
Akhirnya Jihan sampai dikamar Dika.
Kamar berdisain minimalis nan menenangkan namun berubah seperti kapal pecah dalam sekejap.
Jihan yang melihat kondisi Dika ,ia sangat prihatin karena telah lama tak bertemu dikira sedang kuliyah ternyata kondisi nya memburuk.
Dian mencoba menenangkan Dika yang ingin menyakiti dirinya sendiri mengunakan pisau yang tadi untuk mengupas buah.
Namun tak kunjung tenang ,Jihan melangkah mendekati Dika lalu berjongkok dan tersenyum manis kepada Dika.
Awalnya Dika masih emosi dan terus menangis serta berbicara ngawur namun kala ia melihat wajah Jihan.
Keajaiban terjadi rasa marah,kecewa,sedih yang menumpuk dihati Dika sirna dalam sekejap karena senyuman Jihan membuat hati nya tenang.
"Dika"panggil Jihan dengan suara lembut.
Dika mendengar suara tersebut langsung menjatuhkan pisau kelantai , tanpa aba-aba ia langsung memeluk tubuh Jihan dengan erat dan menangis .
Jihan terkejut kala mendapatkan pelukan dadakan dari Dika ,sebisa mungkin ia menghilangkan rasa itu lalu membalas pelukan Dika.
Menepuk punggung Dika dengan lembut , menenangkan jiwa yang kosong dan hanya dikuasai dengan rasa sedih, marah,kecewa ,takut beradu menjadi satu.
Dian yang melihat anaknya mulai tenang pun bernafas lega, sudah lama Dika tak setenang ini .
Jikalau Dika tenang hanya dengan obat penenang yang biasa a
suster berikan namun sekarang bukan obat melainkan Jihan yang berhasil memenangkan serigala yang depresi.
"Jangan tinggalin aku, selalu disisiku " tutur Dika diiringi sesegukan.
Jihan melepaskan pelukan lalu tersenyum manis dan menghapus air mata yang membasahi pipi Dika dengan lembut.
Dika menghentikan aktivitas tangan Jihan lalu mengengam nya dengan erat . Seperti orang tak mau dipisahkan oleh apa pun.
"gue akan selalu disisi Lo "sembari tersenyum manis lalu Dika ikut tersenyum.
Jihan duduk di samping Dika ,lebih tepatnya dibawah ranjang .
Dika menyandarkan kepala ke pundak Jihan lalu Jihan mengusap kepala Dika dengan lembut membuat sang empu berselancar ke alam mimpi.
Dian,Bu indah masih didalam ruangan mereka berjaga-jaga takut nya ada sesuatu yang bisa dibantu.
Selang beberapa menit Dika sudah pulas tertidur dengan bantuan Dian dan bi indah mereka membaringkan tubuh Dika kekasur . Jihan menarik selimut lalu menutup hingga leher dan hanya terlihat wajah bertulang Dika.
Mereka bertiga keluar dari kamar, sambil berbincang-bincang Dian dan Jihan turun keruang tamu.
Dian menjelaskan kronologis kejadian yang membuat Dika seperti saat ini .
Bahkan hingga mengurus dan tak bertenaga.
Memang waktu itu Jihan tak mengerti dengan jelas saat Celsi meninggal, karena dirinya juga tengah sakit parah.
"Tante bersyukur bisa ketemu sama kamu Han , karena kamu tadi Dika bisa tenang.
__ADS_1
Biasanya dia tenang kalau Tante suntikan obat penenang ke infus"
"ini hanya kebetulan Tante ,oh ya memang sudah berapa lama Dika menjadi parah seperti saat ini?"
"sekitar 2 bulan yang lalu. Awalnya ia selalu melamun sembari memandangi balkon dan memeluk foto Celsi sesekali menangis tanpa sebab" ujar Dian ,ia masih ingat betul kejadian itu.
"awalnya Tante sanggup untuk merawat dan mengajak Dika berbicara namun lama- kelamaan Dika makin seperti orang tidak waras"
"Tante udah bawa Dika ke sikater ?"
"udah banyak orang yang Tante datangi dan menguji coba namun itu tak kunjung berhasil. Dan akhirnya dokter menyerah karena Dika sudah sulit diobati sebab ini depresi kedua "
"Tante jangan sedih,aku yakin Dika pasti sembuh seperti semula aku akan bantu Tante"ujarnya dengan senyuman manis lalu mereka berpelukan sejenak.
Jihan duduk lalu melanjutkan minum jus yang Dian buatkan tadi .
Ponselnya berdering tertera nama ibu segera ia mengangkat lalu pamit pulang karena hari sudah mulai petang.
Dian mengantarkan Jihan hingga mobilnya tak terlihat lagi.
________________
Keesokan harinya...........
tok.....tok .... tok.......
Seorang wanita paruh baya membuka pintu untuk tamu yang datang lumayan pagi.
"assalamualaikum"
"makasih bibi"
Jihan masuk lalu bertanya dimana keberadaan Tante Dian, dengan langkah cepat ia menyusul kekamar Dika.
Mengetuk pintu lalu mengucapkan salam, Dian yang sedang membujuk Dika untuk sarapan mendongakkan kepalanya lalu menjawab salam dari Jihan diiringi senyuman manis.
Dika tersenyum melihat kedatangan Jihan padahal tadi wajah nya nampak masam.
Dengan senyuman yang merekah Jihan menghampiri Dika sembari menenteng paperback .
Dian beranjak dari tempat duduk lalu mempersilahkan Jihan duduk .
Membuka kotak makan yang ia bawa lalu menyuapkan bubur ayam spesial buatan sendiri.
"mama keluar dulu ya, assalamualaikum"
"wa'alaikum salam"
Kini tinggal mereka berdua didalam kamar, Jihan setia menyuapi Dika dengan sabar.
"Han" kata Dika pelan namun terdengar jelas oleh Jihan yang sedang membereskan kotak makanan.
Jihan mendongak menatap wajah Dika diiringi senyum manis.
__ADS_1
"gue minta maaf ya kemarin gue kira Lo Celsi " sambil menundukkan kepala.
"iya gak papa" mengusap pundak Dika dengan lembut sembari mengembangkan senyum.
"gue boleh minta tolong?" tanyanya dengan suara ragu.
Jihan menganggukkan kepala .
"gue pingin ke pemakaman, gue kangen sama Celsi"
"oke gue anterin"
Dika tersenyum manis lalu mengengam tangan Jihan keluar dari kamar.
Ditengah perjalanan mereka berpapasan dengan Dian diruang tamu.
"eh kalian berdua mau kemana?"
"kepemakaman Tante, kami pamit dulu ya assalamualaikum"
lalu mencium punggung tangan Dian .
"OOO wa'alaikum salam" masih memandangi kepergian Jihan dan Dika.
Sepanjang perjalanan tak ada yang membuka suara, mereka fokus dengan fikiran masing-masing.
Jihan mengemudi sesekali melirik kearah Dika yang terus saja memandang keluar jendela mobil.
Pandangan matanya kosong .
Mobil terparkir di tepi jalan menuju pemakaman. Mereka berdua keluar dari mobil.
Langkah demi langkah menyusuri sudut pemakaman. Dika berjalan sambil menenteng 1 buket bunga lavender sedang kan Jihan membawa bunga mawar .
Sampai di depan nisan Celsi ,Dika terduduk dengan begitu saja matanya mulai menggembun .
Mengusap batu nisan yang bertuliskan nama Celsi ,lalu menaruh buket bunga.
Membaca doa lalu setelah itu Jihan menaburkan bunga mawar diatas pusaran makam Celsi.
Jihan menepuk-nepuk pundak Dika yang menundukkan kepala menghadap batu nisan Celsi.
Air mata luruh begitu saja membasahi wajah Dika .
"gue tau yang Lo rasa ini berat tapi gue yakin Lo pasti bisa dan Celsi juga sudah bahagia disana"
Mengusap air matanya dengan siku .
Menengok ke arah Jihan lalu membalas senyuman Jihan.
" Celsi ,gue minta maaf karena gak bisa antar Lo ke peristirahat Lo untuk terakhir kalinya semoga Lo tenang disana hiks.....hiks....hiks...." tangisnya.
Dika mengusap pundak Jihan menyalurkan rasa tenang agar mereka sama-sama yakin jika Celsi sudah bahagia disana.
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂🙂
Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍💜🤗🤗🤗🤭