
"Bangun mas jam berapa ini?, Tidur siangnya udah cukup" Nara mengelus elus pipi Raditya sehingga membuat pria itu terusik dari tidurnya.
"Athar udah bangun tuh, udah tengkurap aja di samping kamu" Nara menunjuk Athar yang mendumel sendiri.
Raditya membuka matanya melihat kesampingkan dan benar saja ada Athar di sana, Raditya memeluk Athar sehingga bayi itu sedikit merengek.
"Udah ih lepas, Athar gak mau di peluk gitu. Athar maunya Abba bangun.
"Kata Athar, Umma peluk dan cium Abba dulu biar Abba bangun.
"Mas modus"
"Gak ada yang modus sayang, emang Athar sendiri yang bisikin saya, kamu sih gak denger" ucap Raditya.
"Gak mau ah, cepetan bangun"
"Oke kalau begitu, saya gak mau bangun sampai kapanpun" Raditya menenggelamkan dirinya lagi di dalam selimut.
"Walaupun waktunya makan?" tanya Nara.
"Yaps"
"Walaupun Waktunya ke kantor?" tanya Nara lagi.
"Iya"
"Walaupun waktunya mas mandi?"
"Iya, saya tetap gak mau bangun kalau gak di peluk sama kamu terlebih dahulu" jawab Raditya di dalam selimut.
"Walaupun waktunya sholat?"
"Iy.....eh? gak gak waktunya sholat ya saya bangun"
"Yaudah gak papa nanti juga bangun, bay aku sama Athar mau makan siang" Nara bersiap untuk menggendong Athar.
Raditya berdecak, ia membuka selimut yang menyelimuti seluruh tubuhnya dan menahan pergerakan Nara sehingga gadis itu kembali tertidur dengan Athar yang berada di tengah.
"Istri yang nakal" ucap Raditya, "Sengaja kan hmmm?"
"Enggak, lepas ih katanya gak mau bangun. Aku sama Athar mau sarapan" Nara mencoba untuk bangkit namun Raditya memeluk dirinya dengan erat.
Nara membuang nafas dan menatap Raditya dengan tatapan jengah, "Mas Raditya...."
"Nara......"
__ADS_1
"Mas...."
"Ra......"
"Ish nyebelin"
"Kamu inget Captain Rayn Wijayatama?" ucap Nara tiba tiba, Nara menatap Raditya mulai mendengarkan dengan serius.
"Iya inget, yang waktu itu di bandara Soetta kan?"
"Iya, dia itu teman seperjuangan saya waktu kecil"
"Seperjuangan bagaimana mas?"
"Mau saya ceritain bagaimana kami dulu?" ucap Raditya.
Nara mengangguk antusias, tentu saja dirinya ingin tahu bagaimana masa lalu seorang Raditya, karena selama ini Raditya tidak pernah menceritakannya kepada Nara, "Mau.
Flashback on:
6 tahun yang lalu, ada dua lelaki yang sedari SMP hingga SMK udah berteman. Bisa di bilang jika dua laki laki itu setiap saat selalu bersama, mereka adalah Raditya Pradifta dan Rayn Wijayatama.
"Yeayy akhirnya kita lulus juga, gak sabar gue mau masuk kuliah penerbangan" ucap Rayn.
"Sip deh, gue yakin kita bisa lulus sama sama dan jadi pilot sama sama" ucap Rayn, "Gue kemaren udah ngomong sama nyokap bokap gue kalo gue mau lanjut ke kuliah penerbangan, dan lo tau gak apa jawaban mereka?"
"Apa?" tanya Raditya menunggu jawaban dari Rayn dengan perasaan bahagia.
"Mereka ijinin gue woyy, pokonya gue seneng banget gila gak nyangka kalau orang tua gue dukung cita cita gue" lanjut Rayn.
"Alhamdulillah kalo gitu, ikut seneng gue dengernya"
"Kalo lo?" tanya Rayn
"Belum, rencananya gue baru mau ngomong ke Abi sama Umi gue nanti kalo udah pulang" jawab Raditya.
"Yaudah gue do'ain semoga aja Umi sama Abi lo ngedukung lo jadi pilot. Kan bagus tuh kalau ada yang manggil kita Captain Rayn dan Captain Raditya" ucap Rayn dengan penuh semangat, Raditya terkekeh mendengarnya.
"Aamiin"
"Kayanya gue harus pulang deh Dit, sore ini rencananya gue mau ke gereja"
"Oke lah, gue juga mau pulang jangan lupa do'ain gue di gereja ya supaya Abi sama Umi gue ngijinin gue kuliah di penerbangan" titip Raditya.
"Sip"
__ADS_1
Raditya dan Rayn akhirnya berpisah tujuan, Rayn berbelok ke kiri dan Raditya berbelok ke kanan karena jarak rumah mereka berbeda.
Beberapa km mungkin lamanya di tempuh dengan jalan kaki, akhirnya Raditya sampai di rumah minimalis yang terlihat mewah, "Assalamualaikum, Abiiii Umiii" ucap Raditya sambil duduk di teras sembari melepas sepatunya.
"Waalaikumussalam kenapa teriak begitu" jawab Abi Sanjaya dari dalam.
Raditya menyimpan terlebih dahulu sepatunya di rak sepatu, kemudian ia masuk dan menyalami tangan Abi Sanjaya, "Abi tau gak?"
"Tau apa Raditya?"
"Liat" Raditya memperlihatkan ijazah kelulusannya kepada Abi Sanjaya "Raditya lulus dengan nilai paling tinggi dong, dan Raditya juga peringkat kesatu di kelas.
"Wah Maa Syaa Allah hebat sekali anak Abi, selamat ya nak" Abi Sanjaya mengelus pucuk kepada Raditya.
"Makasih Abi, oh ya Umi mana? Raditya pengen nunjukin ini sama Umi.
"Umi mu sedang di kamarmu membereskan baju bajumu" jawab Abi.
"Ya sudah tunggu aja, soalnya Raditya mau bicara sesuatu sama kalian.
"Kenapa toh Dit?" Ucap Umi Elvi yang barus saja datang.
"Eh Umi, Assalamualaikum. Raditya lulus dengan nilai tertinggi Umi, dan Raditya juga juara satu.
"Maa syaa Allah hebat anak Umi, selamat ya nak"
"Makasih Umi, oh ya Raditya mau ngelanjutin pendidikan Raditya di kuliah penerbangan ya Umi? Abi? Raditya pengen nanti setelah besar jadi pilot biar bisa setiap hari liat dunia dari atas" ucap Raditya dengan wajah tak bisa di artikan, pria itu terlihat bahagia ketika berbicara membayangkan bahwa dirinya akan menjadi pilot.
Umi Elvi dan Abi Sanjaya saling pandang ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulut Raditya, Abi Sanjaya terlihat menganggukkan kepalanya memberi kode kepada istrinya supaya angkat bicara.
"Nak"
Raditya menoleh dengan tersenyum yang mengembang sempurna bahkan mata pria itu sampai menghilang akibat senyumnya, "Iya Umi?"
"Maaf jika Umi dan Abi seperti tidak mendukung cita citamu, tapi Umi sama Abi pengen kamu melanjutkan pendidikan kamu di Al-Azhar Mesir. Umi sama Abi mau supaya kamu menjadi lelaki yang sholeh dan luas akan pengetahuan ilmu agama. Maaf sekali bukannya Umi dan Abi tidak mendukung cita citamu menjadi seorang pilot, tapi ini sudah keputusan kami berdua jika kamu sudah lulus sekolah maka kami akan segera mengirim kamu ke Mesir" penjelasan Umi Elvi mampu membuat senyuman Raditya yang pari purna memgembang kini harus menciut kembali, bibir pria itu mulai membentuk melengkung ke bawah.
"Umi...Abi..." bibir Raditya bergetar seperti menahan tangis.
"Maaf nak, ini sudah keputusan Umi dan Abi jauh jauh hari, semoga kamu mengerti dan mau menerima ini semua" ucap Umi Elvi mengelus pundak Raditya.
"Kamu adalah seorang lelaki, kamu juga pasti akan menikah. Menjadi seorang lelaki itu besar tanggung jawabnya, menikah bukan perihal tanggung jawab dan menafkahi saja namun juga dengan membimbing. Mungkin kamu pernah mendengar bahwa perempuan adalah madrasah pertama bagi anak anaknya, namun kamu juga harus ingat lelaki adalah penyusunan kurikulum madrasah tersebut. Jika penyusunan kurikulum madrasah tersebut gagal maka akan gagal semuanya" Abi Sanjaya menjelaskan mencoba agar Raditya bisa mengerti.
"Tapi kan bisa aja Radit kuliah penerbangan sembari belajar agama dari Abi sama Umi? Kenapa harus ke Mesir?"
"Abi sama Umi saja masih kurang pemahamannya sayang.
__ADS_1