Just A Momen _Istri Tangguh

Just A Momen _Istri Tangguh
Dua Mafia dua cerita


__ADS_3

Jordy berhenti sejenak kala melihat Miska tengah sibuk melayani pembeli. Wanita itu terlihat tersenyum cerah saat menghitung uang kembalian sang pembeli.


"Makasih mbak, jangan lupa pesanan saya ya...besok sore saya ambil ke rumah, ini dp nya. Sisa nya besok setelah semua udah di jadi, tidak masalah kan?" ujar seorang wanita paruh baya pada Miska.


"Boleh bu, sebenar nya tidak di dp juga tidak apa-apa. Kalau ada saya terima, kalau mau sekalian tunggu pesanan di jadi juga tidak apa-apa." Balas Miska ramah. Jordy semakin terpana, melihat bagaimana gigih nya wanita hamil itu berjuang seorang diri.


"Ini kebetulan ibu bawa lebih dari uang belanja, sisa nya besok ya. Ibu permisi dulu..." Miska hanya mengangguk paham sembari melempar kan senyum manis.


Jordy kembali melangkah menuju lapak jualan Miska. Pria itu berdehem sebelum akhir nya menyapa. Rasa nya lebih sulit dari pada menghadapi para musuh.


"Loh? mas Sugeng?"


Kletak, rahang Jordy serasa terjun bebas ke tanah. Kenapa wanita itu malah mengingat nama belakang nya dari pada nama depan nya yang lebih manusiawi? ck! menyesal diri nya memperlihatkan KTP nya waktu itu. Wanita itu pasti hanya membaca nama belakang nya saja hingga tak menyebut nama nya dengan benar.


Dengan wajah masam, Jordy duduk di kursi plastik di depan meja lapak Miska.


"Kopi manis pake gula 5 sendok." Ketus Jordy kesal.


Miska melotot sempurna namun lekas membuat pesanan pria itu. Dalam hati nya bertanya-tanya. Apa lidah pria itu mengalami gangguan perasa atau bagaimana? 5 sendok untuk gelas ukuran sedang, seseorang akan terkena diabet hanya dengan beberapa kali pemesanan.


"Ini mas, semoga tetap sehat jiwa maupun raga nya." Ujar Miska tersenyum geli.


Jordy langsung menyeruput kopi buatan Miska, namun seperempat detik kemudian. Pria itu terlihat sudah payah menelan minuman dalam mulut nya. Rasa manis yang terasa mencekik kerongkongan nya, membuat Jordy hampir tak bisa bernafas dengan benar.


"Kau menaruh berapa sendok, gula nya?" tanya Jordy menatap pada wanita hamil itu.


"Lima sendok 'kan? masih kurang ya? sini aku tambah lagi." Saat akan meraih gelas Jordy, lekas pria itu mengamankan gelas nya. Alamat akan berkahir di IGD jika wanita itu menambahkan beberapa sendok gula lagi ke dalam gelas nya.


"Kalau aku memintamu memasukkan racun sianida, kau akan memasukkan nya juga?" sungut Jordy bergumam tak jelas.


"Aku tidak menyimpan stok racun itu mas, kalau racun tikus punya di rumah. Mau?" Jordy melotot tajam. Bisa-bisa nya wanita itu menimpali ucapan nya dengan serius.


"Ck! sudah lah, apa semua wanita kalau hamil jadi buduh seperti ini." Geram Jordy tak habis pikir. Diri nya belum menikah meski kawin tak terhitung kali nya. Harus berakhir dengan racun tikus gara-gara wanita hamil itu? oh no!


"Taruhkan aku kue 5, yang sedikit basah dan licin. Lama tidak pernah megang yang begituan." ujar Jordy sedikit ngaur.


"Apa ya yang licin dan basah?" Miska terlihat menatap dagangan nya satu persatu. Lalu berkahir di loyang kue lapis.

__ADS_1


"Lapis mau? basah dan licin 'kan?" Jordy menelan ludah nya kasar. Wanita ini benar-benar minta di ci pok lama-lama, gemes juga akhir nya.


"Ya sudah itu saja. Kopi nya ganti sekalian, satu gelas lagi gula nya satu setengah sendok saja." Miska mengangguk lalu tersenyum dalam diam.


Bukan nya dia tak tau kemana arah pembicaraan pria penuh tatto tersebut. Namun tak ingin menanggapi nya saja.


Meninggalkan mas Sugeng yang sedang jatuh tangga pada Miska. Revan sendiri tengah bersembunyi dari seorang gadis remaja yang terus mengintili nya seperti paparazi.


"Sial banget sih, lama tidak punya kekasih sekali nya malah di kejar-kejar sama bocah. Dasar bocah gendeng. Apa dia tidak takut di rudali oleh rudal rusia ku ini. auto kejang-kejang siapa yang repot." Omel Revan kesal. Keringat dingin membanjiri kepala nya akibat berlari dari kejaran ABG labil berseragam putih abu.


"Oooommm..!" suara seruan seorang gadis membuat jiwa Revan seolah melayang pergi meninggalkan raga nya. Revan yang terpojok tak bisa lagi bersembunyi. Pria itu memasang wajah sangar dengan harapan gadis itu akan takut dengan nya. Namun sayang, kerena wajah sangar nya tersebut lah, yang membuat gadis kecil itu tergila-gila pada nya.


"Om lari nya kenceng amat, kaya di kejar rentenir aja." Ujar gadis itu ngos-ngosan. Rupa nya dia pun ikut berlari ketika melihat Revan melakukan aksi langkah seribu untuk menghindari nya.


"Terus masalah buat mu? ini kaki saya, saya hobby nya lari ya suka-suka saya!" ketus Revan mencoba konsisten dalam bersikap terhadap gadis bebal tersebut.


"Ih, galak bener kaya herder nya tetangga sebelah." Ucap gadis itu cekikikan.


"Nih minum, di jamin rasa nya bikin nagih." Gadis itu memberikan segelas minuman kekinian dengan rasa moka.


"Aku mau rasa nagih yang lain," ujar Revan menaik turun kan alis nya, sembari menatap si gadis yang masih belum mengerti arah pembicaraan nya.


"Aku ingin rasa nagih dari bibir cerewet mu ini, apa kau bisa memberikan nya pada ku?" bisik Revan di telinga si gadis.


Si gadis meringis menahan rasa geli di cuping nya. Deru nafas Revan menerpa leher jejang nya yang putih mulus.


"eh, itu..anu om.. Alicia belum pernah berciuman, om mau mengajari Alicia ciuman?" Kretak.


Lain Jordy lain Revan, namun kedua nya sama-sama di buat terbagong-bagong oleh kelakuan dua wanita yang berbeda.


"Kau bahkan tak tau bagaimana cara nya berciuman. Lalu kenapa kau terus mengejar pria dewasa. Apa kau tak takut aku memperkoas mu jika kau terlalu murahan seperti ini." Alicia tersenyum manis, tak sakit hati pada kalimat frontal Revan.


Dengan tanpa aba-aba, Alicia berjinjit lalu meraup bibir tebal milik Revan. Revan yang syok hanya bisa mematung, merasakan benda kenyal mel u mat bibir nya dengan cara yang amat sangat amatir.


Setelah tersadar, bukan nya melepaskan. Revan justru memperdalam ciuman Alicia dengan menahan tengkuk gadis itu. Satu tangan nya menarik naik baju seragam Alicia dari balik rok abu-abu nya, menyusupkan tangan nya untuk mengusap pinggang mulus gadis belia tersebut.


"Ehmm..." suara lenguhan Alicia membuat otak Revan semakin kacau. Sebagai pria normal yang sudah pernah merasakan puncak surga, jelas Revan mulai terbawa arus.

__ADS_1


Entah sejak kapan ciuman pria itu mendarat sempurna di leher Alicia. Gadis itu terlihat gelisah dengan tubuh sedikit bergetar. Tangan nakal Revan menjelajahi area yang tidak seharusnya dia sentuh. Tubuh Alicia bergetar hebat kala gelombang menerpa bagian diri nya di bawah sana, Revan tersenyum puas melihat hasil kerja nya.


Pria itu melepaskan ciuman nya di leher Alicia lalu kembali meraup bibir mungil yang kini terlihat membengkak tersebut.


"Bagaimana? apa ini juga yang pertama untuk mu?" Alicia menganguk malu sambil menunduk. Revan kembali merapikan baju Alicia yang sudah tak berbentuk.


"Ini peringatan untuk mu, jangan pernah lagi mengejar pria dewasa seperti ku. Karena kami sudah lebih berpengalaman dalam hal seperti ini, pacaran bukanlah tujuan dari pria seusia ku. Kami cenderung akan langsung membawa para wanita ke atas ranjang, dari pada menghabiskan waktu hanya sekedar jalan-jalan tak jelas. Jadi, menjauh lah dari ku mulai sekarang. Atau kau akan kehilangan masa depan mu, lalu setelah itu kau akan ku depak bagai sampah." Alicia menggigit bibir nya keras.


Gadis itu berusaha menahan tangis yang akan meledak. Kata-kata Revan sangat menghantam hati nya hingga ke dasar.


Revan berbalik meninggalkan gang sempit dan buntu tersebut tanpa peduli pada Alicia yang tengah menahan tangis nya.


Alicia membenahi pakaian nya juga dala man nya yang telah di porak-poranda oleh tangan nakal Revan.


"Bodoh! bodoh! kenapa kau harus jatuh hati pada pria tua seperti nya sih Alicia?! pria itu tak pantas untuk mu, kau bisa mendapatkan pria tampan dan muda dari nya." Alicia menyusut kasar air mata nya, lalu bergegas meninggalkan tempat laknat itu. Tempat yang mengajarkan nya merengkuh nirwana untuk pertama kalinya.


"Bisa-bisa nya aku hampir bercinta dengan pria tua di sebuah gang. Dasar murahan!" umpat Alicia pada diri nya sendiri. Rasa malu juga mengingat kata-kata Revan membuat nya bertekad untuk membuktikan, jika diri nya bukanlah wanita seperti itu.


"Awas saja jika kelak kau jatuh cinta padaku, akan ku balas perlakuan mu ini pak tua!" Alicia bersungut-sungut hingga tiba di parkiran Motor nya di depan pasar induk. Motor gede itu terlihat mencolok di sana, karena selain kinclong. Tak ada orang yang mau mengotori motor sebagus itu di lahan parkiran yang berlumpur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semoga bisa menghibur, Jangan lupa selalu memberikan dukungan kalian. Oke😘😘


Lope-lope buat pembacaku yang baik dan setia🥰🥰🥰🙏🙏🙏


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author punya rekomendasi novel yang sangat bagus sebagai koleksi di rak baca kalian semua.



Bagi pecinta Horor, ini dia bacaan yang wajib kamu punya di list baca



Jangan lupa dukungan nya untuk teman-teman author ya readers 🙏🤗

__ADS_1


Lope lope deh buat kalian semua 🥰🤍🥰🤍🥰


__ADS_2