
"Kai"panggil nya lagi karena Kai tak menjawab Jihan
"kita balik aja ya ok" segera mendorong kursi roda Jihan, walaupun Jihan masih ingin mendengar perkataan Kai yang tadi.
Namun Kai terkesan menghindar dan berusaha mengganti topik pembicaraan.
Selama menyusuri koridor rumah sakit Kai hanya diam tak membuka pembicaraan,membuat Jihan curiga lalu memegang tangan Kai yang sedang mendorong kursi roda.
Sontak Kai berhenti kala tangan Jihan sudah mendarat di tangan kanannya.
"ada apa?"tanya Kai dengan raut wajah polos.
Jihan menggelengkan kepalanya lalu tertunduk diam.
Kai menghela nafas panjang lalu berjalan ke depan dan berjongkok mensejajarkan tubuh nya dengan Jihan.
Terlihat wajah Jihan yang semakin pucat disertai mata sembab, Kai mengulurkan tangannya lalu menakup wajah Jihan dengan kedua tangan nya.
Sang empu hanya menurut dan memandang wajah Kai dengan sendu.
Tanpa disuruh bulir bening mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Dengan halus Kai menghapus air mata Jihan yang mulai membasahi pipinya.
Pundak Jihan bergetar serta mata yang terus mengembun.
Kai khawatir ini akan mempengaruhi kondisi Jihan jika terlalu banyak pikiran.
Ia takut jika kondisi Jihan akan memburuk kalau terus-menerus bersedih.
Kai tersenyum tipis mendapati Jihan sudah berhenti menangis namun masih tersisa isakan sedikit.
"jangan sedih ok"diiringi senyum manis terukir di bibir Kai.
Senyuman manis Kai yang selalu ada untuk menyemangati Jihan sedari dulu.
Jihan jadi teringat jika Kai yang selama ini selalu ada untuk nya dikala susah ataupun senang.
Bahkan situasi apapun Kai selalu disisinya.
Jihan mengangguk kan kepala pelan dan mencoba tersenyum walau senyum tipis, namun bisa membuat hati Kai lega mendapati Jihan tersenyum sudah menjadi kebahagiaan bagi dirinya sendiri.
Kai tersenyum manis lalu balik ke belakang kembali mendorong kursi roda menuju IGD.
"udah ya jangan sedih lagi kita balik ke ruang IGD,pasti bibi sama paman menunggu kedatangan kita" lalu mendorong kursi roda Jihan.
Tiba didepan ruangan ruangan terlihat Ami dan Zidan sedang duduk di depan ruangan, terlihat wajah Ami yang sangat menghawatirkan kondisi Jihan.
__ADS_1
Ami langsung menghampiri Jihan yang masih duduk dikursi roda dengan menampilkan senyum tipis.
Ami memeriksa kondisi Jihan dari kepala hingga ujung kaki, setelah dipastikan aman Ami memeluk tubuh Jihan.
Sedangkan Jihan hanya diam sembari membalas pelukan Ami.
Tiba-tiba kepala Jihan terasa berdenyut serta perutnya mual.
Ia mencoba menahan rasa sakit tersebut walaupun saat terasa nyeri ia menyengir memperlihatkan barisan gigi rapinya.
Pandangan mata Jihan mulai kabur , bahkan untuk melihat kearah ayah Zidan saja matanya sudah tak jelas melihat wajah tersebut.
Terlihat samar-samar Zidan tersenyum kepada nya,lalu mendekati Ami dan ikut memeluk tubuh Jihan.
Jihan senang dikala ia sakit kedua orang tuanya masih ada disampingnya serta selalu ada untuk dirinya walaupun terkadang ada pekerjaan yang tak bisa mereka tinggalkan.
Jihan bangga memiliki orang tua seperti Ami dan Zidan, karena mereka selalu harmonis walaupun ada masalah mereka akan menyelesaikan dengan pikiran dingin.
Sempat terlintas di benak nya jika ia memiliki suami kelak ia ingin suami yang seperti ayahnya, sosok pria bertanggung jawab,lembut, perhatian, pengertian, cerdas, tampan,bisa menurunkan ego sendiri.
Menurut Jihan Zidan adalah sosok pria idaman para wanita, ia bersyukur ibunya bisa mendapatkan pendamping hidup seperti ayah .
Setelah tersadar dari lamunannya,rasa nyeri itu kembali terasa kali ini Jihan benar-benar tak sanggup menahan lagi.
Perlahan pandangan matanya mulai gelap , tubuh Jihan terasa lemas lalu tangan yang memeluk tubuh Ami terlepas selaras dengan kesadaran nya hilang.
Sontak Ami langsung menangis lalu Zidan memeriksa denyut nadi Jihan untung saja masih berdenyut.
Kai yang berada disitu langsung memanggil dokter Rafi dan Dokter Sinta yang dengan sigap membawa Jihan masuk kedalam ruangan .
Mereka menunggu diluar ruangan selama dokter memeriksa kondisi Jihan.
____________
Didalam ruangan.
Dokter Raffi membopong tubuh Jihan lalu meletakkan nya diatas ranjang.
Lalu suster memasang kan monitor, lalu alat bantu pernapasan (ventilator) .
Terlihat detak jantung Jihan tak stabil bahkan kondisi Jihan saat ini dikatakan melemah dan drop .
Suster menyiapkan Defibrilator untuk kembali memperbaiki detak jantung pasien yang mulai menurun.
"1.2.3"titah dokter Sinta dengan cepat , sampai melakukan itu beberapa kali.
Dokter Raffi ikut memantau kondisi Jihan karena semakin lama semakin menurun bukan nya membaik.
__ADS_1
"dokter Rafi seperti nya pasien harus segera ditangani dan menjalankan imunterapi"titah dokter Sinta dengan wajah serius.
Dokter Raffi berfikir sejenak lalu mengiyakan ucapan dokter Sinta, karena penyakit Jihan sudah semakin parah.
"sebaiknya kita bahas ini dengan kedua orang tua agar segera dilakukan tindakan kepada pasien "ujar dokter Raffi.
Dokter Sinta berpikir ucapan dokter Rafi memang benar jika tidak tidak disegerakan penanganan maka kenyataan buruk akan terjadi.
"sebaiknya kita sampaikan kondisi Jihan dengan sejujurnya karena pasti mereka sangat menunggu kabar ini"
Keduanya melangkah keluar dari ruangan dengan raut wajah serius.
"dok kondisi Jihan gimana, apa dia baik-baik saja?"tanya Ami dengan khawatir.
Kedua dokter tersebut hanya diam sambil saling melirik , hingga suasana menjadi hening sejenak.
Dokter Sinta membuka pembicaraan dengan pelan karena ini kabar sangat menyedihkan.
"sekarang Jihan harus mendapatkan perawatan medis yang lebih komplit, karena kondisinya saat ini semakin drop" ujar dokter Sinta.
Sontak ucapan dokter Sinta sangat membuat hati Ami dan Zidan terpukul , mereka berdua terdiam sejenak.
Ami terduduk dan pundaknya mulai bergetar hingga terdengar suara tangis serta air mata yang membasahi pipi Ami.
Zidan segera menenangkan istrinya mencoba memberi support dan keyakinan jika Jihan pasti sembuh.
"kalau tidak dibawa keluar negeri saja supaya mendapatkan perawatan medis yang lebih komplit dan canggih"gumam Ami .
Zidan berfikir sejenak omongan istri nya benar juga.
"saat ini kita akan melakukan tindakan imunterapi supaya terbentuk imun tubuh yang kuat agar bisa melawan sel kanker yang mulai menyebar.
"baiklah kalau begitu, kita doakan saja yang terbaik untuk Jihan" ujar dokter Sinta.
Para suster mulai mempersiapkan beberapa obat untuk tindakan imunterapi yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi.
Dokter Sinta dengan 2 suster membuka pintu sembari mendorong brangkar menuju ruang kemo .
Ami menutup mulutnya agar suara isakan nya tak terdengar oleh orang lain.
Wajah Jihan nampak begitu pucat.
JANGAN LUPA VOTE KOMEN TAMBAH FAVORIT YA.
TERIMA KASIH UNTUK KALIAN YANG SUDAH MAMPIR KE CERITA AKU.
SEMOGA DILANCARKAN DALAM SEGALA URUSAN BAIK 👍👍👍💜
__ADS_1
SEMANGAT TERUS NULISNYA PARA AUTHOR 💪💪💪😀