
"Bagai mana bun, apa kah bunda sejutu dengan yang ayah rencana kan." kata ayah bertanya.
"Bunda sih setuju aja yah. Tapi, apakah anak kita dan anak teman ayah itu juga setuju yah". Kata bunda khawatir.
"Jangan khawatir pada anak teman ayah bun, dia anak yang sangat patuh pada orang tua nya. Anak itu tidak pernah menolak apa yang orang tua nya kata kan". Kata ayah.
"Tapi, bagai mana dengan Rina anak kita yah." kata bunda.
"Masalah anak kita Rina, selama ini kan anak itu tidak pernah membangkang apa yang ayah kata kan kan bun. Jadi bunda gak perlu cemas masalah itu. Biar ayah yang atur semua nya". Kata ayah.
Selesai membicara kan rencana mereka. Sepasang suami istri itu pun memutus kan untuk pulang kerumah.
Sesampai nya di rumah, anak mereka masih duduk di depan tv. Mereka pun masuk setelah memberi salam pada anak nya.
"Bunda sama ayah dari mana". Tanya Rina setelah kedua orang tua nya duduk di kursi.
"Kami dari makan di luar Rin, kamu kok belum tidur sih". Kata bunda.
__ADS_1
"Pantasan bunda sama ayah gak ajak Arin, bunda sama ayah kencan ternyata ya". Kata nya.
"Belum ngantuk bund, mau tidur." kata nya lagi.
"Oh ya, Rina. Ada hal yang ayah ingin kata kan pada mu." kata ayah nya.
"Ada apa yah, apa kah masalah Rahmat lagi yah." kata nya mencoba menebak.
"Bukan, ini tidak ada hubungan nya dengan teman mu yang itu". Kata ayah.
"Lalu yah..." kata nya.
Rina berpikir, bagai mana dia bisa melupa kan pondok pesantren itu. Dulu nya ia sering main kesana.
"Ingat yah," kata nya menjawab..
"Bagus jika kamu ingat nya nak, dan kamu pasti juga ingat dengan teman ayah yang memiliki pesantren itu. Teman ayah ingin melamar mu menjadi menantu nya". Kata ayah langsung saja pada pokok pembicaraan yang akan ia sampai kan.
__ADS_1
Betapa terkejut nya Rina mendengar rencana ayah nya itu. Apa yang ayah nya kata kan adalah, sebuah perjodohan yang akan di laku kan oleh ayah dan teman ayah nya ini.
Sebelum nya dia memang pernah mendengar tentang teman ayah yang memiliki pesantren itu memiliki seorang anak.
Tapi, dia tidak pernah melihat bagai mana anak teman ayah nya itu. Karna dari dulu ia ikut ayah nya berkunjung kepondok, tidak pernah ia lihat anak pemilik pesantren.
Bahkan lelaki atau pun perempuan, dia tidak tahu. Sekarang, setelah ayah nya mengata kan teman nya berniat melamar diri nya untuk anak nya. Baru lah ia tahu, jika anak teman ayah nya ternyata adalah seorang laki laki.
Ia melihat ayah dan bunda nya, ayah dan bunda nya tersenyum melihat nya.
"Apa kah, ayah telah menerima lamaran itu yah". Kata nya.
"Tidak ada alasan untuk ayah menolak lamaran seseorang yang ingin menjadi kan mu sebagai istri untuk anak nya." kata ayah.
Mendengar hal itu, hati nya sangat sakit. Apa kah ayah tidak perlu bertanya pada nya tentang apa pendapat nya. Apa kah dia tidak berhak memberi pendapat tentang masa depan nya.
🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵🏵
__ADS_1
Maaf untuk hal yang tidak kalian senangi dalam tulisan ku ya teman teman. Komen apa yang tidak kalian sukai, mungkin aku bisa memperbaiki yang bisa aku perbaiki.