Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 69


__ADS_3

"Umi mohon gak usah seperti itu nak, tetap perlakukan Nara seperti biasa jangan sampai kamu berubah sifat dan memperlihatkan semuanya. Yasudah kamu samperin istrimu terus minta maaf" perintah Umi Elvi. Raditya mengangguk lalu berjalan menaiki tangga untuk menghampiri Nara.


"Assalamualaikum" Raditya membuka pintu kamarnya dan mendapati istri serta anaknya yang tengah tertidur pulas.


"Maa Syaa Allah dua malaikat. Maafkan saya atas perilaku saya tadi pagi sayang" Raditya mengelus kepala Nara dan mengecupnya, lalu beralih mengecup pipi Athar.


Raditya menyimpan tas kerjanya di ruangan kerjanya, ia mulai melepaskan dasi dan kemejanya yang melekat pada tubuhnya. Pria itu memasuki kamar mandi untuk mandi lagi.


Setelah beberapa menit akhirnya selesai, ia mendapati Nara yang sudah bangun dan duduk memandang nyalang kedepan, "Sudah bangun?" tanya Raditya sambil memakai bajunya.


"Udah pulang? Tumben cepet" Nara malah bertanya balik.


"Iya, hari ini sedang tidak ada meeting jadi saya pulang.


"Oh" hanya itu yang Nara ucapkan.


"Maafkan saya karena tadi pagi" Raditya selesai memakai baju dan mendekati Nara.


"Iya gak papa" jawab Nara lalu mengambil Athar kedalam pangkuannya.


"Eummm ganteng banget sih anak Umma" Nara membawa Athar bermain sedangkan Raditya ia acuhkan. Raditya memaklumi ia hanya bisa tersenyum kecil karena ini juga memang salahnya.


"Ra.."


"Definisi gantengnya malaikat kecil Umma gak ada yang nandingin" Nara mencium cium pipi Athar dan menghiraukan panggilan dari Raditya.


"Kamu masih marah sama saya?"


"Kamu denger gak sayang? Ada yang ngomong" ucap Nara kepada Athar.


"Sayang..."


"Aaaaa maa syaa Allah senyumnya manis banget kayanya Umma bakalan oleng ke kamu deh, ya gimana gak oleng orang kamu ganteng, manis, lucu, paket komplit deh" pekik Nara histeris ketika melihat Athar tersenyum akibat ulahnya yang sedang membawa Athar bermain.


Raditya terlihat tidak bisa berkata apa apa, ia menundukkan kepalanya lalu kembali menatap istri dan anaknya. Sekarang ini Nara benar benar mendiaminya.

__ADS_1


Nara membaringkan Athar kembali di kasur, "Kamu gantengnya Umma pokoknya, gak bakalan ada yang gantiin siapapun itu dan orang mana pun itu, bahkan ayah sendiri aja kalah sama Athay.


"Begitu ya cara mainnya? Tenang aja, saya tidak akan biarkan bidadari saya berpaling kesiapapun termasuk anak saya sendiri" ucap Raditya tak terima, bila bisa di jelaskan mungkin saat ini hati Raditya sedang panas.


"BABY ATHAR ZAYN ALVARENDRA GANTENGNYA SEPANJANG MASA GAK AKAN TERGANTIKAN" Nara menekan setiap kata yang ia ucapkan.


Merasa tak mau kalah, Raditya beralih ikut membawa Athar bermain. Pria itu memainkan lengan Athar dan menatap istrinya, lalu kembali menatap Athar "Siapa kamu berani menggeser tahta tertinggi Abba di hatinya Umma? gak bisa begitu Umma cuma milik Abba, milik Abba seorang, dan Abba adalah gantengnya Umma sepanjang masa"


"Apaan sih bukan kamu tapi Athar, iyakan sayang" sahut Nara dengan judes, Raditya diam tak bergeming jujur sekarang ini dirinya bagaikan jamur yang menempel di tengah tengah kayu dan daun, atau cuma bisa jadi penghalang saja.


Raditya semakin memanas, ia tidak tahan lagi, posisinya sekarang menurun 80% dari Athar. Raditya tidak bisa membiarkannya, jika lama kelamaan di diamkan akan fatal jadinya.


"Sayangg" Raditya mengambil tangan Nara dan mengusapkan kepipi dirinya, ia mencoba mencari perhatian Nara


"Iii Athay cenyum, aaa manis banget sihhh" Nara heboh sendiri tetap menghiraukan Raditya.


"Sayang ih kok suaminya di cuekin, di kacangin, di diemin, di anggurin, malah pokus ke Athar terus" ucap Raditya yang sudah merasa kesal dan tidak tahan lagi.


"Kacang mahal satu biji tiga miliyar" ucap Nara.


"Kacang murah satu kilo lima ribu" sahut Raditya tak kalah tidak jelasny dengan Nara.


"Gak seneng" Raditya menggelengkan kepalanya bak anak kecil.


"Ish sadar lah Athar lebih menarik" jawab Nara judes.


"Athar Abba cemburu" Raditya menggembungkan pipinya dan menyimpan lipatan tangannya di dada.


Nara menahan tawanya di dalam hati sebisa mungkin ia tidak mengeluarkan suara tawanya,, Ya Allah lucu banget,, jerit Nara dalam hati.


"Oke kita bersaing sekarang, siapa yang bisa mendapatkan hati Umma dialah jagoan yang sesungguhnya" Raditya menatap Athar dengan tajam bak seperti musuhnya.


Apaan sih Ya Allah, random banget suamiku ini,, ucap Nara dalam hati dan tertawa kecil di dalam hati juga.


"Yang di pilih Umma berarti dia yang menang" Nara membawa Athar kepangkuannya dan mencium cium pipi gembul bayi itu.

__ADS_1


"Aaaaaaa" rengek Raditya, Nara berdiri membalikkan badannya membelakangi Raditya ia tertawa puas melihat Raditya yang seperti itu.


"Maaf mas, lagian kamu sendiri sih tadi pagi kaya gitu" gumam Nara terkekeh kecil.


"Sayang..." rengek Raditya lagi.


"Apaan sih mas" jawab Nara masih dengan nada jutek, ia membawa Athar kebalkon.


Raditya berdiri ia berjalan menghentakkan kakinya menuju keluar kamar, Raditya membuka dan menutup pintu dengan kasar bahkan sampai membantingnya. Nara yang menyaksikan sedikit terkejut, apa suaminya benar benar marah?


Nara takut jika Raditya benar marah kepadanya, akhirnya Nara memutuskan untuk mengikuti kemana arah Raditya pergi. Ternyata suaminya itu turun kebawah, akhirnya Nara juga mengikuti dan menuruni tangga dengan hati hati karena dirinya membawa Athar.


Kini Nara sudah berada di titik Raditya berhenti berjalan, ternyata suaminya itu menuju ke ruang sholat yang terdapat Uminya sedang murojaah di sana. Nara sedikit membuka pintu ruang sholat itu agar bisa melihat apa yang tengah suaminya itu lakukan.


Nara terkejut bukan main melihat suaminya yang sesenggukan menangis di hadapan Umi Elvi, ini kali kedua Raditya menangis akibat di diami dirinya. Raditya menangis sesenggukan di depan Umi Elvi, pria itu menaruh kepalanya di pangkuan Umi Elvi sambil mendongakkan wajahnya menatap Umi Elvi, wajah Raditya sudah sangat penuh dengan air mata. Mata dan hidungnya terlihat merah, dengan bersamaan Umi Elvi mencoba menenangkan Raditya sembari mengelus elus kepala Raditya.


"Huaaa Umi hiks hiks, Nara kacangin a..a..aku, di..dia malah terus pilih Athar. Ra..Nara bilang katanya Athar lebih me..menarik dari pada aku" ucap Raditya di sela sela tangisnya.


"Umiiiiii, a..aku takut Athar a..akan gantiin posisi aku hiks" Umi Elvi menenangkan Raditya tak berhenti mengelus kepala Raditya, ia tertawa renyah melihatnya pasalnya Umi Elvi baru saja melihat sikap Raditya yang seperti ini dan itu hanya karena di diami Nara.


"Mungkin ini balasan atas apa yang kamu lakuin tadi pagi sama Nara sayang, mungkin Nara kesel dan membalas perilaku kamu tadi pagi.


"Menurut Umi Athar akan tetap di posisi Athar dan kamu akan tetap di posisi kamu sebagai suami, jadi tidak perlu merasa takut tergantikan seperti itu oleh anakmu sendiri" ucap Umi.


"Tuh dengerin apa kata Umi" ucap Nara yang masuk tiba tiba.


Raditya menatap Nara dan menghapus semua bekas air matanya, ia melepaskan pelukannya pada Umi, "Gak usah di hapus orang aku udah tau kok. Umi iki tikit ithir ikin gintiin pisisi iki bla bla" ejek Nara.


"Gak akan kok mas, tadi aku cuma kesel aja sama mas Raditya, karena tadi pagi mas kaya diemin aku.


"Jadi...." Raditya menerjapkan matanya.


Nara tersenyum, "Iya, posisi kamu tetap nomor satu di hati aku. Athar nomor dua heheh.


Raditya berdiri dan memeluk Nara dengan Athar yang berada di tengah tengah mereka, "Saya pikir memang posisi saya sudah di gantikan oleh baby mungil ini.

__ADS_1


"Enggak mas"


"Lepas, malu sama Umi" ucap Nara ketika menyadari bahwa di depan meraka ada Umi yang setia menyaksikan, sedangkan Umi Elvi hanya tersenyum saja melihat adegan di depannya.


__ADS_2