JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 39


__ADS_3

"Celsi"Dika langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Celsi.


"pasien belum sadar, ini hanya respon namun mungkin bisa membuat keadaan nya semakin membaik dan bangun dari koma.


Tetap bersabar dan berdoa" penjelasan dokter dengan suara lembut.


Harapan yang tadinya sangat membuat Dika senang,kini rasa sedih mulai menyusuri ruang hatinya.


Hari demi hari Dika lewati dengan membagi waktu menjaga Celsi serta kuliyah yang tinggal beberapa bulan lagi selesai.


Dika sampai bolak-balik rumah sakit setiap hari, tidur dirumah sakit.


3 bulan berlalu begitu cepat sehingga hari ini adalah hari dimana Dika,Jihan,dan Kai wisuda S1 .


Ada rasa bahagia diantara mereka,namun rasa sedih terus mengisi ruang hati Dika.


Begitu pula dengan Jihan ia masih berjuang melawan kanker darah nya yang kini sudah stadium akhir padahal ia rutin Kemoterapi.


Hari ini lebih cerah dari hari sebelumnya, Mahasiswa ,mahasiswi seangkatan dengan Jihan,Kai,dan Dika telah berkumpul untuk berswafoto setelah rangkaian acara selesai.


Jihan mengenakan baju kebaya.



Penampilan Jihan sangat memukau, dengan dibalut kebaya simpel .


Kai mengenakan setelan jas yang membuat dirinya semakin tampan sampai para kau hawa terkagum-kagum melihat wajah Kai.



Sedangkan Dika tak kalah keren ia juga mengenakan setelan jas yang membuat penampilan nya semakin sempurna, walaupun di balik wajah tampan nya tersirat rasa sedih yang selalu mengisi ruang hati .



Mereka bertiga bergabung dengan yang lain namun sedang asik-asiknya mereka berkumpul sembari tertawa lepas tiba-tiba kepala Jihan terasa berdenyut.



Sifa juga tak kalah cantik dengan balutan busana kebaya.


Jihan mencoba menahan sembari memegangi kepala nya dengan tangan namun rasa nyeri itu tak kunjung hilang.


Kai yang sedang tertawa dengan Sifa karena ini kali pertama Kai bisa tertawa dengan Sifa yang tak berani mendekati Kai namun ia menaruh perasaan lebih pada Kai.


Wajah berseri terpampang jelas diiringi senyum tipis terukir di bibir Sifa.


Kai yang menyadari jika Jihan sedang merintih kesakitan ia segera menenangkan.


"sakit banget ya, kerumah sakit aja biar Lo cepet ditangani oleh dokter"


"udah gak papa kok Kai, gue bisa tahan sampai acaranya benar-benar selesai" ujar Jihan sembari meringis kesakitan.


"udah gak ada penolakan ayo Lo gue antar ke rumah sakit" sembari membimbing langkah Jihan.


Kebetulan jaraknya sekarang hingga sampai ke parkiran cukup membutuhkan waktu lama.


Melangkah perlahan mengimbangi langkah Jihan yang tertatih-tatih.

__ADS_1


Jihan terus merasakan denyutan nyeri dikepala nya bahkan keringat dingin mengucur deras dari dahinya.


"Lo keringatan ,masih mampu jalan gak gue gendong aja ya Lo naik ke punggung gue " Kai berjongkok namun Jihan tak kunjung naik ke punggung nya.


"la kok diem, cepetan naik gue kuat gendong Lo"


"ya kali gue naik orang gue lagi ribet begini,Lo liat gue pakai kebaya mana bisa naik"sembari memegangi kepala nya.


"ya sudah Lo mau jalan emang Lo masih kuat"mendapatkan anggukan kepala Jihan.


Kai kembali membimbing langkah Jihan, kaki Jihan terasa berat untuk melangkah walau dengan langkah kecil.


Seiring dengan kepala Jihan yang terus berdenyut hebat.


Lama kelamaan pandangan mata Jihan kabur,serta kaki yang berat untuk melangkah.


"Han Lo gak papa kan?" menyadari tubuh Jihan semakin lemas.


Jihan hanya menggelengkan kepala tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Wajah Kai nampak begitu cemas melihat wajah Jihan sudah mulai pucat.


Dan pandangan mata Jihan gelap, badannya sudah tak mampu menopang berat tubuh nya sendiri.


Jihan pingsan dengan sigap Kai menangkap tubuh Jihan .


Kai menepuk-nepuk pipi Jihan dengan lembut supaya tersadar.


Namun si empu tak kunjung membuka matanya yang ada wajah pucat .


Dengan langkah cepat Kai langsung tiba di depan mobilnya,segera ia menaruh Jihan disamping kursi kemudi.


Menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi , perlahan mobil Kai mulai meninggalkan area parkiran kampus.


Dengan wajah cemas,serta tangan gemetar Kai melajukan mobilnya.


Sesekali melirik ke arah Jihan yang belum tersadar.


Rasa cemas menyusup keruang hatinya, bahkan Kai sudah tak tau perasaan nya saat ini.


Rasa cemas,takut, khawatir tercampur aduk didalam tubuhnya.


Tak terasa kini telah sampai di rumah sakit, dengan segera ia membopong tubuh Jihan masuk kedalam rumah sakit.


Berlari sembari membopong tubuh Jihan serta berteriak memanggil dokter dan suster.


2Suster menghampiri nya sambil mendorong brangkar, perlahan ia meletakkan tubuh Jihan keatas brangkar. Mereka mendorong brangkar menuju ruang IGD.


Dengan langkah cepat mereka tengah sampai di depan ruangan,Kai diminta menunggu diluar ruangan.


Ia hanya menurut sembari mengusap kepala nya frustasi, sampai ia lupa mengabari Zidan dan Ami yang tadi ada dikampus.


__________


Kampus.


"ayah Jihan kemana ya kok dari tadi ibu cari-cari gak ada Kai juga kemana" ujar Ami sambil celingukan mencari keberadaan Kai dan Jihan yang tak terlihat batang hidungnya.

__ADS_1


"mungkin mereka sedang ada urusan Bu, kita tunggu saja disini "


Zidan dan Ami menunggu mereka dilobi .


Setelah lama hati Ami semakin cemas tak mendapati putrinya.


Ami mencoba menelfon Jihan namun tidak ada jawaban hingga berkali-kali.


Akhirnya ia menghubungi Kai sama saja tak ada jawaban,Ami semakin khawatir terjadi apa-apa dengan Jihan apa lagi kondisi tubuh Jihan saat ini jauh dikatakan dari sehat.


Zidan juga sebenarnya mulai khawatir dengan Jihan namun ia seolah tak apa-apa dan menenangkan Ami .


Terlihat Sifa keluar dari lift dengan santai ia berjalan melewati Ami dan Zidan.


"Hay, boleh Tante bertanya"


Sifa menghentikan langkahnya tepat berhadapan dengan Ami dengan jarak yang cukup dekat,. Sifa tersenyum lalu mengangguk kan kepala.


"iya ada apa Tante,apa ada yang bisa aku bantu"


"kamu melihat anak Tante sama temen cowo nya tidak soalnya dari tadi kami tunggu tak kunjung datang"


"oh anak Tante namanya siapa?"


"namanya Jihan dan temannya Kai pasti kenalkan" dengan senyum ramah Ami


"mereka sedang kerumah sakit tadi Jihan merasa pusing, memangnya Kai tidak mengabari Tante sama om. Tadi juga Jihan pingsan"


Mendengar jawaban Sifa , bulir bening mengalir membasahi pipi Ami.


Zidan segera menenangkan istrinya lalu bertanya dirumah sakit mana Kai membawa Jihan.


Sifa juga tidak tau tapi pasti Kai membawa Jihan kerumah sakit terdekat karena kondisi Jihan juga sangat butuh pertolongan dengan cepat.


Ami dan Zidan pamit, mereka berdua segera keparkiran dan masuk ke mobil.


Perlahan mobil Zidan mulai meninggalkan area kampus.


Ponsel Zidan berdering tertera nama asisten Rafael dengan segera ia menekan tombol hijau.


"hallo"


"halo pak dikantor sedang ada klayen besar menunggu bapak"


"kamu urus dia saya sedang sibuk"


"beliau tidak mau, dia hanya ingin mengobrol dengan bapak "


Zidan menghela nafas gusar pikiran berkecamuk dia diberi pilihan yang sulit.


**Jangan lupa vote,komen, tambah favorit ya 🙂.


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.


Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍👍


semangat terus nulisnya para author 💪💪💪💪**

__ADS_1


__ADS_2