JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
bab 27. Pamit


__ADS_3

"Tadi sebenernya Raya kenapa?" Tanya Beni bingung.


Rasyid yang juga tidak tahu kenapa Raya seperti itu hanya menggeleng kepala saja. Rasyid juga sangat penasaran. Tapi dia memilih diam, untuk membuat Raya lebih tenang dulu.


Sesekali Rasyid sibuk dengan layar Hp nya yang terus saja berdering, menandakan pesan terus saja masuk.


"Kenapa?" Tanya Beni curiga.


"Temenku di jakarta, resek banget!" Jawab Rasyid cuek, sambil pamit ke luar rumah untuk menelpon seseorang.


Yana keluar dari kamar, meninggalkan Raya sendirian. Setelah Raya sudah tidak lagi menangis dan lebih tenang.


"Gak pa-pa kan Raya?" Tanya Beni khawatir.


Beni takut Raya patah tulang karena ulahnya yang tidak di sengaja.


"Nggak pa-pa, cuman kaki Raya sakit lagi ja karena jatuh tadi!" Jelas Yana sambil berlalu ke dapur.


Yana sengaja menghindari pertanyaan Beni.


"Yakin?" Tanga Beni curiga.


"Iya"


"Perasaan waktu kemaren jatuh dari pohon sampai kakinya bengkak thu anak santai ja dah?" Ucap Beni bingung. " Yang ada malah kamu, Yan yang nangis-nangis di depan Ray. Ini kok malah Raya jadi nangis lebay cuman gara-gara jatuh kesenggol?" Beni mulai curiga.


Beni memperhatikan Yana, yang menurutnya Yana pasti menyembunyikan sesuatu.


"Aku nggak tahu, mungkin karena belum sembuh terus kebentur lagi kali!" Ucap Yana kesal harus berbohong.


"Kita tanya sama Rasyid aja?" Beni memberi ide yang paling masuk akal menurutnya.


"Nggak usah dech, nanti tunggu Raya cerita dulu ja!" Cegah Yana.


"Ya sudah kalau gitu!"


"Rasyid nya kemana?" Tanya Yana


Yana melihat sekeliling rumah yang tidak melihat Rasyid di sekitar rumah sedari dia keluar dari kamar Raya.


"Kayaknya nelpon orang dech, soalnya tadi Hp Rasyid bunyi terus!" Beni menunjuk arah Rasyid keluar dari rumah.


Rasyid masuk dari arah yang di tunjuk oleh Beni, dengan wajah sedikit bingung. Tanpa mengatakan sesuatu.


Rasyid yang melihat Yana sudah bersama Beni, mengetuk pintu kamar Raya pelan dan izin untuk masuk.


"Ay, aku boleh masuk?" Tanya Rasyid sambil membuka pintu kamar Raya sedikit.


"Masuk ja, Id!" Ucap Raya pelan.


Raya yang duduk di atas kasur sambil memandang keluar jendela melihat suasana desa yang begitu asri dengan semilir angin yang menerpa wajahnya. Hanya melihat kearah pintu sekilas.


"Masih sakit kakinya?" Tanya Rasyid sambil mengusap kepala Raya.


"Nggak kok, tadi aku kaget ja. terus ini jatuh di bekas yang kemaren!" Ucap Raya pelan.


Raya tahu, bila ia berakting masih sakit. Rasyid pasti akan tetap tinggal disini meninggalkan semua urusannya di jakarta. Tapi, bila Raya melakukan itu pasti akan sangat menyakitkan bagi calon tunangan Rasyid dan Rasyid sendiri.


Tanpa sadar Raya meneteskan air matanya yang langsung di sadari oleh Rasyid.


"Kamu kenapa?" Tanya Rasyid.


Rasyid yang melihat itu lalu memeluk pundak Raya untuk bersandar kepadanya.


Raya hanya menggeleng saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Kamu beneran nggak pa-pa kan?"


"Kamu kok jadi cerewet banget sih, Id!" Omel Raya sambil menghadap kearah Rasyid.


Ternyata pilihan Raya untuk menghadap Rasyid salah. Karena dengan tindakan itu membuat jarak wajah Raya dan Rasyid menjadi begitu dekat. Membuat Jantung Raya seperti hendak keluar dari tempatnya.


Begitu kerasnya detak jantung Raya, membuat Raya yakin Rasyid pasti bisa mendengarnya. Raya mencoba menjauh agar Rasyid tidak sadar dengan itu.

__ADS_1


"Mau kemana?" Tanya Rasyid


Rasyid yang melihat pergerakan Raya hendak pergi dari sampingnya, menahan tangan Raya agar tetap duduk di samapingnya.


"Mau makan, laper!" Ucap Raya keluar dari kamar.


Raya berjalan ke dapur mencari makanan, tapi tidak menemukan apapun juga.


"Yan!" Teriak Raya menghampiri Yana.


"Apa?"


Yana menutupi kedua kupingnya, karena teriakkan Raya sangat mengganggu.


"Kamu nggak masak?" Tanya Raya polos.


"Mana sepet masak aku, orang kamu nangis kayak kesurupan gitu tadi?" Ejak Yana, mengingatkan tingkah Raya seperti anak kecil.


"Hehehe..." Raya hanya tersenyum seperti anak kecil.


"Kita beli makan di luar ja hari ini?" Usul Rasyid.


Rasyid berlalu masuk ke kamarnya bersama Beni. Mengambil kunci mobil.


" Kalian hari ini bebas tugas kan?" Tanya Rasyid.


"Ayok!" Beni dengan semangat berjalan keluar.


"Tunggu, aku ganti baju dulu!" Ucap Yana.


Yana berlari masuk ke kamar nya untuk mengganti bajunya.


"Kamu nggak ganti baju juga, Ai?" Tanya Rasyid.


Raya lalu berjalan ke kamar mengambil jaket, lalu memakainya. Raya juga mengambil Hpnya di letakkan di atas meja .


"Cepet banget, Ra?" Tanya Beni.


"Maksudnya?" Raya bingung dengan pertanyaan Beni.


"O.... Kita taruhan yok!" Ajak Raya pada Beni.


"Kurang 5 menit!" Sahut Beni


"Aku yakin lebih!" Ucap Raya.


"Taruhan apa?" Tanya Rasyid penasaran.


Raya menghidupkan layar Hpnya, dan mengaktifkan stopwatch, untuk menghitung lama waktu yang di gunakan Yana.


"Berapa lama Yana keluar kamar!" Jawab Beni.


Rasyid yang memang sudah hafal dengan kelakuan Raya yang mudah berubah hanya dalam hitungan detik hanya geleng-geleng kepala. Padahal beberapa menit yang lalu masih menangis, sekarang sudah mulai taruhan dengan Beni.


Rasyid suka dengan semua yang ada pada diri Raya. Terutama kelakuan Raya yang suah di tebak. Kadang bisa sangat dewasa, sedetik kemudian sudah seperti anak umur 5 tahun yang meminta permen.


"10"


"9"


"8"


"7"


"6"


"5"


"4"


"3"


"2"

__ADS_1


"s...a...t..u"


Raya dan Beni menghitung mundur bergantian supaya lebih seru.


"Ye.... Aku menang!" Ucap Raya sambil meminta uang kepada Beni.


"Yah..." Beni hendak mengambil uang dari sakunya ketika Yana keluar dari kamar.


"Nggak usah, Ben!" Cegah Rasyid sambil menahan tangan Beni.


"Kenapa?" Tanya Raya dan Beni serempak.


"Nggak baik taruhan. Nanti kalau kamu mau uang ambil punya ku ja, Ay!" Jelas Rasyid.


"Nggak asyik, Id!" Raya mengerucutkan bibirnya.


" Kalian ngapain?" Tanya Yana.


"Biasa, Yan!" Ucap Beni.


"Dasar temen kurang di hajar!" Marah Yan.


"Hehehe!" Raya dan Beni tertawa mendengar ocehan Yana.


"Ayo, berangkat!" Ajak Rasyid.


"Aku yang nyetir boleh?" Tawar Beni.


"Boleh banget, aku capek lembur semalaman!" Rasyid melempar kunci mobil ke arah Beni.


"Ayang Yana duduk di samping abang ya?" Goda Beni pada Yana.


"Ma..."


Belum sempat Yana menjawab sudah di potong oleh Rasyid.


"Kau depan ya Yan, aku mau tidur selama perjalanan!" Tawar Rasyid.


"Emang mau cari makan dimana?" Tanya Raya.


"Cari makan sambil jalan-jalan, Ai!"


"Kok gitu?" Tanya Yana.


"Besok aku harus pulang ke jakarta. Jadi cuman ada waktu hari ini buat jalan-jalan!" Ucap Rasyid.


Raya duduk di belakang di samping Rasyid. Sedang Yana di samping sopir ya itu Beni.


Tiba-tiba Rasyid tidurdi paha Raya.


"Sebentar ja, Ay. Besok biar aku kuat nyetir mobil kembali ke provinsi." Ucap Rasyid sambil memejamkan mata.


Raya hanya tersenyum pahit melihat tingkah Rasyid.


'Jangan buat aku jatuh semakin salam, Id!' Pikir Raya.


****


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (8 bab)




Brondong Meresahkan (8 bab)


__ADS_1



__ADS_2