
Keesokan harinya ...
Jihan mulai membuka matanya perlahan menetralkan sinar mentari yang menusuk kedua matanya.
Ia beranjak dari tempat tidur lalu duduk ditepi ranjang.
Melangkah perlahan menuju arah jendela .
Tangan nya membuka korden .
Sinar mentari memenuhi ruang kamar Jihan.
Ia melangkah menuju kamar mandi dan menguyur seluruh tubuhnya dengan air .
Ia sangat menikmati guyuran air serta pengharum ruangan dan aroma terapi .
Merilekskan otak dan menghilangkan rasa stress .
Seusai mandi ia berganti baju lalu menuruni tangga untuk menemui kedua orang tuanya yang sudah menunggu nya sedari tadi diruang makan.
Wajah fres dan berseri terlihat jelas .
"pagi ibu ,ayah" sapanya diiringi senyum manis.
"pagi juga sayang" jawab Ami dan Zidan dengan kompak.
"wah lagi seneng rupanya anak ayah yang cantik ini, ada hal apa kah" diiringi tawa kecil.
Jihan terus tersenyum manis.
"harus selalu seneng dong ayah biar awet muda"sahut Ami sembari meletakkan piring berisi roti bakar diatas meja.
"betul itu ibu ,biar awet muda" tawa mereka pecah. Dan ini lah rumah Zidan yang sesungguhnya selalu rame dengan canda tawa disetiap sudut ruangan pasti ada kenangan bersama mereka.
Jihan tertawa sampai matanya menyipit begitu juga dengan Ami dan Zidan.
Seusai makan Zidan bersantai di ruang keluarga sembari menunggu Ami dan Jihan merapikan meja makan.
Terdengar suara bel dari pintu utama, Zidan yang baru saja mendaratkan pantatnya kini terpaksa beranjak dan membuka pintu.
Dengan segera ia memegang kenop pintu dan terbuka. Terlihat Kai yang sedang berdiri di depan pintu diiringi senyum sampai matanya menyipit.
"oh Kai ayo masuk, kirain siapa"
"pagi paman maaf menganggu waktu libur paman"
"jangan sungkan lagi pula hari ini free gak ada kerjaan jadi bisa habisin waktu sama keluarga" berjalan berdampingan menuju ruang keluarga.
Mereka berdua duduk bersebelahan namun mata Kai menyusuri setiap sudut ruangan .
Tapi Jihan tidak ada ,ia jadi keheranan sendiri kemana Jihan kenapa tidak muncul saat ia menekan bel.
"Kai"panggil Zidan dengan suara rendah namun itu membuat Kai sangat terkejut karena ia melamun.
"Kai, sejak kapan kamu disini?"
__ADS_1
"barusan masuk bibi"
Jihan dengan santai berjalan dibelakang ibunya lalu mendaratkan pantat nya disamping Kai duduk.
"dah sembuh kan Lo?"
Jihan menganggukkan kepalanya namun ia masih setia menunduk.
"gue lusa balik ke Korsel Lo mau ikut kuliah di sana atau mau disini aja?"
Bola mata Jihan berputar keatas bawah,kanan,kiri otaknya berfikir keras.
"gue disini aja biar dekat sama ibu ayah juga" jawab nya tersenyum manis.
"ya sudah kalau gitu boleh gak kita jalan untuk yang terakhir sebelum gue balik ke Korsel . Mau gak?"
Jihan berfikir sejenak lalu mengangguk kan kepala sambil tersenyum tipis,Kai yang melihat itu bahagia bukan main senyuman manis serta wajah berseri terukir jelas diwajah tampannya.
"gue siap-siap dulu ya"
Kai langsung mengulurkan dua jempol nya hingga Jihan tak terlihat lagi.
________
Didalam kamar....
Jihan sedari tadi bingung mau mengenakan baju yang mana , hingga memberantaki seluruh isi lemari.
Kurang lebih sudah hampir 1jam Jihan memilih baju dikamar.
Tak sengaja Jihan menjatuhkan gelang berwarna hitam seingat dirinya itu gelang pemberian dari Dika waktu itu sebelum Celsi pergi dan pacaran.
Jihan meraih gelang tersebut lalu mengusap pelan ,terukir senyum tipis namun terlihat ada kesedihan yang amat dalam dilubuk hatinya.
Kenangan yang dulu kembali terlintas di benak dan otaknya, itu benar-benar membuat dirinya sakit hati.
Tak terasa bulir bening mengalir dari pelupuk matanya dengan segera ia usap .
Mau menangis juga tidak akan merubah apa yang sudah terjadi.
Mungkin ini yang terbaik untuk dirinya dan mulai sekarang Jihan bertekad untuk melupakan Dika dari hati , fikiran dan cinta .
Jihan meletakkan gelang tersebut disebuah kotak kecil berwarna hitam lalu menaruh nya didalam lemari.
Kembali fokus memilih baju hingga dirasa cocok dengan segera berganti dan memoles beberapa makeup kewajah nya.
Make up tipis namun terlihat sangat natural ,dipadu dengan baju casuel yang i a kenakan ditambah juga sepatu berwarna putih.
Setelah selesai semua ia mencari tas selempang kesayangan nya.
Ia sudah sangat rindu untuk memakai tas tersebut.
Wajah nya kembali berseri kala barang yang ia cari sudah ditemukan. Segera Jihan keluar dari kamar ,lalu berlari kecil menuruni tangga.
Tiba diruang keluarga, mereka bertiga tercengang, kagum, terkejut melihat penampilan Jihan yang sangat keren dan cantik.
__ADS_1
Apa mungkin ini efek dari hari-hari sebelumnya , mereka hanya melihat wajah Jihan yang pucat tanpa ekspresi beda dengan Jihan yang sekarang.
Seolah wajah manis,imut, dan cantik kini telah kembali dan bibir itu akan selalu tersenyum dikala apa pun.
"cantiknya anak ibu" ujar Ami tak percaya.
"aish ibu bisa aja, aku jadi malu"menutup wajahnya dengan kedua tangan nya.
Kai yang melihat itu semakin gemas dan rasa yang tumbuh dihatinya semakin kuat bagaikan bunga yang selalu mendapat perhatian dari sang pemilik .
Akhirnya mereka berdua pamit kepada Ami dan Zidan,mencium punggung tangan Ami dan Zidan dengan sopan dan senyum manis.
Ami dan Zidan mengantar mereka hingga sampai ke depan rumah ,lalu memastikan jika Kai dan Jihan tengah berangkat ke suatu tempat yang entah mereka tak tau.
Ami dan Zidan memaklumi anak muda pasti kerjaan nya jalan-jalan yang terpenting tau batas dan adab dalam pertemanan yang sehat.
Mobil berwarna putih membelah jalanan yang lumayan ramai tapi tidak terjadi kemacetan.
Perjalanan telah ditempuh kurang lebih 1 jam dari rumah Jihan.
"aku beli bakso dulu Lo mau ikut gak"
"situ aja, gue lagi mls kebawah"
Setelah selesai semua urusan mereka, masuk kedalam ruangan bawah tanah.
Tangan Jihan mulai gemetar karena sudah lama mereka tak kontak.
Mereka memilih duduk berdampingan dengan .
Dan film dimulai wajah Jihan mulai menegang karena yang mereka tonton hantu jaman dulu.
.
Film mulai dijalankan para pengunjung pada fokus dengan hp serta tak ada lagi rasa minat bertanya .
"Kai"gumam Jihan karena takut melihat film tersebut..
"kan hidup jualan masa disuruh ,
Jihan mulai tenang tapi sedari tadi berbicara saja Leeren .
Adegan kejam terus diputar sebab filmnya baru rilis.
Adegan paling kejam dan mengerikan membuat Jihan bersembunyi di jaket Dika karena ,takut melihat nya tapi Kai dengan santai mengusap kepala cucunya dengan lembut.
"Han jangan takut itu hanya film gak ada didunia nyata"
Lalu Kai menawarkan agar Jihan. bersandar di bahunya.
Jihan hanya menurut diiringi senyum manis terukir di bibir Jihan.
**Jangan lupa vote komen tambah favorit ya 🙂
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂🙂💪💪😀**
__ADS_1