Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 77


__ADS_3

Malam ini sekiranya jam sembilan malam, Raditya dan Nara sedang duduk mencari angin di balkon kamarnya sembari melihat indahnya bintang di malam hari ini. Tak hanya bintang, di bawah mereka juga banyak sekali kendaraan yang berlalu lalang, lampu lampu dari kendaraan itu sangat indah.


Athar sudah tidur membuat mereka leluasa untuk menghabidkan waktu berdua saja, jarang jarang bukan memiliki waktu berdua Seperti ini. Semenjak mempunyai Athar mereka sangat jarang mempunyai waktu berdua.


"Ra"


"Iya mas?"


"Saya mau tanya sesuatu" ucap Raditya, kini mereka sedang duduk santai di balkon kamarnya.


"Iya tanya aja, memangnya mas mau tanya apa?"


"Impian kamu itu apa?"


Nara menyergitkan dahinya, "Impian aku?" ia menunjuk dirinya sendiri.


"Iya impian kamu itu apa?" tanya Raditya sekali lagi.


"Impian aku banyak" jawab Nara terkekeh.


"Salah satunya?"


"Eumm aku dari dulu pengen banget ke Makkah tapi sampai sekarang belum tercapai dan menurut aku itu sangat mustahil, biaya kesana kan mahal belum lagi tiket pesawat nya pasti mahal juga" jawab Nara dengan jujur, raut wajahnya terlihat menampakan kesedihan.


"Impian kamu mau ke Mekkah?" Raditya memastikan.


Nara mengangguk tanpa Ragu, memang sedari dulu dirinya sangat ingin sekali pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah, "Iya aku pengen sholat di depan Ka'bah, aku pengen ke Jabal Rahmah tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa.


"Kenapa kamu gak pernah bilang sama saya?"


"Ini aku bilang, takutnya kalau aku bilang dari dulu, mas malah kiranya aku kaya mau di bayarin ke sana.


"Memang mau" jawab Raditya.


"Hah?"


"Nanti kita atur tanggalnya, kita pergi bertiga sama Athar" ucap Raditya.


Nara menatap Raditya tak percaya, matanya berbinar seperti ingin menangis, "Mas?"


"Saya serius" Raditya membawa Nara kedalam dekapannya, ia memejamkan matanya sebari menghirup aroma rambut Nara yang wangi.


"Aku... Aku gak tau mau bilang apa ke mas Raditya, makasih aku seneng banget" Nara membalas pelukan Raditya dengan sangat erat, tak terasa tangisan bahagia keluar dari mata gadis itu.


"Sttt jangan berterima kasih, karena mewujudkan impian kamu adalah tugas saya. Sekalian saya juga pengen kesana lagi, rasanya rindu dengan tempat itu.


Nara mentap Raditya dari bawah, ia mengerutkan keningnya, "Mas Raditya pernah kesana?"


"Pernah, waktu saya pulang dari Mesir saya sama keluarga saya kesana" jawab Raditya mengecup kening Nara sekilas.

__ADS_1


"Jadi ini kedua kalinya dong?"


"Iya"


"Gak sabar menunggu hari di mana mas ajak aku kesana, yang paling aku nanti adalah sholat di depan Ka'bah, pegang Ka'bah dan cium Ka'bah. Berdoa di sana sesuai keinginan aku. Ya Allah baru denger mau pergi kesana aja udah seneng apalagi kalau sampai di mana hari itu tiba, seneng banget pasti" ucap Nara kegirangan.


"Impian yang lainnya?"


"Impian yang lainnya ya? Aku pengen sama sama kita lihat Athar dan adik adiknya kelak tumbuh dewasa sampai dia menikah, hingga dia punya anak atau bahkan punya cucu. Impian yang lainnya lagi, aku mau suatu saat aku yang pergi lebih dulu dari pada mas Raditya, karena kalau mas Raditya yang pergi duluan dari pada aku, aku takutnya gak sanggup, aku gak sanggup kalau aku hidup tanpa adanya mas di sisi aku.


Raditya membuang nafasnya lesu, entahlah mendengar Nara yang sangat sangat berharap akan hal itu membuat hatinya sangat teriris, membuat jiwanya merasa bersalah dan membuat raganya seperti gagal menjadi seorang suami.


"Gak Ra, kamu salah, justru yang sangat tersiksa itu saya kalau kamu pergi terlebih dahulu dari pada saya. Saya gak tau setersiksa dan seterpuruk apa saya nantinya kalau tidak ada kamu di setiap hari hari saya. Jadi saya mohon biar saya aja ya yang pergi duluan?" Raditya semakin mengeratkan pelukannya kepada Nara, dadanya sesak ketika sudah membahas soal itu.


"Kita serahkan semuanya sama Allah, kita gak tau siapa yang lebih dulu di ambil oleh Allah entah itu kamu atau aku mas.


"Semoga kelak kita di pertemukan kembali di akhirat, di pertemukan kembali di Jannah nya Allah. Saya akan tunggu kamu, saya janji saya tidak akan pernah tertarik dengan bidadari surga, karena bidadari saya adalah kamu. Uhibbuki fillah zaujati aku mencintaimu karena Allah istriku.


Nara merekahkan senyumnya mendengar kata itu keluar lagi dari bibir Raditya, "Uhibbuka fillah zauji, aku juga mencintaimu karena Allah suamiku.


"Kalau gak ada Athar di kamar ini rasanya kaya pengantin baru lagi ya" Raditya terkikik geli.


Nara mencubit pinggang Raditya pelan, "Ih pengantin baru, inget umur mas.


"Jadi pengen nikah lagi" celetuk Raditya.


"Heh" Nara melepaskan pelukannya dari Raditya, ia menunjuk Raditya dengan tajam.


"Poligami otw cerai" ucap Nara pinal.


"Lho kok gitu? kamu inget ya, kalau istri yang mau di poligami itu imbalannya surga.


"Mau surga inilah, surga itu lah, bahkan mau surga firdaus pun aku tetap gak mau kalau harus di poligami, istri mana yang rela suaminya di bagi dua sampai mau di poligami?" Nara berbicara dengan nada yang lumayan tinggi.


"Sayang banget ya sama suaminya sampai sampai gak rela gitu kalau suaminya nikah lagi" Raditya memeluk Nara kembali mengelus pucuk kepala gadis itu dan sesekali menciumnya.


Nara menggeleng di dekapan Raditya, "Enggak rela banget, suami aku ini romantis, perhatian, penyayang, selalu mengutamakan istri. Jadi aku gak rela kalau semua itu harus di bagi dua sama perempuan lain. Wallahi aku vgak rela.


"Tapi poligami sunnah Rasul lho sayang" Raditya semakin gencar menggoda Nara.


Nara menghela nafas, "Aku tau, yaudah sana poligami" Nara mendorong tubuh Raditya, namun pria itu tetap menahannya agar Nara tetap berada di dekapannya.


"Saya becanda, mempunyai istri lebih dari satu memang sunnah Rasul tapi di sini kita juga harus menghargai istri, memuliakan istri, menghargai perasaan istri, dan menjadikan istri satu satunya, itu lebih penting. Cukup satu gak perlu dua, cukup kamu gak perlu dia" Raditya terkekeh di akhir kalimatnya.


Nara tertawa renyah mendengar kata yang Raditya lontarkan di akhir kalimat, "Pantun mas.


"Bukan neng, tapi nyarios" (ngomong)


"Mas ih" Nara.

__ADS_1


"Ra?"


"Iya mas?"


"Kenapa kamu manis?"


Nara berpikir sejenak, "Maksud mas?"


"Kenapa kamu manis? Karena yang pahit itu pare", Raditya terkekeh dengan ucapannya yang sangatlah garing, bahkan kalau di jadikan gombalan mana ada perempuan yang mendengarnya langsung jingkrak jingkrik sampai salting.


Nara tertawa kecil dengan gombalan garing Raditya, "Apaan sih mas, gak jelas.


"Iya, karena yang jelas itu cintaku padamu" sahut Raditya menatap lurus kedepan, seperti biasa suasana malam jakarta sangat indah jika di lihat dari atas balkon.


"Ihh mas kenapa sih"


"Gak ada"


"Mas tau gak?"


"Apa?"


"Gak jadi" jawaban Nara membuat Raditya merubah wajahnya masam, Raditya mencubit hidung Nara dengan gemas.


"Hmmm nakal ya becanda mulu"


"Iya maaf hehe"


"Ra?"


"Iya"


"Coba kamu lihat bintang itu" Raditya menunjuk bintang di atas langit yang berbeda dari yang lain, bintang itu bersinar lebih terang dari pada yang lainnya.


Nara mengikuti arah telunjuk Raditya untuk menatap bintang itu, "Iya? Kenapa emang?"


"Kamu tau gak? Bintang yang paling bersinar itu adalah kamu, dan bintang yang lainnya itu adalah banyaknya perempuan di dunia ini" ucap Raditya.


"Kalo mas?"


"Saya adalah langit yang gelap, tanpa adanya bintang langit yang gelap itu tidak akan terlihat indah tapi akan terlihat menyeramkan. Sama seperti saya, jika tidak bertemu dengan kamu saya akan terus seperti langit yang hitam itu. Sungguh, dari banyaknya bintang hanya bintang yang paling bersinarlah yang menjadi pusat perhatian saya, sama juga seperti kamu, dari banyaknya wanita di luaran sana, hanya kamulah yang bisa membuat saya tertarik dan membuat saya jatuh cinta jatuh sejatuh jatuhnya.


"Kalo kamu langit yang gelap dan aku bintang yang paling bersinar, kenapa kamu gak pilih matahari dan bulan aja?" ucap Nara, "Menurut aku salah mas, harusnya aku bulan dan kamu matahari" tambahnya.


"Maksud kamu?"


"Iya, karena bulan tidak akan bersinar tanpa adanya cahaya dari matahari. Sama halnya dengan hidup aku yang tidak akan sebersinar jika tidak ada kamu. Ucapan kamu tadi salah, bintang juga memerlukan cahaya matahari untuk bersinar, mereka gak mempunyai cahaya masing masing mas" Nara tertawa kecil ketika Raditya salah dalam pengucapan gombalannya.


Raditya menggaruk lehernya, definisi tidak mengerti soal tata Surya ya jadinya begini. Yah gagal gombal dong mas wk.

__ADS_1


"Eh?"


Nara terkekeh melihat wajah Raditya yang memerah akibat malu, "Udah gak papa, tapi aku tau maknanya.


__ADS_2