
Setelah selesai membaca surah ar-rahman sebagai mahar dari pernikahan nya ini. Acara pernikahan Rina dan Firdaus pun selesai di ucap kan.
Kini mereka bersalam salaman kepada orang tua masin-masing. Kemudian salaman pada mertua masing-masing. Dengan begitu, acara untuk pengantin baru telah sekesai.
Kini mereka berdua tinggal menerima ucapan selamat dari para tamu ayah dan bunda yang datang lagi.
Selebih nya, akan selesai lah acara yang berlangsung lumayan lama ini. Lumayan bikin pegal kaki mereka berdiri, untuk menerima ucapan selama pengantin baru dari tamu.
Hingga beberapa jam kemudian, tamu nya telah pulang kerumah masing-masing. Kini tinggal Rahmah dan keluarga Firdaus yang ada di sana. Dan beberapa anggota dari WO yang masih beres-beres.
Tapi, sejak salaman sampai sekarang. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kedua pengantin baru ini. Bahkan saat para tamu memuji mereka berdua sangat cocok bersama, bagai kan pinang di belah dua. Kata setiap tamu yang memuji mereka pun, mereka hanya tersenyum saja. Tak ada kata yang keluar dari kedua nya.
"Rina, selamat yah. Aku gak bisa ucap kan tadi lho karna orang nya lumayan ramai." kata Rahmah sambil memeluk teman nya itu.
"Doa yang terbaik buat mu Rina," kata nya lagi
"Terima kasih banyak Ma," kata nya tersenyum. Itu pertama kali ia berbicara setelah turun dari kamar nya beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
Teman nya menganguk. Rahmah tersenyum manis, dia ingin cepat-cepat pamit pada teman nya. Karna ia ingin melihat Rahmat, apa kah yang terjadi dengan anak itu. Mungkin kah anak itu memang tak ingin datang, atau memang benar ibu nya sedang sakit.
Tapi, untuk minta izin pulang pada Rina gak mungkin. Karna, dia tidak ingin ganggu momen bersama sahabat nya itu.
Dia memutus kan untuk izin pada bunda Rina saja. Tapi juga menunggu waktu yang tepat untuk meminta izin ini.
Tak lama Rina menghampiri bunda nya yang sedang duduk bersama dengan mertua nya itu.
"Bunda, Rina keatas dulu yah. Mau ganti baju dulu, gerah soal nya." kata nya pada bunda nya.
"Oh,,, ya udah. Kamu sekalian ajak Firdaus kekamar kalian. Biar ia juga bisa istirahat di sana." kata bunda.
"Sekamar bunda". Kata nya pelan dengan wajah yang tidak terima.
"Iya sekamar, masa iya Firdaus tinggal di kamar tamu. Sedang kamu di kamar mu. Kalian kan suami istri." kata bunda lagi menyambut wajah tidak terima dari anak nya.
Sedang kan abi dan umi Firdaus tersenyum geli melihat tingkah menantu nya ini. Sedang Firdaus hanya diam tanpa ekspresi saja.
__ADS_1
"Baik lah bunda." kata nya ingin pergi.
"Eh,,, Rina. Kok pergi nya sendiri, suami mu di sini lho. Masa kamu tinggalin sih." kata bunda.
"Iya... Bunda maaf. Ayo... Kekamar". Kata nya sambil menunduk kan kepala nya.
Terlihat sekali wajah cangung nya Rina, itu bikin ayah bunda dan mertua nya tertawa geli melihat tingkah nya itu.
"Yang benar dong Rin, masa kamu ajak suami mu seperti itu. Panggil mas kek gitu kan enak di dengar nya." kata bunda lagi.
"Iya,,, bunda. Maaf... " kata nya merasa tak enak. Karna ia menjadi bahan tertawa bagi orang tua nya.
"Sudah lah Wulan, kamu tega sekali ngerjain putri mu." kata Hafis pada bunda.
"Firdaus, ayo pergi. Istri mu ingin kamu kekamar dengan nya. Jika kamu masih di sini, wajah istri mu mungkin akan terus memerah karna ulah mertua mu itu." kata umi pada anak nya.
Mendengar kata itu, Firdaus memandang wajah istri nya. Benar saja, wajah nya terlihat merah karna menahan malu.
__ADS_1
"Iya,,, umi." kata nya menjawab perkataan umi nya. Kemudian ia pamit pada orang tua dan mertua nya. Untuk naik keatas, menuju kamar Rina.