Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
Bangun istriku


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu, Rina masih dalam keadaan pingsan yang bisa di kata kan koma itu. Belum juga sadar kan diri.


Sejak saat itu juga, Firdaus hanya menemani istri nya di kamar. Makan pun di antar sama bunda atau pun umi nya.


Kadang ia memilih untuk tidak makan, dari pada makan. Jika benar cara memujuk nya untuk makan. Maka dia akan memakan makanan nya.


Tapi, jika tidak benar cara memujuk nya. Firdaus tidak makan. Ia lebih senang duduk di samping ranjang sambil memegang tangan istri nya dari pada makan.


Mengajar pun dia tidak beberapa hari ini. Ia akan menghabis kan waktu nya dengan mengaji di samping istri nya. Sambil memegang tangan istri nya itu.


Ia juga lebih sering berbicara dengan istri nya yang koma itu. Ia tidak akan keluar dari kamar nya. Bahkan ketika ayah mengajak nya berkeliling juga ia tidak akan mau.


Bagi nya, lebih baik menjaga istri nya dari pada keluar. Tangung jawab nya mengajar dia serah kan pada teman nya Athala.


Setelah selesai sholat dan mengaji tadi, dia langsung duduk di samping istri nya. Memandang tangan istri nya terpasang selang infus untuk bertahan.


"Bangun istri cantik ku. Bangun lah... Jangan marah lagi." kata nya sambil mencium tangan istri nya.

__ADS_1


"Kamu tidak bisa diam begitu saja pada ku, jika kamu marah pada ku. Ayo kata kan saja, jangan lari dari ku seperti ini. Kamu tidak bisa meninggal ku begitu saja Arina ku." kata nya sambil menagis.


Di depan pintu kamar bunda sedang berdiri. Setiap hari, ia mendengar kan kata hati yang Firdaus curah kan pada istri nya yang koma itu.


Bunda tak terasa menitis kan air mata nya mendengar ratapan demi ratapan yang Firdaus lintar kan pada istri nya.


"Kenapa Wulan, kamu menagis. Tidak jadi mengantar kan makanan untuk Firdaus." kata umi yang melihat bunda membawa kembali makanan untuk menantu nya.


" aku tidak kuat untuk masuk Fitri, menantu ku meratap sedih di dalam. Aku tidak sangup untuk melihat nya." kata bunda.


Mereka berdua pun merasa sedih dengan apa yang Firdaua rasa kan.


Setelah membuka pintu, di lihat nya Firdaus sedang tertidur sambil duduk di samping tubuh istri nya.


Umi menghampiri nya, mengusap wajah anak nya yang pucat karna terlalu banyak beban pikiran dan terlalu banyak begadang.


Waktu tidur nya jarang ia guna kan. Begitu juga dengan waktu makan juga tidak ada di guna kan dengan teratur. Alhasil, wajah nya sekarang pucat bagai kan orang yang kurang darah.

__ADS_1


"Kasian kamu nak, umi harap kamu bisa kuat menerima ujian cinta dan ujian sebagai imam yang baik dalam rumah tangga mu dari allah." kata umi.


"Bangun lah Rina, kamu tidak ada rasa kasihan pada suami mu nak. Jika kamu gak bangun juga, apa kah kamu tega melihat suami mu jatuh sakit." kata bunda pula bicara pada anak nya yang koma itu.


Firdaus terbangun karna mendenvar suara orang yang bicara di kamar nya. Ia melihat sekeliling nya. Ternyata bunda dan umi nya ada di sana.


"Udah bangun kamu Fir, makan dulu ya." kata bunda.


"Nanti aja bunda, Fir belum lapar lagi sekarang." kata nya menolak.


"Fir, lapar kamu itu kapan sih nak. Waktu makan aja sudah lewat dari tadi. Kamu bilang belum lapar melulu setiap di kasi makanan." kata bunda lagi.


"Nanti juga makan bunda. Sekarang masih kenyang." kata nya lagi.


Ia tetap menolak makan, yang ia laku kan hanya menatap istri nya dengan sedih.


"Bangun istri ku, bangun lah." kata nya lirih.

__ADS_1


Kata-kata nya menyentuh hati bunda dan umi, tanpa sadar mereka mengalir kan air mata.


__ADS_2