
"Dit? kenapa gini sih? gue gak tau kalau gak ada lo gimana" Rayn tak kuasa menahan tangisnya, ia meneteskan air matanya.
"Gak papa, lo pasti bisa. Cari aja teman baru yang sekiranya mampu membuat lo semangat, jangan lupa selalu do'ain gue supaya di Mesir gue juga bisa menyerap semua ilmu agama yang ada di sana" Raditya terkekeh hambar dengan ucapannya.
"Apaan sih, lo harus ijin sekali lagi gak papa biar gue yang ngomong, siapa tau kan mereka dukung lo dan ngebatalin rencana mereka buat ngirim lo ke Mesir.
"Gue rasa gak akan mempan Ray, tekad mereka sudah bulat, keputusan mereka tidak bisa di ganggu gugat. Jika sudah itu ya itu, susah" desis Raditya.
"Terus? lo mau nurut gitu gitu?"
Raditya mengangguk, "Iya, maaf ya? sampai bertemu di titik terbaik menurut takdir, entah itu takdir tuhan lo atau tuhan gue.
"Serius minggu depan? kenapa harus minggu depan sih, itu kecepetan"
__ADS_1
"Sudah harusnya gitu Ray"
"Kita udah sepakat kalo kita lulus bareng, kita bakal liat keindahan kota jakarta dari atas bareng bareng gue sebagai pilotnya dan lo sebagai copilot nya haha, tapi itu rasanya gak mungkin" Rayn tertawa hambar dan tatapannya nyalang ke depan.
"Masih bisa, tapi suatu saat nanti. Bedanya gue jadi penumpang Ray, dan lo pilotnya" sahut Raditya.
Raditya menepuk pundak Rayn, "Keep hamasah Ray, gue yakin lo bisa. Minggu depan temenin gw ke bandara ya? sekalian liat senior" Raditya tertawa kecil, Rayn mengangguk.
Nara menatap Raditya lekat, di setiap bait kalimat yang terucap di bibir Raditya, Nara merasa jika Raditya tengah menahan air matanya supaya tidak jatuh, "Jadi cita cita mas dulu pengen jadi pilot? tapi kehalang sama restu Umi Abi?"
"Iya, tapi saya juga gak pernah benci sama mereka tapi dulu sedikit marah aja soalnya menjadi pilot adalah impian saya dan Rayn sejak dulu, tapi yang berhasil hanya Rayn"
Raditya menghela nafas lagi untuk kembali membuka suara ,"Pertama kali saya belajar di Al-Azhar rasanya setiap hari saya gak pernah berhenti mendumel tentang Abi sama Umi soalnya masih kesel sama mereka. Tapi lama kelamaan saya mulai nyaman di sana, saya belajar dengan sungguh sungguh tak pernah lalai sedikitpun sehingga sekarang menjadi seorang yang sekiranya lumayan lah.
__ADS_1
"Tiga tahun di sana rasanya happy, saya mulai membiasakan diri dengan kegiatan di sana dan saya juga perlahan mulai melupakan semua tentang burung besi, Rayn, ataupun pilot. Tiga tahun di sana saya tidak pernah beradaptasi dengan perempuan, namun banyak sekali perempuan yang mendekati dan mungkin kagum sama saya, salah satunya perempuan yang waktu itu saya ceritakan kepada kamu. Setelah saya lulus dari Mesir saya tidak pernah berkhayal mendapat seorang istri karena saya sadar jika saya sendiripun sulit mengenal perempuan, tapi setahun setelahnya malah di pertemukan sama kamu. Maa syaa Allah.
Nara menyimak perkataan Raditya dengan seksama, menunggu suaminya itu untuk melanjutkan pembicaraannya.
"So, sekarang saya sadar. Abi dan Umi menyuruh saya agar supaya lebih memahami lebih jauh tentang ilmu agama karena ini"
"Karena apa?"
"Abi pernah bilang kalau tugas suami tidak hanya sebatas mencari rezeki namun juga dengan membimbing. Nah itu, sekarang saya sadar kalau membimbing istri juga perlu kesabaran. Membimbing istri ibaratnya seperti menjaga seisi madrasah, apalagi kalau istrinya nakal kaya istri saya ini" Raditya mencubit hidung Nara hingga memerah.
Nara memajukan bibir bawahnya, "Sakit tau, emang aku kenapa?"
"Nakal, paling bisa memancing suami. Tidak tau waktu lagi.
__ADS_1