Jodoh Dari Allah

Jodoh Dari Allah
JDA 68


__ADS_3

Lima bulan berlalu, kini Raditya dan Nara sudah semakin terbiasa dengan adanya kehadiran Athar di hidup mereka.


Mulai dari Athar yang selalu tiba tiba menangis tengah malam, memandikannya, menidurkan, dan banyak hal lainnya. Mempunyai anak bukanlah suatu hal yang mudah, dari situ kita belajar, bahwa mengurus anak tidak lah mudah dan harus selalu banyak bersabar.


"Mas sini aku pakein" tawar Nara, ketika Raditya sedang memakai dasinya sendiri sambil berdiri di depan kaca besar.


"Tidak usah, kan kamu lagi menjaga Athar" jawab Raditya.


"Oh yaudah, maaf ya mas.


"Saya berangkat dulu" ucap Raditya menyodorkan tangannya kepada Nara yang siap untuk mencium tangannya, namun pria itu tidak mencium kening istrinya seperti biasa melainkan mencium Athar.


Nara menyergitkan dahinya, suaminya yang sekarang ini tidak seperti suaminya yang seperti biasanya, bahkan wajah pria itu terlihat pucat dan tidak bersemangat kerja, "Hati hati mas" ucap Nara, Raditya hanya tersenyum tipis saja bahkan senyumannya itu nyaris tidak terlihat.


Nara terdiam menatap punggung Raditya yang semakin menjauh setelahnya ia mencoba membuang fikiran buruknya tentang Raditya, "His mas Raditya gak mungkin begitu Ra, gak boleh berpikir kaya gitu mungkin cuma kecapean. Positif thinking aja oke?" monolognya kepada dirinya sendiri.


Nara beralih mengalihkan pandangannya kepada Athar, ia mendapati Athar yang menangis, "Uuu Athay haus ya? Maafin Umma ya sayang.


"Assalamualaikum" seseorang mengetuk pintu kamar Nara.


"Waalaikumussalam, masuk aja Mi pintunya gak Nara kunci" jawab Nara yang sudah mengetahui jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah mertuanya sendiri.


"Umi tumben libur, gak ada acara kajian ya?"


"Iya sayang hari ini lagi lowong, kebetulan Umi mau nemenin cucu kesayangan Umi yang satu ini" Umi Elvi mencubit pelan pipi Athar dengan gemas.


"Maa syaa Allah, ada Oma tuh sayang" ucap Nara.


"Sini nak, Umi yang gendong. Athar udah kan minumnya?" Nara mengangguk dan menyerahkan Athar kepada Umi.


"Umi sebentar ya Nara ambil ponsel dulu" Nara beranjak mengambil ponsel yang berada di meja kerja Raditya akibat semalam dirinya habis menyelesaikan beberapa alur untuk Novel yang akan dirinya terbitkan tak lupa di bantu oleh Raditya.


Setelah ponsel yang di maksudnya sudah berada di genggamannya, Nara kembali menghampiri Athar dan Umi Elvi yang sedang duduk di ranjang. Gadis itu terlihat menggeser layar ponselnya kesana kemari, lalu menekan sebuah aplikasi WhatsApp.


Ana


berdering


««Hallo Assalamualaikum, Ya Allah ada Umi juga. Aaa Umi mis you»» jerit Ana histeris.

__ADS_1


Umi Elvi tertawa kecil melihat anak bungsunya yang sepertinya sama seperti dirinya sendiri yang juga sedang merindukan akan sosoknya.


"Waalaikumussalam Ana, bagaimana kabarmu dengan suami serta anakmu nak?"


««Alhamdulillah kami semua baik Umi, nih liat cucu Umi lagi di mandiin babanya»» Ana menyorotkan kamera ponselnya kepada Gus Afan yang sedang memandikan anaknya.


"Maa Syaa Allah cucu Oma dua duanya cantik dan ganteng.


"«Makaci Oma»" jawab Nara dan Nara barengan seraya menirukan suara anak kecil, setelahnya mereka terkekeh kecil.


"Baby Diva baru mandi ya? Liat dong kakak Athay udah wangi lohh" gurau Nara kepada keponakan kecilnya. Gus Afan yang hanya menyimak ikut tersenyum kecil. Soalnya gak boleh judes kalo di depan mertuamah ya kan wkwk.


««Soalnya Ana baru bangun Ra hehe»»


Di usia yang sudah memasuki lansia ini, Umi Elvi dan Abi Sanjaya merasa bahagia karena anak anaknya sudah memiliki keluarga masing masing, terlebih lagi sudah memiliki anak satu sama lainnya.


Athar Zayn Alvarendra dan Nadhiva Durratul Jinan, atau dengan nama panggilan Athar dan Diva. Dua malaikat kecil yang amat sangat menghiasi dan memberi warna di hari tua Abi Senjaya dan juga Umi Elvi. Tak lupa mereka berdua mengucap syukur kepada Allah karena telah di berikan umur panjang sehingga bisa melihat kedua cucunya lahir, walau kenyataanya mereka berdua sama sekali belum pernah bertemu secara langsung dengan Nadhiva, karena Ana selaku orang tua dari Nadhiva harus ikut bersama sang suami ke Makassar sehingga mau tak mau harus meninggalkan orang tuanya.


««Maaf ya Umi, saya harus pakaikan Diva baju dulu»» ucap Gus Afan dengan sopan membawa Diva ke kasur.


"Silahkan Nak" jawab Umi.


"Adil tau, kamu di sana bisa ketemu sama Anisa setiap hari dan sekarang aku juga bisa setiap hari ketemu Putri. Iyalah orang dia kalak ipar aku" ucap Nara dengan wajah sombongnya.


So, perlu kalian ketahui setelah Rio meminta saran kepada Abi Sanjaya untuk melamar gadis pilihannya yaitu Anisa. Seminggu setelahnya, lelaki itu langsung terbang ke Makassar untuk menemui orang tua dari gadis yang di maksud dengan hanya di temani Reza saja.


Dengan takdir Allah semuanya begitu lancar, orang tua gadis itu menyetujui dan gadis itu sendiri menerima lamarannya. Tiga hari setelah lamaran, acara pernikahan langsung di gelar, karena Rio tidak ingin menunggu lama lagi sehingga semua itu tidak menjadi dosa.


Adakah rencana yang lebih indah dari pada rencana Allah? Kita selalu berencana dan berangan berjodoh dengan seseorang yang kita cintai namun belum tentu seseorang yang kita cintai itu adalah seseorang yang namanya tertulis di lauhul mahfudz kita. Mungkin kita selalu berdoa supaya berjodoh dengan seseorang yang kita cintai, namun nyatanya yang berjodoh dengan kita bukanlah seseorang yang kita cintai. Itu bukan karena Allah tidak mau mengabulkan doa kalian, namun Allah tau mana yang buruk dan mana yang baik untuk kalian. (Punten jadi agak kaya nasehatin dan sok tau banget sksk)


««Diva sudah wangi, mari bertemu kakak Athar»» ucap Gus Athar yang berada di samping Ana sambil memegang Nadhiva.


"Maaf sayang, kakak Atharnya tidur" ucap Umi Elvi.


««Yaaa di tinggal tidur»» sorak Ana semuanya tertawa.


Mereka terus berbincang ria sampai akhirnya memutuskan sambungan video call nya, karena Gus Afan harus mengajar dan mungkin Ana juga ada keperluan lain.


"Eh eh pak, tidak apa apa?" ucap Faisal sedikit berlari ketika melihat Raditya yang kelimpungan, ia menahan tubuh Raditya agar tidak ambruk.

__ADS_1


Raditya kembali berdiri tegak, ia memijat pangkal hidungnya, "Astagfirullah, terima kasih Sal"


"Iya pak sama sama, bapak ingin keruangan bapak kan? Kalau begitu saya antar aja ya pak"


"Tidak usah Sal saya bisa sendiri" tolak Raditya tidak enak.


"Gak apa apa pak, biar saya bantu aja. Bapak lagi sakit ya? Wajahnya pucat begitu.


"Saya hanya sedikit pusing saja Sal, selebihnya saya kepikiran istri saya" ucap Raditya. Oh ya lupa memberi tahu jika Faisal adalah bawahan sekaligus temennya Raditya, dia juga menjadi orang kepercayaan Raditya setelah pak Danang.


"Memangnya kenapa pak? Maaf jika kesannya saat terlihat ingin ikut campur dalam rumah tangga bapak dan buk Nara, tapi jika bapak berkenan bercerita, saya siap untuk mendengarkan.


"Tadi saya mendiami istri saya Sal, dan ketika sampai kantor saya menyesalinya"


"Ya Allah, alasannya apa pak?"


Raditya menggeleng, "Tidak ada alasan"


"Lebih baik bapak pulang aja, terus minta maaf di kantor juga kan sekarang tidak ada jadwal meeting. "


"Yasudah Sal, terima kasih atas sarannya. Saya permisi Assalamualaikum"


"Waalaikumussalam"


"Eh pak, bapak kuat nyetirnya? Kalau tidak kuat biar saya yang anterin"


"Tidak usah Sal saya bisa"


°°°°°°°°°°


"Assalamualaikum" Raditya mengetuk pintu ketika sudah sampai di rumahnya.


"Waalaikumussalam" ucap seseorang lalu membukanya, "Loh Raditya udah pulang? Ini masih siang loh.


"Iya Umi Raditya terus kepikiran Nara, Naranya di mana Umi?" tanya Raditya sembari menyalami tangan Umi Elvi.


"Nara ada di kamarnya sama Athar, memangnya kamu kenapa sampai kepikiran Nara begitu?"


"Tadi Raditya diemin Nara Umi.

__ADS_1


__ADS_2