JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 48


__ADS_3

"syukur lah,mama sangat khawatir dengan mu"


Kai hanya tersenyum tipis lalu mengusap tangan Yuni dengan lembut.


Dokter datang dengan senyuman manis menghampiri Kai dan Yuni yang masih saling merindu.


"permisi saya periksa dulu"


Yuni beranjak keluar ruangan memberi kesempatan dokter untuk memeriksa keadaan Kai.


Namun kali ini Yuni keluar dari ruangan dengan raut wajah senang tidak seperti kemarin yang selalu menangis disetiap saat.


Tak berselang lama dokter keluar dari ruangan dengan raut wajah santai.


"kondisi Kai saat ini sudah stabil tinggal pemulihan"


"Alhamdulillah, terima kasih dok"pungkas Yuni dengan sopan.


1 Minggu berlalu.


Tak terasa hari silih berganti dengan cepat,kini seorang pemuda telah duduk diatas brangkar karena hari ini ia dinyatakan sudah sembuh dan diperbolehkan pulang.


Namun hatinya sedih karena sedari kemarin Jihan belum juga membaik bahkan keadaan nya saat ini semakin drop.


Wajah nya nampak asam , senyum kecut terukir di bibir Kai ditambah pandangan matanya kosong.


Hati dan pikiran nya tertuju pada Jihan, ia mengusap kepala nya dengan kasar.


Seorang wanita cantik masuk menghampiri nya dengan senyuman manis dan juga gaya fashion mirip dengan yang Jihan kenakan.


"Kai " panggil Sifa sembari mengibas-ibaskan tangan didepan wajah Kai.


Untuk sejenak ia belum tersadar hingga ia merasa ada angin kecil yang menyapu pipinya dengan lembut.


"eh Sifa, udah lama Lo. Maaf gue ngelamun tadi" diiringi senyum tipis terukir di bibir nya.


Sifa tersenyum lalu menghela nafas panjang dan duduk di kursi sampai brangkar Kai.


"ngelamunnin apa sih hemm"dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


"e..a...e.. tidak apa-apa, lupakan saja" nyengir kuda memperlihatkan barisan gigi rapinya.


"oke,ayo kita pulang supaya Lo bisa istirahat"


Kai menggelengkan kepalanya sebagai jawaban serta bibirnya manyun.


Sifa menghela nafas lalu menyentuh pundak Kai yang masih setia menundukkan kepalanya.


"Kai dengerin gue, Lo harus percaya kalau Jihan akan sembuh"

__ADS_1


Kai melihat manik mata Sifa yang menunjukkan ketulusan.


Tanpa disuruh bibirnya tersenyum tipis lalu mengangguk kepalanya.


Sifa membantu Kai turun dari brangkar dengan perlahan lalu membimbing langkah Kai yang sesekali memegangi perutnya.


Karena masih terasa nyeri disekitar perut bekas operasi yang ia jalani.


Langkah nya juga pelan takut lukanya kembali terbuka dan itu bisa menyebabkan infeksi.


Butuh waktu yang cukup lama Kai sampai didepan ruangan, namun dengan sabar Sifa mengikuti langkah Kai yang pelan dari belakang.


Yuni menghampiri mereka berdua lalu memeluk anaknya dengan erat sembari menepuk-nepuk punggung anaknya.


"ma aku mau jenguk Jihan dulu ya sebelum pulang bolehkan" lalu tersenyum tipis namun tatapan mata Kai sendu.


Yuni tersenyum lalu mengangguk kepala ,sontak raut wajah yang tadinya murung kini berseri disertai senyuman manis terukir di bibir Kai.


"ya tentu boleh sayang ,mama antar kamu ya. Sifa kalau kamu mau pulang duluan tidak apa takut nya kamu kelamaan menunggu kami"


"oh tidak masalah Tante aku lagi gak ada jadwal lain kok ,aku ikut jenguk Jihan ya " sambil tersenyum manis sampai kedua matanya menyipit.


Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang rawat Jihan yang tak cukup jauh dari tempat mereka berada sekarang.


Entah mengapa hati Kai terasa senang kala ingin menjenguk Jihan.


Wajah yang selalu membuat dirinya rindu dan senyuman Jihan seperti candu yang selalu Kai rindu.


Yuni sangat faham perasaan Ami dan Zidan saat ini.


Pasti hati dan pikiran mereka sudah tak tenang apa lagi kondisi Jihan semakin menurun dan tidak ada kemajuan.


Namun Ami dan Zidan tidak pernah putus harapan mereka yakin jika Jihan akan kembali pulih seperti sedia kala.


Jujur mereka juga sempat putus asa,tapi melihat Jihan yang sampai saat ini bertahan walaupun kondisi nya semakin memburuk.


Bahkan kemarin Dokter Rafi sudah angkat tangan karena semua obat yang dimasukkan ke dalam tubuh Jihan tak bereaksi untuk menghentikan sel-sel kanker dalam tubuh Jihan.


Zidan dan Ami yang terus meminta agar Jihan tetap ditangani walaupun berapa jumlah uang yang harus ia bayar.


Yang terpenting Jihan bisa sembuh dan kumpul bersama seperti dulu.


"assalamualaikum"


"wa'alaikum salam"


"permisi bibi ,paman aku boleh jenguk Jihan?"tanya Kai.


Tak ada jawaban,Ami beranjak dari tempat duduk lalu melangkah dan langsung memeluk tubuh Kai.

__ADS_1


Tubuh Kai kaget mendapati pelukan tiba-tiba dari Ami.


Dengan ragu Kai membalas pelukan Ami dan menepuk-nepuk punggung nya.


"Kai bibi tau didalam hati kamu ada rasa dengan Jihan kan"


Sontak badan Kai langsung menegang dan kakinya bergetar ketika mendengar ucapan Ami.


" bi-bi " kata Kai dengan bibir Kelu nya.


"bibi yakin jika ada orang yang sedang berjuang untuk hidup jika ada jodoh yang mendampingi nya pasti dia akan kembali semangat dan bangun"


"ah bibi ada-ada saja,aku sama Jihan kan udah sahabatan dari kecil"


"tolong kamu masuk dan minta supaya Jihan bangun, jika ia bangun berarti dia jodoh kamu Kai" pungkas Ami.


Kai mengurai pelukan lalu menyunggingkan senyum manis dan melangkah masuk ke dalam ruangan.


Dengan hati tak tenang serta jantung yang terus berdegup kencang.


Kakinya terasa berat untuk melangkah walau sekedar langkah kecil.


Baru membuka pintu sudah disuguhkan dengan pemandangan yang menyayat hati.


Luka ini lebih sakit dari bekas operasi , luka ini seperti diiris dengan pisau tumpul lalu ditaburi garam.


Kai mendekati Jihan lalu duduk di kursi sembari brangkar.


Kai memandangi wajah Jihan yang pucat tanpa ekspresi serta tubuh Jihan yang mulai surut.


Sekarang terlihat kurus ,apa mungkin penyakit ganas itu telah menggerogoti tubuh Jihan dengan begitu cepat sehingga membuat penderitanya tak sanggup untuk sekedar membuka mata.


Kai meraih tangan Jihan lalu memeluknya dengan erat supaya tangan dingin itu menjadi hangat.


"Han bangun gue kangen sama senyuman manis Lo" lalu menundukkan kepala, terlintas diingatan Kai saat-saat terindah bersama Jihan. Selama ia mengenal gadis kecil yang belum tau apa-apa kini tengah dewasa dan membuat Kai jatuh cinta.


Ia mengusap tangan Jihan dengan lembut, senyum kecil terukir di bibir Kai.


"Han bangun pliss ,Lo gak kasian liat bibi sama paman sangat khawatir melihat Lo kaya gini" bulir bening mengalir dari pelupuk matanya.


Tak mengapa ia terlihat payah mengenai tentang perasaan jiwa lelaki nya hilang seperti ketelan bumi.


Kai menundukkan kepalanya disamping Jihan.


Tiba-tiba bulir bening luruh mengalir dari kedua mata yang masih terpejam.


**Jangan lupa vote komen tambah favorit ya 🙂


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.

__ADS_1


Semangat terus nulisnya para author 💪💪😀**


__ADS_2