Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 76


__ADS_3

Panggilan masuk....


"Siapa sih sayang? Malam malam begini" tanya Raditya yang sudah merebahkan tubuhnya di samping Athar, kini Athar tidur di tengah tengah Raditya dan Nara, walau awalnya Raditya tidak menyetujui dan malah menyuruh Athar tidur di kamarnya. Tapi karena paksaan Nara akhirnya Raditya mau, karena menurut Nara tidak mungkin Athar yang masih berumur tiga tahun harus tidur di kamarnya sendirian.


"Ana mas"


"Coba di angkat siapa tau penting" perintah Raditya.


««Assalamualaikum Ra, maaf ya jam segini ganggu»»


"Waalaikumussalam, enggak kok Ana ada apa? Kok berisik banget kamu lagi di mana?"


««Nih»» Ana mengedarkan kameranya kesetiap sudut area tempat yang sedang ia datangi.


"Bandara? ngapain kamu ke bandara?" tanya Nara semakin bingung.


««bentar»»


««Coba mas pegang dulu hpnya»» Ana memberikan ponselnya kepada Gus Afan.


"Mau kemana Gus?" kini Raditya yang bertanya, karena tidak mau istrinya yang menjawab.


««Rencananya kami mau ke jakarta karena Ana kangen sama Umi dan kalian»»


"Kalian serius?" jerit Nara histeris.


««Iya kak»» jawab Gus Afan.


"Aaaa gak sabar mau ketemu Nadhiva, eh tapi kenapa harus berangkat malam malam begini?"


««Gak papa aku sendiri yang minta Ra»» ucap Ana yang sudah memegang ponselnya kembali.


««Udah dulu deh kayanya, aku harus segera naik ke pesawat Ra Assalamualaikum Abang, Nara»»


"Waalaikumussalam" jawab Raditya dan Nara memutus sambungan video call mereka. Nara kembali menaruh ponselnya.


"Berarti malam ini juga sampai dong ya mas?"


Raditya mengangguk, "Iya, perjalanan hanya dua jam.


"Yaudah ayo tidur" ucap Nara.


"Athar udah tidur, mau dapet pahala gak?"


Nara menatap langit kamarnya dan memegang dagunya seperti tengah berpikir, "Pahala sunnah suami istri" tambah Raditya lagi.


Nara beralih menatap Raditya dan tersenyum malu, "Modus.


Skip skip


"Sayang bangun, tahajud dulu. Athar udah bangun loh lagi sama Diva di bawah"


"Eumm masa Diva ada di sini" Nara menggeliat dan menggisik matanya dengan tangannya.


"Ada, kan semalam mereka bilang mau kesini ya itu Diva sama Ana udah sampai lagi di ruang tamu sama Abi, Umi dan Athar juga" ucap Raditya.


Nara buru buru mengubah posisinya menjadi duduk, ia baru ingat jika Ana dan juga Gus Afan akan kesini, "Mereka udah sampai?" Raditya mengangguk.


"Sebentar aku mandi dulu"


"Saya duluan ke bawah ya sayang?"


"Iya mass"

__ADS_1


Setelah mendapat jawaban dari Nara, Raditya pun turun ke lantai bawah dan menuju ruang tamu untuk menemui semua.


"Ab-ba mana Um-ma?"


"Umma mandi dulu sayang, nanti kesini kalau udah selesai"


"Oh oke"


Dua puluh lima menit lamanya Raditya dan yang lainnya menunggu Nara dengan mengobrol Ria sebelum melaksanakan sholat tahajud bareng, sesekali mereka menyimak pembicaraan antara Athar dan Diva yang sangat random. Kedua anak itu ketika di pertemukan langsung akur.


"Assalamualaikum semuanya" ucap Nara yang baru datang.


"Waalaikumussalam" jawab semuanya.


"Eh Um-ma udah selesai?" tanya Athar, "Iya udah sayang.


"Aaaaa Nara, i very very miss you" Ana merentangkan tangannya sembari berucap sesuatu yang alay.


"Yoi i'm juga miss you" jawab Nara membalas pelukan Ana. Raditya dan Gus Afan yang menyaksikan para istrinya hanya bisa menggelengkan kepala, ternyata para istrinya itu ada sisi priknya juga.


"Kangen banget hampir beberapa tahun kita gak ketemu" ucap Ana mengurai pelukan mereka.


"Apalagi aku"


"Tanteeee" jerit Diva berlari ke arah Nara.


"Eh Diva, ya ampun lucu bangettt" Nara mengucek pipi gembul anak itu.


"Sholat Tahajud dulu yuk" ajak Abi Sanjaya.


"Ayo Opah" sahut Athar dan Nadhiva bersamaan. Senyuman terbit di bibir masing masing kedua orang tua anak itu. Ternyata anak sekecil itu sudah sangat antusias dalam ibadah.


Mereka menuju ruang sholat untuk melaksanakan sholat tahajud lalu sholat sunnah qobliyah subuh dan terakhir sholat wajib subuh. Setelahnya mereka menunggu sang fajar muncul dengan murojaah secara berpasang pasangan.


"Diva?"


"Om beldalah idungnya" ucap Diva ketika masuk kamar sudah melihat Raditya yang mimisan.


"Om ingusan doang, emang ingusnya mirip darah kok" jawab Raditya ngeles.


"Itu dalah om" kekeh Diva.


"Bukan Diva, ini ingus" jawab Raditya tetep ngeles.


"Iya iya om, kakak mana om?"


"Kak Athar lagi mandi sama tante Nara, Diva tunggu dulu sama om nanti juga selesai" ucap Raditya lalu membereskan setiap tisu yang ia pakai untuk menyumbat darahnya.


Beberapa menit menunggu Athar selesai mandi terasa sangat lama bagi Diva, ia menangkup dagunya karena merasa bosan, "Diva kelual aja om nanti kalau Kakak udah selesai mandi Diva kecini lagi, accalamualaikum.


"Waalaikumussalam"


Raditya membuang sampah bekasnya kedalam tong sampah, ia memejamkan matanya dan sesekali memijat pangkal hidungnya untuk menghilangkan rasa pusing.


"Lupakan dan pokus pada anak dan istri" gumam Raditya.


"Ab-ba" panggil Athar yang sudah selesai mandi dan lengkap sudah memakai baju.


"Sayang"


"Diva tadi kesini ya?"


"Iya, tapi kebawah lagi katanya lama nunggu kamu.

__ADS_1


"Athay susul Diva ya Ab-ba" ijin Athar, anak itu berjalan keluar pintu ketika mendapat anggukan dari Raditya.


"Hati hati di tangganya" peringat Raditya.


"Ammah Ana, Diva di mana?" Athar bertanya kepada Ana yang tengah mengobrol dengan kedua orang tuanya. Melepas rindu.


"Diva di halaman belakang sama om Afan, Athar kalau mau kesana biar Ammah antar.


Athar menggeleng lucu, "Dak usah Ammah, Athay sendili aja" tolak Athar, "Oma Opah Athay kesana dulu.


Umi Elvi dan Abi Sanjaya merasa mengangguk, "Iya sayang.


Athar melangkah pergi menuju halaman belakang yang di maksud Ana, benar saja Diva ada di sana sedang bermain dengan Gus Afan.


"Assalamualaikum, om Athay boleh ikut main?" ucap Athar dengan sopan.


"Waalaikumussalam, boleh sayang.


"Kakak sini" panggil Nadhiva.


"Tapi Athay maunya beldua doang" pinta anak itu.


Gus Afan tertawa kecil ternyata anak seusia mereka berdua juga ingin memiliki waktu berdua saja. Gus Afan menurut saja ia berjalan mundur menuju teras untuk mengawasi mereka berdua dari kejauhan saja.


"Diva, kamu suka bunga gak?" tanya Athar yang melihat bunga mawar yang tertanam dengan rapih di sudut halaman itu.


"Suka" jawab Diva, dua anak itu sedang duduk di atas rerumputan.


"Aku ambilin ya?" Diva mengangguk, Athar beranjak berdiri dan berjalan menuju tanaman bunga mawar itu.


"Awshhh" Athar meringis ketika jarinya tertusuk duri tangkai bunga mawar.


"Yeayy dapet, Alhamdulillah" setelah mendapat apa yang ia butuhkan akhirnya Athar kembali menghampiri Diva yang tengah duduk selesahan di rerumputan.


"Nih bunganya, bagus dak?" Athar memberikan satu tangkai bunga kepada Diva, dengan senang hati Diva menerimanya.


"Wah bangus banget, suka" jawabnya, "Kak Athay beldalah jalinya? Bial aku obatin ya?" tambahnya berlari menuju Gus Afan.


"Abba Diva minta plestel boleh gak? Kak Athay beldalah" rengek Diva kepada Gus Afan.


"Kak Athar memangnya kenapa?"


"Kak Athar kena duri, cepetan Abbaaaa" rengek Diva lagi hampir mengeluarkan tangis.


"Sebentar ya Abba ambilkan dulu di dalam" Gus Afan mengambil plester yang berada di rumah, beberapa saat ia kembali memberikan plester itu kepada Diva. Gus Afan keluar dengan semua anggota yang berada di rumah itu.


"Kak aku obatin ya?" ucap Diva meminta ijin, Athar mengangguk, "Iya.


"Sakit dak, kok kakak dak nangis sih?"


"Kata Ab-ba jadi cowok itu dak boleh lemah jangan apa apa nangis, lagian itu cuma luka kecil.


"Halusnya kak Athay dak boleh ambilin aku bunga kalo kak Athay bisa luka gini" omel Diva.


"Dak papa Diva, aku kan cuma mau bikin Diva ceneng aja" ucap Athar mengelus kepada Nadhiva dengan sayang. Jarinya sudah selesai Nadhiva berikan plester.


"Maa syaa Allah banget Athar" ucap Ana yang diam diam ikut memperhatikan kedua anak itu.


"Athar kayanya sayang sekali sama Diva" Umi Elvi mentap kedua cucunya dengan tatapan haru.


"Pasti Athar sering lihat Abbanya elus kepala Ummanya, jadi bisa melakukan hal yang sama kepada Diva" kata abi Senjaya.


"Hehe wajar Abi, Raditya setiap hari begitu" Raditya menyengir kuda, semua terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2