
"maaf jenazah harus segera kami bawa, permisi" ujar salah satu suster.
Dika tak menjawab hanya ada suara isakan tangis serta bulir bening yang terus mengalir dari pelupuk matanya.
"angel" panggil Bu Eka yang tiba-tiba sudah tersadar dari pingsannya.
"ibu tenang dulu Bu" titah dokter yang berusaha menenangkan Bu Eka.
Bu Eka menggeleng kan kepala sambil menangis , sedang Dika masih dalam posisi semula.
Dika mengacak-acak rambutnya dengan kasar ,pipi terus basah walaupun sesekali ia hapus dengan kasar.
Eka menengok ke arah Dika yang sedang terduduk di lantai.
"Dika "panggil nya lirih namun terdengar jelas oleh Dika ,ia menoleh kearah suara tersebut dengan raut wajah sendu.
Tes....tes...tes...
Bulir bening mengalir dari pelupuk mata keduanya, Dika beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri Bu Eka .
Mereka berpelukan dengan erat saling menguatkan satu sama lain.
Keduanya larut dalam isakan tangis.
Beberapa saat kemudian.
"dok jenazah sudah siap dibawa ke pemakaman"tutur seorang suster yang menghampiri mereka bertiga.
"baiklah sus , terima kasih sudah mengurus jenazah putri saya hiks...hiks...hiks..." Dika mengelus punggung Bu Eka dengan lembut.
Mencoba menguatkan hati seorang ibu yang kehilangan anak satu-satunya, dan Dika sudah menganggap Bu Eka seperti ibunya sendiri.
Sebenarnya hati Dika sedang hancur sampai ia tak sanggup untuk mengungkapkan apa yang ia rasa sekarang.
Kini Dika membimbing Bu Eka berjalan hingga mereka telah tiba didepan rumah sakit.
Sudah ada 1 mobil ambulance yang terparkir di depan rumah sakit, mereka berdua berdiri di samping mobil ambulance.
Selang waktu .
3 perawat datang sembari mendorong brangkar lalu memasukkan jenazah kedalam mobil ambulance.
Dika dan Bu Eka ikut masuk ke dalam mobil ambulance, mereka berdua duduk bersebelahan.
__ADS_1
Jenazah Angel tepat berada didepan mereka, Dika mencoba menahan tangis begitu juga dengan Eka ia menahan isakan tangis nya.
Karena ia tak ingin putri tunggalnya melihat diri nya menangis.
Namun benteng yang Eka bangun belum kuat untuk menahan tangis dan rasa sedih yang teramat dalam.
Dika terus menepuk-nepuk pundak Bu Eka.
"Angel kamu orang satu-satunya yang mami punya tapi kenapa kamu pergi tinggalin mami hiks...hiks....hiks...." semakin terisak.
"kenapa papi jemput Angel begitu cepat, aku sendirian Pi hiks...hiks...hiks.." lanjutnya lagi.
"mami aku tau ini sulit tapi kita harus ihklas, Karena jika kita terus begini Angel akan sedih disana.
Aku juga merasakan sedih seperti mami" tutur Dika sambil menahan embun di pelupuk matanya.
Tak terasa mobil ambulance sudah tiba di pemakaman, segera keluar dari mobil lalu mengikuti langkah para perawat yang sedang membawa Angel ke peristirahatan terakhir.
Dika terus membimbing setiap langkah kaki Bu Eka , mereka sampai di depan liang lahat.
Di sana sudah ada pak ustadz serta beberapa tetangga dekat Bu Eka, sekaligus para teman sekolah Angel dan Dika .
Perlahan tubuh Angel yang sudah tak bernyawa lagi di turunkan ke dalam liang lahat. Hingga ia ditidurkan diranah, salah satu dari mereka membuka beberapa tali yang mengikat tubuh Angel. Bu Eka kembali menangis kali ini lebih kencang dari yang tadi.
Bu Eka tak menyangka ini semua terjadi sehingga ia harap ini semua adalah mimpi yang hadir hanya sesaat lalu ia terbangun.
Namun peristiwa yang terjadi bukan mimpi,ini adalah kenyataan yang harus ia hadapi sendiri tanpa ada sosok suami.
Sebab suaminya sudah meninggal terlebih dahulu karena kecelakaan mobil.
Bu Eka sudah tak faham dengan perasaan nya sendiri, Ia baru sembuh dari sakitnya ditinggal oleh sosok suami kini ia harus merasakan sakit dan pahitnya ditinggal oleh Angel.
Hidup nya kini terasa hambar tanpa sosok keduanya, karena suami dan anaknya lah yang menjadi semangat hidup untuk nya.
"Angel kenapa kamu ninggalin aku sama mami, aku sangat mencintaimu kau pernah berjanji tidak akan meninggalkan ku apa pun yang terjadi"bisik hati Dika dengan raut wajah yang sendu.
Dika dan Bu Eka menaburkan bunga keatas pusaran Angel, Dika meletakkan 1buket bunga mawar pink favorit Angel.
Sekarang pak ustadz mulai membaca doa untuk Angel, semua nya ikut mengaminkan doa dari pak ustadz.
Seusai berdoa pak ustadz meminta agar kuat menghadapi peristiwa yang terjadi hari ini , karena kita semua juga akan terbaring di tanah.
"semua yang hidup pasti akan mati, tidak ada yang kekal selain Allah SWT. Jadi kita sebagai umat manusia harus menerima takdir dari sang kuasa , karena itu yang terbaik untuk" kata pak ustadz.
__ADS_1
"iya pak saya akan mencoba ihklas, namun untuk saat ini masih sulit bagi saya. Karena terlalu cepat terjadi " jawab Bu Eka dengan suara bergetar.
"semua butuh proses ,nikmati saja setiap prosesnya karena pasti akan tidak sulit untuk kita lewati. Dan jangan pernah kecewa dengan takdir yang Allah berikan kepada kita.
Yakin lah akan ada saatnya kita bertemu mereka yang telah pergi dari dunia ini"
"Saya beserta tetangga ikut bela sungkawa atas meninggalnya Angel putri ibu semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah, kami pamit pulang dulu ibu " pamit pak ustadz.
"assalamualaikum" ucap mereka bersamaan lalu pergi dari tempat pemakaman.
Kini menyisakan Dika dan Bu Eka yang masih duduk di samping makam Angel.
Hati mereka berdua masih enggan meninggalkan tempat itu.
Tak ada suara atau pun kata yang keluar dari bibir keduanya, mereka hanya diam terfokus dengan pikiran masing-masing.
Bu Eka mengusap nisan anaknya diiringi air mata yang membasahi pipinya.
"Sayang semoga kamu tenang disana, dan semoga bertemu dengan papi ya. Walaupun Mami tak tau akan kuat atau tidak mengahadapi hari kedepannya hiks ...hiks ...hiks ..." kepala nya menunduk tangan kanan memeluk makam Angel yang masih baru.
"Angel terima kasih kamu sudah setia mencintai aku, Dan terima kasih untuk semua yang pernah kamu lakukan untuk ku. Kamu sudah mewarnai hariku selama ini, semoga kamu tenang disana" batin Dika , tak sadar pipinya sudah basah oleh cairan yang mengalir dari pelupuk matanya.
Dika menghapus air matanya.
"mami ayo aku antar pulang ini sudah mulai petang" bujuk Dika.
Bu Eka menggeleng kan kepala.
"mami masih mau disini Dika"
"tapi ini sudah petang , ayo kita pulang mami kita doakan dari rumah ya"
"baiklah" singkatnya.
Namun rasanya masih berat untuk meninggalkan pemakaman, perlahan Dika kembali membimbing Bu Eka .
Setelah keluar dari area pemakaman ternyata pak Firman supir pribadi Bu Eka masih menunggu.
**Jangan lupa vote,komen ,tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.
Semangat terus nulisnya kakak author, mari saling mendukung.
__ADS_1
Selamat hari raya idul Adha 🙏🙏🙏**