
Revan terbangun di sebuah ruangan asing bagi nya. Mata nya mengerjab beberapa kali untuk memastikan, jika dia tidak sedang bermimpi.
Setelah menelisik setiap sudut kamar melalui ekor matanya yang bergerak liar. Revan yakin jika diri nya tidak sedang di sekap. Terbukti dengan lengan nya yang di perban berikut perut nya.
Sekelebat bayangan seorang gadis yang telah menolong nya semalam, masih menjadi tanda tanya besar di benak Revan. Bagaimana Alicia bisa berada di sana untuk menolong nya. Atau gadis itu sekedar kebetulan berada di sana.
Namun mengingat kemahiran Alicia dalam baku tembak semalam. Betapa gesit nya Alicia bergerak lincah menghindari tembakan, hingga mencapai diri nya di belakang sofa. Itu membuat pikiran nya berkecamuk.
Alicia seperti seorang ahli dalam bidang tersebut. Namun seingat nya gadis itu hanyalah gadis muda biasa. Yang baru saja melepaskan seragam putih abu-abu dua tahun yang lalu. Dan kini bermetamorfosa menjadi seorang wanita dewasa yang sangat dia gilai.
Mendadak bulu kuduk nya meremang. Membayangkan Alicia adalah seorang psikopat atau semacam nya.
Revan duduk perlahan setelah merasa sedikit nyaman. Revan ingin merenggangkan otot nya yang terasa kaku. Luka nya pun ngilu tak terkira.
Klek
Alicia masuk dengan sebuah nampan di tangan nya. Wanita itu tak memasang senyum manis untuk menyapa sang tamu tak di undang.
"Syukur lah kau sudah bangun, aku baru saja berencana untuk menggulingkan mu ke balkon kamar ku, lalu ku lempar ke lantai dasar. Kau mafia bo doh yang menyusahkan." Mata Revan membola. Kalimat gadis itu benar-benar membuat nya merinding disko.
"Aku tak tau jika mereka akan sebanyak itu semalam. Informasi yang ku dapat hanya ada beberapa. Dan biasanya mereka tak membawa banyak antek-antek ketika sedang melakukan transaksi besar. Karena itu bisa memicu kecurigaan pihak berwenang." Sanggah Revan berusaha membela harga diri nya yang sedang berada di ujung kaki Gadis itu.
"Cih! harus nya kau punya plan B C dan seterusnya. Kenapa malah membiarkan tubuh mu di lubangi peluru begitu saja." Sarkas Alicia tak mau kalah.
Revan menghela nafas panjang. Gadis itu semakin sulit untuk di lawan. Berdebat dengan nya sama saja seperti berdebat dengan sang bos. Eh? kenapa dia merasa gadis itu memiliki kemiripan dengan sang bos?
Revan menatap wajah Alicia lekat-lekat, berusaha untuk mencari kemiripan kedua nya. Dan ya, kedua wanita itu memiliki kesamaan. Yaitu sama-sama keras kepala.
"Jangan melihat ku terus, aku tau aku cantik dan tidak ada obat nya. Makan lah bubur mu setelah itu makan obat mu. Sore ini kau harus enyah dari apartemen ku. Tempat tinggal ku bukan penampungan untuk mafia kurang kreatif seperti mu." Ketus Alicia kemudian beranjak keluar dari kamar.
__ADS_1
Revan ingin sekali melempar kan gelas minuman tersebut ke kepala gadis itu agar mengalami amnesia saja. Kembali ke masa dua tahun lalu di mana Alicia masih mengejar-ngejar diri nya.
Namun mengingat akan kondisi nya yang belum memungkinkan untuk melakukan hal konyol. Revan memilih untuk memendam kekesalan nya. Dia tak ingin berakhir di lantai dasar dengan cara instan.
Revan menghabiskan makanan nya dengan lahap. Cukup enak dengan sup daging yang menggugah selera. Juga susu putih yang membuat pikiran nya mendadak liar seketika.
"Dasar susu sialan! kenapa dia memberikan ku susu putih? apa dia berniat untuk membuat ku bernostalgia pada masa lalu? dasar gadis kejam!" Dumel Revan kemudian meneguk susu tersebut seperti orang kehausan.
Sementara Revan tengah asyik berspekulasi dengan susu putih nya, Ayank dan Jordy tengah sibuk di markas. Heri yang seharusnya masih menikmati sisa-sisa bulan madu nya pun terpaksa harus kembali ke markas besar mereka.
Meski Ayank sama sekali tak menghubungi nya, namun saat melihat berita pagi yang cukup menggemparkan. Heri berinisiatif untuk menyudahi liburan nikmat nya bersama sang istri tercinta.
Dia tau pasti siapa yang telah memporak-porandakan club malam tersebut. Polisi tak akan seberutal itu hingga menghancurkan seperempat club mewah tersebut.
Bisa di pastikan salah satu dari rekan nya lah yang melakukan nya. Dan dia cemas karena Revan tak bisa di hubungi, terlebih chip pria itu tak bisa dia lacak melalui perangkat nya.
Dia tau sesuatu pasti terjadi pada pria itu.
Sungguh Jordy ingin memodifikasi lidah pria itu menggunakan peralatan medis milik Ayank.
"Dengar kan aku baik-baik. Apa kau lihat ruangan ini? aku hanya ingin memberitahukan padamu sedikit informasi. Hampir tak pernah ada, seekor manusia bajingan seperti mu berhasil keluar dari sini hidup-hidup. Itu bukan karena aku, dia atau mereka semua. Namun oleh seorang wanita yang terlihat anggun mempesona. Tawanan terkahir kami harus kehilangan kedua kaki nya karena di amputasi dalam keadaan sesadar Sadar nya ,oleh wanita tersebut. Lalu kau tau tau? potongan tubuh pria itu berakhir di kandang macan sebagai santapan lezat di pagi hari. Aku tak sekejam itu, tapi seperti nya aku harus belajar mulai sekarang. Mengingat jika wanita itu sedang hamil, aku khawatir anak-anak yang akan dilahirkan nya kelak akan menjadi seorang psikopat."
Si pria meneguk ludah kasar susah payah. Dia tau rumor itu. Dan memang tak pernah ada kabar jika seseorang sudah menjadi tawanan klan tersebut. Namun dia tak menyangka, jika eksekutor nya adalah seorang wanita.
"Kau pasti terharu mendengar cerita anak buahku, bukan? lihat wajah mu sampai setegang itu. Kenapa kau malah menakuti nya Sugeng? lihat dia, sungguh kasihan sekali. Berikan dia minum Jevon. Kalian ini kejam sekali. Bagaimana bisa kalian malah membuat nya babak belur seperti ini. ckckck!" Jordy memutar bola mata malas.
Sejenak si pria tak percaya, jika wanita secantik bidadari itu mampu Melakukan hal di luar nalar. Rasa lega mulai membuka jalan nafas nya yang tadi terasa terhimpit batu besar.
Lega karena berharap wanita itu akan iba akan kondisi nya yang terlihat menyedihkan.
__ADS_1
"Nona? mereka memukulku sejak aku tiba. Tolong bebaskan aku, aku hanya bekerja sesuai perintah saja. Aku ini hanya kacung nona, tolong kasihani aku." Ujar pria itu memelas.
Ayank tersenyum simpul kemudian mendekat.
"Sungguh kasihan sekali kau." Ucap Ayank menggeleng kan kepalanya seolah sedang bersimpati.
"Ambilkan aku bor, Jev. Aku seperti kurang jelas mendengar nya berbicara. Mungkin dengan sedikit melubangi kerongkongan nya, suara nya akan terdengar lebih jelas." Sontak saja si pria bergetar ketakutan.
Apa-apaan ini? dia berharap wanita anggun ini membebaskan nya. Kini tenggorokan nya malah akan berkahir di ujung mata bor.
"Tolong nona, apa salah ku? aku tak melakukan apapun. Ampuni aku nona" ujar pria itu terus memelas dengan tubuh bergetar.
Ayank tak menghiraukan nya. Wanita itu malah sibuk mencoba alat bor tersebut dengan beberapa kali menekan tombol power di depan wajah si pria.
Pria itu mulai panik, saat melihat Jevon mulai memegangi kepalanya.
"Tolong nona, jangan lakukan ini padaku. Pria yang semalam menyerang kami di bawa pergi oleh seorang wanita muda. Sungguh! bukan anggota kami yang membawanya. Aku bersumpah tak berbohong soal ini. Demi nyawa ibu juga kerbau ku di kampung, aku tak berbohong kali ini." Ucap si pria dengan suara bergetar hebat.
Ayank menghentikan aktivitas nya lalu menghela nafas panjang. Dia tau siapa yang di maksud oleh pria itu. Pantas saja semua CCTV tak bisa merekam jejak kejadian semalam.
"Dasar rubah kecil brengsek! kau membuat ku kalang kabut tak karuan. Awas saja jika aku menemukan mu. Ku kuliti kau hidup-hidup!" Umpat Ayank membuat Jordy menatap heran. Siapa yang di maksud oleh Ayank.
"Beri dia minum dan makanan yang layak. Jev, ajak dia berkenalan dengan kucing kecilku di belakang. Mungkin dia ingin merubah haluan nya setelah bertemu dengan kucing kecil ku yang menggemaskan." Ayank keluar dari sana. Dia tau kemana harus mencari Revan.
Sementara Jordy tak di ijinkan ikut bersamanya, membuat pria itu kesal. Dia penasaran, siapa yang telah menculik rekan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kehaluan ini semakin menggila gengs 🤭maafkan daku😁
__ADS_1
Kalian terlope lope poko nya mah🥰🥰🥰🥰🥰