Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 75


__ADS_3

Tiga tahun berlalu, itu artinya kini Athar sudah memasuki umur dua tahun setengah dan pernikahan Raditya dengan Nara juga sudah memasuki empat tahun setengah.


Tak ada waktu ataupun hari yang mereka lalui tanpa adanya Athar, Raditya dan Nara selalu mengabiskan hari harinya dengan Athar walaupun Raditya dari pagi hingga siang selalu bekerja tapi sebisa mungkin ia luangkan waktunya untuk istri dan anaknya.


"Ab-ba" ucap Athar menghampiri Raditya yang tengah sibuk dengan laptop kerjanya.


"Hmm iya sayang?"


"Um-ma manah?"


"Umma di dapur lagi bantuin Oma sayang, kenapa Athar pengen ke Umma ya?" tanya Raditya dan anak itu menggeleng dengan lucunya.


"Athay mau liat Ab-ba kelja" ucap anak itu.


Raditya tersenyum manis ke arah Athar, ia mengangkat Athar dan membawanya duduk di pangkuan dirinya agar anak itu bisa melihat apa yang dirinya kerjakan.


Athar mengamati setiap pergerakan jari tangan Raditya yang mengetik sesuatu di laptopnya, sesekali anak itu mendongak menatap wajah Abbanya dari bawah. Pria itu terlihat pokus menatap layar laptop.


"Ab-ba kenapa keljanya cuma mainin dan menatap itu aja? bukannya kelja itu angkut balang ya?" tanya Athar dengan polosnya.


Raditya menghentikan aktivitasnya ia menundukkan sedikit kepalanya agar menatap anak lelakinya itu, Raditya mengusap kepada Athar sembari tersenyum, "Belum saatnya Athar tau, nanti kalau Athar sudah besar Athar pasti paham kok.


"Iya Ab-ba"


"Ab-ba tau dak? waktu itu ketika Ab-ba pelgi kelja Um-ma cama Athay liat pecawat di hp Um-ma, pecawatnya besallllllllll banget" ucap Athar sambil menggerakkan tangannya ketika mengucapkan kalimat kata 'besar.


"Oh ya? pesawatnya besar ya?"


Athar mengangguk, "Iya besal banget, kata Um-ma juga katanya pecawat itu bisa di naikin banyak olang. Emang iya ya Ab-ba?"


"Iya, Abba sama Umma juga pernah naik pesawat bahkan Oma sama Opah juga"


"Kenapa Ab-ba dak ajak Athay?" bocah itu melipat tangannya di dadanya, marah.


Seketika itu juga Raditya meledakkan tawanya, ia tak bisa menahan akibat melihat Athar yang bertingkah seperti itu, "Athar di ajak kok, tapi Athar waktu itu masih di dalam perut Um-ma.


"Di dalam pelut Um-ma?"


Raditya menggelengkan kepalanya sambil terkekeh, "Nanti kalau Athar udah besar pasti paham"


"Ab-ba, cita cita itu apa?"


Raditya mengerutkan keningnya, dari mana Athar tahu soal itu?, "Athar tau dari siapa?"


"Dali Um-ma, waktu Athay cama Um-ma liat pecawat di hp, katanya Ab-ba dulu cita citanya pengen jadi pilot. Memangnya cita cita sama pilot itu apa Ab-ba?


Sudah Raditya duga, istrinya itu sepertinya sudah sangat banyak mengajarkan Athar banyak hal, bahkan yang seharusnya belum di ketahui oleh Athar dia malah memberitahunya. Lihatlah, anak berumur dua setengah sudah seperti memahami semuanya Raditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, saat ini ia harus menjelaskan bagaimana kepada Athar? anak ini terlalu kecil tapi pertanyaannya sudah seperti dewasa.


Raditya menyingkirkan laptop yang ada di depannya dan mendudukkan Athar di meja kerjanya, agar Athar maupun Raditya bisa berhadapan, "Cita cita itu semacam propesi atau masa depan Athar nantinya mau jadi apa atau seperti apa" ucap Raditya menjelaskan.

__ADS_1


Terlihat anak lelaki itu menatap Raditya dengan tatapan polos, mencoba meresapi setiap kata yang Raditya ucapkan, "Oooo Athay paham. maca depan Ab-ba itu mau jadi pilot yah? memangnya pilot itu.... apa Ab-ba?"


"Pilot itu supirnya pesawat, Athar tau mobil kan?" Anak itu mengangguk, "Nah kalau mobil ada supirnya berarti pesawat juga ada supirnya, tapi jadi supir pesawat itu gak sembarangan harus kuliah dulu beda lagi sama supir mobil yang cuma butuh belajar doang" Raditya menjelaskan, "Athar paham?" tambahnya lagi bertanya ketika melihat wajah Athar yang hanya melongo menatap dirinya.


"Paham Ab-ba, jadi supil pecawat itu namanya pilot ya?"


"Iya, jadi pilot besar tanggung jawabnya karena harus membawa penumpang yang banyak menuju berbagai kota yang jauh atau bahkan bisa membawa penumpang menuju luar negeri. Tapi enaknya jadi pilot itu setiap hari bisa melihat indahnya dunia yang Allah ciptakan dari atas.


"Bukannya Ab-ba mau jadi pilot ya? Tapi kenapa cekalang gak jadi pilot" Athar terus bertanya.


"Eumm karna Abba lebih milih ke pesantren"


"Ooo iya, celu banget kayanya jadi pilot Ab-ba, kalo gitu kalo Athay udah besal Athay mau jadi pilot. Boleh dak Ab-ba?" ucap Athar.


"Athar serius?"


"Athay celius Ab-ba, jadi pilot kayanya selu apalagi kata Abba bisa liat dunia dali Atas" anak itu tersenyum sempurna.


"Maa syaa Allah, Abba akan dukung Athar sampai Athar benar benar jadi pilot. Tapi Athar jangan sampai lupa dengan agama, Athar juga perlu pemahaman agama yang cukup apalagi kan Athar punya pesantren yang harus di urus.


"Dak Ab-ba, in syaa Allah Athay dak akan sampai lupain Allah walau Athay belcita cita mau jadi pilot. In syaa Allah juga Athay bisa kok jadi pilot cama cekalian mengurus pesantlen. Nanti kalau Athay cudah jadi pilot Athay akan bercyukul banget karena Allah udah mendukung Athay sampai Athay jadi pilot.


"Tapi Nak, pilot itu kerjanya padat dari pagi hingga malam pasti ada jadwal penerbangan atau take off. Jadi kalau Athar mau sekalian ngurus pesantren dan jadi pilot memang Athar sanggup" tanya Raditya lagi meyakinkan.


"Memangnya di pesantren ulusan mengajalnya Athay semua yang ngeljain ya Ab-ba?"


"Yaudah belalti kalo gitu gak cemuanya Athay kan? Athay pengen jadi pilot Ab-ba, tapi Athay juga pengen ngulus pesantlen. Kalo boleh nanti kalo Athay gak ada jawal penelbangan Athay baru ke pesantlen, ngecek doang. Bisa kan Ab-ba?"


"Maa syaa Allah, anak sholehnya Abba pinter banget.


Di sisi lain Nara yang ingin memanggil mereka berdua untuk sarapan pagi tak kunjung membuka pintu karena takut mengangganggu percakapan Ayah antar anak terganggu. Nara lebih memilih mendengarkan saja apa yang mereka bicarakan, Nara begitu terharu dengan interaksi kedua lelakinya.


"Assalamualaikum, lagi bicarain apa nih? Kayanya seru banget" akhirnya Nara memasuki kamarnya.


"Eh Um-ma" Athar turun di bantu oleh Raditya, anak itu berlari dan merentangkan tangannya untuk meminta peluk kepada Nara.


"Lagi ngomongin apa hayo" ucap Nara.


"Ab-ba cama Athay lagi ngomongin pecawat, Athay kalo udah besal pengen jadi pilot Um-ma.


"Wahh bagus itu, Umma dukung sayang"


"Yeayyyy" Athar bersorak kegirangan di gendongan Nara.


Raditya diam diam tersenyum melihat Nara dan juga Athar, "Ekhem Abba di lupain nih" sindir Raditya keduanya menoleh ke arah Raditya dan menyengir kuda.


"Eh lupa" ucap Athar.


"Maaf mas, ayo sarapan dulu keburu makanannya dingin" ajak Nara, mereka semua keluar menuju dapur.

__ADS_1


Tok tok tok


"Assalamualaikum Mi" ucap Raditya mengetuk pintu kamar Umi dan Abinya.


"Waalaikumussalam Dit" Umi Elvi membuka pintunya, terlihat Umi Elvi sudah mengenakan pakaian gamis besar lengkap dengan niqabnya.


"Umi mau kan antar Raditya kemo?" tanya Raditya, Umi Elvi langsung mengangguk cepat.


"Kamu bicara apa Raditya?, ya tentu aja Umi mau.


"Tapi Raditya cape Mi, sejak dua tahun ini selalu kemoterapi, bolak balik rumah sakit, kaya main petak umpet sama Nara. Cape Mi" keluhan keluar dari mulut pria itu, wajahnya tertunduk dan sedikit pucat.


Umi Elvi mendongakkan wajah Raditya agar menatap dirinya, "Dengerin Umi sayang, waktu dua tahun yang lalu kata dokter umur kamu gak lama lagi, tapi atas kuasa Allah kamu sampai sekarang masih hidup masih bisa menemani Nara sama Athar. Raditya, kemoterapi adalah salah satunya cara untuk kamu bisa berjuang untuk sembuh, jadi Umi mohon kamu jangan sampai menyerah ya?"


"Tapi Mi......"


Umi Elvi menangkup wajah Raditya, "Sttttt gak ada tapi tapian, kamu harus rajin kemoterapi bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin melihat Athar tumbuh dewasa? tapi baru di sini aja udah nyerah. Walaupun dengan kemoterapi tidak menjamin kamu akan sembuh total, tapi berhusnuzon lah kepada Allah sesungguhnya hanya Dia-lah yang mengatur semuanya.


"Astaghfirullahaladzim" Raditya mengusap wajahnya.


"Yaudah kita berangkat ya? mumpung Nara lagi nemenin Athar tidur siang kan?" ucap Umi, Raditya mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju mobil yang akan di kendarai oleh pak Jamal.


Raditya menatap gamang kertas yang berada di genggamannya, kini ia sedang berada di rumah sakit sudah melaksanakan kemoterapinya dan saat ini ia sedang menunggu Umi Elvi yang sedang mengurus administrasi.


"Cape" lirihnya.


"Pengen pulang tapi masih punya istri sama anak yang pasti sangat membutuhkan saya" gumam Raditya.


"Kenapa jadi seperti ini Ya Allah.


"Kalau memang saya harus pulang sekarang, saya ikhlas asalkan jaga istri dan kedua anak saya.


"Pengen pulang ke keabadian.


"Sesungguhnya Allah tidak menyukai hambanya yang ingin cepat mati" ucap Umi Elvi memegang bahu Raditya yang bergetar.


"Umi" Raditya memeluk tubuh Umi Elvi yang sudah duduk di sampingnya. Ia menangis sejadi jadinya.


"Empat ya Mi?" Lirihnya.


Umi Elvi tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat Raditya yang sangat rapuh di dekapannya, "Umi yakin kamu bisa lewati ini semua.


"Tolong jaga Nara sama Athar ya Umi.


"Huss ngomongnya jangan kaya gitu, percaya kata Umi kamu pasti sembuh.


Raditya menggeleng pasrah, "Mustahil Mi.


"Kita serahkan semuanya sama Allah.

__ADS_1


__ADS_2