
"tidak....."ujar Ami lirih lalu tak sadarkan diri, Zidan menepuk-nepuk pipi Ami pelan untuk serta memanggil nama Ami namun tak kunjung terbangun.
Zidan memangku kepala Ami, sedang kan dokter berlari masuk kedalam ruangan tersebut.
Dokter Rafi spesialis penyakit dalam yang sudah 2tahun menggeluti pekerjaan di bidang kedokteran.
Disiplin dalam menjalankan tugas, tampang rupawan,senyum manis,ramah, rendah hati berusia 26 tahun.
Tiba dalam ruangan ia dengan cekatan memeriksa detak jantung,mata,dan juga infus yang masih berjalan.
"Suster pantau monitor apa ada perubahan?"tanya Rafi masih terfokus memeriksa.
"mulai stabil dok"
Dokter Rafi berbicara dengan dokter Sinta yang juga berada didalam ruangan.
"dok pasien mengidap penyakit ini sejak kapan?"
"sejak seminggu yang lalu ,saya sudah sarankan untuk kemo terapi kemarin sebelum kejadian ini terjadi.
Namun pasien menolak dan memilih meminum obat resep dari saya serta rutin cek up" Jawab Dokter Sinta kala mengingat kemarin Jihan memeriksa kan diri sendiri tanpa ada yang menemani.
"saran saya pasien segera dibawa keluar negeri agar mendapatkan perawatan medis yang lebih lengkap" titah dokter Rafi yang tau bahwa kondisi Jihan sangat menurun.
"iya dok segera saya berbicara dengan keluarga pasien" jawab dokter Sinta .
_________
Ami perlahan membuka matanya dan langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"yah apa Jihan sudah sadar?" suara Ami bergetar.
Zidan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ami.
Bulir bening mengalir di pipi Ami ia terisak , Zidan langsung membawanya ke dalam dekapan hangat.
Mencoba menenangkan istrinya yang kini sangat bersedih dengan keadaan Jihan.
"ayah yakin Jihan pasti sembuh,dia anak kita yang kuat. Kalau kita kuat Jihan pasti kuat ,kita sama-sama lewati ini bersama tetap berdoa untuk kesembuhan Jihan ya Bu" diiringi senyum yang membuat hati Ami tenang dan kuat , senyuman Zidan yang tulus.
__________
Mereka berdua keluar dari ruangan dan langsung dihampiri oleh Kai,Ami, Zidan dan Dika yang masih disana menunggu keadaan Jihan.
"pasien masih kritis namun semua nya stabil jadi berdoa lah agar pasien bisa melewati masa kritis" pungkas dokter Rafi yang didengar secara saksama oleh orang yang ada di situ.
"terima kasih dok,apa boleh saya menjenguk anak saya?"tanya Ami dengan suara masih bergetar.
__ADS_1
"maaf untuk saat ini pasien tidak boleh dijenguk karena kondisi nya naik turun, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan Jihan" tutur dokter Sinta.
"tapi tidak akan terjadi apa-apa dengan Jihan kan dok?"tanya Kai dengan khawatir.
"kita tetap berdoa untuk kesembuhan Jihan,saya yakin Jihan anak yang kuat "jawab dokter Sinta.
Keduanya pergi meninggalkan Dika,Kai,Ami, dan Zidan.
Dika pamit pulang karena malam semakin larut, mencium punggung tangan Ami dan Zidan mengucapkan salam lalu melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Kai sebaiknya kamu juga pulang biar paman dan bibi yang menjaga Jihan" kata Zidan mendapati wajah Kai begitu kelelahan.
"tidak paman aku tidak lelah sama sekali, sebaiknya paman dan bibi pulang biar aku yang menjaga Jihan disini.
Kondisi bibi kan baru sembuh dari sakit beristirahat lah ,aku akan mengabari kalian jika ada apa-apa" diiringi senyum tipis terukir di bibir Kai.
"baiklah kamu jaga Jihan dengan baik , paman dan bibi pulang dulu"
"gak yah ibu gak mau pulang,aku mau temenin Jihan" sahut Ami yang masih setia memandangi pintu masuk ruangan.
Zidan membujuk Ami perlahan karena di keadaan seperti ini jangan sampai ada keributan karena ego sendiri.
Hati Ami berat jika harus meninggalkan Jihan yang sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
"paman sama bibi pamit pulang dulu, kami titip Jihan kekamu.
"Wa'alaikum salam hati-hati dijalan paman bibi"
"iya terima kasih atas bantuan nya Kai ,kamu anak yang baik"
Zidan mengandeng tangan Ami melangkah pergi, Ami tetap menatap pintu masuk tersebut.
"ayo Bu"menaruh tangan kanan nya dibahu Ami lalu melangkah kan kaki meninggalkan Kai sendiri didepan ruangan.
Setelah Ami dan Zidan tak terlihat ia kembali duduk menenggelamkan wajahnya dengan kedua tangan nya.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat sehingga tak sadar jam menunjukkan pukul 01:30.
Kai tak merasa ngantuk sama sekali,ia baru sadar tas Jihan tak dibawa pulang oleh Zidan dan Ami.
Awalnya ragu namun keraguan itu membuat nya semakin penasaran.
Perlahan tangan Kai meraih tas yang dikenakan Jihan,mulai membuka isi tas hal pertama yang dia dapat adalah handphone.
Ketiga dokumen yang tadi diberikan oleh Bu Linda, ketiga buku berukuran kecil dan langsung membuat Kai penasaran.
"seperti buku harian"gumam Kai dengan suara lirih. Kai membolak-balikkan buku lalu ia berniat untuk membuka buku tersebut.
__ADS_1
Namun ia tak jadi membuka buku lalu meraih handphone milik Jihan .
menekan tombol dan langsung menyala, ternyata handphone Jihan tidak memakai password.
Hal pertama yang langsung menarik perhatiannya adalah galeri foto.
Ternyata hanya ada foto Kai,Jihan,Dika,Celsi,Ami, Zidan, dan keluarga Kai.
Terlihat wajah Jihan sangat bahagia didalam foto ,tertawa lepas seperti tak punya beban berat yang ia pikul.
Senyum kecil terukir kala Kai melihat foto 1 tahun yang lalu saat ia sekeluarga dan keluarga Jihan liburan bersama ke Dieng ,Wonosobo,Jawa tengah.
Masih teringat jelas moments bersama Jihan mengunjungi semua tempat wisata yang ada di Dieng.
Jari Kai terus mengeser foto hingga sampai foto terakhir.
Setelah selesai mengotak-atik ponsel Jihan ,ia menaruh handphone ketempat semula.
Tangannya kembali meraih benda, ternyata sebuah laptop kebetulan tadi ia minta tolong untuk meminta salinan laporan untuk diberikan kepada Bu Linda.
Kai menghidupkan laptop dan mulai mencari apa yang ia cari.
Seusai ketemu Kai mengirimkan lewat email tak butuh waktu lama apa yang ia inginkan terkirim.
Senyum terukir di bibir Kai, lalu mencoba mencari apa ada sesuatu yang ia tidak tau dari Jihan.
Jari-jemari Kai terus menari diatas kibord laptop, melihat-lihat isi laptop hingga ia menemukan sebuah video berdurasi 10 menit.
Karena rasa penasaran telah menjalar ke hati dan pikiran nya.
Play video dan terlihat Jihan sedang duduk di kursi.
Dengan senyum manis ia memulai video.
Kai yang melihat Jihan tersenyum ia juga ikut tersenyum.
"Assalamualaikum Hay" sapa Jihan didalam video.
Wajahnya begitu pucat namun ia tetap tersenyum dan mulai berbicara menyangkut penyakit yang ia derita.
"aaaaa sakit......." rintih Jihan lalu mematikan video.
**Jangan lupa vote,komen,tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.
Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍👍👍.
__ADS_1
Semangat 💪💪💪😁😁😁**