
Raditya menendang tangan orang itu yang sedang memegang pistol sehingga pistol itu jatuh dan langsung dengan sigap Raditya ambil. Sekarang giliran orang itulah yang tidak bisa berkutik, tak bisa ada yang menolongnya karena temannya sudah jatuh pingsan.
Dorrr
Bahkan tanpa aba aba Raditya langsung menembak bagian dada orang tersebut, tak ada lagi belas kasihan di dalam dirinya, siapa yang mengusik keluarganya maka ia akan mati.
"Maaf, tapi kamu yang terlebih dahulu berbuat ulah" ucap Raditya.
Prok prok prok
Suara tepukan terdengar dari arah ruangan, ternyata seseorang muncul di depan pintu ruangan itu. Meli, dia adalah Meli, biang ulah dari masalah ini.
"Wawww seorang pak Raditya Pradifta CEO terkenal di seluruh Indonesia bahkan terkenal akan agamanya ternyata berani membunuh orang juga ya, keren keren" ucap Meli dengan senyum sinis.
"Jangan basa basi, di mana anak saya.
"Santai aja pak, ngobrol dulu lah saya udah bawa banyak minuman di sana. Ayo minum dulu biar gak tegang tegang amat, nanti juga anak itu saya kembalikan. Gak perlu khawatir saya kan akan menjadi ibu keduanya Athar, jadi mana mungkin saya menyakiti dia" ucap Meli memeletkan matanya.
"Astaghfirullahaladzim"
"Ah becanda, awalnya emang gue mau jadi istri lo biar jadi nyonya besar tapi setelah tau lo penyakitan jadi ogah.
"Dulu emang iya gue cinta mati banget sama lo, tapi sekarang iwhh gak sudi gue.
__ADS_1
"Sudah saya duga jika anda mencintai saya memang karena harta saya.
"Heh iyalah harta lo banyak" ucap Meli.
"Lantas jika anda sudah tidak menginginkan saya, kenapa anda masih melakukan hal bodoh seperti ini?"
"KARENA GUE MAU LIAT LO DAN ISTRI LO MENDERITA, PUAS LO?"
Dua orang berpakaian serba hitam keluar lagi dari dalam ruangan itu, Raditya tak habis pikir berapakan orang yang berada di ruangan itu? dan apa masing masing tugasnya, shitt pikirannya kenapa terus tertuju pada Athar?
"Serang lagi" perintah Meli.
Orang itu sudah sigap begitupun Raditya, mereka berkelahi kembali dengan lawan yang sama yaitu satu lawan dua. Tidak adil rasanya bukan? Raditya di lawan dua orang sedangkan kondisinya sudah sangat parah.
Raditya lupa jika dirinya memiliki pistol yang sempat ia rebut dari lawannya, ia menodongkan kepada dua lawannya. Namun sepertinya lawan yang ini lebih bijak dari lawan yang tadi, salah satu orang itu juga menodongkan pistol kepada Raditya, ia menembakkan satu peluru ke lengan Raditya sehingga pistol di genggaman Raditya jatuh begitupun dengan dirinya.
Rio memberi kode kepada Raditya agar pria itu tidak berbicara sepatah katapun, Raditya pun mengangguk kecil, karena bisa saja mereka berhasil membawa Athar kembali.
"Angkat" perintah Meli lagi.
Dua orang itu mengangguk dan menurut, mengangkat Raditya yang kesakitan ke arah balkon di ikuti oleh Meli di belakangnya. Kepala Raditya mereka todongkan ke bawah sedangkan keduanya tangannya mereka pegang masing masing, Raditya sudah tak bisa melawan karena kondisinya sudah sangat lemah.
"Ayo Gus" ucap Rio kepada Gus Afan agar berjalan maju ketika melihat Meli sudah agak menjauh dari ruangan.
__ADS_1
"Ayo pak" ucap Gus Afan kepada dua polisi itu.
Mereka berempat berjalan dengan diam-diam menuju ruangan di mana Athar di sekap, pintu ruangan tak terkunci sehingga membuat mereka lebih mudah memasukinya.
Ceklekk
"Astaghfirullahaladzim" ucap mereka kaget ketika melihat isi ruangan itu, banyak sekali darah bahkan ruangan itu sudah sangat bau anyir, Rio menyergitkan dahinya, "Zaki?"
"T-tolong Athar" ucap Zaki dengan terbata bata, posisinya saat ini tengah memeluk Athar, bagian perut pria itu terlihat banyak sekali darah apalagi di satu titik, apa Zaki terkena peluru?, Pikir mereka.
Terlihat Athar mendongak dengan mata yang sudah basah dengan air mata, "Om Iyo."
"Athar, sini nak" Rio membuka tali yang mengikat Athar, ia memangku Athar sebentar lalu ia berikan kepada Gus Afan.
"Zaki kamu?"
"G-gue gak papa, y-yang penting A-Athar selamat. S-sampein ke Raditya maafin gue, m-mungkin tugas gue buat jagain Athar u-udah selesai. G-gue pamit A-assalamualaikum" hari ini, menit ini dan detik ini juga, Zaki menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kalinya.
"Innalilahi wainailaihi raji'un" ucap mereka semua.
"Telpon ambulance" perintah Rio kepada Gus Afan.
Gus Afan yang sedang memangku Athar mengangguk, ia menelpon ambulance seperti yang Rio katakan.
__ADS_1
"Sudah"
"Oke thanks" ucap Rio, "Raditya, iya Raditya gimana" tambah Rio, ia baru teringat dengan Raditya? Raditya yang baru DATANG DAN MARVIN . Rio langsung bergegas ke luar ruangan itu dan berniat menyusul Raditya ke balkon, namun ia terdiam ketika tidak melihat Raditya di balkon itu, di sana hanya menyisakan dua orang dengan baju serba hitam, dan juga seorang perempuan yang sudah di ketahui jika itu Meli.