
"Nak, seorang lelaki atau suami itu tidak hanya sebatas mencari rezeki namun lebih dari itu, seorang suami dialah penuntun surga untuk istrinya. Bagi perempuan memilih suami itu sama seperti memilih surga atau neraka, jadi Abi hanya ingin ketika kamu besar nanti kamu bisa membimbing istri kamu dengan baik. Tidak hanya itu, alasan Abi dan Umi ingin mengirim kamu ke Al-Azhar Mesir karena supaya kamu mempunyai bekal untuk di akhirat nanti. Jadi Abi mohon kamu mengerti nak" ucap Abi Sanjaya mencoba menjelaskan lagi.
Air mata Raditya lolos begitu saja, cita cita yang selama bertahun tahun dirinya dan Rayn impikan ternyata tidak bisa di gapai olehnya karena pendapat orang tuanya tak seperti pendapat orang tua Rayn yang mendukung Rayn begitu saja.
"Cita cita yang Raditya impikan selama bertahun tahun ternyata musnah gitu aja ya? Kenapa kalian gak bisa mendukung Raditya seperti orang tuanya Rayn? Kenapa Umi sama Abi gak bisa ngerti, Raditya hanya ingin menjadi pilot. Selama bertahun tahun Raditya menunggu kelulusan SMK supaya biar cepet masuk kuliah jurusan penerbangan tapi giliran sekarang udah lulus malah di kecewain gitu aja. Kenapa sih Bi? Mi?"
"Maaf nak" Umi Elvi memeluk Raditya dengan meneteskan air mata, sejujurnya dirinya juga tidak tega melihat Raditya seperti ini.
"Abi dan Umi berharap kamu mengerti ya"
Raditya bungkam, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali menurut. Walaupun sekecewa apapun, Raditya tidak akan pernah marah atau sampai membentak kedua orang tuanya.
"Raditya mau ya?" ucap Umi dengan lembut.
"Mau gak mau kalian juga akan tetap maksa kan?" Raditya melepaskan pelukan Umi Elvi.
Umi Elvi dan Abi Sanjaya menatap Raditya, "Sejujurnya kami juga gak tega menyampaikan ini sekarang, tapi...."
"Yaudah lah, terserah apa kalian, saya ikut aja"
Deggg
Umi Elvi dan Abi Sanjaya merasa sakit ketika mendengar Raditya berkata 'saya' kepada mereka, itu tandanya Raditya benar benar marah kepada kedua orang tuanya.
"Nak, Umi..."
"Kapan berangkatnya? besok? atau bahkan sekarang?" desak Raditya.
"Minggu depan" jawab Abi Sanjaya pelan.
"Oke" Raditya berdiri, berjalan menjauh dari hadapan kedua orang tuanya dan berjalan menuju kamar. Abi Sanjaya dan Umi Elvi menatap kepergian Raditya dengan tatapan tak tega.
"Assalamu.......alaikum, loh itu bang Raditya kenapa? Kaya nangis gitu? Gak lulus ya?" tanya Ana yang baru saja pulang sekolah.
"Waalaikumussalam, diam lah nak" jawab Abi Sanjaya berdiri dan pergi.
__ADS_1
Ana mengerutkan keningnya, "Ada apa sih Umi?"
"Kamu ganti baju" perintah Umi Elvi berdiri dan menyusul Abi Sanjaya.
Ana menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Ini keluarga aku pada kenapa sih ya Allah?"
°°°°°°°°°°
««Muka lo kenapa Dit kaya sedih gitu?»» tanya Rayn di dalam ponsel Raditya, kini merena tengah melakukan video call.
"Gak mood" jawab Raditya.
««Kenapa sih? cerita saya gue»»
"Kita ketemu di warung biasa"
««Lah g*lok, tapi oke deh»»
"Assalamualaikum" Raditya mematikan terlebih dahulu Video call mereka dan bersiap siap untuk pergi bertemu temennya, Rayn.
Raditya berjalan tanpa melirik kedua orang tuanya sedikitpun, bahkan Raditya yang selalu berpamitan jika ingin pergi pun hari ini tidak sama sekali.
Umi Elvi menyadari akan kehadiran Raditya, ia menatap Raditya, "Mau kemana Dit?"
Raditya menghentikan langkahnya, Abi Sanjaya dan Ana juga ikut melihat ke arah Raditya yang sedang berdiri mematung tak melihat ke arah mereka, "Pergi!
"Pergi kemana?" kali ini Abi Sanjaya yang bertanya.
"Keluar"
"Pasti main sama bang Rayn kan? udah pasti bener kan bang, kalo bang Raditya mau main sama bang Rayn?"
"Gak ada urusannya sama kamu" jawab Raditya tanpa melihat ke arah mereka sedikitpun. Ana merubah raut wajahnya, ini seperti bukan abangnya, abangnya adalah pria yang selalu memanjakan dan tak suka mendiami dirinya seperti ini, bahkan jika di tanya tidak pernah menjawab seperti itu.
"Nak Abi...."
__ADS_1
"Assalamualaikum" Raditya berjalan keluar rumah dan mulai menjalankan motornya.
"Abi, Umi, sebenarnya bang Raditya kenapa sih? dari tadi aneh banget, gak lulus kah?"
"Dia lulus peringkat pertama Ana" jawab Umi.
"Iya terus kenapa gitu? harusnya seneng dong?"
"Abi sama Umi memaksa abangmu melanjutkan pendidikan di Al-Azhar Mesir, sedangkan dia ingin melanjutkan pendidikannya di kuliah jurusan penerbangan" jawab Abi Sanjaya.
"Oh iya Ana lupa abang dulu pernah cerita kalau dia mau jadi pilot. Tapi apa salahnya coba kalau abang menimba ilmu di Al-Azhar? toh nanti juga Ana kalau udah lulus mau masuk ke pesantren Al-Taufik Hidayah yang berada di Makassar. Bagus bagus abang ke Mesir bisa sekalian healing".
"Sudahlah, abangmu hanya perlu waktu Abi yakin kalau nanti dia akan menerima semua ini, karena abangmu bukanlah tipe cowo yang suka membantah orang tua walau pendapat kami dan pendapatnya berbeda" ucap Abi Sanjaya.
"Lo kenapa sih? Cerita dong sama gue, gimana? orang tua lo dukung kan kalau lo mau kuliah penerbangan? pasti dukung lah ya, soalnya tadi gue do'a kenceng banget sama tuhan supaya lu di dukung.
Raditya terdiam mendengarkan pertanyaan demi pertanyaan yang keluar dari mulut Rayn, untuk saat ini dia harus berbicara apa?
Raditya menggeleng lemah, pandangannya tertuju pada sepatu Vans nya yang sedang menendang nendang kecil kerikil di hadapannya, "Enggak Ray, mereka gak ngedukung" ucap Raditya.
Rayn seketika mengubah wajahnya menjadi tertekuk seperti Raditya, ternyata jawaban yang keluar dari bibir sahabatnya tak seperti yang di bayangkan oleh dirinya, "Lho kenapa?"
"Mereka pengen gue ngelanjutin pendidikan gue di Mesir.
"Di Mesir? ngapain?"
"Untuk lebih mempelajari lebih luas ilmu agama, bisa di bilang kalau gue di sana kaya mesantren lagi. Minggu depan gue harus segera berangkat" Raditya tersenyum miris.
"Kenapa lo gak tolak aja sih? padahal ini cita cita lo dari dulu, pengen jadi pilot kan? biar kita sama sama terus, sukses bareng, berjuang bareng, itukan ucapan lo? tapi kenapa lo ingkar?"
"Maaf Ray kalau gue ngingkarin itu semua, tapi mau gimana lagi permintaan Abi sama Umi gue gak bisa di bantah. Gue paling takut ngelawan orang tua" ucap Raditya.
"Gue tau lo gak pernah durhaka sama orang tua lo, tapi plis lah kali ini lo ngelawan sekali aja demi cita cita lo, demi gue, atau demi masa depan lo deh."
Raditya menggeleng lemah, "Gak bisa Ray, maaf mungkin perjuangan kita untuk sama sama menjadi pilot cukup sampai di sini. Selamat berjuang tanpa adanya gue di samping lo, semoga berhasil menjadi seorang Captain, gue tunggu kabar baik lo.
__ADS_1
"Dit? kenapa gini sih? gue gak tau kalau gak ada lo gimana" Rayn.