JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 47


__ADS_3

"Asyhadu an laa ilaaha illalah" lalu nafas Celsi mulai rusuh dan tangan nya tak berdaya.


Dokter segera memeriksakan kondisi Celsi secara menyeluruh.


"inalillahi wa innailaihi raji'un, pasien sudah berpulang"ujar dokter Raffi.


Oma Mira dan Dika langsung menangis mereka masih tak percaya apa yang diucapkan oleh dokter.


"Celsi bangun ,aku mohon hiks......kamu janji akan selalu ada di sisiku . Ayo buka mata kamu hiks.... hiks....hiks...." kata Dika dengan air mata yang membasahi pipinya.


"Celsi "kenapa kamu tinggalin Oma sendiri ,Oma sudah tak punya siapa-siapa lagi disini hiks...hiks...hiks..."


Keduanya sangat sedih dengan kepergian Celsi namun ini semua sudah takdir dan tak ada seorangpun yang bisa melawan takdir dari sang kuasa.


Mungkin ini yang terbaik untuk Celsi .


"maaf kami akan segera membersihkan jenazah ,dan mengenai pesan terakhir jenazah apa disetujui oleh anda?" tanya dokter Sinta.


Oma jadi teringat ucapan Celsi yang tadi.


"iya dok ,saya setuju saja itu kan permintaan terakhir cucu saya"


"baiklah kalau begitu kami akan menyiapkan ruang operasi dan memberitahu keluarga pasien yang bernama Kai "


__________


"bagaimana kondisi anak saya dok?"


"pasien harus segera mendapatkan donor ginjal karena ginjalnya semakin tak memungkinkan untuk bertahan"


Yuni menutup mulutnya dengan tangan lalu air matanya lirih dengan begitu saja membasahi pipinya.


Rangga membawa Yuni kedalam dekapan hangat nya sambil mengusap punggung Yuni dengan lembut.


"permisi dokter"sapa seorang suster.


"Ada pendonor ginjal untuk pasien Kai, sekarang sudah disiapkan ruang operasi"


"baiklah kalau begitu ayo segera kita lakukan operasi, tolong bapak tanda tangan disini" lalu menyerahkan satu map berwarna kuning.


Dengan segera Rangga meraih map tersebut dan langsung menanda tangani surat tersebut.


"lakukan yang terbaik untuk anak saya dok"


"pasti pak kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien. Jangan lupa bantu doanya" pungkas dokter lalu kembali masuk ke dalam ruangan.


Rangga masih senantiasa mengusap pundak Yuni.


"assalamualaikum ma,pa"


"wa'alaikum salam" keduanya kompak menjawab sapaan Kevin.


"Kevin hiks....hiks...hiks....." Yuni lalu memeluk Kevin dengan erat.


Dokter keluar dari ruangan sembari mendorong brangkar menuju ruang operasi.


"dok tunggu sebentar" ujar Yuni menahan brangkar.


"Kai hiks...hiks ...hiks...."


Yuni meraih tangan Kai lalu menciumnya dengan lembut.

__ADS_1


Diiringi suara isakan lirih yang keluar dari bibirnya.


Rangga tetap berada disamping Yuni sembari menenangkan istrinya yang kini tengah sedih.


"Kai "papa tau kamu anak yang kuat jadi berjuang lah kami disini menunggu mu"bisik dalam hati Rangga.


"mari suster,maaf ibu kami harus segera melaksanakan tindakan operasi dimohon kerja sama nya ibu "titah Dokter lalu mendorong brangkar menuju ruang operasi yang tak jauh.


Rangga,Yuni,Kevin mengikuti dari belakang dengan langkah pelan.


Rangga membimbing langkah Yuni yang terus menangis.


Tiba didepan ruangan dokter membuka pintu lalu mendorong brangkar masuk ke dalam ruangan.


Mereka bertiga menunggu didepan ruangan.


Lampu operasi sudah dinyalakan hati dan jantung Yuni sudah tidak karuan. Tangan nya gemetar khawatir dengan operasi yang akan dilaksanakan.


Satu lampu sudah dimatikan ,serentak mereka bertiga menengok ke arah lampu.


________


Ruangan Jihan.


Wajah pucat tanpa ekspresi terlihat jelas didepan mata Ami.


"Jihan" bangun sayang ,ibu kangen sama kamu" ujar nya lirih.


tes....


Satu bulir bening mengalir dari kedua pelupuk matanya menetes kedua pipi Ami.


Ami mengusap tangan Jihan dengan lembut lalu mencium nya lama.


Berujung tangannya bergerak,Ami melihat itu langsung memanggil dokter supaya memeriksa kondisi Jihan.


Siang pun berganti sore kini operasi yang dilakukan sudah selesai dan Oma Mira juga akan segera melaksanakan pemakaman.


Oma Mira didampingi Dika telah berdiri didepan liang lahat.


Air mata keduanya luruh begitu saja membasahi pipi Dika dan Oma Mira.


Jenazah Celsi mulai diturunkan kedalam liang lahat.


"Celsi hiks ....hiks. ...hiks....." tutur Oma Mira diiringi tangisan.


Dika selalu mengusap pundak Oma,ia tau Oma Mira sangat sedih bahkan lebih dari itu .


Oma Mira sudah tak tau perasaannya saat ini ,ia sangat terpukul dengan kepergian menantu dan anaknya. Sekarang ia harus kehilangan cucu satu-satunya .


Ia seperti sudah kehilangan semangat hidup, untuk apa banyak harta tapi tak ada orang yang ia sayangi disisinya.


Tanah mulai menutupi tubuh Celsi air mata terus mengalir dengan deras .


Seusai itu pak ustadz mulai membaca doa, semua mengaminkan doa psk ustadz.


Dengan air mata yang masih mengalir Oma Mira mengaminkan doa dari pak ustadz.


Setelah selesai semua orang meninggalkan tempat pemakaman dan menyisakan pak ustadz serta Oma Mira dan Dika yang masih setia duduk didepan batu nisan Celsi.


Dengan tangan gemetar Oma Mira menyentuh batu nisan bertulis nama cucunya.

__ADS_1


Air mata begitu luruh mengalir dari pelupuk matanya.


"ibu saya ikut berduka cita sedalam-dalamnya atas kepergian almarhumah celsi ,semoga dilapangkan kuburnya serta diberi tempat disisi sang maha kuasa"


"terima kasih atas doanya pak ustadz" jawab Oma Mira.


"Celsi kenapa kamu tinggalin aku hiks.....hiks .....hiks....." bisiknya dalam hati.


"nak Dika ihklas kan kepergian almarhumah , supaya tenang disana. Semua manusia memang akan kembali kesisi sang maha pencipta."ujar nya lagi.


Dika hanya diam sembari mendengarkan ucapan pak ustadz.


"kalau begitu saya pamit pulang dulu, semoga diberi kesabaran, keihklasan, dan ketabahan "


"iya pak ustadz terima kasih doanya" jawab Dika dengan lirih.


"assalamualaikum"


"wa'alaikum salam"


________________


Rumah sakit.


Kini keluarga Rangga tengah menunggu Kai didepan ruangan ICU dengan hati yang gelisah Yuni terus mengigit jari telunjuk nya untuk melampiaskan kekhawatiran.


"assalamualaikum"


sapa Sifa dengan sopan lalu mencium tangan Yuni dan Rangga.


"wa'alaikum salam"


"Sifa"


lalu memeluk Sifa dengan erat.


Sifa mengusap punggung Yuni dengan lembut.


Lalu mengurai pelukan mereka.


"Tante yang tenang ,aku yakin Kai akan baik-baik saja" Yuni hanya menganggukkan kepalanya, Sifa menghapus air mata Yuni dengan ibu jarinya perlahan.


"sus gimana kondisi Kai?" tanya Kevin.


"Alhamdulillah pasien sudah sadar sekarang sedang mencari ibunya, silahkan masuk ibu sudah ditunggu"


Yuni beranjak dari tempat duduk lalu mulai melangkah ke dalam ruangan.


Dari ambang pintu terlihat wajah pucat dan senyum tipis Kai.


Yuni membalas senyuman anaknya lalu memeluk tubuh Kai yang masih terbaring lemah diatas brangkar.


"Kai kamu baik-baik saja sayang hiks...hiks...hiks..."


Kai menganggukkan kepalanya dan masih tersenyum kepada ibunya yang kini tengah menangis haru melihat dirinya tersadar.


Yuni menghapus air mata nya lalu mencium kening Kai dengan lembut sang empu hanya bisa tersenyum tipis tanpa mengeluarkan sepatah kata.


**Jangan lupa vote komen tambah favorit ya 🙂


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.

__ADS_1


Semangat terus nulisnya para author 💪💪💪😀**.


__ADS_2