JODOH : Cinta Pertama

JODOH : Cinta Pertama
40. pembuat onar


__ADS_3

Ketika mereka memasuki area lobi hotel dan di sambut oleh seorang resepsionis, Raya di kagetkan dengan suara dari seorang yang sangat Raya kenal sejak lama.


"Raya?" Ucap suara itu yang begitu dekat dengan Raya.


***


Suara yang memanggil nama Raya begitu Raya kenal, suara yang begitu dekat dengannya sejak Remaja.


Raya berbalik melihat siapa yang menepuk pundaknya dari belakang. Raya terbelalak melihat orang yang menepuk pundaknya. Orang yang Raya rindukan.


"Raya kan?" Tanya orang itu tidak percaya melihat Raya berdiri di hadapannya kini.


"Ka....kamu?" Tanya Raya kaget, melihat orang yang pernah begitu akrab dengannya sejak remaja dulu, yang sudah begitu lama tidak berkomunikasi. "Kamu disini ngapain?" Tanya Raya sambil melihat dari atas sampai bawah.


Rasa kantuk yang menggelayuti kedua kelopak mata Raya seketika menghilang begitu saja melihat orang yang ada di depannya kini.


"Aku kan memang kerja disini sekarang!" Jawabnya sambil memperhatikan Raya.


"Sejak kapan?" Tanya Raya lagi, Raya tidak percaya bisa melihat orang yang berdiri di hadapannya kini.


"Sejak aku lulus kuliah S1 aku langsung di terima kerja di daerah sini!" Ucapnya sambil tersenyum bangga.


"Istri sama anak kamu mana?" Tanya Raya melihat di samping kanan dan kiri, maupun di belakang Orang di hadapannya ini.


"Gua belum nikah, Ray!" Jawab orang itu sewot sambil menepuk jidat Raya.


"GU-NA-WAN.....kebiasaan banget sich, kamu pikir aku atlet binaragawan apa?" Omel Raya sambil menepuk lengan Gunawan sekeras yang dia bisa.


Raya sudah lama sekali tidak mendengar kebiasaan Gunawan memanggil namanya dengan potongan kata seperti itu. Sejak mereka berpisah sewaktu SMA dulu.


Kejahilan yang Raya sendiri sangat ingat sampai sekarang.


"Kamu yang duluan, nanyain anak sama istri selaga, jelas-jelas calon istriku masih belum mau di ajak nikah dari zaman sekolah SMA dulu!" Ucap Gunawan dengan tampang serius.


"Emang siapa?" Tanya Raya mengingat-ingat siapa temen satu angkatannya yang dekat dengan Gunawan. "Perasaan kamu jomblo akut dulu waktu sekolah?"


"Kamu?" Ucap Gunawan sambil tertawa.


"Dasar, kebiasaan!" Ucap Raya menepuk lengan Gunawan kuat.


"Kamu ngapain disini, Ray?" Tanya Gunawan aneh melihat Raya di daerah yang jauh dari kota asalnya.


"Kerja, Gun!"Jawab Raya singkat.


"Kamu bukan harus jadi dokter ya?" Tanya Gunawan sambil mengerutkan keningnya. "Seingatku dulu kamu kuliah ambil jurusan kendokteran kan?" Tanya Gunawan ragu.


"Iya, aku kuliah kedokteran!" Jawab Raya.


"Kok kerja di hotel sekarang?" Tanya Gunawan sambil menggaruk tengkuknya bingung. "Apa kamu udah alih profesi?" Tanya Gunawan jahil.

__ADS_1


"Nggak usah aneh-aneh, Gu-na-wan!" Hardik Raya.


Raya tahu kebiasaan Gunawan yang memang suka sekali mencari masalah denganmu dulu, dan meskipun sudah berpisah cukup lama, tapi ia juga tidak berubah sedikitpun.


"Nggak aneh kok, cuman otakku yang kecil ini kadang suka traveling kemana-mana kalau lihat kamu." Jawab Gunawan sambil bergurau.


Gunawan selalu bisa membuat Raya tertawa dengan semua yang ia ucapkan. Walaupun kadang sebenarnya aneh di telinga orang lain.


"Dasar, si Bambang nggak pernah berubah!" Ejek Raya.


"Hahaha... Aku kangen banget sama panggilan. kamu yang satu itu, Ray!" Gunawan tertawa bahagia mendengar panggilan kesayangan dari Raya untuknya.


Panggilan yang Raya anggap sebagai gurauan dan ejekan, malah menjadi panggilan kesayangan Raya padanya, menurut Gunawan.


Raya yang melihat tingkah Gunawan yang tidak berubah sedikitpun merasa bahagia. Senyum tulus menghiasi sudut bibir Raya.


"Jadi ngapain kamu disini?" Tanya Gunawan memastikan sedang apa Raya beranada disini.


Raya yang bahkan seingatnya dulu selalu di kawal oleh Rasyid, kemanapun dia pergi. Walau kadang Rasyid tidak ada di sampingnya sekalipun, tapi tidak ada yang berani mengganggu Raya.


"Aku kerja jadi dokter kok!" Beritahu Raya sedikit sombong kepada Gunawan, karena jahil. "Cuman sekarang aku lagi ada kerjaan yang membuat aku harus tidur di hotel ini!" Jelas Raya.


"Kirain tadi kamu sudah jadi...!" Gunawan menjeda kata-katanya sebentar lalu melirik Iqbal yang berada di samping Raya.


Iqbal sedang memesan kamar hotel untuk mereka bertiga. Raya dan bu Darsih di satu kamar yang sama, dan Iqbal sendiri satu kamar yang lain.


Sedang bu Darsih sedang duduk di kursi yang di sediakan disana.


"Jadi apa ya?" Gunawan pura-pura berfikir sambil menggaruk keningnya.


"Bu dokter ini kuncinya!" Ucap Iqbal sambil memberikan kunci kamar hotel kepada Raya.


Iqbal juga mengembalikan KTP Raya yang digunakan untuk registrasi.


"Oo...iya, terimakasih." Jawab Raya sambil menerima kunci yang diberikan oleh Iqbal, dan menyimpan KTP miliknya kedalam dompet.


"Nggak di kenalin kami berdua ini, Ray?" Tanya Gunawan sambil menggoda Raya.


Gunawan meneliti setiap inci dari diri Iqbal. Melihat Iqbal dari atas ke bawah. Sehingga membuat Iqbal sedikit risih.


"Kenalin ini Iqbal!" Raya memperkenalkan Iqbal pada Gunawan, sambil menunjuk Iqbal.


"Dam Iqbal kenalin, manusia resek satu ini Gunawan!" Raya memperkenalkan Gunawan pada Iqbal.


"Iqbal!" Ucap Iqbal memperkenalkan diri, dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Sebagai sopan santun.


"Gunawan, cinta pertama Raya!" Ucap Gunawan jahil, sambil menerima uluran tangan Iqbal, dan menggenggamnya kuat-kuat


"Nggak usah mulai aneh-aneh dech..!" Ucap Raya.

__ADS_1


Raya menepuk pundak Gunawan yang mulai dengan kejahilan-kejahilannya. Gunawan ternyata masih sama tidak berubah dengan hobi menggoda Raya.


"Jadi ini kalian berdua saja?" Tanya Gunawan yang hanya melihat Raya dan Iqbal di meja resepsionis hotel ini.


"Nggak!" Jawab Raya sewot.


Raya tahu temannya satu ini pasti berfikir yang aneh-aneh.


"Kami datang kesini bertiga, dengan bu Darsih." Jelas Iqbal sopan. "Itu beliau sedang duduk di sofa!" Tunjuk Iqbal ke arah sofa diamah bu Darsih sedang bersandar.


"Kirain...!" Ucap Gunawan menjahili Raya.


"Kamu sendiri ngapain di hotel, sendirian?" Tanya Raya.


"Aku kerja disini!" Ucap Gunawan.


"Kok nginep di hotel?" Raya mulai curiga dengan Gunawan.


"Aku emang kerja di kota ini, tapi tepatnya nggak di daerah ini. Jadi, aku kalau kesini ya harus nginep di hotel." Jelas Gunawan.


"O.. kirain!" Jawab Raya.


"Saya pamit langsung ke kamar duluan ya!" Pamit Iqbal yang memang sudah lelah, Karena menyetir selama beberapa jam.


"Bareng ja, Bal!" Ucap Raya.


"Saya bangunkan bu Darsih dulu ya!" Pamit Iqbal sambil berjalan meninggalkan Raya.


"Jadi kamu lari dari Rasyid itu demi dia, Ray?" Tanya Gunawan lebih ke berbisik kepada dirinya sendiri.


***


bersambung


Baca karya aku yang lain juga yok ada




Ruang Dosen (13 bab)




Brondong Meresahkan (13 bab)


__ADS_1



__ADS_2