
Dika tersenyum sembari menghapus air mata yang membasahi pipinya.
Namun tetap tersenyum manis walau wajah nya memerah.
"akhirnya kamu sadar juga,aku sangat sangat bahagia hehe"sembari menciumi tangan Celsi, sedangkan Celsi hanya tersenyum tipis.
Wajah Dika sangat menggemaskan .
"makasih kamu sudah setia sama aku tapi jikalau ada apa-apa dengan aku tolong kamu jaga Jihan ya"diiringi senyum tipis.
"jangan bilang begitu kamu dan kita akan baik-baik saja percaya sama aku ok"
Celsi menganggukkan kepalanya pelan diiringi senyum tipis terukir di bibir nya.
Dika masih menciumi tangan Celsi dengan gemas hingga ia teringat tadi Kai menelfon nya supaya menjenguk keadaan Jihan.
"emmm Celsi ....."
"kenapa,apa Jihan sudah sembuh?" pertanyaan Celsi membuat Dika mengerutkan keningnya karena setau dia saat Jihan masuk rumah sakit ,Celsi sedang tidak ada di Semarang.
Bahkan Celsi sedang menempuh perjalanan kerumah Oma Mira.
Celsi yang melihat raut wajah Dika seperti orang bingung dan berfikir keras,ia pun memegang tangan Dika yang membuat sang empu tersadar dari lamunannya.
"Sebenarnya aku sama bunda sama ayah putar balik karena ayah ada urusan pekerjaan yang mendesak dan aku juga mendapatkan kabar Jihan sakit dari Sifa. Dia menelepon aku" penjelasan Celsi didengar dengan saksama oleh Dika.
"kondisi Jihan sekarang memburuk dia ada diruang IGD"
ujar Dika dengan suara sedih.
Celsi menutup mulutnya dengan tangan kanan ia tak percaya namun itu adanya.
Celsi berfikir apa selama ia koma Jihan juga berjuang melawan kanker darah yang dia derita.
Tiba-tiba pintu terbuka terlihat Kai mendorong kursi roda masuk ke dalam ruangan.
Celsi dan Dika syok melihat orang yang datang karena baru mereka omongin eh orang nya sudah muncul di depan mereka.
Dengan perlahan Kai mendorong kursi roda menghampiri Celsi dan Dika yang belum mengeluarkan sepatah kata.
Terukir senyum tipis dari bibir pucat Jihan, tiba di depan Celsi ia menggenggam tangan Celsi.
"cepat sembuh ya Cel gue gak sabar pengen kita jalan kaya dulu hehe" tawa hambar yang bisa Jihan ucapkan.
__ADS_1
Celsi menganggukkan kepala lalu tersenyum kepada Jihan.
Ia tersenyum manis mendapati temannya sudah sadar dari koma walaupun masih lemah belum ada tenaga.
"ayo balik lagi ke kamar Lo kan gak boleh lama-lama diluar ruang rawat Lo"ujar Kai mengingatkan jika Jihan harus beristirahat di kamar karena bila terlalu lama di luar ruangan akan berpengaruh dengan kondisinya.
Terlebih lagi Jihan baru sadar dan langsung meminta menjenguk Celsi.
Wajah pucat tak luput dari Jihan ia benar-benar mirip mayat hidup wajah tanpa ekspresi serta pucat.
"gimana kondisi Lo Han ?" dengan suara lirih.
"ya begini seperti yang Lo liat gue kaya mayat hidup,wajah pucat ,badan lemas ,sering mual-mual gue udah ihklas jika Allah memanggil gue " ucap nya lalu menundukkan kepalanya menahan air mata supaya tak jatuh .
Walaupun dengan sekuat tenaga ia simpan air mata itu tetap jatuh dan membasahi pipinya.
Kai menghapus air mata Jihan dengan lembut menggunakan ibu jarinya.
"jangan bilang begitu Lo pasti sembuh, kita balik keruangan Lo ya. Gue permisi mau ajak balik Jihan Lo cepet sembuh ya Celsi assalamualaikum" Kai membuka kunci kursi roda lalu mulai mendorong kursi roda keluar dari ruangan.
Sedangkan Jihan hanya mengikuti apa yang kau ucapkan.
Baru sampai di koridor rumah sakit Jihan memegang tangan Kai lalu memberhentikan laju kursi roda.
"gu-gue hiks....hiks ......hiks......"
Kai langsung memeluk tubuh Jihan dengan erat, mengusap punggung Jihan pelan terdengar jelas isakan itu.
Hati Kai sakit melihat wanita yang ia cintai kini telah putus asa dan sedih karena ia sudah tak sanggup melawan kanker darah yang dia derita .
Semakin lama kanker itu bukannya sembuh malah semakin parah.
Padahal Jihan sudah patuh dengan semua anjuran dokter entah itu masalah obat atau kemoterapi yang ia jalani setiap Minggu.
Jihan mencium aroma parfum rasa nangka dari tubuh Kai rasanya menenangkan hati dan pikiran nya sejenak.
Jihan memejamkan matanya menikmati aroma parfum rasa nangka dari tubuh Kai sembari mendengarkan ucapan demi ucapan Kai.
"gue yakin Lo pasti sembuh percaya sama gue. Lo itu kuat dan gue yakin Allah gak pernah tidur dia dengar setiap doa yang kita panjatkan. Ayolah mana Jihan yang aku kenal, dia yang selalu ceria, semangat tanpa putus asa" ujar Kai panjang lebar hanya mendapatkan jawaban isakan tangis dari Jihan.
Jihan menangis sampai sesegukan
Kai melepaskan pelukan lalu mengusap air mata Jihan dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"ayo semangat berjuang lah, selagi masih ada kesempatan jangan Lo sia-siakan. Dan Lo harus ingat bibi sama paman sangat menyayangi dan sangat takut kehilanganmu" menakup wajah Jihan yang terus menerus dibasahi oleh air bening yang mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Jihan mencoba tersenyum walau ia tak bisa menutupi rasa sedih yang amat dalam.
Namun ucapan Kai membuat semangat untuk hidup Jihan bangkit.
Ia kembali menemukan sebuah harapan setelah nantinya berhasil sembuh dari penyakitnya.
Yang diucapkan Kai memang benar ia harus tetap semangat berjuang melawan kanker darah karena ada ibu dan ayah.
Mereka selalu menanti dan Jihan adalah harapan mereka satu-satunya, karena Jihan bagaikan pupuk yang selalu membuat tanaman yang diberi pupuk akan tumbuh subur serta sehat . Begitu juga dengan rumah tangga Ami dan Zidan yang selalu sehat dan harmonis karena kehadiran Jihan.
"iya gue akan semangat,ta-tapi..."
"kenapa lagi Han ?"
"kalau ada apa-apa yang terjadi sama gue, tolong Lo jaga kedua orang tua gue anggap mereka seperti keluarga ya"
dengan raut wajah sedih.
"kan gue udah bilang ke Lo jangan berfikir negatif ,pikir positif aja ya"
Jihan malah menggelengkan kepalanya,Kai kembali menghela nafas gusar.
"Ayolah Han kita lewati ini sama-sama, kalau kita saling support gue yakin gak ada yang bakal kehilangan orang yang kita sayang . Ayo semangat"diiringi senyum manis mencoba membangkitkan semangat Jihan .
"gue akan coba, makasih ya Lo selalu ada disisi gue saat sedih atau pun senang"
"iya kaya sama siapa aja,kan gue cinta sama Lo" titah Kai dengan santai.
"Lo bisa ulang sekali lagi" ujar Jihan karena ia ingin memastikan jika yang ia dengar itu benar atau telinga nya bermasalah.
Kai terdiam dan menutup mulut akibat bibirnya suka keceplosan ngomong.
"oh bukan apa-apa, gak usah terlalu difikirkan . Kita balik keruangan aja ya ok"
"tapi..."
"mampus deh gue,ni mulut kenapa keceplosan" batinnya mengumpati dirinya sendiri.
**Jangan lupa vote komen tambah favorit ya 🙂
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂
__ADS_1
Ayo semangat terus nulisnya para author 💪💪💪**