Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
Selesai


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Abi Sanjaya.


"Baik Bi" jawab Raditya akhirnya.


"Alhamdulillah"


"Radit udah sembuh ya Abi, Umi? Raditya seperti gak ngerasain sakit lagi dan.... seakan hati Raditya baik baik aja" ucap Raditya meraba bagian hatinya.


Umi Elvi tersenyum, "Alhamdulillah ada orang baik yang bersedia mendonorkan hatinya untuk kamu nak, sesaat kamu masih belum sadarkan diri dokter langsung mengambil tindakan untuk operasi dan Alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar" Umi Elvi memeluk Raditya.


Raditya menatap kedua orang tuanya dengan tatapan tak percaya, memangnya siapa orang yang telah berbaik hati mendonorkan hatinya untuk dirinya?, "Memangnya siapa Abi, Umi? Orang yang udah rela donorin hatinya buat Raditya? Raditya harus mengucapkan terima kasih yang sebanyak banyaknya sama dia" ucap Raditya dengan mata berbinar.


"Nara mana Bi, Mi?"


Mereka berdua terdiam dan tersenyum tipis, "Nara ada di luar sayang, nunggu giliran"


"Oh gitu ya Umi?"


"Iya"


"Alhamdulillah banget Ya Allah terima kasih. Sayang, impian kamu untuk melihat anak kita tumbuh dewasa akan tercapai, kamu pasti seneng kan? dan setelah aku sembuh total aku akan menepati janji aku ke kamu untuk membawa kamu ke Makkah"


"Gak sabar ketemu Nara, kapan giliran dia Abi?"


Bukannya menjawab Abi Sanjaya malah meneteskan air mata, entah kenapa Abi Sanjaya bukannya ikut bahagia tapi malah bersedih, "Ya Allah, hamba tidak tau sehancur apa anak ini ketika tau yang sebenarnya"


"Athay kangen Abba" ucap Athar duduk di ranjang Raditya dan mulai merebahkan tubuhnya untuk memeluk Raditya.


"Sini sayang, Abba juga kangen sama kamu" Raditya membalas pelukan Athar dan mencium wajah anak itu. Abi Sanjaya dan Umi Elvi membiarkan anak dan cucunya dahulu untuk berbicara.


"Abba tadi Athay liat Umma di tutup pakai kain putih"


Ucapan Athar mampu membuat Raditya mengerutkan keningnya, Nara? Di tutup kain putih maksudnya apa?


"Maksudnya Athar gimana?"


Abi dan Umi melongo tak percaya dengan ucapan Athar, anak sekecil itu ternyata ingatannya panjang.


"Iya Abba tadi Athay juga lihat Umma di tutup pakai tanah" ucap Athar. Hati Raditya mulai tak tenang dengan apa maksud dari perkataan Athar, sebenarnya ada apa ini? Kenapa firasat nya sangat buruk tentang Nara.


"Terus Athar liat apa lagi nak?"


"Tadi Athay juga lihat kalau Umma di tutupin sama tanah sampai kaya gunung, telus di atasnya di tabulin bunga sama ail" ucap Athar.


Tunggu, kenapa ciri cirinya seperti?.....

__ADS_1


"Oh iya, tadi juga Umma pas lagi tidulan sama kaya Abba gini Umma minta Athay adzan, telus habis itu Athay di suluh kelual dan Umma di sana lamaa banget tapi udah itu Umma di bawa kelual sambil di tutupin kain putih" bibir Raditya bergetar hebat mendengar penuturan Athar, sudah sangat jelas jika Nara lah yang mendonorkan hatinya untuk dirinya.


"Abi, Umi" Raditya menatap Abi Senjaya dan Umi Elvi dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Pikiran Raditya gak bener kan Bi, Mi? Athar hanya berimajinasi kan? JAWAB BI KALAU INI SEMUA GAK BENER"


"DIMANA NARA? NARA ADA DI LUAR KAN? NARA TOLONG KAMU MASUK, TUNJUKIN SAMA AKU KALAU KAMU ADA DI LUAR SAYANG" Raditya tidak bisa mengontrol emosinya, langsung saja Umi Elvi mengambil Athar dari sisi Raditya.


"KENAPA KALIAN GAK NGOMONG HAH? SEBENARNYA SIAPA ORANG YANG UDAH MENDONORKAN HATINYA BUAT AKU BI, MI? JAWAB"


"Nara, Nara yang sudah mendonorkan hatinya untuk kamu Radit" jawab Abi Sanjaya pelan, ia tak berani menatap wajah Raditya. Hatinya terasa sakit ketika melihat wajah Raditya yang seperti itu.


Raditya terdiam beberapa saat, Nara? Istrinya? yang sudah rela mendonorkan hatinya untuk dirinya?


"Arghhhh" Raditya memukul ranjang yang ia tempati, bahkan tak peduli jika dirinya baru saja menjalankan operasi, infusan yang melekat pada tangannya sudah terlepas.


"KENAPA KALIAN GAK CEGAH? KENAPA KALIAN BIARIN DIA GITU AJA HAH?"


"KENAPA UMI SAMA ABI MALAH BIARAIN NARA MATI? HARUSNYA RADITYA AJA YANG MATI ABI...UMI..."


"Kami mencegahnya Radit, tapi sangat susah, Nara keras kepala ia terus tekad dengan keputusannya, bahkan Reza dan Ghea selaku orang tuanya juga tidak bisa mencegahnya" ucap Abi Sanjaya.


"Mi, kenapa kalian biarin gitu aja? masih banyak janji yang harus aku tepatin sama dia Mi, bahkan impian dia pun belum sempat aku wujudkan"


"Nak yang tenang, jangan melawan takdir Allah seperti ini. Allah lebih sayang kepada Nara jadi Dia mengambil Nara terlebih dahulu dari pada kamu.


"Kamu pasti bisa" Umi Elvi mengelus pundak Raditya.


"Aku mau ketemu Nara" lirihnya.


°°°°°°°°°°°°


"Kalian kenapa bawa aku kesini?" tanya Raditya ketika semua keluarganya malah membawa dirinya ke kuburan.


"Radit"


"Nara masih hidup Ayah Bunda, kalian gak boleh seperti ini"


"Raditya istighfar, ini memang kuburan Nara" ucap Rio.


Raditya menjatuhkan dirinya, ia memeluk batu nisan dengan bertuliskan Alnara Saquela Natania bin Reza Pradiithaa.


"Sayang? Apa ini benar kamu? tolong kamu beritahu saya kalau ini semua hanya mimpi, jika memang ini benar mimpi saya ingin segera bangun dan peluk kamu seerat eratnya, saya gak mau berada di dalam mimpi buruk ini"


"Sayang, tapi kenapa rasanya ini bukan seperti mimpi ya? Sakitnya beneran ay, Kenapa kamu pergi secepat ini sayang? harusnya kamu biarkan saya aja yang pergi terlebih dahulu dari pada kamu, kenapa harus kamu yang pergi duluan dari pada saya? rasanya saya gak bisa kalau hari hari saya tanpa kamu.

__ADS_1


"Ayo bangun, setidaknya kalau tidak bangun ayo keluar bicara sama saya kalau ini cuma prank kalian aja" Raditya menjeda ucapannya dan mengusap air matanya, untuk saat ini ia sangat terlihat cengeng, "Aku belum memujudkan impian kamu untuk pergi ke Makkah dan berkunjung ke Jabal Rahmah tempat bertemunya Nabi Adam dan Siti Hawa.


"Impian kamu juga yang ingin sama sama kita melihat Athar tumbuh dewasa sampai memiliki anak itu gak akan pernah terwujud ya? rasanya ini terlalu cepat untuk kamu pergi"


"Sayang" Raditya mengelus batu nisan Nara, mereka semua yang menyaksikan itu ikut menangis mendengar penuturan Raditya, "Dua impian kamu gak terwujud, tapi saya rasa satu impian kamu yang ingin pergi terlebih dahulu dari pada saya sudah terwujud.


"Di sana bagaimana sayang? Kamu bertemu Rasulullah gak? Saya janji saya akan terus mengunjungi kamu, dan saya akan berusaha mengikhlaskan kamu walau itu berat" Raditya mengusap air matanya.


"Radit sudah biarkan Nara beristirahat dengan tenang" ucap Ghea, "Ini ada surat dari Nara, untuk kamu, jangan lupa kamu baca ya?"


Radit menerima secarik kertas dari Ghea, "Ini apa Bunda?"


"Bunda gak tau isinya, kata Nara Bunda gak boleh buka dan kata Nara Bunda harus kasih ini ke kamu"


"kalian semua boleh pergi duluan, aku masih pengen di sini, Athar biar sama saya"


"Tapi.."


"Umii, biarkan kami bertiga aja sama Nara" ucap Raditya, Umi Elvi mengangguk dan mencoba memahami pasti Raditya saat ini sangat terpukul.


Raditya mulai penasaran dengan secarik kertas yang Ghea berikan, ia membukanya dan mulai membaca setiap isi bait di dalam surat itu.


Untuk Zaujinya aku.....


Assalamualaikum mas, mas Radit udah pegang surat ini dan lagi baca surat ini ya? Kalo iya Alhamdulillah berarti Bunda amanah bisa jaga surat dari aku buat mas Radit.


Mas maaf kalau aku banyak salah, maaf kalau aku banyak ngerepotin mas Raditya semasa aku sama mas Radit. Oh iya maaf banget kalo aku pergi gak bilang bilang dulu hehe ya gimana orang kamunya juga gak sadar. Mas Radit sekarang udah sehat kan? gak ngerasa sakit dan pusing lagi ya? jangan marah aku sengaja ngasih hati aku buat kamu semata mata buat aku balas budi sama mas Radit tapi yang lebih tepatnya sih biar mas Radit sehat kembali dan bisa lihat Athar selamat ketika waktu itu mas berjuang nyelamatin dia.


Maaf kalau aku ngambil tindakan ini tanpa ngasih tau ke mas dulu, aku cuma ngasih tau sama keluarga kita doang walaupun mereka dampai marah besar ke aku tapi gak papa hehe. Waktu aku di kasih tau sama Gus Afan kalau mas Radit di larikan kerumah sakit aku panik banget dan aku langsung ke rumah sakit, tapi pas di sana aku denger percakapan fokter sama kak Rio kalau mas Raditya sakit kanker hati, dari situ aku shok banget dan bahkan sampai nangis sejadi jadinya, kenapa mas Raditya gak pernah cerita dari awal sih,? Mas Raditya jahat banget ngerahasiain ini dari aku...


Setelah itu aku putusin buat bicara sama dokter tentang operasi atau donor hati dan Alhamdulillah dokter mau bicara sama aku, awal mula dokter juga sempat ragu dengan keputusan aku tapi setelah aku yakinin dia, dokter percaya dan nyuruh aku buat tes apa hatinya cocok atau enggak, dan Alhamdulillahnya cocok mas


Eum yah kalo bener mas Raditya udah baca surat ini berarti itu tandanya aku udah gak ada, aku udah jauhhhh banget dari mas Raditya tapi yang jauh cuma raganya doang kalau jiwanya masih setia sama mas Raditya, aku mohon jaga Athar ya? jaga dia sampai tumbuh dewasa, jangan terlalu tegas sama dia, apalagi dia harus mengejar cita citanya sambil mengurus pesantren


Aku mau kasih tau, jikalau mas Raditya ingin menikah lagi aku ikhlas dan aku merestui asal mas Raditya menikah dengan perempuan yang benar benar tulus mencintai mas Raditya dan bisa menyayangi Athar sebagai anak kandungnya sendiri


Maafin aku yang gak bisa ikut kamu menyaksikan pertumbuhan Athar dan maafin aku yang gak bisa kasih Athar adik, aku pamit ya mas, tolong benar benar jaga Athar aku titip dia sama kamu. Aku tunggu kamu di keabadian.


Uhibbuka fillah Zauji peluk hangat dari jauh heheh


Assalamualaikum.


Raditya menutup kembali surat yang sempat ia baca, secarik kertas itu sudah basah akibat tangisan air mata yang keluar dari mata Raditya.


"Saya janji sayang, saya akan menjaga Athar dengan baik dan saya akan menyaksikan pertumbuhannya sedetail mungkin. Uhibbuki fillah Zaujati" Raditya mengelus nisan Nara dan memeluk Athar yang berada di depannya.

__ADS_1


"Menikah sekali seumur hidup itu adalah janji saya, saya tidak akan menikah lagi, jangan khawatir"


"Selamat istirahat selamat tidur dengan tenang."


__ADS_2