Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 67


__ADS_3

"Aaaaa Ana mas" Nara jingkrak jingkrik sendiri ketika mengetahui bahwa yang menghubungi Raditya adalah Ana. Gadis itu tidak menelepon melainkan video call.


"Yasudah angkat" Nara mengangguk, ia mengangkat panggilan video call dari Ana.


««Hallo Ra Assalamualaikum, denger denger ponakan aku udah lahir ya lima hari yang lalu? Aaa seneng bangettt, pasti ganteng kaya Bang Radit»»


"Waalaikumussalam, iya nih Alhamdulillah udah lahir. Nih Athar lagi sama Abbanya berjemur di pagi hari" Nara mencondongkan ponsel Raditya ke arah Raditya yang tengah menggendong Athar.


««Maa syaa Allah, tuh kan udah pasti ganteng banget, siapa namanya Ra?»»


"Athar Zayn Alvarendra, abang kamu sendiri yang ngasih"


««Bagus namanya. Abang ngomong dong masa Ana vc gak ngomong»» omel Ana kepada Raditya.


Nara menyenggol lengan Raditya agar suaminya membuka suara, "Iya dek kenapa? Oh ya kandungan kamu bagaimana? Sehatkan? Bukannya umurnya gak jauh beda sama Nara, berarti sebentar lagi kamu lahiran ya?"


««Hmm iya bang, sama Nara cuma beda dua minggu mungkin sebentar lagi juga lahiran, do'ain semoga lancar ya?»»


"Iya, abang selalu do'ain yang terbaik buat kamu. Mana Afan?"


««Ada, nih lagi tiduran»» Ana menyorongkan kameranya ke arah Gus Afan yang tengah berbaring. Dengan segera Afan merubah dirinya menjadi duduk.

__ADS_1


««Assalamualaikum kak bagaimana kabarnya baik? Umi Abi juga bagaimana? Oh ya selamat atas kelahiran anaknya»»


"Alhamdulillah saya dan semuanya baik, dan ya terima kasih atas ucapannya"


««Yaudah bang, Ra. Mungkin segitu dulu ya? Aku matiin teleponnya masih banyak urusan Assalamualaikum»»


"Waalaikumussalam"


Athar menggeliat membuat Raditya dan Nara gemas melihatnya, "Aaaaa lucu banget sih bayi yang satu ini jadi pengen Umma cubit" greget Nara.


"His kasian Atharnya" peringat Raditya.


"Lucuuuu aaaaa"


"Mas mau kemana?" tanya Nara sambil mengambil alih Athar.


"Kebawah dulu sebentar" Raditya beranjak meninggalkan Nara, sedangkan Nara juga ikut beranjak dan membawa Athar berbaring di ranjangnya.


Nara menaruh Athar di kasur lebarnya, sedangkan ia hanya duduk dan melihat Athar dengan seksama, "Ih kok lucu? Anak siapa sih? Pengen Umma gigit pipinya gembul banget.


Nara yang semula berada di ujung kaki Athar kini berubah posisi menjadi di samping kiri Athar, "Gak bisa gak bisa, kok kamu di liat dari sisi manapun tetap lucu aaaa.

__ADS_1


Setelah berada di posisi samping kiri Athar, kini Nara berpindah lagi menjadi di samping kanan Athar, "Ya Allah, dari sisi manapun aura gantengnya, lucunya dan gembulnya keliatan banget" pekik Nara.


Nara kembali menggendong Athar, ia menjauhkan Athar dari dadanya posisinya saat ini seperti sedang memegang pistol yang di arahkan ke arah lawan dengan mata yang tertutup sebelah, jadi ceritanya Nara saat ini sedang melihat sisi ganteng Athar dengan sebelah matanya, "Maa Syaa Allah sih, tetap ganteng"


Nara mengangkat bayi itu sehingga posisinya berada di atas kepalanya, "Ihhhh cape deh Umma, bahkan wajah kamu gak keliatanpun tetap ganteng.


"Ra ini saya bawaka.............. Astaghfirullahaladzim innalilahi astaghfirullah astaghfirullah" Raditya yang baru saja datang dari luar begitu terkejut melihat istrinya yang mengangkat Athar hingga di atas kepalanya. Raditya buru buru mengambil Athar ke dalam pangkuannya dan sebelumnya menaruh sepiring nasi untuk Nara sarapan di nakas.


"Kamu ngapain sampai angkat Athar kaya gitu? Kamu gak tau kalau itu bisa membahayakan Athar?" ucap Raditya dengan nada yang sebisa mungkin di buat tenang.


"Aku cuma mau liat kegantengan Athar, ternyata bener yah kegantengannya mau di lihat dari manapun tetap sama, kaya kamu" jawab Nara tanpa merasa bersalah.


Raditya membuang Nafas pasrah, beginilah ketika bayi di beri punya bayi, pasti sifatnya masih belum bisa dewasa. Mungkin bisa menjaga tapi akan sedikit ceroboh.


"Tapi saya mohon jangan begitu juga, kasiah loh Atharnya kalau sampai kamu angkat angkat begitu. Kalau Athar jatuh bagaimana?"


"Mass syuuut ngomongnya ih, gak boleh lah. Maafin aku" ucap Nara merasa bersalah.


"Saya maafin tapi jangan di ulangi" jawab Raditya.


"Iya enggak"

__ADS_1


"Kamu sarapan dulu, itu saya bawain buat kamu" Raditya menunjuk satu piring nasi tadi yang berada di atas nakas untuk Nara makan.


"Iya aku makan"


__ADS_2