JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 33


__ADS_3

"kondisi Celsi mulai merespon saya harap dia segera bangun , kita harus sabar sekarang Celsi sedang berjuang maka dari itu kita dia kan yang terbaik untuk kesembuhan nya"


menghela nafas.


"terima kasih dok" ujar Dika dan pandangan mata tertuju pada Celsi yang masih terbaring lemah.


Dokter Raffi melangkah pergi meninggalkan Dika dan Oma didepan ruangan.


Oma Mira duduk dikursi dengan wajah sendu matanya sembab mungkin karena dari kemarin ia menangis sebab kehilangan anak dan menantunya.


Cobaan ini sungguh berat ,Oma Mira ingin menyerah menghadapi cobaan yang menimpa keluarga nya.


Oma menunduk kepala raut wajah nya begitu sendu, Dika duduk di samping nya.


Ia menepuk-nepuk punggung Oma Mira , dia menoleh ke arah Dika .


"terima kasih kamu sudah menemani cucu Oma dan selalu ada untuk nya"


Dika tersenyum manis lalu memeluk Oma Mira yang kini embun dikedua pelupuk matanya mulai tumpah hingga membasahi pipi yang mulai keriput.


"Oma aku tau Oma sedih tapi Oma harus semangat kita sama-sama doain Celsi supaya cepat sembuh" titah Dika dengan suara lembut.


Dika menghapus air mata Oma Mira dengan lembut , walau sedikit Oma Mira mulai tersenyum.


Mereka saling menguatkan dan berharap Celsi segera sembuh dari sakit agar bisa kembali ke tengah-tengah mereka.


"Dika kamu anak yang baik, beruntung sekali Oma mengenal kamu" kekehnya diiringi senyum tipis.


Dika tersenyum sebagai jawaban, Sekarang Oma Mira sudah ia anggap seperti Omanya sendiri.


"sebaiknya Oma pulang dan beristirahat lah,biar aku yang akan menjaga Celsi disini.


Oma pasti kurang istirahat kan" ucap Dika .


"iya Oma kurang istirahat,ayo kita pulang Oma" ajak bi Eni yang selalu mengikuti seluruh kegiatan omma Mira.


"aku masih ingin disini Eni , kalau kamu mau pulang . Pulang lah sendiri"


"tapi Oma......"


"Oma ini sudah malam beristirahat lah dirumah biar aku yang menjaga Celsi ,aku akan langsung kabari Oma bila dapat kabar tentang kondisi Celsi " Dika mencoba meyakinkan Oma agar mau ikut pulang karena dia bisa pegal-pegal kalau tidur dirumah sakit.


Ditambah lagi usianya juga sudah tak muda , tubuh nya juga mulai rentan terhadap penyakit tua.


Dika berusaha membujuk Oma dengan segala cara yang meyakinkan bahwa tidak akan ada apa-apa.


"baiklah aku akan pulang,tapi ingat kabari Oma jika ada perkembangan" akhirnya hati Oma luluh , Dika menghela nafas lega lalu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Oma berjalan dibimbing Bi Eni dengan langkah pelan mereka berdua sudah sampai di depan rumah sakit.


Mobil berwarna putih sudah menunggu mereka berdua ,pak Bambang membukakan pintu mobil untuk Oma Mira dan bi Eni yang selalu ada disamping Oma .

__ADS_1


Mobil melaju meninggalkan area rumah sakit.


_______


Dika berdiri di depan pintu kaca masuk ruangan,tangan kanan nya ia tempelkan ke pintu.


Dari sebrang pintu terlihat jelas wajah pucat dan lemah tanpa daya terbaring di atas brangkar disertai beberapa alat medis yang terpasang ditubuhnya.


"Celsi aku yakin kamu pasti kuat" bisiknya dalam hati, tak terasa bulir bening menetes dari pelupuk matanya.


Segera ia menghapus air mata nya, kembali memandang Celsi yang tak bergerak sama sekali.


Hati Dika hancur melihat wanita yang ia cintai terbaring lemah tanpa ekspresi.


Dika tersadar melangkah lalu duduk sembari memegangi kepala nya.


mengusap rambutnya dengan kasar , sesekali menyalakan diri sendiri.


"gue emang gak guna baru gak bisa jagain Celsi , harus nya kemarin gue larang Celsi sama orang tua nya supaya tidak pergi . Tapi........ semua ini terjadi begitu cepat" mengacak-acak rambut nya dengan frustasi.


Dia baru ingat belum salat isya' ,Dika beranjak dari tempat duduk lalu menuju ke mushola.


Mengambil wudu lalu melaksanakan shalat dengan kusyuk.


Seorang pria berdiri di belakang Dika , dia sedang mengamati Dika yang sedang shalat.


Dia akhirnya ikut shalat , mereka dengan kusyuk berdoa kepada Allah .


20 menit


"Dika"


"Kai " mereka berdua saling panggil nama.


Sekilas terlintas diingatan Dika jika tadi Jihan pingsan itu pun kabar dari Oma Mira.


Dika bertanya langsung kepada Kai tentang kebenarannya.


Kai mengiyakan itu memang benar tadi Jihan pingsan dan sekarang kondisinya masih drop.


" maaf ni dik Lo gak jenguk Jihan?"


"nanti ya gue jenguk Jihan soalnya Celsi gak ada yang jagain Oma Mira udah gue suruh pulang" pungkas Dika.


Kai berbalik tanya tentang kondisi Celsi saat ini, raut wajah Dika nampak suram,sendu seperti tak ada gairah untuk hidup.


"gue yakin mereka berdua pasti kuat, karena mereka adalah wanita yang kuat menghadapi segala rintangan hidup" titah Kai memantapkan hati jika Jihan dan Celsi pasti bisa sembuh dan berkumpul bersama lagi.


Dika manggut-manggut lalu mereka berdua berjalan berdampingan keluar dari mushola.


"gue pamit pulang dulu soalnya udah ditunggu sama mama dan kak Kevin di parkiran" Kai langsung secepat kilat lari keparkiran.

__ADS_1


Dika kembali ke ruang IGD menunggu Celsi.


__________


Zidan dan Ami hanya duduk diam disofa yang berada di dalam ruang rawat Jihan. Mereka terfokus dengan pikiran masing-masing.


Suasana juga sunyi menambah luka orang yang sedang bersedih menjadi bertambah.


"Bu" panggil Zidan lirih.


"emmm iya ada apa yah " Ami menengok ke arah wajah suaminya.


"ibu jangan banyak pikiran kan baru sembuh kemarin, aku yakin anak kita pasti kuat kan dia jagoan kita berdua haha" diiringi tawa hambar.


"iya yah ,tapi.........."


Zidan memandang wajah Ami intens kala mendengar kata tapi.


"gak jadi, ayah besok ngantor?"


Zidan menggelengkan kepalanya.


"ayah cuti 1 Minggu" timpal Zidan.


"oh begitu tapi kan kantor sangat membutuhkan ayah"


"menurut ku hal yang terpenting dalam kehidupan adalah keluarga , karena dengan keluarga kita bisa merasakan kasih sayang yang tulus tanpa imbalan"


Ami menganggukkan kepala serta senyum tipis terukir di bibir nya.


Ami menyandarkan kepalanya di bahu Zidan, manik mata Ami selalu tertuju pada Jihan yang sedari tadi belum sadarkan diri .


Raut wajah Ami mendadak khawatir ia takut terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.


Zidan mengusap pundak Ami sembari memeluk nya.


"tenanglah tidak akan ada apa-apa"


Ami menyandarkan kepala ke dada bidang Zidan yang selalu tersedia untuk dirinya setiap saat.


Kala sedih atau pun senang dada itu selalu menjadi tempat ternyaman untuk bersandar.


Ami dan Zidan pergi mencari makan malam.


Seusai makan mereka berdua kembali ke ruang rawat inap.


"ayah...... ibu....."panggil Jihan lirih, saat Ami berada di samping nya.


**Jangan lupa vote, komen,tambah favorit ya 🙂.


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.

__ADS_1


Semoga dilancarkan dalam segala urusan baik 👍👍👍.


Mari saling mendukung, semangat terus untuk para author 👍👍👍**


__ADS_2