
Dika menangis didepan makam Angel ,luka yang sedari lama telah sembuh kini terbuka kembali.
Jihan berusaha menenangkan Dika , Jihan tau yang Dika rasakan bukan hal yang mudah apalagi ini kali kedua itu sangat tak mudah untuk ia jalani.
Jihan menguatkan hati nya untuk merubah Dika menjadi seperti dulu lagi,ia tak mau jika Dika terlalu lama larut dalam kesedihan.
"udah jangan nangis lagi, senyum dong hehe" sembari mengusap air mata Dika.
Dika hanya diam sambil menatap bola mata Jihan yang berada tepat di hadapan nya.
Lalu senyum tipis terukir namun hanya sekejap.
Wajahnya kembali suram ,Jihan menghela nafas gusar harus bagaimana lagi untuk membuat Dika tersenyum kembali.
"Pulang aja yuk udah sore ,nanti Tante Dian khawatir Lo belum pulang,Lo juga harus istirahat biar fikiran dan raga Lo sehat" Jihan mengandeng tangan Dika melangkah meninggalkan makam Angel .
Tadi Dika sudah mendoakan Angel agar ia tenang disana sambil curhat sedikit.
Jihan dan Dika masuk kedalam mobil, dengan santai Jihan menancap pedal gas menuju rumah Dika untuk mengantarkan nya pulang terdahulu.
Oma memperhatikan mimik wajah Dika yang suram seperti banyak kabut yang menutupi wajah tampan nya.
Pandangan nya juga kosong , Oma tau jika Dika masih terpukul dengan kepergian Celsi.
Oma sudah ihklas karena ia tak mau cucu nya tidak tenang karena masih ada orang yang belum mengikhlaskan kepergian nya.
Awalnya juga Oma Mira sulit untuk percaya kepada kenyataan yang ada tapi ia sekarang sadar jika yang hidup pasti akan mati pergi meninggalkan dunia ini.
Ditambah lagi ia sudah tak punya saudara karena semua anggota keluarga nya sudah berpulang ke Rahmatullah.
Oma selalu percaya jika sebelum manusia diciptakan garis takdir sudah tercipta sebelum ia dilahirkan ke dunia ini.
Ihklas tidak ihklas harus ihklas karena itu semua sudah takdir dari sang Kuasa alam semesta.
Manusia tak bisa berbuat apa-apa bila Allah telah berkehendak.
"Dika "tak ada sahutan dari sang empu yang sedari tadi menatap ke luar melalui jendela mobil.
"Dika" panggil Oma lagi ,kali ini Dika menengok ke arah Oma dengan wajah tanpa ekspresi.
Oma tersenyum lalu mengusap kepala Dika .
" Dika "Oma tau kamu sedih tapi jangan terlalu berlarut-larut,kamu harus ingat pesan terakhir dari Celsi kamu harus apa"
Ucapan Oma Mira mengingat kan dirinya akan adanya surat terakhir dari Celsi , amanah yang Celsi tulis mungkin dengan itu Dika bisa kembali tersenyum seperti dulu.
Dika tersenyum tipis lalu melirik ke arah Jihan yang sedang fokus menyetir.
__ADS_1
Ia pandang Jihan dari belakang.
"Kalian kenapa kompak banget liatin aku" ujar Jihan dengan suara ragu mendapati Oma Mira dan Dika kompak menatap dirinya yang sedang fokus menyetir.
"bisa kan kalian jalani amanah Celsi ?"
Dika dan Jihan sama-sama terdiam keduanya mencerna ucapan Oma Mira dalam-dalam.
Menurut Jihan ini bukan perkara yang mudah karena ia tau jika Dika susah move on, terlebih lagi dia sudah dua kali ditinggalkan oleh wanita yang paling ia cintai.
"kok malah pada diam aja , Han pinggirin mobilnya"
Jihan menuruti ucapan Oma karena baru ia membuka mulut Oma sudah mengisyaratkan untuk diam.
Jihan memarkirkan mobilnya di depan Indomaret lalu semua terdiam Jihan menundukkan kepalanya sedangkan Dika terus menatap keluar dari jendela mobil.
Oma Mira menghela nafas panjang bagaimana tidak yang ada dihadapannya kali ini para anak muda yang disatukan oleh amanah terakhir dari cucunya.
"Oma tau ini berat untuk kalian berdua ,tapi tak ada salahnya jika dijalani karena permintaan terakhir sebelum cucu Oma menutup mata untuk selamanya"
"Oma harap kalian mau ,jika tidak ada rasa diantara kalian setidaknya kalian tidak mengecewakan Celsi "
Oma Mira menatap keduanya secara bergantian.
"kamu mau kan Han?"
"gimana Dika?"
"iya Oma aku gak mau Celsi sedih karena permintaan terakhir nya gak dijalani"
Oma Mira tersenyum menatap kedua nya ,mungkin pikiran Dika mulai tenang dan kembali seperti semula.
"tapi maaf kalau aku belum ada rasa sama Jihan ,aku lakuin ini demi Celsi gak lebih" kata Dika lagi.
"iya tau" singkat Jihan .
"jalani saja dulu masalah rasa bisa datang belakangan" cicit Oma Mira diiringi tawa kecil.
Mereka kembali kejalan raya , melanjutkan perjalanan menuju rumah Dika.
"ehem"
"ada apa Oma" ujar Dika dan Jihan secara bersamaan, mengundang tawa Oma Mira.
"kalian memang cocok" sambil menahan tawa mendapati ekspresi wajah mereka berdua yang tak jauh berbeda.
"sudah sampai"tutur Jihan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Dika .
__ADS_1
Dika keluar dari mobil lalu berjalan masuk kedalam rumah sedangkan Jihan langsung pulang karena hari semakin petang takutnya ibu Ami khawatir akan keadaan putrinya.
Tak butuh waktu lama Jihan tengah sampai dirumah , perlahan ia berjalan masuk kedalam rumah bersama Oma Mira yang senantiasa berpegangan tangan dengan nya.
"assalamualaikum" ujar keduanya telah sampai di ruang tengah namun tak ada tanda-tanda orang.
Ponsel Jihan berdering tertera nama ibu dengan segera ia menekan tombol hijau.
Mulai berbincang ternyata Ami sedang menemani Zidan miting di Medan.
Jihan memaklumi itu lalu ia memberi tau jika Oma Mira ada dirumah .
"Ibu di Medan berapa hari?"
"paling 3 hari sayang setelah itu akan langsung pulang , kamu baik-baik disana ya "
" iya Bu ,ibu sama ayah juga baik-baik di Medan jaga kesehatan dan semoga bisnis nya lancar" ujar Jihan sambil tersenyum lebar hingga matanya menyipit.
"amin, siap tuan putri"
Lalu mengakhiri panggilan telepon,Oma Mira yang melihat interaksi antara ibu dan anak membuat dirinya teringat semasa hidup putranya.
Kini sudah tak ada lagi yang membuat dirinya tertawa lepas ,menjalani kehidupan dengan canda tawa seperti orang lain.
Harusnya masa tua ia jalani bersama anak dan cucunya namun takdir berkehendak lain ,dan ia tak bisa mengubah takdir.
"Oma" panggil Jihan sambil mengibaskan tangannya didepan wajah Oma Mira .
"Oma ngelamun ya, Oma jangan sedih disini masih ada Jihan yang akan selalu ada untuk Oma anggap saja aku cucu Oma. Aku juga akan begitu"
lalu memeluk Oma Mira.
Oma Mira menitihkan air mata , ternyata didunia ini masih ada orang sebaik Jihan .
"Oma bersih-bersih dulu ,aku masak buat makan malam oke"
"baiklah Oma akan mandi terlebih dahulu ,kamu butuh bantuan masak gak"
"tidak usah Oma ,aku masih sanggup masak sendiri "
seusai itu Jihan berjalan kedapur lalu memilih beberapa bahan dari dalam kulkas.
**Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂
Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍💜🤗🤗🤗
Ayo para author semangat terus nulisnya 💪💪💪💪💪😀**
__ADS_1