JODOH YANG TAK KU SANGKA

JODOH YANG TAK KU SANGKA
Episode 52


__ADS_3

Mereka sangat bersyukur atas membaiknya kondisi Jihan, terhitung sudah 1 minggu mereka berada di Singapura.


Kini Ami menemui Jihan sedangkan Zidan menemui dokter karena adahal yang harus dibicarakan Kai juga ikut dengan Zidan .


_________


Ruang rawat VIP 128.


Ami menemui Jihan yang sedang terbaring namun ada senyuman manis terukir di bibir nya.


Ami membalas senyuman itu dengan manis.


"gimana anak ibu yang paling ibu sayang,"tersenyum lalu mengusap pipi Jihan dengan lembut.


"Baik ibu hehe"tawa hambar Jihan karena ia belum terlalu kuat untuk tertawa.


Ami tersenyum lalu masih setiap mengusap pipi Jihan , sedang sang empu hanya tersenyum kala Ami mengusap pipinya.


"ibu"ayah dimana?"


sembari mencari-cari keberadaan Zidan didalam ruangan tersebut ,nihil bola matanya sudah menelusuri setiap sudut ruangan namun tak kunjung ditemukan sosok Zidan.


"sayang ayah lagi keruangan dokter nanti juga kesini, sabar ya " mencubit pelan pipi Jihan .


Jihan nyengir kuda ,ia senang karena bisa melihat ibunya tersenyum walau kondisi fisiknya saat ini belum bisa dikatakan baik.


Namun ia berusaha terlihat baik karena tak mau melihat Ami khawatir bahkan menangis.


Mereka berdua saling lempar senyum hingga tak tau berapa lama dan kini ada orang yang masuk kedalam ruangan.


Senyum tipis langsung terukir di bibir Jihan kala melihat Zidan dan Kai masuk kedalam ruangan.


"assalamualaikum bidadari ayah"


dengan senyum manis Zidan menghampiri Ami dan Jihan yang tersenyum manis melihat kedatangan Zidan.


"wa'alaikum salam ayah"jawab keduanya dengan kompak dan senyuman yang tak luntur terukir dibibir mereka.


Kai yang melihat keluarga Zidan tersenyum ia ikut tersenyum senang karena tak ada lagi air mata kesedihan,kini mereka tersenyum karena Jihan telah sadar dan memperlihatkan senyum manis yang beberapa waktu lalu menghilang.


Ya senyuman yang menjadi candu bagi Kai , terlebih sudah berapa waktu ia tak melihat senyuman itu padahal biasanya setiap hari ia melihat senyuman tersebut.


"Kai"panggil Jihan dengan suara lembut, sang empu menyimpulkan senyuman manis kala namanya dipanggil.


Lalu Kai berjalan mendekati Jihan diiringi senyuman yang tak luntur.


"jangan senyum terus nanti gue bisa diabetes" ucap Kai terkekeh melihat wajah Jihan yang mempesona.


"ck... bisa aja Lo "

__ADS_1


"bener tar gue diabetes soalnya senyuman Lo manis nya kelewatan sampai gula aja kalah " titah Kai sambil tertawa kecil.


"masa ci"balas Jihan ikut tertawa kecil.


Entah mengapa walaupun dikala sedang sakit ,jika Jihan bertemu Kai ia seperti kehilangan rasa sakit dan digantikan dengan tawa bahagia seperti tak ada lagi beban.


Dan Jihan merasa bersemangat saat ia melihat wajah Kai yang selalu nampak manis dan ceria.


"iya beneran, gak percaya hahaha"


Jihan mengangguk kan kepala diiringi senyum tipis.


Sedangkan Zidan dan Ami melihat keduanya hanya tersenyum. Mereka sudah hafal dengan tingkah laku kedua manusia yang ada didepannya.


"sudah-sudah kalian ini kalau bercanda gak Mandang tempat dan keadaan" sindir Zidan mengingatkan jika ini dirumah sakit dan kondisi Jihan serta Kai juga belum pulih secara maksimal.


"iya kalian jangan ketawa terus ini rumah sakit bukan pasar ,dan Kai ingat luka bekas operasi perut kamu belum sembuh total" sahut Ami ikut mengingatkan mereka berdua.


Sedangkan Kai dan Jihan mendengarkan ucapan Ami dan Zidan dengan saksama walaupun sesekali keduanya saling tersenyum.


"oh baiklah paman ,bibi benar sekali ini rumah sakit bukan pasar terima kasih sudah mengingatkan kami " pungkas Kai dengan senyuman manis hingga kedua matanya menyipit.


Zidan mengacungkan dua jempol karena sedari dulu Kai dan Jihan tidak pernah membantah ucapan nya .


Mereka selalu mengikuti ajaran baik dan didikan kedua orang tua karena sudah menanamkan nilai-nilai kesopanan terhadap orang yang lebih tua untuk selalu hormat dan menghargai .


Walaupun kalau dengan teman sebaya mereka terkadang bobrok dan suka sekali saling menyindir.


Keduanya kompak menggelengkan kepala ,Ami menghela nafas panjang lalu meminta keduanya makan terlebih dahulu biarkan Ami yang akan menemani Jihan.


Kai dan Zidan menurut lalu keluar dari ruangan Jihan.


Selama berjalan di koridor mereka selalu berbincang walau tak jelas apa yang dibicarakan oleh keduanya .


_________


Indonesia.


Kini Dian sedang menemani Dika untuk makan malam.


Dengan telaten ia menyuapkan makanan kepada Dika , dia menerima dan mengunyah nya perlahan.


"aku udah kenyang ma" ujar Dika sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"loh sayang kan kamu baru makan 3 sendok, habisin ya biar cepat sembuh ya"


Dika menggeleng kan kepala bibir nya manyun .


"ya sudah kalau tidak mau heh" menghela nafas.

__ADS_1


Dian menaruh mangkuk diatas nakas namun saat ia kembali menatap Dika.


Dika melamun pandangan nya kembali kosong.


"Dika"panggil Dian dengan suara lembut lalu mengusap pundak Dika .


Namun sang empu masih enggan menengok ke arah Dian.


"Dika ,kesini sayang" lalu menakup wajah Dika dengan kedua tangan lalu mengarahkan wajah Dika kewajah nya.


Pelupuk mata Dika mulai menggembun sedikit lagi akan turun .


Dan tanpa aba-aba air mata nya luruh membasahi pipi Dika.


Dian menghapus air mata yang membasahi pipi Dika dengan lembut .


"kenapa , jangan nangis Dika "


Dika hanya menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya supaya tak terlihat ia sedang menangis.


"mama tau kamu merasa kehilangan, tapi jangan terlalu berlarut-larut dalam kesedihan untuk yang kedua kalinya. Mama gak mau lihat kamu sedih lagi "


"tapi ma hiks . ...hiks.....hiks. ... " Dika tak sanggup menahan bulir bening yang terus mengalir membasahi pipinya.


"liat mama" menegakkan wajah Dika dan menghapus bulir bening tersebut.


"Mama tau kamu sangat terpukul dengan kepergian Celsi tapi tolong kuat . Disini masih ada mama sama papa yang selalu sayang sama kamu" ujar Dian .


"mama sedih melihat kamu seperti ini,hati mama sakit hiks....hiks....hiks....."lanjut Dian dan sekarang ia tak sanggup menahan bulir bening.


Dika yang tadinya menangis meratapi kekasih nya kini ia tersadar dan memandang wajah sendu Dian.


"mama"ucapnya lirih .


"mama jangan nangis" lalu menghapus air mata Dian dengan lembut walau ekspresi wajah Dika masih seperti orang linglung .


"sayang mama sedih melihat kamu seperti ini, mama gak mau karena Celsi kamu jadi hancur dan kehilangan semangat untuk menghadapi kehidupan kedepannya"


"iya ma" lalu memeluk tubuh Dian dengan erat dan keduanya menangis dalam pelukan.


"kita hadapi semua ini bersama, kamu jangan sedih disini ada mama, papa , sama teman-teman kamu "


"iya ma "


Dian mengusap punggung Dika dan menenangkan nya.


Dika merasa nyaman didalam dekapan Dian.


**Jangan lupa vote komen tambah favorit ya 🙂.

__ADS_1


Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂**


__ADS_2