
"Jihan " Ami langsung mendekati Jihan yang masih terbaring.
Jihan belum membuka matanya namun seolah ia ingin mengatakan sesuatu tetapi dia tak sanggup.
"ayah panggil dokter dulu ya" pamit Zidan berlalu pergi mengunjungi dokter Sinta yang kebetulan sedang berada di koridor dekat ruangan Jihan.
"dokter Sinta tolong periksa kondisi Jihan, tadi dia mulai memanggil nama saya dan isteri saya" ucap Zidan dengan nada suara panik.
"baiklah akan saya periksa, suster tolong kamu periksa pasien yang hari ini akan pulang "
"baik dok permisi" pamitnya lalu pergi menjalankan tugas dari dokter Sinta.
Setelah itu Zidan dan dokter Sinta menuju ruang rawat Jihan.
Dengan langkah tergesa-gesa mereka berdua tengah sampai didalam ruangan.
Terlihat Ami mencoba memanggil nama Jihan agar ia bisa terbangun.
Dokter Sinta mengambil alih posisi Ami.
Ami mundur mendekati suami nya agar dokter yang memeriksa keadaan Jihan, Dokter Sinta memeriksa dengan intens wajahnya nampak begitu serius.
Zidan menggenggam kedua tangan Ami agar tenang, sedari tadi sekujur tubuh terasa bergetar.
Bulir bening mengalir dari pelupuk matanya, Zidan terus menguat hati isterinya.
Zidan sangat paham terhadap perasaan Ami saat ini, Ami selalu bersikap lembut dan menuruti semua kata-kata suami.
Maka dari itu Zidan tak ingin sampai kehilangan Ami isteri sekaligus ibu dari anak-anaknya.
Zidan menyeka air mata yang membasahi pipi Ami dengan lembut serta senyuman yang menenangkan hati dan pikiran Ami.
"kita kuat pasti Jihan akan kuat , karena ibunya juga sosok wanita yang kuat, baik, bertutur lembut. aku yakin Jihan pasti sembuh" pungkas Zidan lalu membawa tubuh Ami kedalam dekapannya.
Ami menyandarkan kepalanya ke dada bidang Zidan tempat yang selalu membuat nya nyaman dan melupakan masalah yang ada sejenak.
Zidan mengelus rambut Ami perlahan, Ami hanya diam sembari menghirup aroma parfum suaminya yang sedari dulu tak pernah berubah.
Beraroma vanila Ami jadi ingat dulu masa-masa perjalanan cinta mereka hingga sampai ke titik ini.
Ami bahagia dan merasa berharga berada disisi seorang Zidan Yahya Nugraha CEO perusahaan Nugraha corp .
Sosok pria bertanggung jawab, setia, bersifat lembut , selalu bisa menenangkan, terkadang humoris, selalu menomor satukan keluarga.
Ami memandangi wajah suaminya yang terlihat sangat kecapean, ia merasa banyak beban yang dipikul oleh suaminya.
Melepaskan pelukan Ami meraih tasnya mengambil handphone miliknya.
Mulai mencari kontak nama, setelah ketemu ia langsung menghubungi Asisten rumah tangga nya.
"assalamualaikum,apa pekerjaan rumah sudah selesai bi?"
"wa'alaikum salam sudah Bu sekarang tinggal beberes diteras belakang ibu malam ini ?" tanya bi Fitri .
__ADS_1
"saya tidak pulang malam ini jadi kamu tidak usah nunguin saya sama bapak, kamu bisa buatkan minuman jahe resep dari saya"
"bisa Bu bisa"jawab bi Fitri dengan antusias.
"nanti kalau sudah jadi tolong suruh Joni antar minuman nya kerumah sakit ya bi. Terima kasih bi"
"iya sama-sama Bu, segera saya buat kan "
Mereka mengakhiri panggilan telepon.
Dokter Sinta keluar dari ruangan.
Zidan dan Ami langsung menghampiri dokter Sinta untuk bertanya tentang kondisi Jihan saat ini.
"Alhamdulillah kondisi nya sudah membaik dia juga sudah sadar dan menunggu bapak sama ibu" ujarnya diiringi senyum manis , berlalu pergi meninggalkan Zidan dan Ami.
Segera mereka berdua masuk ke dalam ruangan terlihat Jihan sedang tersenyum manis melihat kedatangan kedua orang tuanya.
Ami berlari memeluk putrinya dengan erat, serta tangis haru dan mereka sangat bersyukur akhirnya Jihan kembali sadar.
Tiba-tiba handphone Jihan berdering ,Ami meraih handphone Jihan yang ada dinakas lalu menerima telepon dari Kai.
Kai bertanya soal kondisi Jihan karena sedari tadi ia selalu kepikiran dan membuat nafsu makan malam nya hilang.
Dengan tenang Ami menjawab pertanyaan Kai , jawaban yang diucapkan oleh Ami membuat Kai menghela nafas lega.
Ami meminta Kai untuk tidak terlalu khawatir, karena ada ia dan Zidan yang menjaga Jihan serta Jihan adalah anak yang kuat ia akan berjuang hingga sembuh.
"assalamualaikum bibi" mengakhiri panggilan.
"assalamualaikum" sapa seorang lelaki masuk kedalam ruangan menenteng tas plastik.
"wa'alaikum salam, sudah jadi minuman nya terima kasih ya Joni" titah Ami sembari menerima tas plastik pemberian Joni.
"bagaimana kondisi mbak Jihan?"
"Alhamdulillah mas aku udah lebih baik"jawab Jihan diiringi senyum tipis terukir di bibir nya.
"syukur lah mbak Jihan sudah membaik, ada salam dari Fitri " tutur Joni .
"iya salam balik ya mas, gimana mbak Fitri dirumah pasti kesepian"
"kalau begitu saya pamit dulu permisi pak,Bu, mbak assalamualaikum" pamitnya berlalu meninggalkan ruangan.
"wa'alaikum salam hati-hati dijalan Joni" jawab ketiganya dengan kompak.
Joni tersenyum lalu keluar dari ruangan.
Ami mengambil dua botol minuman berisi seduhan jahe resep miliknya.
Ia mengulurkan sebotol minuman kepada Zidan yang dengan senang hati menerima pemberian dari Ami.
______________
__ADS_1
Ruangan IGD.
Dika terduduk di kursi depan ruang IGD, ia mengatupkan kedua tangannya lalu menengelamkan wajah nya dibalik katupan tangan.
Wajah nya begitu frustasi karena ini kali pertama ia membuka hati lagi.
Untuk mencintai seorang wanita namun wanita yang ia cintai lagi-lagi terbaring sakit dan membuat nya sedih.
Mengusap kepala nya sendiri dengan kasar, bulir bening mengalir dari pelupuk matanya.
Ingatan masa lalu nya kembali terlintas di benak dan otaknya.
Flashback.
"gimana kondisi anak saya dok" tanya Bu Eka dengan khawatir.
"maaf sekali ibu kami gagal menyelamatkan pasien, dan sekarang pasien sudah......."
jawab dokter Sinta.
"tidak mungkin hiks......hiks......hiks... Dika ini tidak benar kan nak gak mungkin Angel ninggalin kita hiks.......hiks.....hiks....." tangisnya.
"ibu harus tenang Bu" ucap suster namun tak berapa lama Bu Eka pingsan.
Sedangkan Dika mendengar kabar itu, ia mematung tak bergeming dari tempatnya berdiri.
Bibirnya terasa kelu, tubuh nya terasa lemas dadanya terasa bergetar.
Ia tak menyangka akan peristiwa yang terjadi saat ini.
Akalnya seakan tak berfungsi , kabar yang ia terima sungguh membuat dirinya syok.
Tak menyangka ini semua terjadi.
"suster tolong urus jenazah pasien "pinta dokter yang saat ini sedang memangku kepala Bu Eka.
"tidak mungkin ini mimpi" gumam Dika dengan lirih.
Tak terasa bulir bening mengalir dari pelupuk matanya, dan tubuh Dika merosot terduduk dilantai.
Memegangi kepala nya, mengusap dengan kasar. Bulir bening terus membasahi pipinya.
3 suster mendorong brangkar menuju ruang jenazah, wajah Angel ditutupi kain putih .
"suster berhenti sebentar" Dika menghampiri brangkar lalu membuka kain tersebut.
Dengan tangan gemetar ia membuka kain penutup tersebut, tak berapa lama kain yang menutupi wajah Angel terbuka.
Dika terduduk di lantai dengan tidak percaya disertai tangis sampai tak mampu mengeluarkan suara, hanya ada air mata yang membasahi pipinya.
**Jangan lupa vote,komen,tambah favorit ya 🙂.
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂
__ADS_1
Mari saling mendukung, semangat terus nulisnya kakak Author 👍👍👍👍**