Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 66


__ADS_3

Sejak jam 12 malam hingga jam 1 pagi Athar menangis tak berhenti, membuat Nara kewalahan mengurusnya. Baru saja beberapa hari mempunyai anak sudah membuatnya pusing, tapi sebisa mungkin ia bersabar menghadapinya.


"Cup cup sayang, kamu haus ya? jangan berisik dong sayang, ayah kamu lagi tidur kasian kalau sampai kebangun gara gara kamu. Bunda mohon diem yah?" Nara menggendong Athar dan menepuk nepuk bayi itu.


Nara menyusui Athar, bayi itu terdiam dan terlihat menikmati asi yang masuk kedalam mulutnya. Namun baru beberapa saat terdiam, Athar kembali menangis lagi membuat Nara menghela nafas gusar.


"Kamu kenapa sayang? udah bunda kasih asi loh tapi kenapa masih rewel aja?"


Di sisi lain, Raditya yang mendengar akan tangisan Athar harus terbangun, Ia menerjapkan matanya dan melihat ke arah Nara yang sedang berdiri di dekat kasur box milik Athar. Raditya beranjak dan menghampiri Nara.


"Kenapa sayang? Athar rewel?"


Nara menoleh ke arah Raditya, "Eh mas? Maaf ya kalau Athar ganggu, dia gak bisa diem dari tadi nangis terus.


"Tidak apa apa, kita harus sabar namanya juga bayi pasti sering begini" ucap Raditya, "Sini saya aja yang gendong Athar, pasti kamu pegel dari tadi karena gendong Athar" tambah Raditya mengambil alih Athar kedalam pangkuannya.


"Anak ayah kenapa sih heumm? Kenapa nangis terus, kasian bunda loh sayang. Ini pasti karena bunda waktu mengandung kamu banyak nangis ya jadi kamu ikutan nangis kaya gini" Raditya melirik Nara, berusaha mengejek gadis itu. Nara mencebikkan bibirnya tak terima.


"Mas ih, aku gak banyak nangis ya waktu mengandung Athar" elak Nara.


"Iya deh iya, yasudah kamu tidur aja biar Athar sama saya" perintah Raditya, dan Nara berjalan menuju kasur merebahkan tubuhnya.


"Cup cup, jangan nangis ya anaknya ayah yang ganteng dan sholeh ini"


"Mau ayah bacain sholawat buat Athar? Mau yah? Yasudah ayah sholawat buat Athar" Raditya bersiap untuk membawakan sholawat untuk anaknya.


(Yang tau nadanya coba ikutan sholawat hhe)


Anta nurullahi fajran


Ji'ta ba'dai usri yusran


Rabbana alaka qadran


Ya imamal anbiya'i


Anta fil wujdani hayyun


Anta lil'aynayni dayyun


Anta 'indai hawdhi riyyun


Anta hadin wa shafiyyun


Ya habibi ya Muhammad


Ya Nabi salam 'alayka


Ya Rasul salam 'alayka

__ADS_1


Ya Habib salam 'alayka


Salawatullah alayka


Ya Nabi salam 'alayka


Ya Rasul salam 'alayka


Ya Habib salam 'alayka


Salawatullah alayka


Raditya berhasil membawakan sholawat untuk Athar, bayi itu kembali terdiam dan tertidur pulas. Bahkan bayi saja mengerti bahwa lantunan sholawat yang Raditya bawakan sangatlah merdu dan sopan di telinga siapa saja yang mendengarnya. Nara yang masih belum tertidur melihat setiap gerak gerik Raditya dalam menenangkan anaknya.


Nara mengembangkan senyumnya betapa beruntungnya ia memiliki Raditya yang sangat bertanggung jawab dalam segala hal, bahkan dalam hal menenangkan anak saja dirinya yang turun tangan, padahal itu adalah tugas seorang wanita.


Merasa Athar sudah tertidur kembali, Raditya meletakkan Athar di kasur bayi itu dengan perlahan setelahnya ia kembali ke kasurnya untuk melanjutkan tidurnya.


"Sholawatnya merdu banget, pantes aja Athar langsung diem pas kamu lantunin sholawat" ucap Nara di dalam selimutnya, gadis itu menenggelamkan seluruh tubuhnya di dalam selimut.


Raditya yang baru menyentuh selimut tersenyum tipis dan geleng geleng kepala, ternyata istrinya itu belum tidur. Raditya membuka semua selimut yang menyelimuti seluruh tubuh gadis itu, ia melihat tubuh istrinya yang meringkuk. Gadis itu tertawa kecil.


"Kamu kenapa ketawa? Ngeledek saya?"


"Gak ada yang ngeledek mas, aku tuh kagum aja gitu sama mas, mas itu kaya handal dalam hal apapun bahkan dalam menenangkan bayi pun juara" ucap Nara memuji.


"Tapi maa syaa Allah banget loh"


"Nanti kamu coba, kalau semisal saya tidak ada dan Athar rewel, kamu coba sholawat itu aja" saran Raditya.


Nara mengangguk, "Mas pengen peluk tau, kangen banget udah lama gak di peluk mas" ucap Nara dengan suara manja.


"Cini cini, manja banget cih istli" jawab Raditya dengan nada alay.


Nara mendusel duselkan wajahnya di ceruk leher Raditya sehingga membuat lelaki itu terkikik geli, seketika wajah lelaki itu memerah entah kenapa, "Jangan mulai Ra"


"Mulai apa sih mas?" tanya Nara dengan nada menggoda, gadis itu mengelus rahang Raditya.


"Ra, nakal banget si sekarang" Raditya menyingkirkan tangan Nara yang mengelus rahangnya.


"Nakal apa? Aku gak nakal mas, emangnya gak boleh aku kaya gini?


"Kamu sengaja kan mancing saya? Karena kamu masih belum bisa melakukannya karena baru saja melahirkan?" Tebak Raditya tepat sasaran.


Nara tertawa kencang melihat ekspresi Raditya yang sepertinya tengah menahan hawa nafsunya, "Tuh kan imannya pak CEO setipis tisu"


"Mau ustadz, CEO, kiyai atau apa sekaligus kalau di goda seperti ini pasti hawa nafsunya meronta ronta lah sayang. Apalagi yang menggodanya itu istrinya sendiri" ucap Raditya.


"Iya iya deh pas ustadz" Nara melakukannya lagi, ia mengelus rahang Raditya dan terakhir ia mengecup bibir Raditya lumayan lama. Setelahnya berbalik badan karena tahu kalau Raditya pasti akan membalasnya.

__ADS_1


"Raa... Nakal banget ya kamu, saya gak mau tau kamu harus tanggung jawab" Raditya Raditya menggelitik perut Nara dan mencoba membalikkan tubuh gadis itu untuk menghadapnya.


"Lepas mas, aku mau tidur"


"Tapi ngapain hm?"


"Eumm tadi ngapain yah?" Nara berpura pura tengah berpikir, "Gak ada deh kayanya, wleee" ledek Nara.


"Astaghfirullah"


"Udah malu sama Athar"


"Eum udah mandi seger tinggal berjemur" ucap Nara yang sudah selesai memandikan Athar di temani juga Raditya.


"Sebentar, sama ayah dulu ya sayang" Nara memberikan Athar kepada Raditya karena dirinya akan membereskan kembali bekas bekas Athar mandi tadi.


Raditya mengambil Athar dan Nara mulai membereskan satu persatu peralatan bekas Athar mandi, setelah semua beres akhirnya Nara menyusul kembali Athar dan Raditya yang berada di balkon untuk berjemur.


"Sayang" panggil Raditya.


"Iya mas"


"Untuk Athar manggil kita jangan ayah bunda ya?"


"Kenapa gitu mas?"


"Menurut saya terlalu biasa dan sudah sering di gunakan orang juga" jawab Raditya "Terus mas Raditya maunya di panggil apa?" tanya Nara.


"Bagaimana kalau Abba dan Umma? Bagus kan?"


"Bagus, aku suka" jawab Nara.


"Yaudah, Athar manggil kita jangan ayah sama bunda tapi Abba sama Umma ya sayang" Raditya mencium pipi Athar dengan gemas.


"Anteng banget sih Athar, cahaya mataharinya hangat ya?"


Raditya melihat Nara yang menatap Athar dengan gamang, ada sedikit keanehan dalam diri gadis itu, "Kenapa sih sayang?"


"Gak cocok banget liat Athar pake baju pink, prenel pink, semuanya pink"


Raditya sebisa mungkin menahan tawanya, masalah warna bajupun masih di perpanjang, "Udah di cocok in aja lagian itu salah kamu sendiri" Raditya menoel hidung Nara gereget.


"Ihhh mas" rengek Nara.


"Sebentar, hp siapa yang bunyi sayang?"


"Hp mas deh kayanya" jawab Nara.


"Coba kamu ambil dan angkat" Nara menurut saja, ia mengambil ponsel Raditya yang berdering petanda ada yang meneleponnya, "Siapa?" tanya Raditya.

__ADS_1


__ADS_2