
Ayank memacu mobil nya menuju alun-alun kota, setiba di sana masih ada beberapa muda mudi yang tengah memadu kasih di bawah cahaya bulan sambil berangkulan mesra. Ayank tertawa miris melihat nya.
"Dasar bocah. Kalian bahkan tidak tau berapa harga beras yang kalian santap dalam rupa nasi hangat yang nikmat." Gumam Ayank sedikit sewot. Seperti nya dia telah salah memilih tempat pelarian, di sana dia malah seperti seorang wanita patah hati yang menyedihkan.
Ah, dia memang wanita patah hati. Suami nya mengkhianati nya sejak lima tahun terakhir, dan bahkan tak sudi menyentuh nya di malam pertama. Miris bukan? Ayank duduk di sebuah beton yang menyerupai sebuah lingkaran, di buat seperti kursi dan di tengah nya ada tanaman bunga.
Bulan yang sedang bercahaya terang indah seakan sedang mengejek nya. Memperlihatkan pada orang-orang di sana bahwa jika diri nya tengah sendirian. Di tempat yang seharusnya di mana muda mudi tengah berbagi kasih sayang.
"Aku hampir tak pernah menikmati masa remaja ku, seluruh hidup ku, ku habiskan untuk belajar dan menjadi wanita yang setia. Karena ku pikir aku telah memilih orang yang tepat untuk menjagaku berikut kesetiaan ku. Nyata nya aku telah memilih seekor bunglon, yang sangat pandai berubah menyesuaikan tempat di mana dia berada. Kau berhasil menghancurkan seluruh hidup ku Al, kau rusak kesetiaan ku dengan begitu mudah tanpa perasaan. Kau bahkan ingin mengambil organ tubuh ku tanpa mempertimbangkan resiko yang bisa aku alami. Arti nya kau sangat mencintai wanita itu, lima tahun Al? Lima tahun, lalu kini kau ingin meraih ku kembali? Apa sebenar nya tujuan mu? berhenti bermain-main dengan ku Al, kau belum tau, sejauh apa mengenai seluk beluk kehidupan ku." Gumam Ayank lirih.
Wanita itu terus menatap bulan indah di atas langit malam. Dia ingin menemukan sedikit kedamaian agar hati nya tak terlalu terpuruk dalam.
Sedangkan sejak tadi, seorang pria mengepal erat kedua tangan nya. Tak dia sangka, pria yang dia cemburui, adalah orang yang membuat nya terpaksa harus menjauh dari kedua orang tua nya sendiri.
Kini wanita yang sejak usia nya 10 tahun telah membuat perhatian nya mulai terikat, juga menjadi korban dari orang yang sama. Sungguh hati Arkhan tak rela.
"Belum cukup kah pengorbanan ku padamu kak? belasan tahun aku mengalah, agar kau bisa meraih gelar sebagai seorang pewaris tunggal. Kini kau malah berniat jahat pada wanita yang sangat aku sayangi sejak aku kecil. Wanita yang kini semakin aku cintai. Kau sungguh manusia brengsek kak, aku akan membalasmu. Kau boleh menyingkirkan ku dari keluarga Gerardo, tapi jika sesuatu menyangkut Ayank. Tak akan aku biarkan!" Geram Arkhan dalam hati nya.
Pria itu menyentuh bahu Ayank perlahan, dia tau wanita itu pasti tengah menangis.
Ayank terkesiap, saat seseorang menyentuh lembut bahu nya. Hampir saja wanita itu mengeluarkan jurus reflek nya, untung saja dia sedang dalam mode mellow yang parah. Hingga hanya terjengkit sesaat lalu menoleh setelah mengusap Air mata nya.
"Ar? bagaimana kau bisa ada di sini? kenapa kau ada di mana-mana?" cecar wanita itu khawatir, jika Arkhan mendengar gumaman nya tadi.
"Ini kota ku jika saja kau lupa. Lagi pula aku di mana pun itu hak ku bukan?" sahut Arkhan menatap intens manik Ayank yang terlihat memerah.
__ADS_1
"Ah, kau benar. Bagaimana aku bisa lupa. Baiklah, nikmati sisa malam minggu mu. Aku harus pulang, sebelum aku benar-benar Tersesat di kota ini." Balas Ayank tersenyum samar, wanita itu beranjak hendak pergi, namun Arkhan menahan nya.
Tanpa memperdulikan beberapa orang yang ada di sana, dengan jarak beberapa meter saja dari arah mereka. Arkhan memeluk Ayank dengan penuh kerinduan. Menghirup aroma vanilla kesukaan nya sejak dulu. Tak ada yang berubah. Parfum aroma Cherry blossom flower yang menyegarkan menyeruak indra penciuman nya.
Jika dulu dia hanya menyukai aroma nya, kini dia merasakan sensasi lain. Dia sudah dewasa, ada hasrat yang coba dia pendam dalam jiwa kesepian nya selama ini.
"Ar?" tegur Ayank sedikit tak nyaman, meski pemandangan di sana tak jauh dari apa yang mereka lakukan. Bahkan muda mudi di sana ada yang tengah berciuman mesra tanpa peduli pada siapapun.
"Biarkan seperti ini sebentar saja, aku masih merindukan mu. Merindukan mu sebagai wanita dewasa, bukan lagi sebagai seorang kakak yang aku kagumi sejak aku kecil." Ucap Arkhan membuat Ayank tercengang.
Apa Arkhan sudah berniat untuk mengungkapkan jati diri nya? namun hati nya menghangat mendengar kalimat pria itu. Ayank mengulurkan tangannya, membalas pelukan Arkhan. Pria yang saat kecil sangat dia sayangi seperti seorang adik bagi nya. Kini perasaan itu sedikit berbeda. Bagaimana pun, pria itu telah tumbuh menjadi pria dewasa.
"Apa kau memelukku sebagai seorang Arkhano Gerardo? atau Arkhan si anak petani yang kebetulan pernah aku tolong?" tanya Ayank menggoda.
Arkhan terkekeh kecil, dia malu sendiri dengan sikap labil nya. Wajar saja, usia nya baru 22 tahun.
"Apa kau tak takut kekasih khayalan mu cemburu? aku sedikit cemas sekarang, akan di labrak lalu di katai pelakor. Sungguh memalukan bukan? jika sampai itu terjadi." Arkhan semakin gemas mendengar celotehan Ayank, pria itu mengurai pelukan nya lalu menyelip kan rambut Ayank ke sisi telinga.
"Wanita ku sedang ada di sini, baru saja ku peluk penuh perasaan dan kerinduan. Dia wanita yang baik, tidak bar-bar seingatku. Entah lah, kadang waktu bisa merubah seseorang." Ucap Arkhan menatap manik Ayank dengan binar cinta yang semakin membara.
Ayank tersenyum simpul, hati kecil nya sedikit tersentil. Selama ini dia fokus pada satu pria, yang dia sangka akan menjadi pusat kebahagiaan nya suatu saat nanti. Sayang nya, pria itu jua menorehkan luka tak berdarah di dalam hati nya. Lalu kini dia berdiri di hadapan pria yang sejak kecil selalu memuja nya, yang dia kira hanya sebatas bualan anak-anak semata. Nyata nya, pria itu masih bertahan dalam kesendirian nya.
"Ku pikir kau Arkhan si anak petani yang dingin dan tak tersentuh. Nyata nya kau masih Arkhano yang ceriwis dan pandai berkata manis. Aku khawatir akan terserang diabetes karena terlalu sering mendengar kata-kata manis mu." Ucap Ayank tertawa renyah. Tawa yang selalu membuat debar di dada Arkhan berderang bagai genderang.
"Aku pria dewasa sekarang, meski tak sesempurna pria mu. Tapi aku cukup mahir dalam hal merayu, walau sampai sekarang aku tak memiliki kekasih. Karena aku pernah di tolak oleh seorang gadis ketika aku remaja. Gadis yang mengingatkan ku pada wanita ku di masa lalu. Untung saja dia menolak ku, jika tidak, aku pasti akan kesulitan untuk menentukan pilihan. Saat wanita itu kembali dan terlihat semakin cantik saja. Sungguh godaan yang menyesatkan bukan? aku terpesona pada kekasih kakak ku sendiri sejak usia ku baru 10 tahun." Ujar Arkhan bercerita panjang lebar. Pria itu seperti sedang menerawang jauh ke belakang.
__ADS_1
Ayank tersenyum haru, kejujuran Arkhan membuat nya lega. Pria itu tak berusaha menutupi kisah kasih masa remajanya meski berujung penolakan.
"Benarkah? kenapa aku meragukan nya tuan Arkhan si petani sayur mayur yang tampan?" goda Ayank tertawa jahil. Arkhan tersenyum simpul lalu menarik tengkuk Ayank dan mulai mendarat kan ciuman hangat di bibir wanita itu.
Ayank kembali mematung, ciuman ke dua nya. Ah, sungguh Ayank ingin berteriak keras karena di perlakukan semanis itu oleh Arkhan. Dia tak kuasa menolak nya, terlebih perasaan nya pun menerima dengan lapang dada.
Ayank membalas ciuman Arkhan meski sedikit kaku, dia belum pernah melakukan nya bersama Alex. Entah kenapa dia tak pernah berhasrat untuk berciuman lebih dari sekedar mencium pipi pria itu selama ini.
Arkhan melepaskan ciuman nya lalu mengusap bibir Ayank yang terlihat sedikit membengkak.
"Apa ini ciuman kedua mu?" Ayank memalingkan wajah nya ke sembarang arah membuat Arkhan tertawa renyah. Pria itu menarik tubuh kecil Ayank ke dalam pelukan nya. Hati nya sangat bahagia, mengetahui diri nya sebagai pria pertama yang merasakan hangat manis bibir wanita itu.
"Terimakasih. Sudah menjaga nya, aku juga memberikan ciuman perdana ku untuk mu. Kita impas bukan? kelak aku akan memberikan seluruh hidup ku untuk mu. Mau kah kau melepaskan kakak ku dan menjadi milik ku saja, Pemuda miskin petani sayuran ini? aku mungkin tak akan bisa memberikan kemewahan pada mu, aku bukan seorang CEO seperti Alex. Tapi aku punya sehektar kebun yang cukup menjanjikan, dan kau di jamin tak akan kelaparan. Aku bisa menjamin kesehatan jiwa raga mu jika bersamaku. Bukankah sayur mayur itu menyehatkan?" Celoteh Arkhan serius meski di selip sedikit candaan.
Kini Ayank yakin, jika Arkhan mendengar semua gumaman nya tadi.
"Apa kau bisa menjamin hati ku tak akan kembali teruka kelak? ah ya, jangan lupakan calon dokter seperti kata mbok tadi. Dia pasti wanita yang sangat cantik bukan? aku sedikit terganggu kala mengingat nya." Arkhan mencapit hidung mancung Ayank dengan gemas.
"Tak ada yang lebih cantik dari mu sepanjang 11 tahun ini. Aku sempat sedikit oleng, namun itu karena dia memiliki sifat seperti mu. setidak nya itu yang pernah aku lihat. Hingga ku pikir aku bisa mengalihkan rasa yang ada di hati ku pada nya. Namun beruntung, wanita itu menolak ku dengan cara luar biasa. Sehingga aku memutuskan untuk tak lagi mencari kesamaan wanita yang persis seperti mu pada gadis manapun. Dan lagi-lagi aku beruntung, wanita yang aku cintai datang padaku dengan sendiri nya. Apa pesona ku telah menghipnotis mu nona Ayank?" goda Arkhan menangkup pipi berisi Ayank dengan sayang.
"Kau benar, aku terpesona pada pria yang terlihat gagah di bawah terik matahari dengan kedua otot lengan yang Kokoh. Aku semakin penasaran, apa pria itu menyimpan otot-otot menakjubkan di bagian lain nya juga." Balas Ayank dengan tatapan nakal. Arkhan tergelak renyah, pria itu kembali memeluk Ayank semakin erat.
"Tentu saja, kau akan menjadi orang pertama yang boleh melihat dan menyentuh nya kelak. Pasti kan kau tak mengecewakan pemuda miskin ini, pemuda sederhana yang menaruh harapan setinggi langit pada wanita sempurna seperti mu." Bisik Arkhan lirih di telinga Ayank.
Ayank hanya mengangguk pelan, perjuangan nya tak akan mudah setelah ini. Hati nya telah terjebak dalam permainan nya sendiri. Kini dia pun tak rubah nya seperti seorang pengkhianat. Namun Alex lah yang memulai nya, dia hanya mengikuti alur nya saja.
__ADS_1
Bukankah seorang istri harus mengikuti ajaran suami nya? siapa suruh suami nya mengajari nya untuk menjadi seorang pengkhianat. Ini bukan salah nya, kala sang hati telah memilih kemana akan berlabuh.