
"Janji sama kakak, Quinsha harus jadi anak yang kuat dan tidak boleh sakit lagi, seperti tadi!" Ucap Raya sembari mengulurkan jari kelingkingnya sebagai tanda janji mereka.
"Janji!" Ucap Quisha semangat menerima uluran jari kelingking Raya. Lalu mereka berdua menautka jari kelingking mereka, sebagai tanda perjanjian keduanya.
***
Raya meninggalkan Quinsha ketika neneknya sudah keluar dari kamar mandi, untuk bergantian menggunakan kamar mandi yang ada disana.
"Terimakasih bu dokter!" Ucap nenek dari Quinsha, ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Raya sedang mengobrol dengan sang cucu.
"Sama-sama, saya ke kamar mandi dulu!" Ucap Raya sambil sedikit membungkuk, menunjuk kamar madi di depannya dengan menggunakan ibu jarinya.
"O..iya silakan. Kami duluan!" Pamit sang nenek.
Raya hanya tersenyum, lalu masuk kedalam bilik kamar mandi yang tadi di gunakan oleh nenek Quinsha.
Raya menghabiskan waktu cukup lama untuk menggunakan kamar mandi. Setelah selesai Raya bergabung dengan bu Darsih dan juga Iqbal yang sudah terlebih dahulu selesai dari kamar mandi dibandingkan dengan Raya.
Bu Darsih dan Iqbal telah menyantap makanan yang mereka pesan disana. Setelah selesai makan bu Darsih pamit ke kamar mandi sebentar untuk buang air dan juga mencuci muka agar lebih segar.
Sedang Raya dan juga Iqbal yang sudah selesai menunggu bu Darsih di mobil. Tiba-tiba Iqbal bertanya tentang kenapa Raya mau mengabdikan diri di desa terpencil.
"Bu dokter!" Panggil Iqbal tiba-tiba.
"Kenapa?" Tanya Raya sambil mencari tempat duduk yang nyaman di dalam mobil.
"Sudah lama bekerja di puskesmas?" Tanya Iqbal.
"Kalau di daerah ini baru 1 bulan ini." Jawab Raya. "Kenapa?" Tanya Raya balik.
"Nggak apa-apa sebenarnya. Tapi, bukannya lebih bagus kalau menjadi dokter di kota?" Tanya Iqbal penasaran.
"Dalam segi apanya dulu?" Tanya Raya sambil tersenyum.
"Dalam segi apapun?" Ucap Iqbal sarkas.
"Contohnya?" Tanya Raya hati-hati.
Raya tidak ingin jawabannya nanti malah akan menyinggung perasaan Iqbal sebagai orang asli daerah ini.
"Mungkin uang?" Tanya Iqbal sambil mengajar bahunya. "Dan fasilitas yang kita butuhkan, untuk perawatan." Jawab Raya sambil sedikit menoleh nafas.
"Kalau semua dokter memilih disana terus siapa yang akan ke desa-desa terpencil seperti in?" Tanya Raya balik.
"Tapi paling tidak disana yang kita hasilkan, sesuai dengan yang sudah kita keluarkan!" Ucap Iqbal mengungkapkan pendapatannya.
"Tidak semuanya tentang uang!" Ucap Raya singkat.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Iqbal mendesak.
"Tapi dari hati dan juga kenyamanan. Belum tentu dengan uang kita bisa merasa nyaman. Kita butuh ketenangan di hati, agar bisa bekerja dengan baik." Jawab Raya sambil tersenyum untuk menyembunyikan perasaan sedihnya dalam hati.
"Lagi pula pengalaman yang panjang dan pelajaran yang hebat malah saya temukan di tempat-tepat jauh seperti ini dibandingkan dengan di kota." Ucap Raya sambil menghela nafas sejenak.
"Disana malah hanya akan saling sikut dan berebut kekuasaan." Jelas Raya yang dari awal sudah di tawari bekerja di rumah sakit di kota asalnya melalui jalur yang tidak tepat menurut Raya.
Walaupun sebenarnya Raya lari dana mengabdikan dirinya disini untuk menenangkan hatinya yang sudah hancur lebur bagaikan serpihan.
Iqbal cukup mengagumi jawaban Raya yang begitu mementingkan kenyamanan di bandingkan materi, yang sebenarnya dapat Raya dapat dengan mudah.
"Klik!" Pintu mobil depan di samping sopir terbuka, bu Darsih masuk.
"Maaf lama!" Pinta bu Darsih.
Mobil melaju kembali membelah jalanan yang cukup padat oleh mobil-mobil tambang yang mulai beroperasi di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Raya memilih tidur sejenak untuk menghilangkan rasa kantuk yang menggelayuti kedua matanya, yang tidak bisa di ajak kompromi sebentar saja.
Iqbal melirik Raya yang sedang tidur di kursi belakang dari kaca spion tengah. Iqbal membenarkan sesekali membenarkan posisi kaca spion agar lebih jelas melihat wajah Raya yang sedang tertidur dengan begitu lelapnya.
"Cantik!" Gumam Iqbal memandang wajah Raya, sambil tetap fokus melihat jalanan yang sudah mulai gelap.
***
Mungkin hanya sekitar 5 menit perjalanan menggunakan mobil tempat tujuan Raya akan sampai.
Iqbal memilih hotel ini agar lebih efesien dan lebih cepat dalam semua hal besok pagi.
"Bu.... Bu Darsih... Bangun bu, sudah sampai hotel kita!" Panggil Iqbal sambil mengguncang-guncang lengan bu Darsih yang dekat dengan jangkauannya, pelan.
Bu Darsih hanya menggeliyat sebentar, lalu mengusap kedua matanya dengan menggunakan telapak tangan untuk menghilangkan sedikit rasa kantuk yang masih menggelayuti kedua kelopak matanya.
"Bu dokter...bu..Bu dokter....!" Panggil Iqbal pelan, yang tidak sedikitpun di respon oleh Raya.
"Dok...dok..!" Iqbal masih mencoba membangunkan Raya dengan suara yang cukup pelan.
"Kalau bangunin bu dokter Raya nggak gitu, Bal!" Ucap bu Darsih. "Nggak akan mungkin bangun dia, kalau suara kamu sepelan itu!" Ucap bu Darsih.
Bu Darsih berbalik menghadap ke arah Raya yang duduk di belakang kursi pengemudi, lalu mengguncang tubuh Raya dengan cukup kencang.
"Mau ngapain, bu?" Tanya Iqbal.
Iqbal kasian, kalau-kalau Raya akan kaget dengan guncangan bu Darsih yang begitu kuat di tubuh Raya. Namun, tidak ada respon sedikitpun.
Raya yang merasakan guncangan itu hanya menggeliyat sebentar. Bukannya bangun Raya hanya berbalik dan bergantik posisi tidur, mencari posisi yang lebih nyaman.
__ADS_1
"Lihat?" Tanya bu Darsih menunjuk Raya.
Iqbal yang melihat itu hanya tersenyum melihat tingkah Raya yang memang tidak menceritakan seorang dokter.
"Mau ada sunami juga dia akan tetap tidur pulas sepertinya, bu!" Ucap Iqbal sambil geleng-gelang kepala.
"Dok...dok!" Panggil bu Darsih masih dengan guncangan yang cukup kuat di lengan Raya.
"Hem..." Raya hanya menggunakan sebentar, lalu terbangun seperti orang bodoh.
"Kita dimana?" Tanya Raya yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya.
"Di hotel, ayo turun!" Ajak bu Darsih, sambil membuka pintu mobil yang tepat berada di sampingnya.
Raya yang melihat kedua orang di depannya susah turun dari mobil ikut turun dengan membawa tas ranselnya.
"Kita ngapain di sini bu?" Tanya Raya linglung.
"Kerja!" Jawab bu Darsih singkat.
"O...kerja apa?" Tanya Raya lagi.
"Bu, itu si dokter emang dokter beneran bukan sih?" Tanya Iqbal yang mulai aneh dengan semua tingkah Raya sepanjang perjalanan.
"Kalau bukan dokter, nggak mungkin dia sampai di sini, Iqbal!" Ucap bu Darsih sambil menjital kepala Iqbal.
Ketika mereka memasuki area lobi hotel dan di sambut oleh seorang resepsionis, Raya di kagetkan dengan suara dari seorang yang sangat Raya kenal sejak lama.
"Raya?" Ucap suara itu yang begitu dekat dengan Raya.
***
Baca karya aku yang lain juga yok ada
Ruang Dosen (13 bab)
Brondong Meresahkan (13 bab)
__ADS_1