
"ada apa ini kenapa berteriak?" tanya dokter yang tak diketahui oleh Kai dan Jihan.
"gak ada apa-apa dok Jihan takut sama jarum suntik" jawab Kai dengan santai.
Dokter mengernyitkan keningnya lalu tersenyum manis kepada Jihan.
"tak apa Jihan jarum suntik kan kecil gak sakit kok,itu sakit gak?"
Jihan menggeleng kan kepala sambil melirik ke tangan kirinya.
"nah dari itu jangan takut sama jarum suntik, kondisi kamu sudah stabil jadi nanti akan dilaksanakan kemo terapi pertama untuk kamu. Bersiaplah dan jangan khawatir semua akan baik-baik saja" tuturnya diiringi senyum manis lalu meninggalkan ruang IGD.
Kai menemani Jihan diruang IGD karena dokter sedang berbicara dengan Ami dan Zidan.
"apa jarum suntik itu tidak menyeramkan?"
"tentu saja tidak, semua akan baik-baik saja percaya lah"titah Kai yang duduk di samping ranjang Jihan.
Jihan mengangguk ,ia juga mencoba menafikan pikiran negatif nya terhadap jarum suntik.
Keduanya tersenyum manis saling menguatkan karena untuk saat ini Jihan sangat membutuhkan teman agar ia tak berfikir yang tidak-tidak.
"kenapa Lo gak bilang dari kemarin tentang penyakit Lo?" dengan raut wajah sendu.
" gue rasa penyakit gue bakalan sembuh dengan cara minum obat tapi ternyata keadaan gue....."tak melanjutkan ucapannya, Jihan menunduk kan kepala . Namun terlihat jelas jika Jihan bersedih dengan keadaan dirinya sendiri.
Karena sekarang wajahnya begitu pucat seperti mayat hidup serta nafsu makan nya juga menurun drastis.
Jihan juga sering mual-mual , pusing dan kemarin hidungnya mimisan.
Kai menakup wajah Jihan dengan kedua tangan lalu menegakkan kepala Jihan.
Kai tersenyum lalu membawa Jihan kedekapan hangat nya.
Jihan menangis didalam dekapan Kai , cowo yang paling setia dan selalu ada disaat ia sedih atau pun senang.
Kai mengusap rambut Jihan dengan lembut sembari menenangkan Jihan yang masih menangis.
"kalau nanggis bisa buat Lo tenang, Lo ada banyak pikiran bilang kegue .
Gue siap dengarin Lo , bilang keluh kesah Lo biar hati Lo tenang" masih dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibir Kai .
"gue hiks..... hiks......hiks....."
tangis Jihan didalam dada bidang Kai.
"udah ya lebih baik sekarang Lo tenang , gue tau Lo sedih tapi gue yakin kalau Lo bisa lewati ini semua percaya lah" sambil mengusap kepala Jihan.
Melepaskan pelukan Jihan memandangi wajah Kai yang tersenyum menguatkan dan seolah-olah senyuman itu meyakinkan Jihan bila ia pasti bisa melewati ini semua.
Kai menghapus air mata Jihan dengan lembut, Jihan mencoba tersenyum walau itu terasa getir karena ia tak bisa membohongi hati dan pikiran sebab penyakit yang Jihan derita membuat nya hampir putus asa.
"Han hidung Lo...." kata Kai dan langsung meraih tissu dinakas .
Kai mengusap darah yang mengalir dari hidung Jihan dengan lembut.
Jihan terdiam sejenak melihat wajah Kai sedekat ini.
__ADS_1
Sedari dulu sampai sekarang Kai tak pernah lelah menjaga Jihan ,memberi perhatian, selalu ada disetiap saat.
"Hay" ucap seseorang yang tiba-tiba sudah masuk keruangan tersebut.
Jihan dan Kai kompak menoleh ke sumber suara tersebut, ternyata Dika yang datang sendirian tanpa ada Celsi disamping nya.
"Dika" bibir Jihan spontan langsung memanggil nama Dika.
"gimana keadaan Lo Han?"
"seperti yang Lo liat" diiringi senyum getir .
Kai ingin beranjak dari tempat duduk namun tangan Jihan menarik tangan Kai supaya tak usah pergi.
"Celsi kemana bro?"
"dia lagi kerumah neneknya diBandung ,kata Celsi ada urusan keluarga"
jawab Dika dengan senyum manis.
"kapan Celsi berangkat?"
"barusan gue antar ke bandara"
Akhirnya mereka saling berbincang hingga tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan sekarang Jihan dibawa keruangan kemo terapi.
1 dokter 3 suster mendorong brangkar diikuti Kai,Ami, Zidan, dan Dika.
Setelah tiba mereka menunggu didepan ruangan, suster menutup pintu masuk.
Ami terduduk di kursi sembari mengatupkan kedua tangannya, hatinya benar-benar tak tenang.
Zidan menyandarkan kepala istrinya kebahu milik nya sesekali mengusap kepala Ami pelan.
Tak jauh berbeda dengan Kai ia terus mondar-mandir ke sana ke mari, berdiri di depan pintu masuk.
Sedangkan Dika tenang-tenang saja karena ia yakin Jihan pasti sembuh.
"Kai Lo duduk dulu jangan mondar mandir kesana kemari kaya gitu, duduk lah" Dika menepuk kursi disebelah nya.
Kai mendaratkan pantat nya dengan kasar ,ia menenggelamkan wajahnya di balik katupan tangan nya.
Wajah Kai begitu minus ditambah bibirnya bergetar, bibirnya kelu walau untuk mengucapkan kata iya saja ia tidak mampu.
_________
Didalam ruangan.
Dokter memulai kemo terapi,para suster menyiapkan apa yang diminta dokter dengan teliti dan hati-hati.
Terutama tentang dosis obat yang akan disuntik kan kepada Jihan.
Terlihat jelas dokter sedang memeriksa suntikan didepan matanya.
"dok apa tidak ada alat lain selain suntikan"pinta Jihan karena ia sudah sangat takut walau baru melihat jarum suntikan.
Dokter tersenyum kepada Jihan.
__ADS_1
"kamu tenang saja ini tidak akan sakit"dokter mendekati Jihan.
"Dokter Sinta aku sangat takut" ujar Jihan suara bergetar.
"ini tidak sakit Jihan hanya nyeri sedikit ya ok" lalu dokter Sinta menyuntikkan obat.
Jihan meringis kala dokter menyuntikkan obat tersebut kelengan Jihan.
Dokter tersenyum manis sedangkan Jihan masih menutup mata karena takut.
"buka mata kamu "
Perlahan Jihan membuka matanya,tak ada yang terasa sakit hanya nyeri sedikit dilengan nya.
Lalu dokter menyuntikkan cairan obat ke dalam infus Jihan.
Sungguh banyak obat yang masuk kedalam tubuh Jihan padahal ini baru kemo terapi pertama nya.
"Suster pantau keadaan nya, jangan sampai melemah setelah obatnya bereaksi" ujar dokter berpesan kepada 3 suster.
"baik dok"sahut ketiga suster dengan patuh.
Tidak ada yang aneh,namun tiba-tiba Jihan merintih kepala nya pusing.
"awww sakit" rintihnya sembari memegangi kepala dan pingsan.
"periksa monitor dan infus"
perintah dokter Sinta lalu memeriksa detak jantung Jihan dan mata Jihan.
"detak jantung nya menurun dok"
Mereka semua berusaha membangun kan Jihan namun masih tetap.
"pantau yang lain apa kah normal?" tanya dokter Sinta dengan panik .
"menurun semua dok"
Dokter Sinta melirik kearah monitor dan benar detak jantung nya menurun.
"saya akan memanggil dokter Rafi kesini tunggu sebentar" dokter Sinta keluar dari ruangan dan langsung dihadapkan dengan pertanyaan dari Ami .
"kondisi Jihan bagaimana dok,apa kemo terapi nya sudah selesai"
"kondisi Jihan menurun , permisi saya ingin memanggil dokter Rafi"berlari keruangan dokter Rafi.
Tiba-tiba seorang suster keluar untuk mencari dokter Sinta.
"apa yang terjadi?"tanya Zidan.
"pasien kritis dan sekarang detak jantungnya semakin menurun"
"tidak......."
**Jangan lupa vote, komen, tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.
__ADS_1
Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍👍👍
Semangat 💪💪💪💪**