Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 63


__ADS_3

"Upss maaf.......sengaja. bayyyy gue pergi, makasih loh udah di bolehin masuk walau cuma di depan rumahnya doang" Meli melambaikan tangannya dengan wajah penuh kemenangan.


"Pergi lo setan, kalau terjadi apa apa sama anaknya Nara, lo yang pertama kali gue cari" ancam Zaki, sedangkan Meli mengedikkan bahunya tak acuh.


"Terlalu munafik untuk di bicarakan" gumam Meli sebelum akhirnya pergi dari area rumah Raditya.


"Awshhh kak tolong" cicit Nara dengan nafas tersenggal, bibirnya bergetar ketika melihat adanya darah mengalir dari dalam gamisnya.


"Darah Ra" ucap Zaki ikut shok dan tidak tahu harus berbuat apa, "Maaf Ra aku lancang, tapi ini demi keselamatan anak kamu. Saya ijin gendong kamu" Zaki menggendong Nara masuk kedalam mobilnya untuk segera di bawa kerumah sakit.


"Kamu sabar ya" ucap Zaki mencoba membuat Nara tenang, pasalnya dari tadi Nara terus saja meringis.


Tin tin tin


"Sial jalanan sini macet lagi" Zaki memukul kemudi yang dia pegang, tidak ada waktu lagi menunggu macet selesai, macetnya terlihat panjang tidak mungkin bukan? Membawa Nara yang kesakitan dalam keadaan macet seperti ini.


Akhirnya Zaki memundurkan mobilnya kembali dan mencoba mencari jalan pintas, "Ra? Apa aku boleh pinjam hp kamu buat menghubungi suami kamu?"


"H-hp a-aku di r-rumah awshhh"


"Shitt" umpat Zaki, "Bisa jadi fitnah dan masalah besar" gumam Hari.


"Tapi kamu tahu nomornya?" tanya Zaki, Nara mengangguk lemah, "Coba kasih tau aku supaya suami kamu bisa nemenin kamu di rumah sakit nanti.


Nara mulai mengeja setiap angka nomor telepon Raditya, kuat tidak kuat dia harus melakukannya, Zaki ada benarnya juga kalau Raditya harus menemaninya di sini, karena sumber kekuatan Nara tersendiri adalah Raditya.

__ADS_1


Selama 15 menit akhirnya ia sampai di rumah sakit, "Suster tolong" teriak Zaki kepada suster yang sedang berlalu lalang di depan rumah sakit.


Suster itu segera mengambil kursi roda dan membantu Zaki untuk mendudukkan Nara di sana setelahnya suster itu membawa Nara ke dalam dan dengan di ikuti Zaki.


Dokter dan seorang suster yang membawa Nara masuk kedalam ruangan, sedangkan Zaki hanya menunggu di luar saja.


"Dengan suami pasien? Mohon maaf pak, istri bapak saat ini juga akan melangsungkan persalinan, dan beliau sendiri yang meminta suaminya agar bisa menemaninya"


"E-euh d-dok? Saya buk......"


"Tidak ada banyak waktu pak mari sekarang juga ikut saya"


Kenapa lo lama banget sih anj*ng, istri lo lagi butuh lo. Masa iya gue yang harus nemenin istri lo lahiran? Nanti pasti bakal jadi salah paham besar,, ucap Zaki dalam hati


"Dok su-suaminya bukan......"


Terlihat Zaki sedang berpikir keras, harus bagaimana dirinya sekarang ini?, "I-iya saya akan....."


"Saya suaminya dok, dia hanya temen saya dan istri saya saja" ucap Raditya yang tiba tiba datang dengan berlarian.


"Baiklah pak, sekarang juga mari ikut saya istri bapak akan melangsungkan persalinan dan dia membutuhkan bapak.


"Melahirkan dok?"


"Iya pak, tolong jangan banyak bicara sudah saya bilang istri bapak membutuhkan bapak" geram dokter itu, lalu masuk.

__ADS_1


"Baik dok" sahut Raditya dan mulai berjalan mengikuti dokter itu masuk sebelumnya ia menatap dahulu wajah Zaki dengan tatapan yang tak bersahabat.


Zaki membalas tatapan Raditya dengan datar, setelah Raditya masuk Zaki membuang nafasnya, dugaannya benar pasti akan timbul salah paham dan berujung masalah, "Yaudahlah yang penting keselamatan anaknya dulu, soal gue gimana nantinya itu bodo amat, terserah dia mau apain gue.


Raditya buru buru menghampiri Nara yang sedang di temani suster dan dokter, ia langsung memegang tangan Nara dan mengusap kepala Bara yang sudah basah dengan keringat, "Sayang, tenang ada saya.


"M-mas Radit?"


"Iya ini saya sayang" Nara mencengkram erat tangan Raditya untuk mendapatkan lebih banyak kekuatan.


"Coba buk, lebih keras lagi ngedennya" ucap dokter. Nara semakin kuat mengeden dan semakin kuat juga teriakan sekaligus cengkramannya pada tangan Raditya.


Raditya menangis melihat Nara yang seperti itu, mulutnya berkomat kamit membaca sesuatu sebisa bisa dirinya, "Ya Allah tolong beri kelancaran kepada istri hamba.


"Ayo buk, tinggal sedikit lagi" ucap dokter


"Ayo sayang kamu bisa" Raditya mengecut kening Nara, mengelus rambut Nara yang basah akibat keringat. Nara menarik nafas dan mengeden sekuat tenaganya, dan.....


Oekkkk oekkkkk


Seorang bayi mungil lucu dan menggemaskan lahir dengan selamat, bayi yang selama ini Raditya dan Nara impian akhirnya telah lahir dengan selamat kedunia.


"Alhamdulillah ya Allah" Raditya merengkuh Nara sepertinya kelelahan, Raditya menangis dalam pelukan Nara. Bukan tangisan sedih namun tangisan kebahagiaan.


"Terima kasih ya Zaujati" ucap Raditya, Nara mengangguk lemah petanda jawabam terima kasih Nara.

__ADS_1


"Selamat ya pak buk, anaknya ganteng, sehat dan sempurna, tidak ada kekurangan apapun.


Raditya dan Nara menoleh ke arah dokter yang sedang menggendong bayi mereka, mereka kompak menampilkan wajah bingung dan terkejut, "Ha? Ganteng?" Ucap mereka berdua kompak.


__ADS_2