
Ami langsung menghampiri Zidan yang ikut mendorong brangkar tersebut.
Ternyata itu Jihan , karena sudah selesai Jihan dibawa keruangan yang berdampingan dengan ruang IGD.
Ami melihat putrinya belum sadarkan diri.
Yuni meraih handphone miliknya dari dalam tas, memilih kontak lalu menekan tombol telepon pada satu nomor.
"assalamualaikum,halo"dengan suara bergetar.
"wa'alaikum salam ma , apa kabar papa lusa pulang ke rumah ya"
"hiks.....hiks....hiks....."
"mama kenapa menangis,apa ada sesuatu yang terjadi disana?"
tanya Rangga dengan khawatir.
"Kai pa hiks.... hiks....hiks.... Kai ketabrak mobil hiks......"Yuni tak mampu menahan tangisnya.
Andaikan Rangga ada disampingnya ia akan memeluk tubuh istrinya namun karena pekerjaan yang membuat mereka harus berjarak.
Rangga yang mendengar perkataan Yuni kaget rasa cemas menyusup ke dalam hatinya.
Belum selesai berbincang dengan suaminya ,datang Kevin yang dengan segera memeluk tubuh Yuni dengan erat.
"papa akan percepat pekerjaan disini sebisa mungkin besok pagi papa sudah sampai di Jakarta"
Yuni tak menjawab perkataan Rangga ia hanya menangis dalam dekapan putra sulungnya.
Kebetulan Kevin tidak datang sendirian ia datang bersama Keyla .
Keyla menghampiri Sifa yang sedang duduk di kursi sembari menunduk kan kepala.
"kakak ini salah aku hiks......hiks....hiks......"
Keyla yang mengerti suasana hati Sifa langsung ia peluk.
Disitulah tangis Sifa pecah , menurut nya sampai saat ini tempat paling nyaman untuk berkeluh-kesah adalah pelukan Keyla.
Keyla sangat peka akan kondisi hati maupun permasalahan adiknya, walaupun terkadang jarak memisahkan mereka namun ikatan batin nya sangat kuat .
"jangan menyalakan diri sendiri itu hanya akan membuat kamu sakit, ini semua terjadi karena ini alur jalan hidup . kamu boleh bersedih tapi jangan berlarut-larut karena disetiap musibah atau pun peristiwa yang terjadi itu itu adalah dimana kita mengambil pelajaran baik "
"ambillah pelajaran yang baik disetiap peristiwa itu akan membuat kita mengerti dan memahami hidup ini untuk apa" lanjut nya.
Sifa menganggukkan kepalanya namun masih enggan melepaskan pelukan Keyla.
"sudah berdoa saja yang terbaik untuk kesembuhan Kai ,kakak yang Allah tidak tidur dia selalu mendengar doa-doa maupun keluh-kesah dihati kita"
Mendengar ucapan Keyla Sifa sedikit tenang , air matanya juga sesekali ia seka dengan tangan nya sendiri.
Keyla mengusap kepala Sifa dengan lembut.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Sinar mentari mulai
menyinari bumi.
Yuni masih duduk dengan kepala yang masih menunduk ,ia duduk didepan ruangan diiringi isakan lirih.
"assalamualaikum mama"sapa seorang lelaki yang langsung memeluk tubuh istrinya.
Yuni menangis dalam dekapan hangat Rangga.
"wa'alaikum salam papa hiks....hiks...hiks....."
"mama yang tenang ,papa yakin Kai tidak apa-apa" ujarnya dengan lembut sembari memeluk dan mengusap kepala Yuni dengan lembut.
Yuni mengeratkan genggaman ke jas yang Rangga kenakan.
"tenang ma"
"hiks...hiks...hiks...pa mama takut pa hiks..."
"iya papa tau mama khawatir, kita doakan saja yang terbaik untuk kesembuhan Kai ya" lalu kembali mengusap punggung Yuni.
Setelah dirasa tenang Yuni melepaskan pelukan Rangga , dengan lembut Rangga mengusap pipi Yuni yang basah.
"udah mama jangan nangis lagi,kita doakan saja yang terbaik untuk Kai ya . Kai juga akan sedih kalau melihat mama terus menangis"
Yuni menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dan mencoba mengatur nafas karena sesegukan.
"assalamualaikum"
Yuni dan Rangga menengok ke arah mereka.
"gimana kondisi Kai Tante ,om?"
"masih belum sadar , apa kabar Celsi maaf om belum sempat menjenguk kamu"
"iya gak papa om,aku ikut sedih atas kejadian yang menimpa Kai semoga dia cepat sembuh"dengan suara lirih, wajah Celsi masih terlihat pucat.
Ia juga masih mengunakan alat bantu pernapasan serta infus.
"kenapa kepala ku terasa sakit"batin Celsi .
"Celsi semoga kamu juga cepat pulih ya"titah Yuni mencoba menetralkan suara serak akibat ia menangis terus -menerus.
Celsi dan Dika sama-sama tersenyum ,namun rasa sakit kini terus terasa hingga ia tak mampu menahan nya lagi.
"aww sakit"ucap nya lirih ,Dika yang mendengar ucapan Celsi langsung panik.
"kita balik ke ruangan aja ya"lalu membuka kunci kursi roda,namun rasa sakit yang ia rasa semakin terasa.
"Om Tante pamit dulu assalamualaikum" dengan panik ia mendorong kursi roda karena Celsi sudah merintih kesakitan.
Baru menyusuri koridor pandangan mata Celsi sudah gelap dan tubuh nya terasa lemas.
Dika yang melihat Celsi tak sadarkan diri langsung panik dan dihampiri seorang dokter dan suster.
__ADS_1
"pasien harus segera dibawa keruangan"
Akhirnya Dika membopong tubuh Celsi berlari keruang ICU dengan cepat.
"suster tolong panggil dokter Raffi" pinta dokter lalu mengikuti Dika dari belakang.
Tiba didalam ruangan,Dika meletakkan tubuh Celsi dengan perlahan.
Dokter dengan sigap memasang kan kembali alat medis ketubuh Celsi sedangkan Dika diminta keluar dari ruangan.
Dika menunggu diluar sembari mengusap rambutnya dengan frustasi.
Didalam ruangan dokter Raffi dan dokter Siska memeriksa keseluruhan kondisi Celsi.
"dokter Siska dikepala pasien ada darah yang menggumpal ,kita harus melakukan pengambilan darah tersebut"
"iya dok saya setuju,suster siapkan ruang operasi"
"baik dok" lalu suster keluar dari ruangan dengan cepat Dika menghampiri suster yang sedang berjalan terburu-buru.
"bagaimana kondisi Celsi saat ini sus?"
Belum sempat suster menjawab Oma Mira menghampiri mereka berdua yang sedang panik.
"assalamualaikum,ada apa . Kenapa kalian seperti panik sekali" sahut Oma Mira yang penasaran.
"pasien harus segera dioperasi karena ada pengumpulan darah di otak pasien, mohon ditanda tangani surat dan segera diselesaikan administrasi nya saya permisi" pungkas suster lalu melangkah pergi meninggalkan Dika dan Oma Mira.
"baiklah dok , saya akan tanda tangani dan menyelesaikan administrasi nya tolong lakukan yang terbaik untuk cucu saya sus" ucap Oma Mira lalu menuju bagian administrasi.
Setelah semua siap kini tinggal Celsi dibawa keruang operasi yang tak jauh dari ruang IGD.
Perlahan brangkar Celsi didorong keluar dari ruangan dengan dua dokter dan satu suster.
Saat tepat berada didepan ruangan Dika memberhentikan brangkar tersebut.
Dika mengengam tangan Celsi lalu berbisik ketelinga Celsi,entah karena apa perlahan Celsi membuka matanya.
Celsi tersenyum melihat Dika dan Oma Mira didepannya.
"kamu harus sembuh ,aku selalu menunggu kamu disini"lalu mencium tangan Celsi ,dibalas senyum tipis terukir di bibir Celsi.
"Dika ,Oma"
"iya ada apa?"keduanya kompak menjawab .
"kalau ada apa-apa yang terjadi sama aku tolong donor kan ginjal ku untuk Kai "
"kamu akan baik-baik saja Celsi "
"Dika Oma kalau aku banyak salah,aku minta maaf"
Ucap Celsi dengan suara lemah.
**Jangan lupa vote, komen, tambah favorit ya 🙂
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.
Semangat terus nulisnya para author 💪💪💪💪**.