Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 64


__ADS_3

"Selamat ya pak buk, anaknya ganteng, sehat dan sempurna, tidak ada kekurangan apapun"


Raditya dan Nara menoleh ke arah dokter yang sedang menggendong bayi mereka, mereka kompak menampilkan wajah bingung dan terkejut, "Ha? Ganteng?" Ucap mereka berdua kompak.


"Iya pak buk"


"Tapi dok, waktu itu istri saya USG dan hasil USGnya perempuan kenapa bisa menjadi laki laki dok?"


"Pemeriksaan USG bisa saja ada yang salah pak, sebelumnya kasus seperti ini memang sudah banyak. Ada yang hasil USG nya laki laki tapi ketika lahir perempuan begitupun sebaliknya ada yang hasil USG nya perempuan tapi ketika lahir laki laki. Seperti bapak dan ibu ini maksudnya.


"Oh baik dok, kami mengerti"


"Gimana dong mas?" Waktu itu kita beli baju sama perlengkapan lainnya warna pink semua" ucap Nara.


"Ya sudah tidak apa apa, lagian kata saya kalau bayi pakai baju apa aja cocok"


"Silahkan di adzankan dulu" ucap dokter lalu keluar.


Raditya mengambil alih bayi tersebut, ketika melihat bayi yang berada di gendongannya Raditya meneteskan air mata haru. Tak terasa buah hati yang selama sembilan bulan ia ajak ngobrol dan ia elus di dalam perut akhirnya ia bisa melihat dan mengelusnya secara langsung.


"Maa syaa Allah ganteng sekali anak ayah, nah ini bunda sayang" Raditya mendekatkan bayi itu kepada Nara.


"Maa syaa Allah anak bunda, mirip ayah kamu" Nara mengelus pipi baby A membuat bayi itu sedikit terusik dari tidurnya.


Raditya terkekeh ketika Nara menyebut anaknya mirip dengan dirinya, "Sebentar sayang saya adzan dulu.


"Bismillahirrahmanirrahim"


"Allahuakbar Allahuakbar"


"........................................"


"Laailahailallah"


Raditya telah selesai mengadzankan anaknya, ia beralih menyimpan baby A di samping Nara karena gadis itu sendiri yang meminta.


"Ututuuuu lucu banget sih anak bunda" Nara kembali menoel pipi gembul bayi itu.


"Sayang, tidak apa apa kalau saya tinggal sebentar untuk membawa baju ganti kamu dan memberi tau orang rumah? Mungkin jam segini Umi juga sudah pulang.


Nara yang sedang sibuk membawa anaknya bicara menoleh ke arah Raditya, "Iya mas gak papa, mas pergi aja.


"Tunggu ya saya cuma sebentar" Raditya keluar dari ruangan Nara.


Raditya keluar dari ruangan Nara, ketika di luar Raditya menatap Zaki yang berdiri sambil bersender dengan kedua tangan yang disimpan di dadanya. Zaki yang mendapat tatapan tak bersahabat dari Raditya pun hanya bisa membalas tatapan tersebut dengan datar.


"Ikut saya" ucap Raditya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Zaki.

__ADS_1


Zaki mengedikkan bahunya acuh, lalu ikut berjalan mengikuti arah Raditya pergi. Raditya melangkah menuju taman rumah sakit yang sekiranya tidak banyak orang, karena takut menggangu pasien lainnya.


"Kenapa bisa istri saya bersama anda? Bukannya waktu itu anda bilang akan pergi keluar negeri untuk melanjutkan pendidikan anda?"


"Kalau gue jelasin apa lo bakal percaya?"


"Tergantung anda jujur atau tidak, jika anda jujur pasti saya akan percaya"


"It's oke gue jujur"


Flashback on:


"Ngapain sih papa nyuruh gue beli telor pagi pagi kaya gini, mana ini jalan ke rumah Nara lagi gimana kalo dia liat ternyata gue gak pergi keluar kota. Kacau dan kacau" racau Zaki di dalam mobil.


"Bodo amat lagian gak bakal keliatan jelas juga kalo ini gue, masih kehalang kaca mobil kan" Zaki melajukan mobilnya dan berhasil melewati rumah Nara.


"Wait wait, Meli? Ngapain dia di sini?" tanya Zaki kepada dirinya sendiri, Zaki terus memperhatikan Meli dan juga mengikuti kemana arah mata Meli melihat, "Gue gak salah liat kan? Kenapa dia kaya ngawasin Nara sama suaminya kaya gitu.


Zaki terus memperhatikan Meli, sampai pada titik di mana Raditya keluar rumahnya di situlah Meli berjalan akan masuk kedalam area rumah Nara. Merasa ada yang aneh akhir Zaki pun turun dari mobil dan mengampiri Meli.


"Mel"


"Mau kemana lo?"


"Hah? Bukannya lo ngelanjutin pendidikan lo di luar negeri kenapa bisa di sini?"


Zaki menceritakan semuanya kepada Raditya mulai dari dirinya melihat Meli, beradu mulut dengan Meli dan saat Meli akan mencelakai Nara, sampai dirinya membawa Nara ke rumah sakit.


"Sorry gue gak bermaksud sentuh istri lo, tapi ini genting demi keselamatan anak dan istri lo. Terserah lo mau apain gue sekarang karena waktu itu gue cuma ada niat nolongin anak lo doang gak lebih.


"Sorry gue udah gendong istri lo tanpa ijin" ucap Zaki sekali lagi.


Raditya terdiam seperti tengah berpikir, ia melihat sorot mata Zaki dan sepertinya Raditya tidak melihat kebohongan sedikitpun di dalam matanya Zaki. Raditya berpikir sepertinya Zaki memang jujur.


"Kalau boleh tau, anda ini ada hubungan apa dengan Meli?"


"Gue mantan dia, tiga tahun yang lalu kami sempat menjalin hubungan" jawab Zaki.


"Saya bingung kenapa Meli sebegitu nekat mencelakai istri serta anak saya?"


"Dia cinta sama lo Raditya, dia gak terima kalau lo di rebut gitu aja sama Nara" jelas Zaki.


"Saya tidak di rebut oleh Nara dan saya juga tidak merebut Nara dari kamu, kita sudah di takdirkan jadi mau tidak mau kita harus terikat"


"Ya gue tau, gue udah ikhlas sama semuanya. Gue gak bakal ganggu kebahagiaan lo berdua, tapi belum tentu sama Meli dia sebegitu keras buat ngehancurin rumah tangga kalian. Menurut gue lo harus lebih hati hati, kalau bisa sesekali orang itu harus di beri pelajaran"


"Saya tidak mau bertindak semau saya apalagi lawan saya itu perempuan"

__ADS_1


"Gue paham, tapi kalau dia berbuat lebih dari pada ini. Lo juga harus bertindak"


Raditya mengangguk, "Iya"


Hening........


"Terima kasih karena sudah membantu istri saya" kalimat itu keluar dari mulut Raditya, Zaki memberanikan menatap Raditya, apa Raditya percaya kepadanya? Pikir Zaki.


"Lo percaya sama gue?"


Raditya tersenyum tipis, "Ya tentu"


"Thanks lo udah mau percaya sama gue" Zaki mengambil tangan Raditya dan menjabatnya, ia memeluk Raditya sekilas.


"Sama sama, kalau begitu saya pergi dulu untuk mengambil baju ganti buat istri saya. Assalamualaikum" Raditya melangkah pergi dari hadapan Zaki.


"Waalaikumussalam" jawab Zaki pelan.


"Radit" panggil Zaki sedikit berteriak, Raditya menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang ke arah Zaki lagi.


"BOLEH KALAU KITA SAHABATAN?"


Raditya mengembangkan senyumnya, ia mengangguk, "TENTU"


Zaki tersenyum lega mendengar jawaban dari Raditya, "Gue janji gak bakal ganggu istri lo atau ngehancurin kebahagiaan kalian, gue cuma pengen kita damai. Thanks Raditya"


°°°°°°°°°°


Keesokan harinya, setelah mendapatkan kabar dari Raditya jika Nara telah melahirkan, Abi Sanjaya, Umi Elvi, Ghea, Reza dan Rio saat ini juga langsung datang kerumah sakit untuk melihat anak dan juga Nara tersendirinya.


Zaki yang waktu itu membawa Nara kerumah sakit juga sekarang ada di rumah sakit karena permintaan Raditya, kini mereka telah bersahabat dan Raditya yakin jika Zaki memang tidak akan berniat lain dengan persahabatannya itu.


"Udah di adzanin Dit?" tanya Abi Sanjaya.


"Udah Bi"


"Maa syaa Allah cucu oma ganteng sekali" ucap Umi Elvi yang sedang menggendong Baby A di temanni Ghea di sampingnya yang juga ikut menoel gemas cucunya.


"Ciee Nara yang manja dan apa apa harus sama Bunda sekarang udah punya anak" kata Rio sedikit meledek.


"Enggak dong kak, sekarang udah beda tugas" Nara terkekeh.


"Gak kerasa baru aja ayah sama bunda gendong kamu, denger kamu nangis dan sekarang kamu udah punya anak. Kami juga udah punya cucu" ucap Ghea.


"Aaa ayah Nara pengen peluk" Nara merentangkan tangannya sembari bersandar di kasur rumah sakit. Reza langsung mengdekat ke arah Nara dan memeluk Nara dengan sayang.


"Sayang ayah" bisik Nara, "Sayang Nara juga" balas Reza mengecup singkat.

__ADS_1


__ADS_2