JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 49


__ADS_3

Setelah itu Kai menyeka air mata Jihan dengan lembut.


"gue pulang dulu ya , besok gue kesini lagi ok" lalu Kai tersenyum tipis diiringi air mata nya yang terus mengalir.


Dengan langkah lamban Kai meninggalkan ruangan sesekali melirik ke arah Jihan yang masih setia terbaring disertai beberapa alat medis yang terpasang ditubuhnya.


"Kai ayo kita pulang,kamu harus banyak istirahat" ujar Yuni dengan senyum tipis.


"ayo ma, bibi paman aku pulang dulu besok aku kesini lagi boleh kan"


tersenyum hingga kedua matanya menyipit.


"iya hati-hati dijalan,bibi doain semoga kamu juga cepat sembuh"


Kai menganggukkan kepala lalu mendapat gandengan tangan dari Yuni.


Mereka berdua berjalan berdampingan dengan perlahan.


Sepanjang menyusuri koridor rumah sakit Kai atau pun Yuni tidak membuka percakapan sama sekali.


Mereka terfokus dengan pikiran masing-masing.


Hingga tak sadar sudah sampai di depan rumah sakit , terlihat mobil berwarna putih .


Dengan segera mereka berdua masuk ke dalam mobil.


Sifa menyunggingkan senyum manis atas kedatangan Kai dan Yuni.


Yuni dan Kai duduk di kursi belakang sedangkan Sifa duduk disamping pak fajar supir pribadi keluarga Rangga.


Ponsel Yuni berdering tertera nama suamiku dengan segera ia menekan tombol hijau.


"assalamualaikum"


"wa'alaikum salam papa"


"gimana Kai udah dibolehkan pulang?"


"Alhamdulillah pa sekarang kita lagi otw pulang kerumah, hari ini papa pulang ke Jakarta kan"


"iya ma ini papa udah sampai di rumah"


"papa istirahat dulu aja kita masih lama karena terjebak macet"


"oke ma hati-hati dijalan papa tunggu mama assalamualaikum"


"wa'alaikum salam"diiringi senyum manis.


"pak apa ada jalur lain ?"


"ada Bu tapi saya gak yakin ,perbaikan jalannya udah selesai apa belum"


"baiklah pak"


Suasana hening hanya ada rasa bosan karena terlalu lama menunggu kemacetan yang hingga sampai 1km karena ada kecelakaan.


____________

__ADS_1


Disebuah kamar bernuansa abu-abu terdapat seorang lelaki yang sedang terduduk di atas ranjang sembari menengelamkan wajah nya.


Wajah nya nampak begitu sendu , rambut dan bajunya acak-acakan bahkan wajah tampan nya kini seperti tinggal tulang.


Tubuh nya juga lemas karena sedari kemarin tak ada makanan yang masuk kedalam tubuhnya.


Setiap hari ibunya membawakan makanan favorit Dika namun sang empu hanya melirik makanan yang dibawa oleh ibunya.


Tanpa menyentuh dan memakan makanan favorit nya ,nafsu makan nya seperti hilang sedari kemarin.


Ia seperti mayat hidup, wajah tanpa ekspresi , badannya tinggal tulang yang menonjol.


Setiap saat ibunya masuk ke dalam kamar ia berusaha membujuk putranya agar mau makan.


Tapi nihil semua usaha sudah ia lakukan namun tetap saja Dika tak mau makan dan keluar dari kamar.


Dan sedari kemarin hanya didalam kamar tanpa keluar sedikit pun.


"sayang "


Dika mendongakkan kepalanya kearah perempuan paruh baya yang duduk lalu menyentuh pundak Dika.


Mata sendunya menatap si perempuan tanpa ekspresi wajah.


Bahkan wajah tampan nya hilang digantikan dengan wajah pucat, mata sembab. Mungkin lebih tepat dikatakan mirip dengan mayat hidup .


Hari terus berjalan dengan cepat namun keadaan Dika belum juga berubah . Masih setia didalam kamar.


Dika duduk di balkon sembari memandangi pemandangan luar dengan tatapan mata kosong.


Wajah Celsi terus terngiang-ngiang di kepala nya, bahkan kenangan masa-masa saat bersama Celsi masih ia ingat dengan jelas.


Ini adalah kali kedua Dika mengurung diri dikamar karena sedih kehilangan wanita yang ia cintai.


Akibat Dika yang selalu mencintai terlalu dalam sehingga saat kehilangan . Ia akan merasa dunianya begitu hancur tanpa kehadiran wanita yang ia cinta.


Dika bahkan sudah merutuki dirinya karena untuk kedua kalinya ia kehilangan wanita yang paling ia cintai.


Cinta Dika seperti kutukan yang harus Dika jalani , walaupun Dika menolak takdir .


Sedangkan takdir tidak bisa ditolak dan harus ia jalani walaupun itu berat .


Pikiran Dika seperti menghentikan fungsi dan kalut .


Ia benar-benar kehilangan semangat untuk hidup ,ini seperti goresan luka bertabur garam.


Tak bisa digambarkan rasa nyeri ,perih, sakit mungkin kini lukanya sudah sangat parah.


Dika terus menatap dengan kosong dan sesekali menyeka air mata yang membasahi pipi tampannya.


Ingatan saat ia melihat Angel dimakamkan dan juga ingatan kemarin saat melihat Celsi meninggal dunia didepan matanya sendiri.


Air mata nya luruh membasahi pipi , ia tersenyum kecut mengingat kejadian yang menimpa dirinya.


Begitu miris melihat tubuh Dika saat ini ,kurus, berwajah pucat mata sembab.


"kenapa ini terjadi hiks...hiks...hiks..." air mata luruh dengan cepat ia hapus kasar .

__ADS_1


Dika mengacak-acak rambutnya dengan kasar diiringi air mata yang terus mengalir.


Tiba-tiba langit berubah mendung ,seakan alam tau jika saat ini hati Dika sedang bersedih dan kalut.


Hujan mulai turun membasahi tanah perlahan namun lama-kelamaan hujan begitu deras .


Dika melangkah masuk kedalam kamarnya.


Ia duduk ditepi ranjang dengan lemas dan kepalanya terasa berdenyut.


Dan tak berapa lama kesadaran nya hilang , tubuh Dika tumbang diatas tempat tidur nya.


Ibunya masuk membawakan makanan untuk makan siang tapi baru saja ia membuka pintu .


Dia langsung terkejut mendapati putranya tidak sadarkan diri.


Pipi Dika ditepuk-tepuk dengan pelan namun tak kunjung tersadar.


Dia berteriak memanggil asisten rumah tangga nya untuk membantu mengangkat tubuh Dika dan membawanya ke rumah sakit.


Pak Marlan datang lalu membantu memapah Dika hingga sampai di depan mobil.


"pak kita kerumah sakit sekarang"


Mendengar ucapan Bu Dian ia langsung mengikuti perintah tersebut.


Pak Marlan menancap pedal gas dengan kecepatan tinggi untuk mempersingkat waktu karena Dika harus segera mendapatkan penanganan dari Dokter.


Suasana dalam mobil sangat panik, terutama Bu Dian yang selalu memanggil-manggil nama Dika.


Dian terus menangis sembari memangku kepala Dika.


Tak terasa mereka tengah sampai didepan rumah sakit ,psk Marlan keluar dari mobil lalu meminta tolong kepada suster supaya membawakan brangkar.


Datang 2 suster mendorong brangkar , perlahan mereka mengeluarkan tubuh Dika dari mobil.


Mereka mendorong brangkar menuju ruang IGD dengan langkah cepat .


Dika sudah masuk kedalam ruangan sedangkan Dian menunggu diluar dengan perasaan tidak karuan.


Ditambah diluar hujan begitu deras seakan menemani kecemasan dalam hati Dian.


Ia mondar-mandir meremas tangan nya sendiri .


Setelah lama menunggu akhirnya dia dokter keluar dari ruangan, Dengan segera Dian menghampiri dokter tersebut.


"bagaimana kondisi anak saya dok?"


Dokter menghela nafas.


"pasien terkena tipes dan disarangkan untuk rawat inap"


pungkas dokter dengan wajah serius.


"lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya dok " ucap Dian dengan khawatir.


**Jangan lupa vote,komen,tambah favorit ya 🙂

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂


Semangat terus nulisnya para author 💪💪💪😀**


__ADS_2