
"Innalilahi wainailaihi raji'un" ucap mereka semua
"Telpon ambulance" perintah Rio kepada Gus Afan.
Gus Afan yang sedang memangku Athar mengangguk, ia menelpon ambulance seperti yang Rio katakan.
"Sudah"
"Oke thanks" ucap Rio, "Raditya, iya Raditya gimana" tambah Rio, ia baru teringat dengan Raditya. Rio langsung bergegas ke luar ruangan itu dan berniat menyusul Raditya ke balkon, namun ia terdiam ketika tidak melihat Raditya di balkon itu, di sana hanya menyisakan dua orang dengan baju serba hitam, dan juga seorang perempuan yang sudah di ketahui jika itu Meli.
"Beres" ucap dua orang itu menepuk tangan mereka masing-masing bak ada debu di tangannya.
"Beres? maksudnya" Rio bertanya tanya dengan dirinya sendiri.
"Bang..." panggil Gus Afan.
"Syutttt" Rio memberi kode agar Gus Afan tidak bersuara lagi, begitupun dengan polisi yang sudah mengangkat Rio ke ambulance.
"Ada apa?"
"Jangan gegabah, liat mereka bawa pistol walau ada polisi mereka gak akan diam aja" ucap Rio, "Tunggu mereka melewati kita dulu"
"Menurut gue lo terlalu kejam bos, itu nyawa orang" ucap Beni salah satu orang yang berpakaian serba hitam.
"Lagian udah penyakitan, dari pada mati biasa aja mending gue yang matiin" ucap Meli membuncahkan tawanya.
"Iya juga sih" mereka bertiga tertawa.
"Berhenti" Rio, dan kedua polisi meringkus Meli dan dua orang itu, sedangkan Gus Afan masih setia memangku Athar yang ketakutan.
"Sialan lepasin gue" Meli memberontak.
"Diam atau kami tembak" ucap polisi.
"Gus, lebih baik Gus pulang dulu supaya Athar bisa tenang, anak sekecil dia gak seharusnya melihat ini semua" perintah Rio kepada Gus Afan. Gus Afan kembali mengangguk, ada benarnya perkataan Rio kasihan juga Athar, anak sekecil ini harus terlibat dalam persoalan seperti ini.
"Di mana Raditya?" tanya Rio masih dengan nada biasa.
Tak satupun dari mereka bertiga yang menjawab, hal itupun membuat Rio geram dan menekuk tubuh Beni, "DI MANA RADITYA."
"DIA UDAH MATI" jawab Meli dengan nada tinggi.
"Maksud lo?"
"Ya, dia udah mati bahkan kepalanya udah hancur berkeping-keping" sahut Meli.
Rio berdecak, emosinya memuncak ia menendang perut Beni dengan kencang, "MAKSUD LO APA SIALAN? APA YANG UDAH LO LAKUIN SAMA RADITYA.
"Kontrol emosinya pak, jangan sampai main hakim sendiri" tegur salah satu polisi
"MAKSUD LO APA?" bentak Rio.
"Gue udah buang dia di balkon puas lo?" Jawab Meli.
Wajah Rio memerah, giginya saling bergesek, urat uratnya terlihat menonjol, tak ada lagi kesabaran baginya, setelah Zaki apa Raditya juga akan jadi korban selanjutnya? Tidak tidak ini tidak boleh terjadi.
" pekik Rio emosi, "Bangsat lo sialan" Rio memukul Beni, polisi tak bisa melerai karena mereka sedang meringkus Meli dan satu entek enteknya.
"DUA NYAWA, DUA NYAWA YANG UDAH LO KORBANIN DEMI KEEGOISAN LO ITU SETAN, APA LO GAK PUAS?" sentak Hari dengan nafas yang memburu, bahkan Beni sampai sudah tak sadarkan diri akibat di jadikan sansak oleh Rio.
"Puas, sangat puas" sahut Meli dengan santainya.
"Lo bener bener biadab, manusia macam apa lo? Raditya lo jatuhin dari lantai tiga anj*ng"
"Pak, tolong segera urus mereka saya harap beri mereka hukuman yang setimpal" ucap Rio, ia mengusap keringat yang berada di keningnya, air matanya sudah mengalir.
Polisi memborgol ketiganya, dan ketika itu Rio berlari terlebih dahulu untuk mengecek kondisi Raditya di bawah sana, apa Raditya sudah mendapatkan penanganan?
Sesampainya di bawah atau di area jalan, Rio menumpu-kan tangannya di lututnya, ia berusaha untuk menetralkan nafasnya terlebih dahulu. Di depan matanya sudah banyak sekali orang orang di sana, apa mereka melihat kejadiannya.
"Mingggir" Rio melerai kerumunan, namun di sana tidak ada Raditya dan tidak ada satupun bercak darah. Rasanya sangat mustahil jika terjatuh dari lantai tiga sampai tidak menghasilkan darah.
"Euh maaf, apa tadi ada orang yang terjatuh dari lantai tiga?" tanya Rio kepada salah satu orang yang berada di kerumunan.
"Iya pak, orang itu laki laki namun sudah di larikan kerumah sakit sekiranya sepuluh menit yang lalu" jawab orang itu.
__ADS_1
"Kalau boleh tau di bawanya ke rumah sakit mana ya bu?"
"Kalau tidak salah kerumah sakit Medika Jakarta pak" jawab ibu itu.
"Baik terima kasih bu, saya permisi Assalamualaikum.
°°°°°°°°°°°
"Sus, pasien atas nama Raditya Pradifta yang sekiranya dua puluh lima menit yang lalu di bawa kesini di ruangan mana ya?" tanya Rio, kini ia sudah berada di rumah sakit Medika Jakarta yang di maksud oleh ibu ibu tadi.
"Oh pasien atas nama Raditya Pradifta masih berada di ruang UGD pak" jawab suster yang menjaga di bagian depan.
"Terima kasih sus" Rio berjalan menuju ruang UGD, ternyata di sana ia mendapati Gus Afan dan juga Athar. Apa mereka tidak pulang?,, Pikir Rio.
"Assalamualaikum" ucap Rio berjalan mendekat ke arah mereka dengan langkah kaki yang gontai, wajah pria itu terlihat lesu.
"Waalaikumussalam bang"
"Kenapa belum pulang?" tanya Rio
"Tadinya saya ingin pulang, namun ketika ingin masuk mobil saya melihat keramaian. Awalnya saya tidak menghiraukan keramaian itu, tapi lama kelamaan saya penasaran dan mencoba melihatnya, namun tak di sangka di keramaian itu terdapat bang Raditya yang tergeletak tak sadarkan diri" Gus Afan menjelaskan.
"Gimana keadaan dia?"
"Saya tidak tau bang, kata warga sekitar ketika seseorang mendorongnya ke bawah ia memang terjatuh, namun ada suatu keajaiban yaitu bang Raditya memegang pagar balkon lantai satu, jadi ketika ia jatuh ke bawah tidak terlalu terbentur" jawab Gus Afan.
"Tapi keadaan dia memang sudah lemah. Apa kamu sudah memberi tahu Nara atau kedua orang tuanya?" sahut Rio sekaligus bertanya.
Gus Afan menggeleng, "Belum bang, saya tidak mau membuat mereka sangat khawatir dengan ini. Ada bagusnya juga ketika kita mengikuti bang Raditya, Abi sama om Reza tidak ikut.
"Iya, tapi gimana sama Athar? Kasian dia, anak itu butuh istirahat dan butuh makan juga. Jarum jam udah nunjukkin jam 12 malam"
"Tadi saya sudah memberi dia makan, dia juga sudah berganti pakaian" jawab Gus Afan. Rio dan Gus Afan kompak menatap iba ke arah Athar yang sedang tertidur di kursi tunggu, tak lupa dengan bantal dan selimut karena sebelumnya Gus Afan sempat meminjam itu kepada suster untuk Athar.
"Dia anak hebat"
Seorang dokter laki laki keluar, dokter itu bernama Ikbal. Rio dan Gus Afan kompak mendekat ke arah dokter Ikbal, "Bagaimana kondisinya dok?"
"Kondisinya sangat kritis pak, benturan di kepalanya lumayan kuat dan ada beberapa juga bagian tubuhnya yang bermasalah. Tapi sebelumnya yang mambuat kondisinya sangat kritis saat ini adalah kankernya" dokter itu menjeda ucapannya.
"Benar pak, pak Raditya memang sudah mempunyai kanker dari lama dan kankernya saat ini sudah mencapai stadium 4 atau bisa juga di sebut stadium akhir" jawab dokter Ikbal sekaligus menjelaskan.
Apa ini yang membuat kamu selalu bersikap aneh terhadap Nara?,, ucap Rio dalam hati.
"Stadium akhir?" Rio bertanya tanya.
"Memangnya kanker apa dok kalau boleh tau?" tanya Gus Afan ikut bertanya.
"Kanker yang di alami oleh pak Raditya ini adalah kanker hati, apa selama ini kalian berdua sering melihat ciri cirinya? seperti beliau sering sakit perut, penguningan pada kulit atau mata, menghilangnya nafsu makan, pembengkakkan pada hati sehingga membuatnya terasa pusing dan cepat sering lelah.
Keduanya menggeleng, ciri ciri yang dokter itu katakan sama sekali tidak mereka 2 di setiap harinya bersama Raditya. "Orang itu sepertinya pandai menyembunyikan itu semua, bahkan istrinya pun tidak mengetahui ini semua"
"Ya memang begitu, yang mengetahui penyakit beliau hanya orang tuanya saja. Bahkan ketika beliau anfal dan dokter menyarankan untuk rawat inap beliau tidak menuruti dengan alasan tidak apa apa karena sudah membaik bahkan kemoterapi saja jarang ia lakukan" dokter Ikbal menjelaskan kembali.
"Astaghfirullahaladzim Radit" Rio mengusap wajahnya kasar sedangkan Gus Afan hanya membuang nafas lesu mendengar pernyataan dokter.
"Apa ada kemungkinan untuk dia bertahan hidup dok"
"Di stadium akhir ini sepertinya sangat mustahil, karena kanker itu sudah sangat susah di hilangkan. Tapi ada cara lain yaitu dengan donor hati"
"APA?" seseorang dari lain arah berteriak, mereka bertiga kompak melihat ke arah suara. Terlihat seseorang perempuan berjalan mendekati mereka dengan air mata yang sudah mengalir.
"Kanker hati? Apa aku gak salah denger kak? Mas Radit kanker hati?" Nara terus bertanya tanya dengan derai air mata yang mengalir.
"Jawabb, apa aku gak salah denger kalau mas
Radit sakit kanker hati? Bahkan stadium akhir?" Rara terus menodongkan pertanyaan kepada Rio, bahkan perempuan itu menggoyang-goyangkan tubuh Rio agar dia menjawab.
Rio tak berani menatap Nara, ia tak tega harus melihat mata Nara yang sudah penuh dengan air mata. Rio paling tidak bisa melihat Nara menangis, ia pasti lemah akan hal itu.
"JAWAB KAK"
Tak terasa air mata Rio juga ikut meluruh melihat Nara yang histeris seperti itu, ia mengangguk lemah untuk menjawab semua pertanyaan Nara.
Nara semakin mengencangkan tangisannya, tubuhnya meluruh di pelukan Rio, "Kenapa mas Radit gak bilang dari awal hikss, dia jahat kak"
__ADS_1
"Nara"
"Bunda, Ayah, Umi, Abi? Kalian kenapa bisa ada di sini?" tanya Rio dengan heran.
"Afan yang memberi tahu" jawab Umi Elvi
Rio menatap Afan yang berada di sisinya, bukannya ia tidak mau memberi tahu semuanya?, "Maaf bang"
"Mi, apa bener Raditya mempunyai penyakit kanker hati?"
Abi dan Umi saling pandang mendengar pertanyaan dari Rio, mereka mengode satu sama lain untuk angkat bicara, "Iya, Raditya mengidap penyakit ini sudah dari beberapa tahun lalu" jawab Abi Sanjaya.
Nara melepaskan tubuhnya dsri pelukan Rio, "Kenapa Umi sama Abi gak pernah kasih tau Nara? Kenapa kalian jahat menyembunyikan penyakit suami aku sendiri dari aku?"
Umi Elvi memejamkan matanya tak tega sekaligus merasa bersalah kepada Nara, "Maafkan kami nak, sejujurnya kami juga in
gin memberi tahu kamu, namun suamimu terus bersikeras untuk tidak memberi tahu ini semua kepadamu karena dia tidak ingin membuatmu khawatir dan kepikiran apalagi sampai membuatmu sedih" ucap Umi Elvi berharap Nara mengerti.
"Justru Nara lebih sedih lagi ketika Nara tau semuanya sekarang, ketika kankernya sudah mencapai stadium akhir. Kalian semua jahatt" Rio kembali memeluknya sehingga membuat gadis itu meracau dan memukul mukul dada Rio.
"Sstt jangan memperkeruh suasana, mereka bukan jahat tapi mereka gak mau kamu sedih aja" ucap Rio mengusap bahu Nara.
Nara mencoba meredakan tangisnya terlebih dahulu, setelah itu ia melepaskan dirinya dari pelukan Rio, "Dok, apa boleh kita bicara sebentar?"
"Oh tentu" jawab dokter itu, lalu Nara dan dokter Ikbal pergi dari hadapan mereka semua.
°°°°°°°°°°°
Jam sudah menunjukkan pukul 02.30 namun Raditya belum sadarkan diri juga. Di ruangan Raditya, Nara terus mengkomat kamitkan mulutnya sepertinya ia tengah berdzikir. Nara memejamkan matanya yang berlinang air mata sambil berdzikir.
Beberapa selang ia mengakhiri dahulu dzikirnya, lalu ia menatap wajah Raditya dengan tatapan iba. Rara meraih tangan Raditya untuk ia letakkan di pipinya yang terbalut cadar.
"Assalamualaikum mas, kenapa mas Radit jadi kaya gini? kenapa mas Radit gak pernah cerita apa apa ke aku soal penyakit mas? Kalau aja aku tau dari dulu aku gak mungkin bersifat kekanak kanakan terus sama mas Radit, dan aku gak mungkin merepotkan mas Radit terus.
"Mas... jangan kaya gini ayo bangun, Alhamdulillah Athar sudah selemat mas di bawa kak Rio sama Gus Afan. Aku mau kalian berdua selamat tapi kenapa ketika Athar sudah pulang dengan selamat tapi mas yang malah kaya gini" Nara meluruhkan air matanya lagi, bahkan ia sampai tak sanggup untuk berbicara.
"Mas kan janji mau sama sama liat Athar tumbuh dewasa sama aku, nanti kita sama sama liat Athar pakai baju pilot, sama sama kita lihat bagaimana hebatnya anak kita menjadi Captain terkenal"
"Mas kan ada janji sama aku, janji mas adalah ngabulin impian aku, katanya mas bakal kabulan impian aku buat ke Makkah tapi nyatanya mas malah kaya gini. Ayo dong mas bangun, mas gak mau kan liat aku sedih? Mas gak mau kan liat Athar tumbuh tanpa seorang ayah? Mas kan orangnya gak suka ingkar jadi ayo tepatin janji mas ke aku" Nara menjeda ucapannya sesaat ketika merasakan sesak di dalam dadanya, ia sudah tak sanggup melihat Radit yang terbaring lemah seperti ini.
"Masss..." Nara menenggelamkan wajahnya di kasur sebelah Raditya dambil memegangi tangan Raditya.
"Besok janji ya harus sembuh? Biar bisa liat Athar lagi"
"Aku pamit dulu ya? aku mau sholat tahajud dulu sekalian mau ngadu semuanya ke Allah dan aku mau berdoa sama Allah supaya kamu sembuh, bisa balik lagi kaya dulu.
"Aku pamit ya mas? nanti mas marah kalau aku gak sholat tahajud. Assalamualaikum suami" bisik Nara tepat di telinga Raditya, ia menghapus dahulu air matanya.
°°°°°°°°°°
Keesokan harinya, di depan ruangan Raditya, Abi Sanjaya, Umi Elvi, Rio, Anisa, Reza, Ghea, Gus Afan, Ana, serta Athar dan Nadhiva, mereka semua berada di sana. Raut wajah mereka semua tak terlihat senang maupun bahagia, tapi malah nampak raut wajah yang sedih. Raditya sampai pagi ini belum sadarkan diri juga.
Dokter Ikbal keluar dari ruangan Raditya dengan wajah yang sedikit bersinar apakah ada keajaiban?, "Selamat siang, bapak ibu semuanya. Alhamdulillah pak Raditya sudah sadarkan diri"
Mereka semua menatap dokter tak percaya, "Anak saya sudah sadar dok?" tanya Abi memastikan.
Dokter Ikbal tersenyum tipis, "Iya pak, pak Raditya sudah sadarkan diri dan silahkan saja jika ingin masuk namun hanya dua orang saja yang boleh masuk"
Mereka semua saling pandang dan menatap satu sama lain dan akhirnya Umi Elvi dan Abi Sanjaya terlebih dahulu yang akan masuk menemui Raditya, satu lagi Athar anak itu juga ikut tak apa bertiga lagian Athar hanya anak kecil.
"Assalamualaikum" Abi Sanjaya mengucap salam ketika sudah berada di ruangan Raditya, disana terlihat Raditya menatap kosong ke arah atap ruangannya.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar nak" Umi Elvi mengusap rambut Raditya dengan sangat lembut.
"Abba" lirih Athar yang duduk di pangkuan Umi Elvi.
Raditya mengubah pandangannya saat suara anak itu berhasil membuat pandangannya teralihkan, tangan Raditya terangkat untuk mengusap lembut kepala Athar, ia hanya tersenyum dan belum berkata sepatah katapun.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Abi Sanjaya.
"Baik Bi" jawab Radit akhirnya.
"Alhamdulillah"
"Raditya udah sembuh ya Abi, Umi? Raditya seperti gak ngerasain sakit lagi dan.... seakan hati Raditya baik baik aja" ucap Raditya meraba hati nya.
__ADS_1