JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 32


__ADS_3

"sus siapkan Defibrilator(alat kejut jantung)"perintah dokter Sinta langsung dijalankan oleh suster dengan cepat.


"ok 123" aba-aba dokter Sinta.


Sampai berkali-kali hingga detak jantung Jihan berjalan stabil.


Setelah stabil dokter dan suster merasa lega dan bersyukur karena bisa menyetabilkan kondisi pasien.


Beberapa saat kemudian detak jantung Jihan kembali menurun ini membuat dokter khawatir jika kondisi pasien selalu naik turun bagaimana caranya untuk menjalankan kemo terapi .


Sedangkan kemo terapi membutuhkan kondisi pasien yang stabil .


Dokter Sinta keluar menemui kedua orang tua Jihan serta Kai.


Dengan raut wajah susah diartikan dokter Sinta keluar dari ruangan.


"bagaimana keadaan Jihan dokter?"tanya Kai yang langsung menghampiri dokter Sinta .


"kondisi Jihan menurun, apa dia tadi terlalu banyak berfikir?"


"seperti nya pasien terlalu banyak pikiran dan itu menyebabkan kondisi nya menurun serta membuat pasien tak stabil. Yang saya takutkan adalah bila kondisinya seperti ini terus maka penyakit yang ia derita akan menyebar dengan cepat"


lanjut nya lagi.


Ami yang mendengar perkataan Dokter Sinta tak mampu berbicara hanya ada air mata yang mengalir serta isakan.


Zidan menepuk-nepuk punggung istrinya dengan lembut supaya ia berhenti menangis, kalau boleh jujur Zidan juga merasa khawatir yang amat dalam.


Sedangkan Kai terpaku mendengar penjelasan dokter Sinta.


Pikiran negatif itu kembali muncul.


Ponsel disaku jaketnya berdering dengan segera ia menekan tombol hijau melangkah menjauh.


"assalamualaikum ma"


"wa'alaikum salam,Kai bagaimana keadaan Jihan sekarang,mama mau kesana sama kak Kevin"


"menurun ma,nama cepetan kalau mau kesini aku tunggu ya ma. Assalamualaikum" mengakhiri panggilan sepihak.


Kai kembali bergabung didepan ruangan.


"lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengembalikan kondisi Jihan dok" tanya Kai.


"itu hanya Jihan yang bisa karena pikiran itu masih ada dan selalu dia pikirkan akan membuat kondisi nya semakin menurun. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembuhkan Jihan sebaiknya kita doakan yang terbaik untuk kesembuhan Jihan"


"assalamualaikum" sapa Yuni yang datang bersama Kevin.


"wa'alaikum salam"jawab mereka yang ada di depan ruangan.

__ADS_1


Yuni duduk disamping Kai lalu mengusap kepala anaknya dengan lembut diiringi senyum manis.


Kevin duduk disamping Yuni dan diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Kai memeluk tubuh ibunya dengan erat berusa mencurahkan isi hati yang saat ini sedang tak baik.


"mama khawatir sama kamu dari kemarin gak pulang kerumah. Sore ini kamu pulang ya sama mama kamu harus istirahat lihat wajah kamu begitu suram" Yuni menakup wajah Kai dengan kedua tangan nya.


Kai menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, dan ia hanya diam.


"Kai sebaiknya kamu pulang kamu istirahat yang cukup dulu paman takut kamu ikut sakit karena kurang istirahat. Biar nanti malam paman yang jagain Jihan ya pulang lah" ujar Zidan.


Kai menengok ke arah Zidan namun ia lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Yang Kai inginkan hanya menemani Jihan hingga Jihan tersadar dan sehat kembali seperti semula.


Yuni memeluk Kai lagi mengusap-usap kepala sibungsu dengan lembut, mencoba menentramkan hati anaknya yang saat ini sedang dalam kondisi sedih.


Kai sangat nyaman kala dalam dekapan Yuni , yang selalu membuat hati dan pikirannya tenang.


"Kai pulang tar Lo sakit , malah gak bisa jagain Jihan disini nurut deh sama mama" ucap Kevin dengan nada datar serta raut wajah datar pula.


Kai menengok ke arah Zidan dan Ami yang tersenyum kepadanya.


"baiklah aku akan pulang tapi paman sama bibi kabari aku kalau ada apa-apa jangan sungkan" ujar Kai dengan berat hati ikut pulang dan makam ini ia tak menemani Jihan.


Tiba-tiba suster keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa memanggil dokter Sinta yang sedang memeriksa pasien lain.


"sus pantau monitor,sus siapkan Defibrilator" titahnya dengan cepat.


"monitor menurun dok"


"ok 123" tubuh Jihan terangkat ke atas kala Defibrilator dilepaskan dari dadanya.


Mengunakan Defibrilator secara beberapa kali akhirnya membuahkan hasil kondisi Jihan kembali stabil.


"Alhamdulillah kondisi pasien sudah stabil sekarang tinggal menunggu dia sadar saya permisi" ucap dokter Sinta kala didepan ruangan.


Kai izin menemui Jihan sebelum dirinya pulang,. dengan langkah lamban Kai memasuki ruangan.


"Han Lo gak cape tidur mulu, Bagun lah gue nungguin Lo disini"


Tak ada respon dari Jihan ,mata Jihan masih terpejam seolah mimpi nya begitu indah.


Kai memegangi tangan Jihan membawanya ke dalam dekapan hangat.


Wajah Jihan nampak pucat dan tak berdaya, hati Kai teriris melihat Jihan terbaring lemah dan ia juga kangen dengan senyum manis serta tawa Jihan yang selalu membuat dirinya nyaman kala didekat Jihan.


Kai tersenyum tipis kala mengingat moment-moment bersama Jihan sejak mereka kecil hingga sekarang.

__ADS_1


"gue pulang dulu ya ,besok gue kesini lagi" pamit Kai lalu beranjak pergi dari ruangan.


Dengan wajah yang masih suram Kai menghampiri Yuni dan Kevin untuk pulang bersama.


"paman bibi aku sama mama dan kak Kevin pulang dulu ya, kalau ada kabar cepat hubungi aku " Lalu mencium punggung tangan Ami dan Zidan dengan senyuman manis.


"assalamualaikum" mereka bertiga melangkah meninggalkan Zidan dan Ami.


Sesampainya di depan rumah sakit mereka segera masuk kedalam mobil berwarna merah milik Kevin.


Kai hanya diam tak bersuara didalam mobil , pikiran nya saat ini hanya tentang Jihan, Jihan dan Jihan.


"Kai jangan murung gitu mana anak mama yang selalu tersenyum manis"


"lagi gak mood senyum ma" jawab Kai tak berpaling dari memandang keluar lewat kaca mobil.


Yuni menarik nafas gusar, bagaimana tidak sejak Jihan sakit anak bungsu nya berubah seperti robot tanpa ekspresi dan seperti tak punya gairah dalam hidup.


"Kai mama yakin Jihan pasti sembuh dia anak yang kuat dan pasti kalau dia liat kamu yang sekarang Jihan sedih. Karena yang ia butuh bukan wajah tanpa ekspresi tapi dia butuh doa dan support agar cepat sembuh dari penyakitnya" penjelasan Yuni didengar secara saksama oleh Kai dan Kevin.


__________


Rumah sakit.


Ruangan IGD .


Dika masih setia memandangi wajah Celsi dan menunggu nya tersadar.


Oma yang melihat Dika sangat kacau , meminta nya untuk pulang.


"tidak Oma aku mau disini saja sampai Celsi sadar"


Oma menghela nafas, apakah anak muda jaman sekarang seperti ini.


Susah dibilangin,ia hanya tak mau anak orang sakit gara-gara menemani cucunya dirumah sakit.


"bunda"panggil Celsi lirih dengan mata masih terpejam.


Dika dan Oma Mira saling memandang.


Dika memanggil dokter Rafi untuk memeriksa keadaan Celsi.


"bagaimana keadaan Celsi?" tanya Oma dengan khawatir.


**Jangan lupa vote, komen, tambah favorit ya 🙂.


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.


Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍👍.

__ADS_1


Mari kita saling mendukung, semangat nulisnya 👍👍👍👍**


__ADS_2