
Keesokan harinya.
Tepatnya pukul 08:00 pagi Yuni datang bersama anak bungsunya, dengan membawa bingkisan.
Mereka segera masuk keruang rawat inap Mawar no 178, tiba didalam ruangan ada Jihan dan Zidan yang sedang menemani Ami sebelum nanti pukul 10 ia akan cuci darah.
"assalamualaikum" ucap Yuni sembari membuka pintu disertai senyuman manis.
Putra bungsunya mengekori dari belakang, memang jika Kai jalan bersama ibunya maka ia seperti bodyguard yang mengawal majikannya dari belakang.
"bagaimana keadaan mu,aku membawakan mu bubur ayam faforit kita" tutur Yuni sembari membuka bingkisan tersebut.
"kmu masih ingat makanan jaman kita SMP dulu"
"pasti aku ingat kmu kan sahabat yang sudah aku anggap saudara"
Mereka tersenyum manis kala mengingat waktu dulu saat SMP karena Yuni sering menjadi korban buaya darat.
Dan Ami yang menjomblo,pertama pacaran dengan Zidan dan langsung menikah.
Mendengar cerita mereka berdua Kai berfikir jika Jihan menjomblo warisan dari ibunya.
"kenapa Lo liatin gue kaya gitu,ada yang lucu"mendapati Kai sedang memandangi dirinya disertai cengar-cengir .
"gak gu....gue gak liatin Lo ,PD banget jadi orang" bantah Kai membela dirinya sendiri.
Yuni menyuap kan satu sendok bubur buatannya , dengan telaten dan sabar Yuni menunggu hingga bubur tak tersisa lagi dalam mangkok.
Mereka senang karena Ami mau makan karena dari kemarin hanya mskan 3 suap dan itupun harus dengan sedikit memaksa.
Ami tak nafsu makan karena ia paling takut dengan jarum suntik,apa lagi sekarang ini ia harus cuci darah 3hari 1kali pasti akan sering melihat jarum suntik.
Mereka masih berkumpul di ruangan Ami,semua memberi semangat agar Ami punya semangat untuk sembuh.
"Ami kmu harus semangat lihatlah anak dan suami mu mereka berdua membutuhkan kmu"
"iya Yun , makasih untuk semua yang sudah mendukung aku. Aku akan berusaha untuk sembuh demi orang-orang yang paling aku sayang dan aku cintai"
"maaf menganggu pasien akan segera melakukan cuci darah,jadi dimohon untuk semua keluar dulu dari ruangan ini" kata seorang suster yang datang keruangan Ami.
Semua keluar tapi Jihan dan Zidan masih berat meninggalkan Ami sendiri hanya bersama suster.
"Mas kmu keluar dulu aku gak papa dan selamanya tak akan ada apa-apa" ucap Ami sembari tersenyum , berusaha meyakinkan hati Zidan yang sedang dalam kondisi khawatir tinggkat dewa.
"Han kmu juga keluar dulu,ibu baik-baik saja disini"
Jihan melangkah diekori Zidan, Ami masih setia tersenyum tipis walau wajah nya begitu pucat. Baru beberapa langkah Jihan berbalik badan dan berlari kearah Ami, ia memeluk ibunya dengan erat .
Pelukkan itu mengisyaratkan jika Jihan tak mau jauh-jauh dari seorang Ami ibunya.
Zidan tersenyum tipis , walau hatinya sangat hancur berkeping-keping. Tak terasa bulir bening mengalir deras di pipi Zidan, dengan cepat ia menghapus air mata tersebut dan mencoba tersenyum.
__ADS_1
Jihan keluar ruangan sesekali ia menengok ke arah Ami yang masih tersenyum.
Keluar dari Jihan berlalu pergi ke taman belakang rumah sakit, Kai mengekornya dari belakang.
Tiba ditanam terlihat hanya ada kolam ikan serta bunga mawar disana.
Jihan terduduk disebuah kursi yang tak jauh dari kolam ikan,ia menangis , merenung, bingung perasaan nya teraduk-aduk tak jelas apa yang saat ini ia rasakan.
"hapus air mata itu bibi tidak akan senang melihat Lo menangis" ucap Kai disebelah kanan sambil memberikan sapu tangan nya.
Tangan Jihan tak kunjung menerima sapu tangan tersebut , akhirnya Kai duduk disampingnya lalu menghadap kan wajah Jihan supaya menatap wajah dirinya.
"jangan bersedih ,air mata ini hanya akan membuat Lo semakin tersiksa dan terluka" titah Kai sembari menghapus air mata Jihan.
Bukannya berhenti tangis Jihan semakin terisak,Kai langsung memeluk nya untuk sekedar menenangkan hati Jihan.
Dalam dekapan hangat, Jihan menangis mungkin hingga dada Kai basah sebab terkena Air matanya.
Melepaskan pelukan Kai menakup wajah Jihan dengan kedua tangan nya.
"tersenyum lah walau hanya sedikit saja ,Lo harus percaya jika bibi akan sembuh seperti sedia kala. Jangan berhenti berdoa "
Jihan hanya mengangguk karena masih terisak, lalu mengatur nafas.
Jihan tersenyum walau itu terlihat senyum getir tapi tak apa yang terpenting ia tersenyum.
"Lo selalu ada disaat gue sedih maupun senang terima kasih Kai "
"aaaaa sakit,aduh pipi gue bisa copot .Tapi tak apa asal Lo bahagia" membalas mencubit pipi Jihan.
Setelah suasana hati Jihan tenang mereka kembali bergabung dengan Zidan dan Yuni yang berada di depan ruangan Ami.
"ayah..."panggil Jihan lirih namun Zidan mendengar,Jihan memeluk ayahnya dengan erat.
"ayah, ibu tak akan apa-apa kan?" tanya Jihan didalam dekapan hangat Zidan.
"ayah juga berfikir begitu semoga tak akan ada apa-apa,semua akan baik-baik saja" batin Zidan.
"iya ibu akan baik-baik saja, percayalah ibumu itu wanita kuat, tangguh kmu jangan berhenti berdoa"
Melepaskan pelukan Zidan menghapus air mata putri tunggal nya itu dengan lembut.
"Kai bisa kmu membantu paman"
"tentu saja bisa,apa yang bisa aku bantu"
"tolong wakilkan paman miting jam 12 siang nanti , karena paman tak sanggup jauh-jauh dari kedua wanita yang paman sayang"
"tentu saja bisa, kalau begitu aku akan kekantor paman sekarang" Kai pamit pergi meninggalkan rumah sakit.
Tiba-tiba handphone milik Zidan berdering tertera nama seketaris Rafael .
__ADS_1
"kenapa kau yang datang,kan harusnya bapak yang miting siang ini"
"percaya saja pada Kai jika dia bisa menjalankan miting siang ini"
"tapi ini klayen besar pak dan paling berpengaruh di perusahaan bapak"
"saya ikhlas jika kehilangan proyek besar ini karena keluarga saya lebih penting,apa kurang jelas saya cuti 2minggu"
Lalu mengakhiri panggilan sepihak padahal Rafael masih berbicara disebrang telepon.
"bagaimana ini ,miting akan segera dilaksanakan Lo benar-benar siapkan bro"
"ya gue siap ,gue akan lakukan yang terbaik untuk perusahaan paman Zidan"
Mereka memang sudah kenal lama karena Rafael adalah kakak kelasnya yang baru saja lulus S2 .
Mereka berdua masuk dalam ruang miting,ada sedikit rasa gugup yang menjalar dihati Kai namun dengan segera ia menafikan rasa itu.
"selamat siang semuanya,maaf CEO kami sedang tertimpa musibah jadi miting kali ini akan diwakili oleh Kai Joon sekian terima kasih "
ucap Rafael dengan sopan lalu duduk dan mempersilahkan Kai berdiri dan menerangkan apa proyek yang akan dijalani.
Miting selesai.
"baik saya dan asisten saya memutuskan untuk......."
\*\*jangan lupa vote,komen, tambah favorit ya teman.
Jaga kesehatan terus dan bagi yang menulis karya semangat terus nulisnya 🙂.
__ADS_1
Terima kasih\*\*.