JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 13 rencana untuk sekolah


__ADS_3

Setelah pulang dari sekolah di ujung desa Yana bercerita betapa sedihnya dia melihat kesenjangan yang begitu jelas terlihat disini dan di tempat asalnya. Walaupun Yana bukan dari kota besar, namun semua fasilitas sekolah maupun kesehatan dapat di akses dengan sangat mudah. tenaga pendidik maupun tenaga kesehatan masih cukup memadahi, tidak kekurangan seperti disini.


" aku prihatin lihat tempat sekolahnya, Ra!" adu Yana sambil membayangkan ruang kelas yang hanya satu gedung, dan disekat dengan triplek setinggi bahu orang dewasa. Tidak hanya itu triplek tersebut juga sudah mulai rapuh di makan rayap dan berlubang.


" kamu cerita dulu nggak usah lebay dulu, Yan!" sahut Beni mengejek. sebenarnya Beni adalah orang pertama yang tahu tentang sekolah itu, hanya saja Beni memilih diam dan tidak menceritakan kepada ke-2 dokter temannya ini karena pasti akan banyak drama dan air mata. Menurut Beni itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah panjang daftar list kegiatan mereka tanpa tujuan yang jelas.


Raya yang mendengar Beni asal bicara menepuk pundaknya dan melotot marah Beni agar tidak perlu komentar kalau misalnya tidak dapat membantu apapun juga. " cerita dulu, aku juga mau tau!" pinta Raya.


" kamu tahu!" kata Yana akan mulai menceritakan apa yang dia lihat di sekolah tapi di potong oleh Beni.


" nggaklah...kamu kan belum cerita, Yan.." ledek beni sambil mengambil camilan di atas meja dan membuka laptop untuk mengerjakan laporan yang sudah di buat drafnya oleh Raya.


"ish...dengerin dulu makanya.." jengkel Raya sambil mencubit tangan Beni yang paling dekat dengannya.


" kamu thu emang trouble maker ya, Ben... kalau ada kamu nggak ada masalah rugi banget apa?" oceh Yana sambil melotot ke arah Beni dan berkecak pinggang.


" hehehe..." Beni hanya nyengir kuda sambil melanjutkan mengunyah makanannya.


" malah sok imut gitu lagi..!" omel Yana yang sudah naik darah mendengar ketawa Beni yang menurutnya mengejek sekali.


" ya kan emang imut dari lahir.." puji Beni kepada diri sendiri.


"imut dari mana? " jawab Yana sambil meneliti wajah Beni. " yang ada malah amit-amit." lanjut Yana sambil membentuk dahinya dengan tangan lalu mengetuk tangan ke meja didepannya.


" nggak usah amit-amit ntar malah.."


" jodoh.." lanjut Raya.


"cinta.." lanjut Beni.


" ngarep...!" sahut Yana emosi.


" kamu ngarep kita jodoh?" tanya Beni sambil bermain mata dan menarik turunkan alisnya, untuk membuat Yana tidak begitu memikirkan masalah sekolah yang pasti akan panjang, dan belum tentu dapat mereka selesaikan.


karena geram dan sudah kehabisan kata-kata Yana melempar tutul toples yang ada didepannya.

__ADS_1


" ih ayang tau ja kalau abang mau nutup toples..!" canda Beni sambil menerima tutup toples yang di lempar Yana dan menutup toples yang tadi di pegangnya.


" gua ajak gulat juga n..." belum selesai Yana berkata Beni sudah menyahut lagi.


" gulat dimana?, dikasur?" goda Beni lagi.


" Raya, lihat thu Beni..omongannya jorok" adu Yana kepada Raya.


Raya yang dari tadi diam langsung tertawa terbahak-bahak." kalian thu cocok, besok selesai dari sini langsung nikah ja, aku jadi bridesmaid kalian ya.." bukannya menolong Yana, Raya malah tambah membuat Yana emosi.


Yana yang sudah emosi memilih untuk berjalan masuk saja ke kamar. kedua temannya ini sudah kompak untuk membulli dirinya.


" eh..mau kemana calon istri?" ejek Beni sambil menghadang Yana di depan pintu kamar.


" mau masuk!" usir Yana kepada Beni.


" mau gulat ya Yan?" ejek Raya.


Yana mendengar itu melotot ke arah Raya sambil mencubit Beni yang berdiri di depannya.


Yana menurut saja duduk kembali ketempat semula, lalu mengambil toples makanan di atas meja dengab wajah cemberut.


" jadi ceritanya gimana?" tanya Raya mulai menanggapi dengan serius, karena Yana sudah mood jutek tingkat dewa alias 'senggol bacok'.


" aku kepikiran buat bikin bangunan sekolah yang layak disini!" kata Yana tiba-tiba.


" terus yang ngajar siapa?" tanya Beni.


" ya kita cari guru di sekitar sini, pasti ada!" jawab Yana dengan menggebu-gebu sambil meletakan toples di pangkuannya ke atas meja.


" gini ya, Yan. kalau cuman buat gedung lebih mudah, pakai bange....ttttt kita cuman cukup kasih dana dengan uang jajan kita ja cukup sebenernya, sisanya negakin sampai jadi gedung warga desa juga pasti gotong-rotong buat bangunnya..." penjelasan Beni di potong Yana.


" yakan selesai masalahnya." sahut Yana.


Beni lalu mengelus kepala Yana sambil tersenyum dan kembali menjelaskan." oke gedung ada, tenaga pendidik bisa kita, cari menurut kamu tadi, tapi mereka akan tahan berapa lama?" tanya Beni.

__ADS_1


" selamanya dong inikan buat mereka juga." sahut Yana antusias.


" nggak sesimpel itu kayaknya..." sahut Raya sambil melirik Beni. Raya tahu Beni itu akan berfikir panjang untuk memutuskan sesuatu. Raya juga sempat berfikir sesimpel Yana tapi mendengar sedikit penjelasan Beni, Raya sadar masalahnya tidak semudah yang Yana fikirkan.


" dan untuk gaji gurunya darimana?" tanya Beni lagi.


" dari SPP anak-anak sini!" sahut Yana cepat.


" kamu lihat untuk makan ja mereka susah, gimana mau bayar gaji guru?" tanya Beni lagi.


"terus kita harus buat apa?" tanya Yana frustasi.


" pertama kita harus cari orang yang bisa bertanggung jawab untuk semua ini. karena pak Wahit sudah tidak memungkinkan untuk jadi kepala sekolah lagi. kita harus cari oran, yang bisa jadi kepala sekolah untuk sekolah ini ke depannya" jelas Beni pelan.


" kedua aku udah siapkan ini." Beni mengeluarkan proposal dari dalam tas laptopnya. " aku sudah pelajari beberapa proposal pendirian sekolah, izin dan segala macamnya." lalu dengan sigap Beni menjelaskan proposal itu kepada kedua temannya ini. detail-detail peran apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membantu warga dan pembagian tugas sederhana dari Beni kepada dua orang dokter muda tersebut.


" terus orang yang bertanggung jawab nanti siapa?" tanya Raya yang sudah faham dengan sikap Beni yang diam untuk menyelesaikan masalah.


" iya siapa?" tanya Yana mengulang pertanyaan Raya, berharap bisa membantu anak-anak cerdas di desa ini.


" aku sudah siapkan orangnya. tinggal tunggu besok orangnya bakal datang ke desa ini." jelas Beni.


" sok misterius !" sahut Yana yang sudah seperti di beri harapan tinggi lalu di hempas.


" ya kan biar kamu suka sama aku ayang.." goda Beni ke Yana.


Raya yang mendengar godaan Beni merasa mual dan ingin muntah. "hoek...hoek.." kata Raya sambil menutup mulut menggunakan kedua tangannya. "aku butuh ember..." pinta Raya pura-pura jijik.


" apa korelasinya coba antara kamu sok misterius sama aku suka ke kamu.. nggak nyambung!" ejek Yana sambil melempar kulit makanan kearah Beni.


" harus ada pokoknya!" sahut Beni memaksa. akhirnya mereka tertawa bersama melihat tingkah Beni yang kadang abstrak namun terkadang bisa berubah serius dalam sekejap mata.


***


Terkadang masalah hanya bisa di selesaikan dengan kepala jernih, bukan dengan emosi tau air mata sensitif.

__ADS_1


__ADS_2