
"Are you okay Dit?" tanya Rio menanyakan keadaan Raditya, ia memapah Raditya untuk duduk di kursi.
"Sebentar abang belikan minum dulu" Rio berjalan menuju warung sebrang.
"Athar, kamu di mana nak? Apa kamu baik baik saja? Maafkan Abba yang lalai menjaga kamu" lirih Raditya, bahkan ia tidak menghiraukan rasa sakit yang menjalar di dalam tubuhnya karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada Athar.
Beberapa saat Rio kembali dengan sebotol air mineral di tangannya, terlihat Raditya sedang sedang memegangi dadanya sambil terduduk lesu, "Minum dulu" titah Rio menyodorkan air mineral yang sudah ia buka sebelumnya.
Raditya mengambilnya dan langsung saja meminum air itu hingga tersisa setengah, "Istighfar siapa tau bisa bikin kamu tenang" ucap Rio.
"Astagfirullah astaghfirullah astaghfirullah"
"Gimana?" tanya Rio memastikan kondisinya.
"Alhamdulillah sudah lumayan bang" jawab Raditya.
Tinggg
Ponselnya berbunyi, Raditya segera membukanya siapa tau itu dari Nara.
Meli:
Hallo pak Raditya yang terhormat
Sedang mencari anak bapak bukan?
sekarang dia ada di tangan saya, jika ingin anak bapak selamat segera datang ke lokasi yang sudah saya kirim
/Share lokasi
Dan jangan bawa siapapun apalagi sampai bawa polisi.
Raditya:
(Read)
"Siapa Dit? Serius amat mukanya?"
Raditya buru buru memasukan ponselnya kedalam saku, ia bangkit dari tempat duduknya, "Meli chat saya katanya Athar ada sama dia, saya harus segera kesana untuk membawa Athar kembali"
"Kakak ikut"
__ADS_1
"Gak bang, dia nyuruh saya sendiri dan saya takut kalau saya datang berdua dia malah mencelakai Athar. Saya mohon abang mengerti yah?" tanpa balasan dari Rio, Raditya langsung berlari menuju mobilnya yang terparkir tadi.
"Tapi kondisi lo?...." ucap Rio sedikit berteriak ketika Raditya sudah mulai menjauh, ia baru inget jika Raditya baru saja lemas.
Raditya menjalankan mobilnya dengan kesetanan, tak peduli dengan kendaraan lainnya ia hanya pokus kedepan. Pikiran kacau, pikirannya melayang kepada keselamatan Athar.
"Ya Allah hamba percaya di setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya, maka tolong perlancarlah jalan keluar itu untuk hamba bisa melalui kesulitan yang sedang hamba alami, tolong jaga anak hamba" gumam Raditya di sela sela mengemudikan mobilnya.
Mobil Raditya berhenti di sebuah gedung tua yang terbengkalai di kota jakarta, gedung itu terlihat menyeramkan bahkan cat yang menempel pun sudah banyak yang terkelupas.
Raditya turun dia menatap ke atas gedung yang menjulang tinggi itu, sedikit merinding, namun Raditya tak memikirkan itu lagi ia yakin bahwa Allah senantiasa bersamanya, "Bismillahirrahmanirrahim" ucapnya sebelum masuk kedalam gedung itu.
Di dalam gedung itu, baru saja Raditya masuk suasananya sudah sangat tidak enak. Gelap gulita tidak nampak apapun di hadapan Raditya, Raditya mengambil ponselnya dan menyalakan senter.
"ATHARRR" teriak Raditya.
"INI ABBA NAK, KAMU DI MANA?"
"ATHARRR?"
Tingg
Meli:
Raditya:
(Read)
Raditya buru buru berlari menelusuri tangga karena tidak mungkin harus menggunakan lift yang sudah tidak berfungsi apalagi pasti sudah sangat berkarat.
Di lantai dua, nafas Raditya tersenggel ia berhenti sejenak untuk menetralkan nafasnya. Rasanya sangat lemas apalagi dengan kondisinya saat ini, Raditya memegang bagian dadanya dan sesekali meringis, "Laa ilahailallah"
"Jika memang harus sekarang, saya mohon jangan dulu Ya Allah, ijinkan saya terlebih dahulu membawa anak saya dengan selamat kepangkuan ummanya" lirih Raditya.
"Yo bisa Raditya, bismillahirrahmanirrahim" Raditya kembali berjalan menaiki tangga untuk mencapai lantai ke tiga, kakinya sudah terasa sangat lemah bahkan seperti tak mampu melangkah lagi, pemandangannya kabur, kepalanya berdengung hebat. Namun sebisa mungkin ia tahan demi Athar.
Sesampainya di lantai tiga, Raditya tak menemukan adanya Meli atau Athar di sana. Di lantai ini masih sama seperti di lantai satu dan dua kosong dan gelap, lalu di manakah mereka? Apa Meli membohonginya?
"ATHARRR INI ABBA, KAMU BISA DENGAR SUARA ABBA KAN SAYANG?" Raditya kembali memanggil Athar dengan cara berteriak berharap anak itu bisa mendengarnya.
"Abbaaa........" sahut anak itu dengan suara ketakutan. Raditya membalikkan badannya kesana kemari untuk mencari keberadaan Athar, ternyata Athar merespon panggilannya.
__ADS_1
"Athar ini Abba sayang, kamu di kamana" respect Raditya ia kembali berteriak.
Dorrr!
"Aaaa"
Suara tembakan terdengar dari arah ruangan yang terkunci, jantung Raditya seketika terasa ingin melompat dari tempatmya detak jantungnya berpacu dengan cepat Ketika mendengar Athar menjerit, bagaimana jika yang di tembak itu adalah Athar?
"Sial" umpat Raditya, ia sampai tak bisa mengontrol kata katanya.
Raditya berlari keruangan itu dengan deru hawa nafsu yang membara, ia bersumpah tidak akan memberi ampun siapapun yang telah mencelakai anaknya. Raditya menggedor-gedor pintu ruangan karena ruangan itu susah di buka, bahkan Raditya sambil menendangnya.
"BUKAAAA SIALANNNN" bukan, bukan Raditya yang mengatakan itu tapi seseorang di dalam ruangan itu. Raditya sempat terdiam dengan suara seseorang yang tak asing baginya, tapi bagaimana bisa? apakah orang itu juga terlibat sebagai pelaku dengan ini semua?
Raditya kembali berusaha membuka pintu ruangan itu dengan sekuat tenaga, ketika Raditya tengah sibuk mendobrak dobrak tak di sangka pintu ruangan itu terbuka sehingga Raditya tersungkur ke lantai, terlihat dua orang dengan pakaian serba hitam berdiri.
"Bangun lo" ucap salah satu orang itu, ia membangunkan Raditya dengan paksa.
"Di mana anak saya?" Raditya menatap tajam dua orang di hadapannya dengan deru nafas yang tak biasa.
"Ckk, anak lo?" seseorang itu tersenyum sinis.
"SAYA TANYA DI MANA ANAK SAYA?" bentak Raditya emosi.
"Ada tuh di dalam" orang itu menunjukkan ruangan di belakangnya, Raditya buru buru ingin masuk namun di cegah oleh keduanya, "Eitss santai dulu bro, gak usah buru buru."
"Minggir"
"Kalau lo mau ambil anak lo, lawan kita dulu berani gak lo?"
Bughhh Bughhh
Belum sempat orang itu menyelesaikan omongannya, Raditya langsung membogem kedua pipi orang di hadapannya dengan sekali tonjokan, "Jangan kalian pikir saya takut ya sama kalian.
"Gue suka gaya lo."
Perkelahian di mulai dengan satu lawan dua, tentu saja Raditya sendirian dan orang itu berdua. Pukulan demi pukulan sudah ketiganya rasakan, namun belum juga ada yang menyerah, ketiganya masih sangat terlihat bugar belum ada yang sempoyongan.
Seperkian detik salah satu dari dua orang itu berhasil Raditya patahkan lengannya dengan cara di putar, orang itu ambruk. Namun orang satunya lagi terlihat mengambil sesuatu di dalam sakunya yang tak lain dan tak bukan adalah pistol, pistol itu di todongkan ke arah Raditya sehingga membuat Raditya diam tak bergerak.
"Diam lo, atau gak nyawa lo yang akan hilang" ancam orang itu, "Jangan mendekat" ucap orang itu lagi ketika Raditya mendekat ke arahnya, Raditya tak menghiraukan sehingga dia terus berjalan maju mendekati orang itu yang sedang menodongkan pistol ke arahnya.
__ADS_1
Hffff bughh!
Raditya menendang tangan orang itu yang sedang memegang pistol sehingga pistol itu jatuh dan langsung dengan sigap Raditya ambil. Sekarang giliran orang itulah yang tidak bisa berkutik, tak bisa ada yang menolongnya karena.