
"gimana ini ayah"
Zidan hanya terdiam sejenak memikirkan.
"aku antar kamu kerumah sakit, masalah pekerjaan nanti aku pikir kan" melanjutkan fokus pada jalanan.
Setelah beberapa meter mereka tempuh kini telah sampai di depan rumah sakit.
Ami segera keluar dari mobil dengan perasaan teraduk-aduk , sedang kan Zidan masih terdiam didalam mobil karena ia bingung memilih.
Antara keluarga dan pekerjaan, sedangkan dia juga bekerja demi menghidupi keluarga nya jika sampai ia kehilangan klayen maka akan berdampak dengan jabatan yang ia duduki sekarang seorang CEO .
ia mengusap kepala nya dengan frustasi, membentur kan kepala ke sandaran kursi mobil.
Ponselnya berdering lagi dan tertera nama Rafael , segera ia terima panggilan telepon tersebut.
"halo ada apa Rafael?"
"halo pak, Alhamdulillah saya berhasil menghadapi klayen dan sekarang kita sudah bekerja sama dengan perusahaan pak Lukman.
Zidan bernafas lega mendengar kabar baik tersebut seenggak nya hati dan pikiran bisa fokus dengan kondisi Jihan putrinya.
"terima kasih Rafael kamu memang selalu bisa diandalkan" tuturnya se pontan dan senyum tipis terukir di bibir Zidan.
Mereka mengakhiri panggilan telepon, dengan terburu-buru Zidan keluar dari mobil setelah memarkirkan mobil nya.
Dia segera menyusul istrinya yang sudah lebih dulu keruang IGD.
Berlari keruangan IGD dengan nafas yang tersengal-sengal ia menghampiri Ami dan Kai yang tengah duduk dengan rasa khawatir didalam hati mereka.
Zidan mengatur nafas nya lalu duduk disamping sang istri tercinta.
Ami sedang menangis ,ia meratapi kenapa peristiwa ini terjadi lagi .
Rasanya baru beberapa saat ia merasa bahagia namun kenapa harus begini lagi.
Ami sangat khawatir,cemas,takut akan kehilangan anak satu-satunya karena hanya Jihan yang mampu membuat nya tersenyum kala Zidan sedang disibukkan dengan pekerjaan di kantor.
Zidan mengusap punggung istrinya dengan lembut, menyalurkan rasa tenang supaya Ami tidak terlalu terfikir dan berujung kondisi sang istri menurun bahkan drop.
Ami bersandar ke bahu Zidan berusaha mencurahkan isi hati nya yang sedang tak baik-baik saja.
Sedangkan Kai menengelamkan wajah dibalik katupan tangan, sungguh ia sangat khawatir dan takut kehilangan Jihan.
________
Ruangan ICU.
Dika berlari menuju ruang ICU untuk menghampiri Celsi yang dikabarkan sudah melewati masa kritisnya.
Senyum manis terukir di bibir hingga tak pernah luntur ia tampilkan serta hati bahagia .
__ADS_1
Ia tiba didepan ruangan sudah ada Oma Mira yang duduk dikursi bersama bi Eni.
"assalamualaikum"
"wa'alaikum salam"yang tadinya mereka menundukkan kepala kini mendongak kan kepala melihat sesosok manusia yang datang dengan mengenakan setelan jas rapi.
"Dika, hari ini wisuda?"
Dika menganggukkan kepalanya serta senyuman manis sebagai jawaban atas pertanyaan Oma Mira.
Oma Mira tak bisa berkata-kata lagi ia tersenyum sembari menahan tangis lalu memeluk tubuh Dika.
Dengan tangan ragu Dika mengusap punggung Oma Mira yang kini tengah menangis.
Dika ingin bertanya namun ia tau jika Oma Mira butuh waktu untuk menangis terlebih dulu.
Oma Mira terus terisak dalam pelukan Dika, karena ia teringat akan keinginan cucunya dan orang tua Celsi.
Mereka bertiga bercita-cita ingin menyaksikan Celsi wisuda S1, tetapi belum juga tercapai.
Kejadian yang membuat anak, dan anak menantu kehilangan nyawa serta Celsi yang hingga kini belum tersadar membuat hati Oma Mira seperti teriris pisau yang tajam disertai taburan garam.
"Oma yang sabar ya,kan Celsi udah lewati masa kritis sekarang kita berdoa semoga Celsi segera terbangun" pintanya dengan suara lembut.
Melepaskan pelukan ,Dika menghapus air mata yang membasahi pipi Oma Mira dengan lembut.
Perlahan senyum tipis menghiasi wajah Oma Mira walaupun sesekali air mata itu kembali turun membasahi pipi yang mulai keriput.
"Oma aku ini tulus mencintai Celsi jadi apapun keadaan Celsi aku harus tetap ada disampingnya" titah Dika dengan mimik wajah yang tulus.
Oma tersenyum begitu juga dengan Dika yang ikut tersenyum.
Mereka saling menguatkan dan berdoa agar Celsi segera diberi kesembuhan.
Tiba-tiba ponsel Dika berdering tertera nama Kai , Dika beranjak dari tempat duduk menjauh dari ruangan ICU.
"iya Kai kenapa"
"Dik Lo bisa kerumah sakit lebih tepatnya keruang IGD"
tanya Kai disebrang telepon.
"emang ada apa?"apa yang terjadi"
tanya Dika bertubi-tubi.
"Jihan kritis dirumah sakit dan gue minta Lo kesini sekarang"
Mengakhiri panggilan telepon,lalu Dika menghampiri Oma Mira yang sedang mengobrol dengan seorang dokter.
"Alhamdulillah pasien sudah sadar sekarang boleh menjenguk tapi satu-persatu ya , supaya pasien juga merasa tenang karena baru sadar" titah dokter dengan jelas.
__ADS_1
"Alhamdulillah, terima kasih dok saya boleh jenguk cucu saya sekarang?" sembari menahan tangis haru karena ia sangat bersyukur akhirnya Celsi sadar.
Dika berdiri di belakang Oma Mira dengan perasaan senang karena penantiannya sedari kemarin bisa terbalas.
Hatinya benar-benar senang dan perasaan sedih hilang digantikan dengan rasa bahagia dan senyuman manis.
Ia sudah tak sabar untuk melihat pujaan hatinya yang telah lama tidur .
Oma Mira menjenguk Celsi terlebih dahulu sedangkan Dika menunggu giliran.
Dengan langkah pelan karena faktor usia Oma Mira tengah sampai disamping cucunya yang sudah tersenyum kala melihat dirinya hadir .
"Oma" panggil Celsi lirih.
Oma Mira tersenyum manis memperlihatkan kerutan dikedua pelupuk mata.
"syukur lah kamu sudah sadar sayang,Oma sangat takut akan keadaan mu. Jangan pernah begini lagi Oma sangat takut hiks....hiks...hiks..." tak tahan menahan air mata yang sudah mengembun dikedua matanya.
Celsi hanya bisa membalas dengan senyum tipis karena ia benar-benar tak memiliki tenaga,sebab semua tenaga nya terkuras.
"berjanjilah dengan Oma kamu tidak akan membuat Oma cemas lagi ya sayang"
Jihan mengangguk kan kepala pelan, lalu senyum tipis terukir di bibir keduanya.
______
Diluar ruangan Dika mondar-mandir kesana kemari,ia ingin segera menemui Celsi karena Dika sudah sangat rindu dengan senyum manis Celsi.
Tiba-tiba bayangan senyuman manis Celsi terlintas di pikiran Dika.
Membuat nya tersenyum-senyum sendiri.
Oma keluar dari ruangan dan meminta Dika segera masuk ke dalam ruangan karena Celsi sudah menunggu nya.
Perlahan Dika melangkah masuk kedalam ruangan dengan hati bahagia dan senyuman yang selalu terukir di bibir Dika.
Celsi tersenyum tipis mendapati Dika telah tiba disisi ranjang nya.
Tanpa disuruh air mata Dika tiba-tiba membasahi pipinya.
Ia sangat senang hingga menangis karena akhirnya Dika bisa melihat senyuman itu lagi.
"jangan menangis "ucap Celsi singkat.
Dika hanya mengangguk kan kepala.
**Jangan lupa vote, komen,tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂
Ayo semangat terus nulisnya para author 💪💪💪💪**.
__ADS_1