebih bahagia.
Tapi, kenapa sekarang ketika kita sedang bersama aku tidak merasa bahagia itu?
Aku merasa tersiksa jiwa dan raga.
Cukup memberiku harapan tanpa ujung...
Tanpa terasa air mata mengalir di sudut mata Raya. Raya masih begitu ingat sikap baik Rasyid pada dirinya sejak masih sekolah dulu.
Raya mengingat kembali bagaimana ia begitu bahagia di perlakukan begitu istimewa oleh Rasyid. Rasyid yang begitu perhatian dengan sikap dinginnya.
Raya memang dadanya yang begitu sakit dengan semua ingatan dan kenangannya bersama Rasyid.
'Kenapa harus menyakiti?' Tanya Raya kepada dirinya sendiri.
Raya cepat-cepat mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata dengan menggunakan tisu yang ada di atas meja, ketika bu Darsih keluar dari kamar mandi.
Bu Darsih heran dengan Raya yang seperti kikuk dengan kehandirannya di kamar itu.
"Bu dokter kenapa?" Tanya bu Darsih samb medekati Raya yang masih pura-pura menggosok matanya dengan tangan.
__ADS_1
"Kelilipan, bu!" Jawab Raya asal.
"Jangan di gosok bu dokter!" Bu Darsih mengingatkan."Kata bu dokter kemaren pakai obat tetes mata aja kalau sakit matanya, Nggak boleh di gosok!" Ingat bu Darsih sambil mencarikan obat tetes mata milik Raya yang biasanya di simpan dalam kotak obat.
"Iya, tapi perih ini!" Jawab Raya, agar tidak ketahuan bahwa ia sedang berbohong.
"Ini, bu dokter!" Ucap bu Darsih sambil menyerahkan obat tetes mata yang di ambilnya dari tas milik Raya.
"Makasih bu!" Ucap Raya menerima obat tetes mata itu.
Raya pura-pura meneteskan obat tetes mata dalam genggamannya, agar bu Darsih tidak curiga dengan kebohongannya.
Bu Darsih tersenyum saja, ketika menyadari ke bohongan Raya. Bagaimanapun bu Darsih sudah memiliki anak dan sudah mendidik mereka dengan penuh kasih, jadi bu Darsih tahu betul mana yang menangis dan mana yang hanya sakit mata.
"Ini bu dokter!" Bu Darsih menyerahkan botol air mineral yang sudah di sediakan pihak hotel di atas meja.
Raya menerima botol air mineral itu agak heran, ia sakit mata kenapa di beri air mineral. Tapi, Raya tetap mengambil botol air mineral itu.
Raya lalu membuka botol mineral itu, dan meminumnya.
"Kalau masalahnya nggak cuman di mata, bu dokter harus banyak-banyak minum air putih!" Ucap Bu Darsih, lalu berlalu kembali mengambil tempat tidur di sebelah Raya duduk.
"ukh. ukh..." Raya tersedak mendengar ucapan bu Darsih yang seperti cenayang saja. Bu Darsih seperti tahu apa yang sedang Raya pikirkan.
"Hati-hati bu Dokter, ibu nggak minta kok!" Ucap bu Darsih sambil tersenyum menghibur Raya.
"Itu Hpnya dari tadi kok nyala terus, nggak di angkat?" Tanya bu Darsih yang melihat ponsel Raya tidak berhenti menyala sejak bu Darsih masuk ke kamar tadi.
Raya sekilas melihat nama yang terteara di layar ponselnya. Hanya tersenyum, lalu menggelang saja. Raya tahu itu pasti orang yang sebenarnya sangat Raya rindukan.
***
bersambung
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1