
Seorang dokter menghampiri mereka bertiga dengan raut wajah datar.
"dokter gimana kondisi anak saya?hiks...."
Dokter menghela nafas panjang.
"kondisi nya saat ini kritis, dan saya akan memeriksa kondisi menyeluruh karena yang saya lihat ada kerusakan pada ginjal bagian kanannya"
Yuni syok , tiba-tiba pandangan mata nya kabur dan terasa gelap.
Yuni pingsan dengan segera Ami memangku kepala Yuni,lalu menepuk-nepuk pipinya.
Sifa yang ada disitu ikut panik, dengan bantuan dokter mereka merebahkan tubuh Yuni diatas kursi.
Ditengah kepanikan ada satu suster keluar dari ruangan dengan wajah cemas.
"dokter kondisi pasien menurun"
"astaga baiklah saya akan segera masuk , permisi"lalu beranjak dan masuk ke dalam ruangan.
"suster siapkan Defibrilator segera" pungkasnya sembari memeriksa detak jantung Kai.
"baik dok"dengan sigap menyiapkan Defibrilator permintaan dokter.
___________
Ruang kemo.
"dok kondisi pasien menurun" ucap suster yang diperintahkan untuk memantau monitor.
"Siapkan Defibrilator sekarang"
_______
Alam berbeda.
Dalam ruangan gelap hanya ada sorot sinar dari sudut ruangan namun begitu terang.
Sosok pria berdiri membelakangi seorang pintu masuk,ia sedang memandangi sinar yang begitu terang disebrang sana.
Dengan langkah perlahan wanita cantik tersebut sampai dan berdiri di belakang sipria.
Selang beberapa saat pria itu berbalik dan terlihat jelas wajah tampan yang paling ia kenal .
Dia tersenyum manis mendapati wanita didepannya.
Jihan membalas senyuman manis Kai dengan senyuman manis sampai matanya menyempit.
Kai mengulurkan tangannya dengan yakin Jihan menggapai uluran tangan Kai diiringi senyum manis yang tak luntur ia perlihatkan.
Keduanya perlahan berjalan sesekali saling melirik.
Tak ada pembicaraan diantara mereka berdua, seolah-olah hati dan mata mereka saling berbicara .
"tunggu"dua suara wanita menghentikan langkah keduanya.
Mereka menengok ke belakang lalu mendapati dua sosok seorang ibu berdiri berdampingan dengan raut wajah memohon.
Kai dan Jihan tersenyum manis kepada mereka berdua.
__ADS_1
"tolong jangan tinggalkan kami , kembalilah bersama kami" ucap Ami dengan suara lembut.
"Kai kembalilah bersama mama,ayo sayang"
sembari mengulurkan tangan ingin memeluk tubuh Kai yang berjarak 1 meter dari tempat mereka berdiri.
Sedangkan dibelakang Kai dan Jihan tepatnya di tempat yang bersinar terang terlihat 4 orang 2 perempuan 2lelaki mereka sama-sama sudah disebut dengan kakek dan nenek.
Kai dan Jihan menengok ke arah sinar tersebut dengan senyuman manis.
Ami dan Yuni kompak menggelengkan kepala takut Jihan dan Kai akan ikut dengan keempat orang yang dengan wajah bersinar terang.
"tidak, tolong jangan bawa Jihan dan Kai"titah Yuni dengan sekuat tenaga membendung air mata nya supaya tidak tumpah.
Mendengar ucapan Yuni, Kai dan Jihan menengok ke arah Ami dan Yuni.
Terlihat mata mereka mulai berkaca-kaca, entah mengapa ada rasa sakit dihati Jihan dan Kai kala melihat dua seorang ibu menitihkan air matanya.
Kai dan Jihan berjalan menghampiri Ami dan Yuni yang sedang menunduk kan kepala sambil menitikkan air mata.
Dengan lembut Kai menghapus air mata mama Yuni diiringi senyum manis, begitu juga dengan Jihan.
"ayo kembali lah"ujar Yuni lagi dengan lirih.
Kai tersenyum lalu menengok kearah kakek dan nenek nya yang tersenyum manis.
"Jihan ayo pulang sama ibu"
Jihan mengangguk kan kepala.
Ada rasa bahagia menyeruak didalam hati mereka.
Lalu perlahan sosok mereka menghilang dengan sekejap tanpa meninggalkan jejak.
Akhirnya mereka berempat berjalan menuju pintu.
___________
Alam nyata.
"Alhamdulillah dok kondisi pasien sudah stabil"
Secara bersamaan kondisi Jihan dan Kai stabil , dokter pun menghela nafas lega.
Kegiatan imunterapi kembali berjalan , sedangkan dokter yang menangani Kai meninggalkan ruangan untuk memberikan kabar kepada keluarga pasien.
Mendengar dokter bicara bahwa Kai bisa dijenguk namun harus satu persatu membuat Yuni tersenyum tipis lalu masuk kedalam ruangan.
Dengan langkah berat ia tiba disamping brangkar Kai.
Air mata nya kembali menetes ,melihat kondisi Kai yang pucat ,lemah dan ada beberapa alat medis yang melekat di tubuh nya.
"Kai mama yakin kamu kuat, cepat sadar ya mama akan tunggu kamu disini jangan pernah merasa sepi dan sendirian karena mama akan selalu ada didekat kamu" bisik Yuni ditelinga Kai.
Tanpa ada respon lain , hanya mata Kai meneteskan air mata hingga beberapa kali.
Yuni yang melihat itu yakin jika Kai mendengar setiap kata yang ia ucapkan.
Yuni mengengam tangan Kai sesekali menciumi tangan tersebut diiringi senyum tipis dan air mata yang luruh membasahi pipinya.
__ADS_1
____________
Ruangan Celsi.
Tiba-tiba ponsel Dika berbunyi menandakan ada notifikasi masuk.
Segera ia melihat ponselnya, ternyata dari grup friends.
Terdapat ada yang mengirimkan video cctv didalam grup , ada banyak juga yang sedang membicarakan tentang video yang dikirim oleh salah satu anggota grup.
Dika melihat video tersebut dari awal ekspresi wajah nya masih biasa saja namun saat tinggal beberapa durasi ia sangat kaget hingga menutupi mulutnya dengan tangan kanan.
Celsi yang melihat perubahan ekspresi Dika langsung ikut penasaran,lalu Celsi merebut ponsel milik Dika.
Celsi langsung terkejut lalu tertulis dibawah video jika Kai saat ini sedang membutuhkan donor ginjal, karena kecelakaan itu menyebabkan salah satu ginjal Kai rusak.
"aku mau liat Kai"ucap Celsi singkat lalu ingin beranjak dari tempat tidur nya namun ia tak ada tenaga.
Dika juga menahan tubuh Celsi supaya tetap berbaring.
"gak bisa aku harus liat kondisi Kai dan Jihan mereka adalah sahabat terbaik aku hiks....hiks....hiks ....."
"iya aku tau tapi kondisi kamu juga belum stabil total ,biar aku yang jenguk mereka nanti aku kasih kabar kekamu ok sayang"
"ada apa, kenapa kalian terlihat sangat tegang?"tanya oma Mira yang baru masuk.
"gini Oma Kai kecelakaan sekarang sedang kritis di IGD"tutur Kai dengan suara lembut.
Oma Mira ikut kaget mendengar kabar tersebut.
Dika pamit keluar dari ruangan dan meninggalkan Celsi,Oma Mira serta bi Eni.
Dika berlari menuju ruang IGD, sampai ia terngeh-ngeh .
Orang pertama yang langsung masuk kedalam indera penglihatan nya adalah Sifa .
Dika bingung kenapa bisa Sifa berada dirumah sakit .
"assalamualaikum"sapa Dika dengan sopan.
"wa'alaikum salam ,Dika ya?" jawab Ami dengan ramah.
Dika menganggukkan kepalanya lalu duduk disamping Ami.
Selang beberapa menit Yuni keluar dari ruangan sembari menyeka air mata yang terus membasahi pipinya.
"Tante apa benar Kai harus mendapatkan donor ginjal?"
Yuni menganggukkan kepala mengiyakan pertanyaan Dika.
Suasana hening mereka terfokus dengan pikiran masing-masing.
Hingga datang suster dan dokter sembari mendorong brangkar menuju ruangan yang tak jauh dari ruang IGD.
**Jangan lupa vote,komen, tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂🙂
Semangat terus nulisnya para author 💪💪💪💪💪😀**
__ADS_1