
"pasien harus dirawat untuk beberapa hari kedepan supaya mempermudah kan proses penyembuhan"
"baiklah dok saya akan mengurus administrasi nya, tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan anak saya dok"
"itu pasti Bu , kalau begitu saya permisi. Pasien juga akan segera kami pindah ke ruang rawat inap"
"baik dok terima kasih" Lalu dokter pergi meninggalkan Dian didepan ruangan sendiri.
3 hari berlalu.
Dian melangkah menuju administrasi untuk melunasi tagihan uang rawat inap serta keperluan yang lain.
Ditengah koridor rumah sakit Dian tak sengaja menabrak seorang lelaki muda.
Lelaki itu meminta maaf karena telah menabrak Dian karena ia sedang terburu-buru menuju kesuatu ruangan.
Saat mereka saling menatap ,otak Kai langsung mengingat wajah wanita paruh baya yang ada di depannya.
"Tante Dian "
"iya,kamu Kai"
Kai menganggukkan kepala lalu mencium punggung tangan Dian dengan sopan.
"Kai sakit atau ada perlu lain disini?"
"oh kebetulan aku lagi jenguk Jihan Tante"jawab Kai.
"Jihan sakit sejak kapan?"
"sudah lama Tante " jawab Kai dengan senyum tipis.
Kai pamit terlebih dulu untuk keruang ICU Dian menganggukkan kepalanya lalu ia juga pergi keruang rawat Dika.
Tak butuh waktu lama Kai sudah tiba diruangan Jihan , terlihat jelas Ami dan Zidan sedang duduk berdampingan.
Kai mengucapkan salam dengan lembut Ami dan Zidan menjawab salam dari Kai.
"gimana kondisi Jihan saat ini paman?"
"masih sama seperti hari lalu Kai"
Suster menghampiri mereka bertiga untuk menyampaikan pesan jika dokter Rafi meminta kedua orang tua Jihan untuk menemuinya di ruangan nya.
Sementara Jihan dijaga oleh Kai karena Kai juga ingin menemui Jihan didalam ruangan.
Zidan dan Ami segera mengikuti suster menuju ruangan dokter Raffi.
__________________
Ruangan dokter Rafi.
tok....tok...tok.....
"masuk"teriak dokter Rafi dari dalam ruangan.
__ADS_1
Lalu suster membuka pintu dan mempersilahkan Zidan dan Ami masuk kedalam ruangan.
Ami dan Zidan melangkah menghampiri dokter Rafi yang sedang duduk dan memandang ke arah kedatangan Ami dan Zidan.
"silahkan duduk" mempersilahkan Zidan dan Ami duduk berhadapan dengan dirinya.
Ami dan Zidan duduk bersebrangan dengan dokter Raffi.
Dengan wajah yang tegang dokter Rafi mulai membuka pembicaraan.
Dokter Raffi menjelaskan kondisi Jihan saat ini secara menyeluruh dan menyarankan agar membawa Jihan kerumah sakit yang mempunyai peralatan medis komplit.
"kita harus membawa Jihan kerumah sakit yang ada di Singapura disana ada pengobatan yang lebih canggih. Karena rumah sakit ini sudah tak sanggup lagi untuk menangani pasien"
Zidan termenung memikirkan saran dari dokter Rafi , bagaimana pun ini semua untuk kebaikan Jihan .
Ami memperhatikan mimik wajah suaminya yang sedang berfikir keras.
Ami menyentuh tangan Zidan dengan lembut lalu menyunggingkan senyum tipis.
Ini yang selalu membuat Zidan yakin memutuskan setiap keputusan.
Zidan tersenyum lalu meyakinkan keputusan hati nya.
"iya dok saya ikuti saran nya ,tolong bantu urus kepindahan nya ya dok"
"itu pasti, semuanya akan saya urus bapak tinggal beresnya saja, besok pasien sudah harus terbang ke Singapura"
"baiklah ,terima kasih dokter Raffi" Zidan dan Ami menyunggingkan senyum tipis lalu menjabat tangan dokter Raffi.
"iya ini juga sudah menjadi tanggung jawab saya selaku dokter yang menangani pasien" dokter Rafi tersenyum lalu membalas jabatan tangan dari Zidan .
Ami dan Zidan keluar dari ruangan dokter Raffi dan langsung menuju ruang IGD.
Mereka berjalan berdampingan .
_______________
Dalam ruangan.
Kai masih setia memandangi wajah pucat Jihan .
Dengan iringan monitor yang terus berbunyi dan mengontrol tekanan gula darah, detak jantung .
"Han sampai kapan Lo bakal memejamkan mata,gue kangen liat mata menyipit Lo saat tersenyum" bulir bening luruh begitu saja.
Kai mengusap pipi Jihan dengan lembut dan menyunging kan senyum tipis.
"semangat ya ,lawan penyakit Lo dan berjuang melewati ini semua gue akan selalu ada didekat Lo gimana pun caranya"
Seolah Jihan mengerti atas ucapan Kai, ia hanya meneteskan air mata.
"ya gue tau Lo ngerti apa yang gue ucapin jadi Lo harus sembuh banyak orang yang sayang sama Lo" Kai menyeka air matanya yang dengan luruh membasahi pipinya.
Setelah lama menjenguk Jihan,Kai keluar dari ruangan dan mendapati Ami dan Zidan sedang menunggu diluar ruangan.
__ADS_1
"paman ,bibi"
"Kai besok Jihan akan diberangkatkan ke Singapura untuk mendapatkan perawatan medis yang lebih intens" pungkas Zidan
"Kai boleh ikut ke Singapura gak paman?"
"itu terserah kamu saja Kai , tapi kalau kamu mau ikut gimana dengan kesehatan kamu"
"iya Kai kamu itu lagi masa pemulihan dan pasti harus banyak istirahat"sahut Ami yang menyadari jika kondisi Kai belum pulih total.
" aku udah sembuh kok paman ,bibi aku juga sudah sehat . Boleh ya aku mau temenin Jihan"
dengan wajah memelas.
"lalu bagaimana dengan izin kepada orang tua kamu? mereka pasti ngelarang kamu karena kondisi kamu belum pulih total " ujar Zidan.
Kai berfikir sejenak lalu mencoba mengerti kondisi badannya saat ini.
Menurut yang ia rasa sudah tak ada lagi rasa lemas dan sudah pulih.
"itu nanti akan aku pikirkan paman , intinya aku mau ikut ke Singapura untuk menemani Jihan"diiringi senyum tipis.
"ya sudah itu terserah kamu saja , yang penting kabari paman kalau dibolehin ikut biar paman buking hotel sama tiket pesawat untuk kamu"
"iya siap paman"
Kai pergi menghampiri dokter Rafi untuk memeriksa kondisi nya apa diperbolehkan untuk ikut ke Singapura besok.
Dokter Raffi mengajak Kai keruangan nya, Kai pun mengikuti dari belakang.
Setelah dirasa komplit Kai bangun dari tempat baring lalu duduk bersebrangan dengan dokter Rafi .
Mimik wajahnya begitu tegang takut nya tak sesuai dengan harapan.
Dokter Raffi tersenyum ada sedikit kelegaan dalam diri Kai karena melihat ekspresi dokter Rafi yang tak cemas.
"jangan tegang Kai, kamu tidak apa-apa semuanya sudah baik,ini hasilnya" lalu menyerahkan amplop berisi kertas hasil pemeriksaan.
Dengan senang hati Kai menerima amplop tersebut dan membukanya namun wajah nya kembali kecut karena ia tak mengerti apa yang dokter Rafi tulis.
"baiklah akan saya jelaskan" menghela nafas, senyum tipis terukir di bibir Kai.
Dokter Rafi menjelaskan sampai Kai benar-benar mengerti, sedangkan Kai hanya menanggapi dengan menganggukkan kepalanya.
"sudah saya jelaskan semua ,kamu bisa ambil kesimpulan nya bukan"
"iya pasti , kalau begitu saya pamit dulu permisi assalamualaikum"
"wa'alaikum salam"
Kai melangkah keluar dari ruangan dengan hati yang gembira.
ia kembali menghampiri Ami dan Zidan dan mengatakan jika dokter mengizinkan dirinya ikut ke Singapura , Zidan tersenyum lalu mengusap pundak Kai singkat.
**Jangan lupa vote, komen,tambah favorit ya 🙂.
__ADS_1
Terima kasih untuk kalian yang sudah mampir ke cerita aku 🙂.
Semangat terus nulisnya para author 💪💪💪**