Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 78


__ADS_3

"Hati-hati naiknya" ucap Nara kepada Athar yang hendak menaiki tangga rumah pohon yang waktu itu Raditya tunjukkan kepada Nara, kalian masih ingat kan?


Rencananya mereka akan bermalam satu hari saja di rumah pohon, menghabiskan waktu bertiga di sana. Tadinya Nadhiva merengek rengek meminta ikut kepada Raditya dan Nara namun Gus Afan tetap kekeh tidak membiarkan Nadhiva jauh dari sisi dirinya.


"Huaaa cape" keluh Athar duduk di lesehan dengan hanya beralas karpet bulu saja.


"Cape ya sayang?"


Athar mengangguk, "Iya umma.


"Coba sini sama Abba tiduran" Raditya menepuk bagian depan tempatnya rebahan, Athar bangkit buru buru mendekati Raditya dan tiduran di sana.


Nara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju luar rumah pohon itu, bisa di bilang itu adalah balkon. Di rumah pohon itu yang paling Nara suka adalah melihat sunset di waktu sore, pemadangannya bagus apalagi di tambah suara kicauan burung.


"Athar tunggu sebentar ya di sini" ucap Raditya kepada Athar, ia berjalan mendekati Nara dan memeluk tubuh gadis itu dari belakang.


"Mas Raditya?"


"Iya ini saya" Raditya menduselkan wajahnya di ceruk leher Nara yang terbalut hijab, meski begitu Nara tetap merasakan geli.


"Lepasin mas, malu kalau di liatin Athar" Nara memberontak.


"Tidak akan, Athar sedang memainkan ponsel saya" jawab Raditya.


"Tapi mas...."


"Sttttt diamlah humairah, saat ini saya sedang merindukanmu" bisik Raditya tepat di telinga Rara dengan nada yang serak.


Nara meneguk salivanya, agak ngeri jika Raditya berbisik dengan suara berat dan seraknya itu, "Tiap hari kan ketemu mas.


"Iya juga, tapi rasanya beda"


"Hmmm tidak kah ada niatan untuk membalikan badanmu humairah" tambah Raditya ia berucap dengan manis.


Nara tersenyum diam diam di balik cadarnya, entahlah kalau sudah begini pasti akan mudah cepat luluh. Nara membalikkan badannya dan mendapati Raditya yang sedang merekahkan senyuman manis kearah dirinya, tangan Raditya terangkat untuk melepaskan cadar Nara, namun seketika gadis itu menolaknya.


"Mas, jangan di lepas" ucap Nara menahan tangan Raditya.


"Hanya lepas cadar bukan lepas baju" Raditya terkekeh, "Lagi pula saya rindu dengan wajah manis kamu" tambahnya.


"Astaghfirullahaladzim, ih" Nara mencubit Raditya sehingga membuat pria itu sedikit meringis, "Di kamar aku sering buka cadar, masa iya rindu"


"Tapi beda"


"Iya deh mas" pasrah Nara.


"Ayo lepas" pinta Raditya.


Nara mengangkat tangannya untuk membawa tali cadar yang menaut di belakang kepala, ketika sudah terlepas Raditya menarik cadar itu dan menampilkan wajah manis Nara yang sedang tersenyum.


"Maa syaa Allah, mau pingsan saya"


"Lebay ihh"

__ADS_1


Tanpa menggubris perkataan Nara, Raditya. mendekatkan wajahnya dengan wajah Nara. Dengan menatap lekat mata Nara, Raditya terus mendekatkan wajahnya dengan wajah istrinya, Nara yang menyadari itu hanya bisa diam dan pasrah.


Semakin dekat wajah mereka berdekatan dan hanya berjarak sekitar 5 centimeter saja, hampir saya bibir Raditya dan bibir Nara bersentuhan.


Nara memejamkan matanya begitupun Raditya ketika bibir mereka satu sama lain sudah bertemu.


"Abbaaaaaaaa"


Raditya dan Nara melepaskan ciuman mereka satu sama lain ketika mendapati Athar yang berteriak memanggil Raditya, bukan karena Athar melihat adegan mereka namun Athar berteriak seperti meminta tolong.


"Athar?" Raditya dan Nara mencari Athar di setiap sudut rumah pohon itu namun mereka tak menemukan Athar sedikitpun, ponsel Raditya yang sedang Athar mainkan tadi pun tergeletak di karpet bulu begitu saja.


Raditya melihat ke arah pintu utama rumah pohon itu, ada sesosok orang dengan baju serba hitam membawa Athar dengan cara di gendong bak karung beras.


"ATHARRR" teriak Raditya.


"Mas Athar mana?"


"Ra, Athar di bawa pergi oleh seseorang saya harus kejar dia, tolong kamu...." Raditya menjeda ucapannya, tadinya dirinya berinisiatif untuk menyuruh Nara berdiam saja di rumah pohon ini, namun mengingat rumah pohon berada di tengah hutan membuatnya tidak mungkin membiarkan Nara sendirian di sini.


"Aku ikut" ucap Nara yakin.


"Ra tapi..."


"Mas aku ikut" kekeh Nara.


"Tolong kamu diam aja di sini ya? nanti saya telepon Umi atau Ana suruh kesini" ucap Raditya dengan wajah panik.


"Mas..."


"Iya" jawab Nara.


"Saya permisi Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


Raditya menuruni tangga yang terhubung dengan rumah pohon dengan sangat cepat kilat, tak peduli jika nantinya dirinya akan jatuh, pikirannya saat ini hanya tertuju kepada Athar. Anak satu satunya.


Raditya berlari dengan sangat cepat menuju arah di mana seseorang dengan pakaian serba hitam itu pergi membawa Athar, namun nihil Raditya tidak bisa menemukan orang itu karena lumayan lama dirinya dan Nara tadi berdebat.


"Astagfirullah" Raditya mengusap wajahnya kasar sambil beristighfar, "Ya Allah lindungi anak hamba.


Raditya mengambil ponsel yang berada di sakunya, ia mengetikkan sesuatu di sana untuk menghubungi Ana agar segera ke tempat di mana Nara berada yaitu rumah pohon. Keadaan masih di sore hari jadi tidak sangat menyeramkan jika Nara berada di sana sendirian.


Raditya berlari menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, ia berencana untuk mencari Athar di sekitar siapa tau orang itu tidak membawa Athar jauh.


Sekiranya satu jam Raditya berkeliling kesana kemari mencari Athar, namun anak itu masih belum bisa di temukan. Kini jam sudah memasuki jam 6 sore, Raditya menghentikan mobilnya untuk melaksanakan sholat maghrib terlebih dahulu di masjid sekitar sekalian untuk meminta tolong kepada sang maha kuasa, karena tidak ada tempat pertolongan terbaik kecuali pada-Nya.


Setelah melaksanakan sholat maghrib Raditya kembali keluar untuk mencari Athar kembali, namun di sana ia sudah melihat banyak sekali keluarganya, mulai dari Gus Afan, Rio, Reza, dan Abi Sanjaya. Mungkin berita itu sudah menyebar hingga ke orang tua, mertua dan kakak iparnya.


"Assalamualaikum, kalian kenapa bisa ada di sini?"


"Waalaikumussalam Raditya, ya tadi Abi dapat kabar dari adikmu kalau Athar hilang jadi kami berinisiatif akan membantu mencari anakmu" jawab Abi Sanjaya.

__ADS_1


"Kronologinya bagaimana Raditya?" tanya Reza.


"Awal mula saya sama Nara sedang di luar rumah pohon melihat sunset, dan Athar di dalam sedang memainkan ponsel saya tapi selang beberapa waktu Athar berteriak memanggil saya, ketika saya lihat ternyata dia bawa sosok orang yang berpakaian serba hitam, kira kira dia lari ke arah timur" Raditya menjelaskan.


"Sebaiknya kita berpencar aja biar lebih cepat menemukan Athar" ucap Rio, mereka semua menggangguk.


"Yasudah biar Om Reza dan Abi sama saya, kak Rio dan kak Raditya", ucap Gus Afan mengatur semuanya, mereka semua kembali mengangguk lalu memasuki mobil mereka masing-masing.


"Tadi jalan ini sudah saya lewati tapi saya tidak menemukan Athar sama sekali kak" ucap Raditya dengan wajah yang sangat panik.


"Pake logika, gak mungkin orang yang membawa Athar tadi masih ada di pinggiran jalan seperti ini pasti mereka sudah membawa Athar kesesuatu tempat. Jadi lebih baik kita cari jalan kaki" usul Rio. Raditya berpikir ucapan Rio ada benarnya juga, akhirnya Raditya dan Rio turun dari mobil dan memutuskan mencari Athar dengan jalan kaki.


"ATHARRRR"


"KAMU DI MANA SAYANG, INI ABBA" teriak Raditya dengan sangat kencang berharap anak kecil itu menjawab teriakannya.


"ATHARRR" Rio ikut berteriak.


Di tengah tengah perjalanannya Raditya merasakan kalau ada sesuatu pembengkakan di dalam tubuhnya, kepalanya pusing wajahnya pucat bahkan tubuhnya limpung tidak bisa menahan berat badannya sendiri. Hampir saja Raditya terjatuh namun dengan segera Rio yang menyadari itu menahannya.


"Are you okay Dit?" tanya Rio menanyakan keadaan Raditya, ia memapah Raditya untuk duduk di kursi.


"Sebantar abang belikan minum dulu" Rio berjalan menuju warung sebrang.


"Athar, kamu di mana nak? Apa kamu baik baik saja? Maafkan Abba yang lalai menjaga kamu" lirih Raditya, bahkan ia tidak menghiraukan rasa sakit yang menjalar di dalam tubuhnya karena pikirannya saat ini hanya tertuju pada Athar.


°°°°°°°°°°


"Hikss hikss"


"Udah Ra yang tenang ya, aku yakin pasti Athar ketemu" ucap Ana mencoba menenangkan Nara. Kini Nara sudah berada di rumahnya, karena saat Ana mendapatkan kabar dari Raditya ia langsung menjemput Nara dengan pak Jamal dan membawa Nara kerumah.


"Athar hilang Na, aku gak tau dia di bawa kemana, aku takut kalau Athar kenapa-kenapa hikks" air mata terus jatuh meluruh di pipi Nara, ia tak henti menangis setelah melihat Athar di bawa pergi oleh orang yang tak di kenal.


"Huss, sayang gak boleh ngomong begitu, Athar pasti baik baik aja, Athar pasti kembali dengan selamat. Kamu harus yakin sama suamimu kalau dia bisa bawa Athar dengan selamat ya?" ucap Ghea mengusap bahu Nara yang sangat lemas, kini Nara sedang bersandar di pundak ibudanya.


"Aku gagal jadi ibu bun, aku lalay, aku gak becus dari seorang ibu. Athar maafin Umma sayang, Umma gak bisa jagain kamu" ucap Nara lirih sembari memberontak.


"Kamu gak pernah gagal nak, kamu ibu hebat, kamu ibu yang luar biasa bagi Athar. Ini hanya cobaan dari Allah, yakinlah bahwa Allah akan selalu bersama Athar, selagi Allah bersama Athar kamu tidak perlu khawatir pasti Dia akan selalu menjaganya" ucap Umi Elvi juga ikut menenangkan Nara sekaligus. menenangkan Nadhiva yang berada di dalam pangkuannya, sejak dari tadi Nadhiva juga tak henti menangis saat tau jika Athar hilang.


"Umi maafin Nara, Nara gak bisa jaga cucu Umi" Nara semakin mengencangkan tangisnya, ia sangat merasa bersalah akan hal ini karena menurutnya dialah penyebab dari hilangnya Athar.


"Nak, tidak ada yang perlu di salahkan, ini bukan salah siapa siapa"


Ya Allah aku hanya bisa berharap kepada-Mu, karena hanya Engkaulah sebaik-baiknya penolong bagi semua hamba-Mu, aku mohon jaga lah anakku Ya Allah, jangan sampai ia terluka walau hanya satu gores saja,, lirih Nara di dalam hati, kalau bisa sekarang juga ia ingin ikut mencari Athar.


"Bun aku mau cari Athar, aku gak tenang kalau cuma duduk doang begini" Nara memberontak ingin pergi namun tangannya di tahan oleh Ghea dan Ana.


"Sayang, di sana sudah banyak yang mencari Athar, ada Ayah, Abi kamu, suami kamu, Gus Afan dan juga kakak kamu. Kamu serahkan semuanya kepada mereka, kamu jangan bertindak sendirian ya" ucap Ghea dengan halusnya yang membuat Nara kembali duduk dan bersandar lemah lagi di bahunya.


"Orang tua mana yang bisa tenang jika anaknya sendiri hilang di culik orang entah di bawa kemana"


Nara menggeleng gelengkan kepalanya dengan air mata yang tak pernah surut dari pelupuk matanya, "Aku gak bisa bun, Athar darah daging aku. Aku gak bisa diem aja.

__ADS_1


"Kami semua tau perasaanmu tapi Umi mohon kamu tenang ya" ucap Umi.


"Umi aku....aku...." Nara pingsan di bahu Ghea, sudah dua jam ia menangis tak henti, mungkin karena kelelahan ia menjadi pingsan seperti ini.


__ADS_2